Pengukuran dalam Penelitian

Tujuan pengukuran adalah menerjemahkan karakteristik data empiris ke dalam bentuk yang dapat dianalisa oleh peneliti. Titik focus pengukuran adalah pemberian angka terhadap data empiris berdasarkan sejumlah aturan/prosedur tertentu. Prosedur ini dinamakan proses pengukuran yaitu investigasi mengenai cirri‐ciri yang mendasari kejadian empiris dan memberi angka atas ciri‐ciri tersebut. Komponen yang dibutuhkan dalam setiap pengukuran :
(1) Kejadian empiris ( empirical events).
Kejadian empiris merupakan sejumlah ciri‐ciri dari objek, individu, atau kelompok yang dapat diamati.
(2) Penggunaan angka ( the use of number).
Komponen ini digunakan untuk memberi arti bagi ciri‐ciri yang menjadi pusat perhatian peneliti. Spesifikasi tingkat pengukuran, kemudian, diberikan dengan memberi arti bagi angka tersebut.
(3) Sejumlah aturan pemetaan ( set of mapping rules).
Komponen ini merupakan pernyataan yang menjelaskan arti angka terhadap kejadian empiris. Aturan‐aturan ini menggambarkan dengan gamblang ciri‐ciri apa yang kita ukur. Aturan‐aturan pemetaan disusun oleh peneliti untuk tujuan studi.

Proses Pengukuran
Proses pengukuran dapat digambarkan sebagai sederet tahap yang saling berkaitan yang dimulai dari:
1. Mengisolasi kejadian empiris
Aktivitas ini merupakan konsekuensi langsung dari masalah identifikasi dan formulasi. Intinya kejadian empiris dirangkum dalam bentuk konsep/konstruksi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
2. Mengembangkan konsep kepentingan
Yang dimaksud dengan konsep dalam hal ini adalah abstraksi ide yang digeneralisasi dari fakta tertentu.
3. Mendefinisikan konsep secara konstitutif dan operasional.
Definisi konstitutif mendefinisikan konsep dengan konsep lain sehingga melandasi konsep berkepentingan. Jika suatu konsep telah didefinisikan secara konstitutif dan benar, berarti konsep tersebut telah siap untuk dibedakan dengan konsep lain.
Defenisi operasional memperinci aturan pemetaan dan alat di mana variable akan diukur dalam kenyataan. Defenisi ini menyatakan prosedur yang harus diikuti oleh peneliti dalam memberikan angka terhadap konsep yang diukur. Oleh karena itu defenisi operasional akan merefleksikan dengan tepat esensi defenisi konstitutif.
4. Mengembangkan skala pengukuran.
5. Mengevaluasi skala berdasarkan reliabilitas dan validitasnya.
6. Penggunaan skala.
Tahap 4, 5 dan 6 merupakan tahap selanjutnya setelah defenisi dinyatakan dengan tepat, pemberian angka dapat dilakukan. Tujuannya utamanya adalah agar sifat‐sifat angka tersebut seiring dengan sifat‐sifat kejadian yang ingin diukur. Tugas ini dicapai oleh peneliti dengan memahami betul hakekat kejadian empiris yang diukur dan menerjemahkan pengetahuan ini dalam pemilihan dan penyusunan skala pengukuran yang mencerminkan sifat‐sifat yang sama. Skala pengukuran dapat didefeniskan sebagai suatu alat yang digunakan untuk memberikan angka terhadap objek/kejadian empiris.

Skala Pengukuran
Skala pengukuran adalah seperangkat aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data dari pengukuran suatu variabel. Skala pengukuran ini terdiri dari:
1. Skala Nominal
Skala nominal adalah pengukuran yang dilakukan untuk membedakan memberikan kategori, memberi nama, atau menghitung fakta‐fakta. Skala nominal akan menghasilkan data nominal atau diskrit, yaitu data yang diperoleh dari pengkategorian, pemberian nama, atau penghitungan fakta‐fakta.
Contoh:
a. Berdasarkan kategori, misalnya responden dibagi berdasarkan jenis kelamin pria dan wanita.
b. Berdasarkan nama, misalnya dari penenlitian mengenai minibus di Medan ditemukan data bus menurut jalur/trayek dan diberi nama jalur 1, jalur2, jalur 3, dan seterusnya.
c. Berdasarkan data hitung, misalnya dari data PDB suatu negara ditemukan pangsa sektor pertanian sebesar 52%, sektor manufaktur sebesar 38%, dan sektor jasa sebesar 10%.
2. Skala Ordinal Tidak hanya membedakan kategori dan nama pada skala nominal, pada skala ordinal kategori‐kategori ini kemudian diberi urutan yang berjenjang. Contoh: a. Predikat kelulusan mahasiswa:
Dengan pujian                                              IPK <3,51
Sangat memuaskan                                       IPK 3,00‐3,50
Memuaskan                                                 IPK2,50‐2,99
Cukup memuaskan                                       IPK 2,00‐2,49

b. Tingkat kecantikan wanita dijenjang menjadi :
Sangat cantik                                                4
cantik                                                           3
cukup cantik                                                 2
kurang cantik                                                1

3. Skala Interval
Pada skala interval perbedaan antara satu kategori dengan kategori yang lain dapat kita ketahui. Skala interval tidak memiliki nilai nol absolut.
Contohnya: pada temperatur, nilai 0 derajat celcius tidak berarti bahwa tidak ada temperatur, nol derajat celsius berarti titik beku air dan merupaka suatu nilai. Pada skala interval ini kita juga dapat mengatakan bahwa suhu 100 derajat celsius berati lebih panas dua kali lipat dari suhu 50 derajat celsius.

4. Skala Rasio
Hampir sama dengan skala interval, hanya saja pada skala rasio nilai nol tidak mempunyai nilai dan tidak berarti apa‐apa. Misalnya : data jumlah persediaan barang menunjukkan angka 0 (nol) ini berarti pada tidak terdapat barang persediaan sama sekali.

Tipe Skala Pengukuran Pada penelitian sosial biasanya jenis skala yang digunakan adalah skala sikap. Skala sikap yang biasanya digunakan adalah: 1. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang. Biasanya cara pengisian kuisioner jenis ini dengan menggunakan cecklist atau pilihan ganda. Kemudian untuk masing‐masing sikap kemudian di beri bobot.
Contoh skala Likert adalah :
Persepsi responden
Nilai sikap
Sangat setuju (SS)                                   5
Setuju (S)                                               4
Ragu‐ragu (R)                                         3
Tidak setuju (TS)                                    2
Sangat tidak setuju (STS)                         1

2. Skala Guttman Pada skala Guttman jawaban yang diberikan sangat tegas, misalnya setuju atau tidak setuju, ya atau tidak, positif atau negatif, dan sebagainya. Contoh:
1. Setujukah anda bila Presiden mendatang dari kalangan militer?
a. Setuju
b. Tidak setuju
2. Apakah anda merasa ada perbaikan kesejahteraan pada pemerintahan saat ini?
a. Ya
b. Tidak

3. Semantic Differensial
Skala ini berbeda dengan skala Likert yang menggunakan cecklist atau pilihan ganda, pada skala ini responden langsung diberi pilihan bobot hal yang dimaksud dari yang positif sampai negatif.
Contoh:
Menurut pendapat Anda Televisi Merk X : 1. Kualitas gambar
2. Kualitas suara
3. Harga
4. Pelayanan purna jual
bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus
bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus
murah 5 4 3 2 1 mahal
bagus 5 4 3 2 1 tidak bagus
Bila responden memilih jawaban 5 berarti penilaiannya positif terhadap produk tersebut, bila 3 maka ia bersikap netral, dan bila jawabannya 1 maka penilaiannya negatif.

4. Skala Rating Skala rating adalah data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Contoh:
Seberapa baik televisi merek X?
Berilah jawaban angka :
4 bila produk sangat baik 3 bila produk cukup baik 2 bila produk kurang baik 1 bila produk sangat tidak baik
Contoh kuesioner dengan skala rating, jawablah dengan melingkari interval jawaban.

NO      PERTANYAAN                                          INTERVAL JAWABAN
1.        Bagaimana kualitas gambar                          4  3  2  1
2.        Bagaimana kualitas suara                             4  3  2  1
3.        Bagaimana tampilan produk                         4  3  2  1
4.        Bagaimana pelayanan purna jual                   4  3  2  1

Misalnya jumlah responden 5 orang, maka kita buat tabulasi sebagai berikut:

Jumlah skor kriterium (skor tertinggi) = 4 x 4 x 5 = 80 Jumlah skor terkumpul = 52 Kualitas televisi merek X menurut responden = 52/80 = 65% dari kriteria yang ditetapkan. Secara kontinum dibuat kategori sebagai berikut:
Nilai 52 terletak pada kategori baik.

Bentuk Pertanyaan
1. pertanyaan tertutup yaitu pertanyaan yang sudah disediakan jawabannya, responden tinggal memilih saja.
2. pertanyaan terbuka yaitu bentuk pertanyaan yang tidak diikuti oleh pilihan jawaban, hal ini dilakukan bila informasi mengenai masalah yang akan dimiliki sangat sedikit sehingga responden diminta untuk memberi informasi yang lebih lengkap.
Skala pengukuran amat bervariasi. Skala yang sederhana (simple scales) adalah suatu skala yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik. Misalnya Laki‐laki atau perempuan. Skala yang kompleks kompleks adalah skala yang beragam yang digunakan untuk mengukur beberapa karakteristik.
Skala mempunyai ciri‐ciri setidaknya satu dari empat tingkat pengukuran yaitu: nominal, ordinal, interval dan rasio. Untuk memilih skala yang sesuai, peneliti harus memilih peralatan yang dapat mengukur secara tepat dan konsisten apa yang harus diukur untuk mencapai tujuan pnelitian. Proses ini disebut evaluasi mengenai skala pengukuran. Dalam mengevaluasi skala pengukuran, harus dipertimbangkan dua hal yaitu validitas dan reliabilitas.

Baca juga:

Validitas dan Reliabilitas

Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru