Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki kuantitas atau kualitas tertentu yang ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan diselidiki dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dapat berupa orang, mahkluk hidup lain, benda tak hidup, perilaku, fenomena alam, dan sebagainya. Bila misalnya kita mengadakan penelitian tentang mahasiswa Universitas Palangka Raya, maka populasi penelitian kita adalah seluruh mahasiswa Universitas Palangka Raya. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang akan kita teliti tersebut. Jadi, misalnya kita akan meneliti tentang mahasiswa UPR, maka kita bisa mengambil sampel sepuluh sampai dengan tigapuluh orang mahasiswa di tiap Fakultas saja, dan itu dianggap sudah mewakili mahasiswa UPR.

Alasan Pemilihan Sampel
1. Kendala sumber daya, baik waktu, dana, maupun sumber daya lainnya. Penggunaan sampel akan menghemat sumber daya untuk menghasilkan penelitian yang lebih dapat dipercaya daripada sensus.
2. Ketepatan, dengan pemilihan desain sampel yang abik, peneliti akan memperoleh data yang akurat, dengan tingkat kesalahan yang relative rendah.
3. Pengukuran destruktif, biasanya digunakan untuk menguji sesuatu yang bersifat destruktif sehingga sampel tidak digunakan lagi.
Sampel dapat di definisikan sebagai himpunan sebagian dari unsur – unsur populasi yang memiliki ciri – ciri sama. Keseluruhan dari bagian itu disebut populasi terhadap populasi hasil penelitian hendak digeneralisasikan.

Populasi tidak harus terdiri dari unsur manusia, apa saja yang dapat menjadi sumber informasi atau data dapat dijadikan populasi, seperti hewan, tumbuhan, benda – benda, peristiwa dan lain – lain, semuanya dapat dijadikan sebagai populasi penelitian.

Kegunaan Metode Sampling
1. penelitian secara menyeluruh terhadap seluruh populasi tidak mungkin dilakukan. Misalnya, bila kita ingin meneliti tentang kebiasaan makan balita di Indonesia, bagaimana mungkin kita akan mengumpulkan data seluruh balita yang ada di Indonesia.
2. objek penelitian bersifat homogen. Misalnya jika diduga terjadi pencemaran air laut di Selat Sunda, maka peneliti hanya akan mengambil sampel beberapa tabung air saja dari Selat.
3. dampak destruktif terhadap obyek yang diteliti. Misalnya kita akan menguji berapa kilo meter daya mesin merk XYZ sepeda motor bila dihidupkan terus‐menerus tanpa henti. Dalam melakukan penelitian ini, kita tidak mungkin menggunakan seluruh sepeda motor merek XYZ, karena akan merusaknya.
4. menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Penentuan Jumlah Sampel
Sebenarnya, tidak ada aturan yang baku dalam menentukan jumlah sampel dari suatu populasi. Pada dasarnya, semakin besar jumlah sampelnya, semakin akurat hasil penelitiannya. Tetapi, besar kecilnya sampel akan sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya biaya, tenaga dan waktu yang tersedia.
Selain itu, jenis penelitian juga akan mempengaruhi ukuran sampelnya. Untuk penelitian yang sifatnya deskriptif umumnya membutuhkan jumlah sampel yang lebih banyak dari pada penelitian yang dilakukan untuk menguji hipotesis.
Ada beberapa pendapat yang diajukan dalam penentuan jumlah sampel ini,diantaranya, apabila populasi cukup homogen (serba sama), terhadap populasi di bawah 100 dapat dipergunakan sampel sebesar 50%, di atas 1.000 sebesar 15%.

Karakteristik Sampel yang baik
1. memungkinkan peneliti untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan besaran sampel untuk memperoleh jawaban yang dikehendaki.
2. mengidentifikasi probabilitas dari setiap unit analisis untuk menjadi sampel.
3. memungkinkan peneliti menghitung akurasi dan pengaruh (misalnya kesalahan) dalam pemilihan sampel daripada harus melakukan sensus.
4. memungkinkan peneliti menghitung derajat kepercayaan yang diterapkan dalam estimasi populasi yang disusun dari sampel statistika.

Kesalahan yang sering terjadi dalam pengambilan sampel
Kenyataan bahwa sampel tidak merupakan cermin yang sempurna dari keadaan populasinya disebut sebagai kesalahan sampling (sampling error). Kesalahan demikian bisa terjadi pada setiap penelitian, kecuali populasinya homogen sempurna. Implikasi adanya kesalahan sampling adalah perlunya diperhitungkan atau ditaksir besar kecilnya kesalahan itu dalam generalisasi atau inferensi.
1. Sampling Frame Error, yaitu kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh kerangka sampel.
2. Random Sampling Error, yaitu kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama.
3. Nonresponse Error, yaitu kesalahan akibat perbedaan statistic antara survey yang hanya memasukkan mereka yang merespon dan juga mereka yang gagal (tidak) merespon.
Untuk penelitian yang menggunakan analisis statistik kesalahan itu dinyatakan dalam standard error. Dasar teori probabilitas sampling, mungkin disini letak peranan ilmu statistika.
Berapa besar sampel yang dianggap paling baik ?. Sampel yang paling baik adalah sampel yang memberikan pencerminan optimal terhadap populasinya (representatif). Representativitas sampel tidak dapat dibuktikan, hanya dapat didekati secara metodologi melalui parameter yang diketahui dan diakui kebaikannya secara teoritik maupun eksperimental.
Ada empat parameter yang menentukan representativitas yaitu :
(1). Besar sampel,
(2). Teknik sampling,
(3). Variabilitas populasi,
(4). Kecermatan memasukkan ciri populasi kedalam sampel.
Parameter ke 3 bersifat given, sementara parameter – parameter sisanya dapat dipermainkan guna meningkatkan representativitas sampel.
Postulat – postulat dari parameter dengan andaian bahwa parameter lainnya dalam keadaan konstan sebagai berikut :
1. Besar sampel : Makin besar sampel yang diambil akan makin tinggi representativitas sampelnya. Populasi penelitian tidak bersifat homogen sempurna, artinya untuk populasi yang homogen sempurna maka besar sampel sama sekali tidak berpengaruh terhadap representativitas sampel.
2. Teknik sampling : Makin tinggi tingkat random dalam pengambilan sampel akan makin tinggi representativitas sampel. Batasan untuk postulat ini adalah homogenitas populasi penelitian. Sampling random sama sekali tidak diperlukan jika populasinya homogen sempurna.
Pertimbangan untuk menentukan jumlah sampel dapat dilakukan dengan rumus:

n=[ZS/E]2

Dengan: n = jumlah sampel
Z = nilai yang sudah distandardisasi sesuai derajat kepercayaan.
S = deviasi standar sampel
E = tingkat kesalahan yang ditolerir, plus minus faktor kesalahan.
Jumlah sampel yang sesuai untuk suatu penelitian dipengaruhi oleh:
a. Homogenitas.
Semakin homogen suatu unit pemilihan sampel, semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan. Semakin heterogen suatu unit pemilihan sampel, semakin besar jumlah sampel yang diperlukan agar dapat mencerminkan populasi.
b. Derajat Kepercayaan.
Derajat ini mengukur seberapa jauh peneliti yakin dalam mengestimasi parameter populasi secara benar.
c. Presisi (ketelitian).
Untuk mengukur kesalahan standar dari estimasi yang dilakukan.
d. Prosedur analisis.
e. Kendala Sumber Daya.

Tahapan Pemilihan Sampel

Teknik‐Teknik Sampling
Untuk memperoleh sampel penelitian yang representatif telah dikembangkan banyak teknik sampling. Desain sampel terdiri dari dua yaitu:
a. Desain Probabilitas (sampel probabilitas), artinya bahwa setiap sampel dipilih berdasarkan prosedur seleksi dan memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Jenis desain sampel probabilitas:
‐ Sampel Random Sederhana (Simple Random Sampling)
‐ Sampel Sistematis (Systematic Sampling)
‐ Sampel Stratifikasi (Stratified Sampling)
‐ Sampel Kluster (Cluster Sampling)
‐ Sampel Daerah Multitahap (Multistage Area Sampling)
b. Desain Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling), artinya setiap sampel dipilih oleh peneliti secara arbitrer dan probabilitas masing‐masing anggota populasi tidak diketahui. Jenis sampel nonprobabilitas:
Penentuan Target Populasi
Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel
Penentuan Prosedur Pemilihan Jumlah Sampel
Pemilihan Unit Sampel Aktual
Penentuan Jumlah Sampel
Penentuan Metode Pemilihan Sampel
Pelaksanaan Penelitian
‐ Convenience. Peneliti menggunakan sampel yang paling sederhana atau ekonomis.
•‐ Judgement. Peneliti berpengalaman dalam memilih sampel untuk memenuhi tujuannya, seperti menyakinkan bahwa semua populasi mempunyai karakteristik tertentu.
•‐ Quota. Peneliti mengklasifikasikan populasi menurut kriteria tertentu, menentukan proporsi sampel yang dikehendaki untuk tiap kelas, menetapkan kuota untuk setiap pewawancara.
•‐ Snowball. Responden awal dipilih dengan sampel probabilitas sedangkan responden berikutnya diperoleh dari usulan/masukan responden berikutnya.
Teknik yang paling dianggap paling baik adalah teknik random. Kebaikan teknik ini tidak hanya landasan teori yang digunakan, namun berdasarkan hasil eksperimen. Dalam random sampling semua anggota populasi, secara individual atau kolektif, diberi peluang sama untuk menjadi anggota sampel. Alat yang dianggap paling shahih untuk random sampling ini adalah tabel bilangan random. Jika besarnya populasi terbatas, peluang random dapat diberikan kepada anggota populasi secara individual, tetapi jika populasinya sangat besar peluang random diberikan kepada anggota populasi sangat besar. Peluang random diberikian kepada anggota populasi secara kolektif seperti misalnya dalam sampling geografis.
Pengklasifikasian sampel tergantung pada jenis variable yang digunakan sebagai dasar klasifikasi. Jika variable klasifikasinya diskrit maka pengklasifikasian sampelnya juga secara diskrit. Semua sampel yang dihasilkan dari klasifikasi secara diskrit disebut sampel rumpun (cluster sample), sedangkan klasifikasinya didasarkan pada besar kecil variable klasifikasinya disebut sampel bertingkat (stratified sample). Baik dalam sampel rumpun maupun sampel bertingkat, jika proporsi sub populasinya dicerminkan dalam sampel disebut sampel proposional.
Dalam penelitian – penelitian non eksperimental biasanya yang dipakai adalah sampel proposional. Tetapi dalam penelitian eksperimental dan penelitian murni besarnya sampel harus sama. Sekiranya dalam eksperimen sedang berjalan terdapat kasus yang hilang (missing cases) harus dilakukan tindakan tertentu untuk mempersamakan jumlah kasusnya kembali.

Secara garis besar teknik sampling terdiri dari dua macam teknik yaitu teknik Probability Sampling dan Non‐probability Sampling. Untuk lebih jelasnya : Probability Sampling : teknik sampling yang memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh populasi untuk dipilih.

1. sampling acak sederhana (simple random sampling) adalah cara pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada di dalam populasi. Teknik sampling jenis ini dilakukan bila datanya homogen.
Misalnya bila populasi adalah 1,2,3,4,…25 diambil sampelnya secara acak sehingga menghasilkan sampel 1,3,9,10, 11, 15,18,21, 24. Biasanya, untuk menentukan sampel jenis ini dilakukan dengan cara pengundian.

2. sampling acak secara proporsional menurut stratifikasi (proportionate stratified random sampling) : dilakukan bila populasi tidak bersifat homogen.
Misalnya dilakukan penelitian mengenai hasil panen jeruk di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat, maka jeruk jeruk dikelompokkan menurut mutunya (A, B, C, dan D) berdasarkan panjang lingkarannya (keliling).
Populasi mutu A= 250 ton, B= 520 ton, C= 635 ton, dan D=198 ton. Jumlah sampel yang diambil harus meliputi strata mutu tersebut yang diambil secara proporsional, misalnya 5% dari setiap populasinya.

3. Sampling acak tak proporsional menurut stratifikasi (Disproportionate stratified random sampling). Berbeda dengan teknik sampling acak proporsional menurut stratifikasi, pada teknik ini pengambilan sampelnya tidak didasarkan atas proporsi dari populasi.
Misalnya, penelitian terhadap tinggi siswa SD yang berumur 9‐11 tahun di tiga SD, terdapat 2 orang yang memiliki tinggi lebih dari 160 cm, 5 orang memiliki tinggi antara 150‐159 cm, 251 orang memiliki tinggi 140‐139 cm, dan 52 orang memiliki tinggi kurang dari 140 cm, dengan populasi yang tidak proporsional ini dapat saja pada siswa dengan tinggi lebih dari 160 cm dan lebih dari 150 cm diambil semuanya, sedangkan sisanya diambil secara proporsional.

4. sampling area (cluster), teknik ini digunakan untuk populasi yang tersebar pada daerah yang sangat luas.
Misalnya penelitian mengenai irigasi pertanian di seluruh wilayah kabupaten di Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari banyak kabupaten maka diambil beberapa kabupaten saja secara acak, tetapi tetap memperhatikan stratanya.

Non‐Probability sampling
cara pengambilan sampel di mana tidak semua anggota populasi diberikan kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel sampel.

1. sampling sistematis yaitu berdasarkan nomor urut anggota populasi.
Misalnya populasi penelitian diurutkan, berdasarkan pengurutan itu kemudian diambil sampelnya yang nomornya genap saja atau ganjil saja.

2. sampling kuota yaitu teknik sampling untuk menetapkan sampel dari populasi sesuai dengan kriteria‐kriteria tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
Misalnya peneliti akan meneliti tentang kredit para pedagang di pasar dari para rentenir pasar, sampel yang ditetapkan sebanyak 100 pedagang, dan kriteria yang harus dipenuhi adalah nilai kredit lebih dari 2 juta rupiah. Apabila peneliti sudah mendapatkan sampel sebanyak 100 orang pedagang dengan kriteria tersebut, maka sampel dianggap sudah cukup.

3. Sampling Aksidental adalah teknik sampling yang didasarkan atas kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti maka dijadikan sampel.
Misalnya, peneliti ingin mengetahui tentang pilihan masyarakat terhadap calon presiden mendatang di suatu pasar, maka siapa saja yang kebetulan bertemu peneliti di pasar akan dijadikan sampel penelitian.

4. purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dipilih secara cermat dan dianggap memiliki ciri‐ciri atau sifat‐sifat khusus yang menggambarkan ciri‐ciri populasi sehingga dianggap cukup representatif.

5. sampling jenuh (saturation sampling) yaitu jika seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel, hal ini bisa dilakukan pada jumlah populasi yang relatif sedikit. Tetapi pada jumlah populasi yang besar bisa saja seluruh populasinya dijadikan sampel bila sumber dayanya memungkinkan,
contoh kasus ini adalah sensus penduduk.

6. snowball sampling ialah penentuan sample yang mula‐mula sedikit, kemudian sampel tersebut diminta mencari sampel lainnya, misalnya temannya, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel akan bertambah banyak

semoga bermanfaat.

Baca juga:

Pengukuran dalam Penelitian
Share:

HIPOTESIS

HIPOTESIS PENELITIAN

Puncak penjelajahan terhadap khasanah teori dan bahan pustaka adalah tersusunnya hipotesis penelitian yang handal. Dilihat dari sudut ini maka hipotesis penelitian tidak lain sebagai konklusi penelaahan teoritik terhadap permasalahan penelitian, suatu konklusi penelaahan teoritik terhadap permasalahan penelitian. Hipotesis dianggap sebagai kebenaran pada level teoritik. Apakah dengan demikian hipotesis juga memiliki kebenaran empirik? Itulah yang harus dibuktikan melalui suatu penelitian.

Hipotesis merupakan “a conjectural statement of the relation between two or more variabels”. Secara statistik hipotesis dipandang sebagai keadaan parameter yang akan diuji berdasarkan keadaan statistik sampel. Dalam suatu hipotesis secara implisit terkandung suatu prediksi. Misalnya, dalam hipotesis yang menyatakan bahwa : pegawai negeri lebih konservatif dalam menghadapi perubahan daripada pegawai swasta, terkandung prediksi bahwa populasi pegawai negeri kurang responsif terhadap perubahan dibanding populasi pegawai swata. Ketepatan prediksi itu sebagian tergantung kepada relevansi dan adequasi teori, konsep, serta fakta yang digunakan sebagai landasan prediksi. Dari sini bisa diduga bahwa salah satu kemungkinan sumber tidak terbuktinya suatu hipotesa adalah kurang relevannya atau tidak adequatnya landasan teori, atau konsep – konsep, atau fakta yang melandasi penyusunan hipotesis tersebut.

Pernyataan hipotesis biasanya dinyatakan dalam bentuk hubungan atau perbedaan. Hipotesis yang menyatakan hubungan yang paling sederhana menyatakan hubungan antara dua variabel X dan variabel Y. Sementara hipotesis hubungan yang rumit bisa mengandung lebih dari dua variabel. Hipotesis perbedaan yang paling sederhana adalah perbandingan keadaan dua sampel. Sebenarnya, hipotesis perbedaan hanya merupakan wajah lain dari hipotesis hubungan.

Misalnya sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi terhadap produk kosmetika antara pria dan wanita, sebenarnya bisa juga di hipotesiskan sebagai : terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan prilaku konsumsi terhadap produk kosmetika.
Secara umum biasanya di bedakan dua bentuk hipotesis :
1. Hipotesis nol atau hipotesis nihil (statistical hypothesis) : merupakan hipotesis tentang tidak adanya hubungan antara x dan y, atau hipotesis tentang tidak adanya perbedaan sampel lainnya. Uji statistik pada umumnya memiliki sasaran untuk menolak hipotesis nol
2. Hipotesis alternatif atau hipotesis kerja : biasanya dirumuskan dalam bentuk ada perbedaan antara dua x dan y, atau ada perbedaan keadaan antara dua sampel atau lebih. Rumusan yang umum digunakan biasanya dalam bentuk proposisi : “Jika . . . maka . . . ” atau “Makin . . .makin . . .”.

Dengan proposisi semacam itu kita akan lebih mudah membuat peramalan berdasarkan hasil pengajuan. Kebanyakan kesimpulan uji statistik merupakan penerimaan terhadap hipotesis alternatif. Hipotesis mana yang harus dirumuskan sebagai hipotesis penelitian ?

Rumusan hipotesis yang akan kita pergunakan tergantung pada arah tinjauan teoritiknya mengarahkan kita ke kesimpulan tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan, maka hipotesis penelitian kita merupakan hipotesis penelitian nihil (ho). Sebaliknya jika landasan teoritik mengarahkan kita ke kesimpulan ada hubungan Aatau ada perbedaan, maka hipotesis penelitian kita merupakan hipotesis alternatif (ha).

Hipotesis nihil jarang sekali dijumpai dalam penelitian. Sebab jarang sekali orang tertarik akan informasi mengenai tidak adanya hubungan atau tidak adanya perbedaan. Beberapa kekecualian, misalnya hipotesis yang menguji pertanyaan : apakah betul intelegensi wanita lebih rendah daripada pria ; apakah betul masyarakat sipil kurang nasionalis dibandin ABRI ? dan lain lain. Dalam penelitian pendahuluan hipotesis nihil mungkin saja lebih sering dijumpai, sebab dalam penelitian pendahuluan terkadang belum ditemukan cukup banyak bahan masukan untuk merumuskan hipotesis alternatif.
Kebanyakan penelitian ilmiah merumuskan hipotesisnya dalam bentuk hipotesis alternatif. Ini terjadi terutama dalam penelitian – penelitian eksperimental yang mana penelitian bermaksud menemukan perbedaan pengaruh perlakuan baru dibandingkan perlakuan yang ada (perlakuan kontrol). Akan tetapi dalam penelitian bukan eksperimentalpun lebih banyak merumuskan hipotesisnya dalam bentuk hipotesis alternatif. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya penelitian bertujuan untuk mengetahui atau mengungkapkan adanya hubungan atau perbedaan antara gejala – gejala yang terjadi bukan sebaliknya. Selain itu, pengetahuan mengenai hubungan antar variabel penelitian telah cukup banyak sehingga akan membantu sekali dalam merumuskan hipotesis penelitian.

Sering ditanyakan, apakah semua penelitian harus memiliki hipotesis?. Untuk penelitian ilmiah jawabnya Ya. Dalam penelitian ilmiah yang sedang kita bahas, komponen – komponen pokoknya adalah :
Permasalahan – teori – hipotesis – metodologi – data – analisis – kesimpulan.

Dalam penelitian eksploratif yang dipentingkan adalah mendapatkan data dasar. Data dasar ini memiliki banyak kegunaan, antara lain : untuk mengidentifikasi permasalahan, untuk mengembangkan hipotesis, malahan untuk pengambilan keputusan. Dengan demikian penelitian eksploratif dapat menjadi bagian pendahuluan dari penelitian ilmiah, karena ia mengarah kepada penyusunan hipotesis. Namun bagaimanapun hasilnya, penelitian eksploratif akan bersifat deskriptif. Ia bertujuan memeriksa keadaan, betapapun rinci dan detailnya pemeriksaan itu.

Sementara itu penelitian ilmiah bermaksud mencari kejelasan hubungan antar gejala atau antar variabel. Kendati penelitian eksploratif – deskriptif sebagai bagian dari suatu penelitian ilmiah, namun ia tidak diawali dengan tangan kosong. Sebelum mengumpulkan bahan, pasti penelitian sudah membaca dan menyusun kerangka serta strategi tentang bahan apa yang akan dikumpulkan dan dengan cara apa mengumpulkannya. Ibarat orang yang akan berbelanja maka sudah jelas tujuannya ; ia sudah memiliki daftar nama barang yang akan dibelinya, mungkin sudah lengkap dengan harga dan daftar penjual yang menjualnya.

Ada tidaknya barang yang sudah didaftar tadi adalah persoalan nanti di toko atau di pasar. Jika prediksi pembeli sudah memiliki dugaan bahwa barang x lebih banyak tersedia daripada barang y atas dasar alasan tertentu, maka dugaan itu sebenarnya setara dengan hipotesis dalam penelitian .
Bagaimana halnya dengan suatu penelitian yang bukan penelitian lapangan, melainkan penelitian literatur, apakah juga harus membuat hipotesis ?. jawabannya bisa Ya, bisa juga Tidak. Hipotesis itu tidak usah jika penelitian itu hanya mencitrakan siklus : problematika Teori – Jawaban, dan jawaban disini dianggap sebagai kebenaran final.

Seberapa tinggi tingkat kebenaran jawaban itu dilemparkan kecita – rasa penjawabnya ; atau paling jauh pada validitas logik (Logical Validity; validity by definition; etc). apakah orang lain bisa menerima kebenaran tersebut, itu persoalan lain. Oleh karena penelitian semacam itu tidak memakai tolak ukur dan pengandaian maupun pengujian secara obyektif. Maka orang tidak mungkin berbicara tentang kebenaranobyektif, kesahihan, dan sebagainya. Jika ingin berbicara, berbicaralah dengan bahasa dan logika saya, baru saudara dapat memahaminya. Demikian kira – kira jawaban yang dapat diberikan oleh peneliti yang melakukan penelitian secara eksploratif.

semoga bermanfaat!

Baca juga:

Populasi dan Sampel
Share:

KERANGKA TEORITIS

Kerangka teoritis adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor‐faktor penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Arti teori adalah sebuah kumpulan proposisi umum yang saling berkaitan dan digunakan untuk menjelaskan hubungan yang timbul antara beberapa variabel yang diobservasi

Penyusunan teori merupakan tujuan utama dari ilmu karena teori merupakan alat untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang diteliti. Teori selalu berdasarkan fakta, didukung oleh dalil dan proposisi. Secara defenitif, teori harus berlandaskan fakta empiris karena tuijuan utamanya adalah menjelaskan dan memprediksikan kenyataan atau realitas. Suatu penelitian dengan dasar teori yang baik akan membantu mengarahkan si peneliti dalam upaya menjelaskan fenomena yang diteliti.
Konsep adalah sejumlah pengertian atau karakteristik yang dikaitkan dengan peristiwa, objek, kondisi, situasi, dan perilaku tertentu. Secara sederhana konsep adalah pendapat abstrak yang digeneralisasi dari fakta tertentu. Konsep sangat menentukan sukses atau tidaknya suatu riset yang tergantung dari:
􀂙 Seberapa jelas kita mengkonseptualisasikan sesuatu
􀂙 Seberapa jauh orang lain dapat memamahami konsep yang kita pergunakan.
Konstruk adalah jenis konsep tertentu yang berada dalam tingkatan abstraksi yang lebih tinggi dari pada konsep dan diciptakan untuk tujuan teoritis tertentu, yang dapat berupa sebuah pandangan atau pendapat yang biasanya ditemukan untuk sebuah penelitian atau pembentukan teori.

Proposisi adalah pernyataan yang berkaitan dengan hubungan antara konsep‐konsep yang ada dan pernyataan dari hubungan universal antara kejadian‐kejadian yang memiliki karakteristik tertentu. Pembentukan teori adalah sebuah peningkatan abstraksi.

Variabel adalah sesuatu yang dapat membedakan atau mengubah nilai. Nilai dapat berbeda pada waktu berbeda untuk objek atau orang yang sama, atau nilai lain dapat berbeda dalam waktu yang sama untuk objek atau orang yang berbeda. Secara konseptual, variabel dapat dibagi menjadi empat bagian utama yaitu:
1. Variabel dependen adalah variabel yang dapat menjadi perhatian utama dalam sebuiah pengamatan. Pengamat akan dapat memprediksikan ataupun menerangkan variabel dalam variabel dependen beserta perubahannya yang terjadi kemudian.
2. Variabel independent adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hbungan yang positif ataupun yang negative bagi variabel dependen nantinya. Variabel dalam variabel dependen merupakan hasil dari variabel independen.
3. Moderating variabel adalah variabel yang mempunyai dampak kontijensi yang kuat pada hubungan variabel independent dan variabel dependen.
4. Intervening variabel adalah factor yang secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat, diukur atau dimanipulasi, namun dampaknya dapat disimpulkan berdasarkan dampak variabel independent atau moderating terhadap fenomena yang diamati. Internening variabel ini dapat membantu dalam menjelaskan bagaimana megkonsepsi hubungan antara variabel independent dan variabel dependen.

Kerangka teoritis adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian itu ditujukan. Hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui wawancara, observasi, dan survei literature. Hubungan antar survei literature dan kerangka teoritis adalah survei literature meletakkan pondasi yang kuat untuk membangun kerangka teoritis. Ada lima hal yang harus dipenuhi dalam membangun kerangka teoritis:
1. Variabel yang relevan harus dapat dijelaskan dan disebutkan dalam diskusi.
2. Diskusi haruslah dapat mewujudkan bagaimana dua atau lebih variabel itu berhubungan satu sama lain.
3. Jika jenis dan arah hubungan tadi dapat diterima secara teori berdasarkan atas penelitian sbelumnya, maka harus ada indikasi pada diskusi apakah hubungan tadi bersifat positip atau negative.
4. Harus ada penjelasan secara jelas kenapa kita akan mengharapkan hubungan tersebut terus bertahan.
5. Skema diagram yang menjelaskan kerangka teoritis harus dapat diperlihatkan sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah dan memahami bagaimana hubungan antar variabel secara teoritis.

semoga bermnafaat!

Baca juga:

Hipotesis Penelitian
Share:

TINJAUAN PUSTAKA DALAM PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

Tinjauan Pustaka atau Landasan ilmiah dalam proposal penelitian skripsi tersusun dalam tiga tahap yaitu :
1. landasan teori, untuk mencari jawaban sementara secara ilmiah
2. landasan metodologi untuk membuktikan jawaban teoritik
3. landasan kecendiakawanan dalam menginterpretasikan hasil hasil penelitian.

Tinjauan pustaka, atau studi literatur dalam proposal penelitian skripsi merupakan langkah penting di dalam penelitian tersebut. Langkah ini meliputi identifikasi, lokasi, dan analisis dari dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian skripsi secara sistematis. Teori‐teori akan memberikan landasan dan pengarahan terhadap penelaahan permasalahan penelitian skripsi. Kecanggihan suatu penlitian skripsi diantaranya terletak pada landasan teori yang digukan untuk memecahakan permasalahan penelitian skripsi tersebut.

Tujuan utama dari tinjauan pustaka ini adalah untuk melihat apa saja yang pernah dilakukan sehubungan dengan masalah yang diteliti. Selain menghindarkan diri dari duplikasi penelitian skripsi, tinjauan pustaka juga dapat menghasilkan pengertian yang lebih jauh tentang permasalahan yang diteliti. Melalui langkah ini penyusunan hipotesis juga lebih baik karena pemahaman permasalahan yang diteliti akan lebih mendalam.

Strategi penelitian skripsi juga lebih baik apabila peneliti menempuh langkah ini. Dengan mengetahui penelitian skripsi yang telah dilakukan, penelitian akan dapat menghindarkan diri dari kekurangan yang ada pada peneliti sebelumnya. Di samping itu dengan mengetahui berbagai penelitian yang sudah ada, peneliti akan menjadi lebih tajam dalam melakukan interpretasi hasil penelitian.

Bagi peneliti pemula, kesulitan yang timbul adalah sejauh mana tinjauan pustaka ini harus dilakukan. Tidak ada kriteria yang tegas mengenai hal ini. Namun tiga hal berikut dapat dipertimbangkan sebagai masukan untuk menentukan seberapa jauh tinjauan pustaka perlu dilakukan:
• Semakin banyak tinjauan pustaka tidak selalu semakin baik Fokus terhadap area penelitian yang lebih diutamakan
• Bidang penelitian yang telah sering dilakukan memerlukan fokus yang lebih terpusat dari pada area baru dimana penelitian masih jarang dilakukan
• Sebaliknya apabila penelitian yang dilakukan adalah pada bidang yang belum atau masih jarang dilakukan penelitian, pembatasan fokus menjadi agak lebar

Persiapan
Beberapa hal berikut sebaiknya diketahui sebelum mulai melaksanakan tinjauan pustaka:
• Prosedur dan aturan yang berlaku unuk menggunakan perpustakaan.
• Kelengkapan pustaka dan pelayanan yang tersedia
• Tersediannya data spesifik tentang permasalahan pendidikan dan pembelajaran yang terkait dengan penelitian yang dilakukan.

Sumber Tinjuan Pustaka atau Daftar Pustaka
Pada umumnya terdapat banyak sumber pustaka yang dapat dipergunakan dalam penelitian skripsi, misalnya, buku teks, jurnal, dan berbagai macam artikel pendidikan dan pembelajaran. Pencarian data dapat dilakukan melalui mesin pencari, seperti:
• Yahoo http://www.yahoo.com
• Google http://www.google.com
• Kampus Digital http://www.kampus-digital.com
Dokumen ini meliputi jurnal, abstrak, tinjauan, buku, data statistik, dan laporan penelitian yang relevan. Landasan teoritik yang kuat terarah tersusunnya hipotesis penelitian yang dapat diandalkan.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Kerangka Teoritis

Share:

Seleksi Topik dan Masalah Penelitian

Seleksi Topik dan Masalah Penelitian sangat penting diperhatikan. Sumber utama dalam pemilihan permasalahan ini adalah:
• teori
• studi empiris sebelumnya
• pengalaman peneliti
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam seleksi topic penelitian adalah:
1. Apakah ada permasalahan?
2. Apakah masalah tersebut dapat dipecahkan melalui penelitian?
3. Apakah masalah tersebut menarik untuk dipecahkan?
4. Apakah masalah tersebut bermanfaat untuk dipecahkan?

Sumber Permasalahan
Ada dua sumber permasalahan yang dapat digunakan untuk penelitian, yaitu:
1. Literatur atau bahan bacaan yg berhubungan denan minat dan pengetahuan peneliti
2. Pengalaman (pribadi) juga akan merupakan sumber permasalahan yang cukup banyak

Karakteristik Permasalahan Peneliti
Karakteristik yang pertama adalah: Permasalahan tersebut dapat diselidiki melalui pengumpulan dan analisis data. Beberapa permasalahan yang berhubungan dengan filosofi dan etika sangat sulit untuk diteliti.
Karakteristik yang kedua adalah: Mempunyai arti penting baik dari latar belakang teori maupun praktek.
Sekedar menemukan permasalahan yang tidak ada hubungannya dengan pengembangan teori ataupun tidak memberikan manfaat apapun dalam praktek (bisnis) bukan merupakan hal yang disarankan dalam penelitian.
Permasalahan yang baik, sebenarnya adalah permasalahan yang dirasakan baik oleh peneliti, dalam arti empat macam hal berikut :
1. Mempunyai keahlian dalam bidang tersebut
2. Tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang ada
3. Peneliti mempunyai sumber daya yang diperlukan
4. Peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala yang lain dalam pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.

Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah adalah: Apabila manajemen mengetahui dan menyadari bahwa telah atau akan terjadi situasi yang tidak diinginkan dalam perusahaan.Beberapa situasi yang tidak diinginkan ini misalnya, pemogokan karyawan, tingginya tingkat perputaran karyawan, penurunan jumlah produksi, pemilihan mesin pengganti dan sebagainya.Bagi peneliti pemula, pertanyaan yang sering timbul adalah dari mana permasalahan dapat diperoleh, atau bagaimana melihat permasalahan yang layak untuk diteliti? Sementara permasalahan dalam perusahaan tidak terhitung jumlahnya, peneliti pemula mungkin dapat memanfaatkan teori yang telah dipelajari. Permasalahan dapat diperoleh dari penerapan teori ke dalam praktek bisnis yang ada. Banyak teori yang relevan dengan penelitian bisnis, misalnya, teori motivasi dan kepemimpinan serta manajemen produksi, pemasaran, dan keuangan.
Identifikasi permasalahan yang diturunkan dari teori membawa beberapa keuntungan, yaitu:
1. Peneliti sudah mempelajari teori aplikasinya yang terkait untuk menjawab persoalan yang ada
2. Formulasi hipotesis pada umumnya akan menjadi lebih mudah dan jelas, karena mempunyai hubungan yang erat dengan teori
3. hasil penelitian akan memberikan kontribusi terhadap teori yang dijadikan dasar untuk perumusan masalah
Identifikasi masalah memerlukan kreativitas, pengetahuan, pengalaman, dan kadang‐kadang juga keberuntungan.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan permasalahan penelitian adalah:
1. Kegunaan Penelitian
Aspek yang penting dalam pemilihan masalah penelitian adalah kegunaan penelitian. Dengan kata lain, penelitian hanya dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang mempunyai manfaat lebih besar dari pada biayanya. Pada beberapa penelitian tertentu, meskipun nilai penelitiannya tidak dapat diukur dengan nilai moneter, kegunaannya sudah tidak dapat diragukan lagi.
2. Prioritas
Banyak permasalahan yang memerlukan penelitian serta mempunyai kegunaan penelitian yang jelas dalam perusahaan. Suatu permasalahan tertentu, mungkin menjadi permasalahan yang sangat penting pada beberapa periode yang akan datang, namun belum terlalu penting untuk diteliti pada saat sekarang.
3. Kendala Waktu dan Dana
Waktu dan Dana yang tidak sedikit diperlukan untu mendukung pelaksanaan penelitian tersebut.
4. Dapat diselidiki
Pertimbangan lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah apakah permasalahan yang dipilih dapat diselidiki. Ada dua hal dalam hubungan dengan dapat dan tidaknya suatu permasalahan untuk diselidiki. Hal ini bias terjadi karena masalah tersebut secara teoritis tidak dapat diselidiki, atau belum terdapat teori dasar untuk menyelidiki sehingga baru pada saat nanti.

Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah konteks dari penelitian, alasan mengapa penelitian diperlukan, dan petunjuk yang mengarahkan tujuan penelitian (Evans, 1997:63).
Beberapa karakteristik perumusan masalah yang baik adalah sebagai berikut:
1. Pada umumnya menunjukkan variabel yang menarik peneliti dan hubungan deskriptif, dimana permasalahan secara sederhana diungkapkan dalam suatu pertanyaan yang harus dijawab. Namun demikian arti penting penelitian tetap pada hubungan antar variabel. Perkecualian dalam hal ini adalah dalam metode
penelitian deskriptif, dimana permasalahan mungkin merupakan suatu pertanyaan yang sederhana untuk dijawab
2. Menyusun definisi dari semua variabel yang relevan, baik secara langsung maupun operasional. Definisi operasional ini harus jelas dan spesifik sehingga tidak menimbulkan berbagai macam penafsiran yang berbeda, yang pada akhirnya akan “mengganggu” pelaksanaan penelitian.

Perumusan masalah harus disertai dengan latar belakang masalah. Latar belakang masalah adalah segala informasi yang diperlukan untuk memahami perumusan masalah yang disusun oleh peneliti. Dengan kata lain, latar belakang masalah merupakan informasi yang diperlukan untuk mengerti permasalahan yang ada. Dengan penyajian latar belakang masalah, pemahaman permasalahan penelitian menjadi lebih jelas. Perumusan masalah ini merupakan komponen yang pertama, baik dalam proposal maupun dalam laporan penelitian. Oleh karena itu pernyataan masalah memberikan arah terhadap penelitian yang dilakukan.
Bentuk rumusan masalah penelitian terdiri dari:
a. Permasalahan deskriptif, yakni permasalahan yang menggambarkan keberadaan variabel mandiri Contoh:
• Seberapa besar tingkat kinerja guru sekolah XYZ?.
• Bagaimana sikap mahasiswa tentang konsep kampus digital?
• Seberapa tinggi tingkat prestasi siswa sekolah ABC?
b. Permasalahan komparatif, adalah permasalahan yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih objek/sampel yang berbeda. Contoh :
• Adakah kesamaan antara pembelajaran metode A dengan metode B?.
• Adakah perbedaan kemampuan belajar siswa swasta nasional dengan sekolah negeri?
c. Permasalahan asosiatif, merupakan permasalahan yang bersifat hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada 3 bentuk hubungan dalam hal ini:
1). Hubungan simetris : hubungan yang secara kebetulan munculnya bersama. Contoh:
• Adakah hubungan antara pemilihan lokasi sekolah dengan tingginya minat siswa memilih sekolah?.
• Adakah hubungan antara kemampuan awal siswa dengan prestasi belajar?.
2). Hubungan kausal : hubungan yang bersifat sebab akibat antara variabel independen (mempengaruhi) dengan variabel dependen (dipengaruhi).: Contoh:
• Seberapa besar pengaruh frekuensi tes terhadap hasil belajar?
• Adakah hubungan emosional siswa dengan prestasi belajar?.
3).Hubungan interaktif/resiprocal: hubungan yang saling mempengaruhi, namun tidak diketahui mana variabel independen dan variabel dependen. Contoh:
• Adakah hubungan motivasi dengan prestasi belajar?.
• Adakah hubungan kecerdasan dengan prestasi belajar?.

Baca juga:

Tinjauan Pustaka dalam Proposal

Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru