HIPOTESIS

HIPOTESIS PENELITIAN

Puncak penjelajahan terhadap khasanah teori dan bahan pustaka adalah tersusunnya hipotesis penelitian yang handal. Dilihat dari sudut ini maka hipotesis penelitian tidak lain sebagai konklusi penelaahan teoritik terhadap permasalahan penelitian, suatu konklusi penelaahan teoritik terhadap permasalahan penelitian. Hipotesis dianggap sebagai kebenaran pada level teoritik. Apakah dengan demikian hipotesis juga memiliki kebenaran empirik? Itulah yang harus dibuktikan melalui suatu penelitian.

Hipotesis merupakan “a conjectural statement of the relation between two or more variabels”. Secara statistik hipotesis dipandang sebagai keadaan parameter yang akan diuji berdasarkan keadaan statistik sampel. Dalam suatu hipotesis secara implisit terkandung suatu prediksi. Misalnya, dalam hipotesis yang menyatakan bahwa : pegawai negeri lebih konservatif dalam menghadapi perubahan daripada pegawai swasta, terkandung prediksi bahwa populasi pegawai negeri kurang responsif terhadap perubahan dibanding populasi pegawai swata. Ketepatan prediksi itu sebagian tergantung kepada relevansi dan adequasi teori, konsep, serta fakta yang digunakan sebagai landasan prediksi. Dari sini bisa diduga bahwa salah satu kemungkinan sumber tidak terbuktinya suatu hipotesa adalah kurang relevannya atau tidak adequatnya landasan teori, atau konsep – konsep, atau fakta yang melandasi penyusunan hipotesis tersebut.

Pernyataan hipotesis biasanya dinyatakan dalam bentuk hubungan atau perbedaan. Hipotesis yang menyatakan hubungan yang paling sederhana menyatakan hubungan antara dua variabel X dan variabel Y. Sementara hipotesis hubungan yang rumit bisa mengandung lebih dari dua variabel. Hipotesis perbedaan yang paling sederhana adalah perbandingan keadaan dua sampel. Sebenarnya, hipotesis perbedaan hanya merupakan wajah lain dari hipotesis hubungan.

Misalnya sebuah hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan perilaku konsumsi terhadap produk kosmetika antara pria dan wanita, sebenarnya bisa juga di hipotesiskan sebagai : terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan prilaku konsumsi terhadap produk kosmetika.
Secara umum biasanya di bedakan dua bentuk hipotesis :
1. Hipotesis nol atau hipotesis nihil (statistical hypothesis) : merupakan hipotesis tentang tidak adanya hubungan antara x dan y, atau hipotesis tentang tidak adanya perbedaan sampel lainnya. Uji statistik pada umumnya memiliki sasaran untuk menolak hipotesis nol
2. Hipotesis alternatif atau hipotesis kerja : biasanya dirumuskan dalam bentuk ada perbedaan antara dua x dan y, atau ada perbedaan keadaan antara dua sampel atau lebih. Rumusan yang umum digunakan biasanya dalam bentuk proposisi : “Jika . . . maka . . . ” atau “Makin . . .makin . . .”.

Dengan proposisi semacam itu kita akan lebih mudah membuat peramalan berdasarkan hasil pengajuan. Kebanyakan kesimpulan uji statistik merupakan penerimaan terhadap hipotesis alternatif. Hipotesis mana yang harus dirumuskan sebagai hipotesis penelitian ?

Rumusan hipotesis yang akan kita pergunakan tergantung pada arah tinjauan teoritiknya mengarahkan kita ke kesimpulan tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan, maka hipotesis penelitian kita merupakan hipotesis penelitian nihil (ho). Sebaliknya jika landasan teoritik mengarahkan kita ke kesimpulan ada hubungan Aatau ada perbedaan, maka hipotesis penelitian kita merupakan hipotesis alternatif (ha).

Hipotesis nihil jarang sekali dijumpai dalam penelitian. Sebab jarang sekali orang tertarik akan informasi mengenai tidak adanya hubungan atau tidak adanya perbedaan. Beberapa kekecualian, misalnya hipotesis yang menguji pertanyaan : apakah betul intelegensi wanita lebih rendah daripada pria ; apakah betul masyarakat sipil kurang nasionalis dibandin ABRI ? dan lain lain. Dalam penelitian pendahuluan hipotesis nihil mungkin saja lebih sering dijumpai, sebab dalam penelitian pendahuluan terkadang belum ditemukan cukup banyak bahan masukan untuk merumuskan hipotesis alternatif.
Kebanyakan penelitian ilmiah merumuskan hipotesisnya dalam bentuk hipotesis alternatif. Ini terjadi terutama dalam penelitian – penelitian eksperimental yang mana penelitian bermaksud menemukan perbedaan pengaruh perlakuan baru dibandingkan perlakuan yang ada (perlakuan kontrol). Akan tetapi dalam penelitian bukan eksperimentalpun lebih banyak merumuskan hipotesisnya dalam bentuk hipotesis alternatif. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya penelitian bertujuan untuk mengetahui atau mengungkapkan adanya hubungan atau perbedaan antara gejala – gejala yang terjadi bukan sebaliknya. Selain itu, pengetahuan mengenai hubungan antar variabel penelitian telah cukup banyak sehingga akan membantu sekali dalam merumuskan hipotesis penelitian.

Sering ditanyakan, apakah semua penelitian harus memiliki hipotesis?. Untuk penelitian ilmiah jawabnya Ya. Dalam penelitian ilmiah yang sedang kita bahas, komponen – komponen pokoknya adalah :
Permasalahan – teori – hipotesis – metodologi – data – analisis – kesimpulan.

Dalam penelitian eksploratif yang dipentingkan adalah mendapatkan data dasar. Data dasar ini memiliki banyak kegunaan, antara lain : untuk mengidentifikasi permasalahan, untuk mengembangkan hipotesis, malahan untuk pengambilan keputusan. Dengan demikian penelitian eksploratif dapat menjadi bagian pendahuluan dari penelitian ilmiah, karena ia mengarah kepada penyusunan hipotesis. Namun bagaimanapun hasilnya, penelitian eksploratif akan bersifat deskriptif. Ia bertujuan memeriksa keadaan, betapapun rinci dan detailnya pemeriksaan itu.

Sementara itu penelitian ilmiah bermaksud mencari kejelasan hubungan antar gejala atau antar variabel. Kendati penelitian eksploratif – deskriptif sebagai bagian dari suatu penelitian ilmiah, namun ia tidak diawali dengan tangan kosong. Sebelum mengumpulkan bahan, pasti penelitian sudah membaca dan menyusun kerangka serta strategi tentang bahan apa yang akan dikumpulkan dan dengan cara apa mengumpulkannya. Ibarat orang yang akan berbelanja maka sudah jelas tujuannya ; ia sudah memiliki daftar nama barang yang akan dibelinya, mungkin sudah lengkap dengan harga dan daftar penjual yang menjualnya.

Ada tidaknya barang yang sudah didaftar tadi adalah persoalan nanti di toko atau di pasar. Jika prediksi pembeli sudah memiliki dugaan bahwa barang x lebih banyak tersedia daripada barang y atas dasar alasan tertentu, maka dugaan itu sebenarnya setara dengan hipotesis dalam penelitian .
Bagaimana halnya dengan suatu penelitian yang bukan penelitian lapangan, melainkan penelitian literatur, apakah juga harus membuat hipotesis ?. jawabannya bisa Ya, bisa juga Tidak. Hipotesis itu tidak usah jika penelitian itu hanya mencitrakan siklus : problematika Teori – Jawaban, dan jawaban disini dianggap sebagai kebenaran final.

Seberapa tinggi tingkat kebenaran jawaban itu dilemparkan kecita – rasa penjawabnya ; atau paling jauh pada validitas logik (Logical Validity; validity by definition; etc). apakah orang lain bisa menerima kebenaran tersebut, itu persoalan lain. Oleh karena penelitian semacam itu tidak memakai tolak ukur dan pengandaian maupun pengujian secara obyektif. Maka orang tidak mungkin berbicara tentang kebenaranobyektif, kesahihan, dan sebagainya. Jika ingin berbicara, berbicaralah dengan bahasa dan logika saya, baru saudara dapat memahaminya. Demikian kira – kira jawaban yang dapat diberikan oleh peneliti yang melakukan penelitian secara eksploratif.

semoga bermanfaat!

Baca juga:

Populasi dan Sampel
Share:

No comments:

Post a Comment

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru