Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Isu sekolah bertaraf internasional muncul setelah ditetapkannya undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 50 ayat 3, yang memuat bahwa “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang–kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional“. Isu ini segera ditanggapi oleh sekolah-sekolah dan masyarakat.

Fahmi Fahriza direktur KALAM Center Bogor menulis artikelnya yang berjudul “Tentang Sekolah Bertaraf Internasional”. Menurutnya Undang-Undang Sisdiknas 2003 memperkenalkan klasifikasi sekolah baru. Sekolah itu antara lain disebut Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Sekolah dengan Kategori Mandiri (SKM), dan kelompok Sekolah Biasa (SB). Pada SBI, pihak penyelenggara pendidikan diberi ruang untuk menggunakan silabus pembelajaran dan penilaian yang umumnya dipakai pada sekolah menengah di negara-negara yang tergabung dalam OECD.

Fahmi Fahriza menyebutkan menurut Syamsir Alam (2008) pada tahun 2004/2005, SMA Negeri 70 Jakarta dan SMA Labschool mulai mengadopsi silabus Cambridge Advance Level (A Level) guna memperkaya kurikulum nasional pada peserta didiknya. Selanjutnya program yang sama diperkenalkan di SMA Negeri 8 Jakarta, SMA Negeri 21 Jakarta, dan SMA Negeri 68 Jakarta. Sebagaimana diketahui, program Cambridge A Level merupakan golden standard Cambridge International Examination (CIE) yang sertifikatnya sudah diakui sejumlah universitas unggulan (ivy league) mancanegara, seperti University of Cambridge, Oxford University, Harvard University, MIT, dan Stanford University. Kelebihan lain dari program ini adalah pembelajaran dan penilaian Cambridge IGCSE lebih menekankan pada kemampuan pemecahan masalah, menumbuhkan pemikiran kreatif, dan autentik (contextual learning).

Fahmi Fahriza menyebutkan saat ini rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) itu sudah tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Tanah Air. Diperkirakan, menjelang berakhirnya tahun anggaran 2009, jumlah RSBI akan mencapai 260 sekolah, terdiri dari 100 SMA, 100 SMP, dan 60 SMK (Sumber: Sinar Harapan, Selasa 12 Mei 2009).

Harian kompas.com memuat artikel hasil diskusi rutin Education Sharing Network bertema 'Sekolah Bertaraf Internasional, Tantangan Bagi Pendidik' yang berlangsung di Jakarta. Acara difasilitasi oleh Sampoerna Foundation Teachers Institute yang dihadiri oleh para guru sekolah negeri dan swasta dari berbagai wilayah Jabodetabek, juga perwakilan dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain menyoroti tantangan utama guru menghadapi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), forum juga membincangkan ihwal fasilitas pendukung. Menurut Luh Gede Puspini Rini, Direktur International Program and Public Relation Global Achievement School, ada empat tantangan utama yang banyak dihadapi guru-guru di tanah air. Tantangan itu terkait kesiapan mereka menghadapi kebijakan sekolah internasioal yang diatur dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 20/2003). Empat tantangan itu menurutnya adalah kemampuan verbal komunikasi bahasa Inggris, kemampuan akademis, strategi mengajar, serta standarisasi guru SBI.

Luh Gede Puspini Rini juga mengatakan, dua dari empat tantangan itu merupakan hal mendasar dan utama, yaitu kemampuan bahasa Inggris dan strategi pengajaran, khususnya penyerapan kemampuan menggunakan teknologi internet. Tantangan itu jelas terkait dengan kesiapan sumber daya dan harus secepat mungkin dikembangkan. Ia juga menegaskan perlu banyak fasilitas pendukung yang juga diperlukan untuk menyikapi kesiapan menghadapi tantangan-tantangan itu. Ia menyebutnya sumber pembelajaran seperti perpusatakaan, laboratorium, dan internet, jaringan (network), serta pelatihan-pelatihan yang bersifat profesional.

Kesimpulan inti dari diskusi tersebut, para guru dan penyelenggara pendidikan kini harus menyiapkan proses yang memadai tentang proses belajar mengajar di SBI. Mulai penyeleksian siswa baru, memperkaya kurikulum agar berstandar isi Standar Nasional Pendidikan (NSP) plus kurikulum internasional, serta tenaga profesional. (Sumber: Kompas.Com)

Berdasarkan kebijakan yang ditetapkan pemerintah tentang SBI penekanan utama pendidikan bertaraf internasional dalam bidang sains, teknologi, olah raga dan seni, maka langkah awal yang perlu diambil adalah menentukan landasan dan tujuan pendidikan yang jelas. Keberhasilan dunia pendidikan akan ditentukan oleh tujuan pendidikan itu sendiri. Sekolah bertaraf internasional bisa jadi merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan utama pendidikan nasional.

Sekolah bertaraf internasional dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk menjadikan pendidikan bangsa yang diakui internasional. Pengakuan internasional atas kualitas produk dalam negeri yakni kualitas sumber daya manusia yang mencerminkan kualitas pendidikan, maupun kualitas produk pengolahan sumber daya alam yang mencerminkan kualitas ilmu dan teknologi. Bangsa yang maju menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa yang mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk yang berkualitas tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Sekolah bertaraf internasional bukan sebagai tujuan atau goal yang utama pendidikan nasional. Tujuan utama harus lebih jauh dari sekedar membangun sekolah bertaraf internasional. Tujuan digambarkan dalam sebuah visi. Visi pendidikan nasional akan menentukan kemana arah bangsa dan negara. Visi pendidikan nasional harus selaras dengan visi pembangunan nasional untuk membawa bangsa kita mencapai tujuan utama. Visi atau tujuan pendidikan nasional yang secara implisit telah termuat dalam pembukaan UUD negara tahun 1945 dan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sisdiknas serta berbagai peraturan dan perudangan yang lain, tidak dibahas dalam makalah ini.

Salah satu pilar utama untuk mencapai visi pendidikan nasional adalah pendidik. Rencana untuk menjadikan pendidikan di Indonesia bertaraf internasional adalah tantangan utama bagi para pendidik. Dalam makalah ini akan dibahas tantangan pendidikan sains khususnya tantangan bagi pendidik kimia dalam menghadapi sekolah bertaraf internasional. Tantangan bagi pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan kimia bertaraf internasional.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa kriteria sekolah bertaraf internasional menurut pemerintah?
2. Bagaimana strategi pemerintah menjadikan sekolah bertaraf internasional?
3. Apa tantangan pendidikan kimia menghadapi sekolah bertaraf internasional?
4. Bagaimana strategi pendidikan kimia menghadapi sekolah bertaraf internasional?

C. Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah batasan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Kriteria pendidik SMA dan SMK bertaraf internasional.
2. Tantangan bagi pendidik menghadapi sekolah bertaraf internasional.
3. Strategi pendidik menghadapi sekolah bertaraf internasional.


PEMBAHASAN

A. Sekolah Bertaraf Internasional
Pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan setelah memenuhi standar nasional pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan satuan pendidikan yang telah memenuhi standar nasional pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju (Sumber: PP No 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan).
Pemerintah menetapkan kebijakan tentang sekolah bertaraf internasional yang berisi antara lain:

Karakteristik Keluaran
1. SBI memiliki keunggulan yang ditunjukkan dengan pengakuan internasional terhadap proses dan hasil atau keluaran pendidikan yang berkualitas dan teruji dalam berbagai aspek;

2. Mempunyai pengakuan internasional yang dibuktikan dengan hasil sertifikasi dan akreditasi berpredikat baik dari salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan.

Karakteristik Program
1. Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan yang diperkaya dengan standar internasional;
2. Menerapkan sistem kredit semester di SMA/SMK/MA/MAK;
3. Memenuhi Standar Isi; dan
4. Memenuhi Standar Kompetensi Lulusan.

Karakteristik Proses Belajar Mengajar
1. Proses belajar mengajar pada SBI menjadi teladan bagi sekolah/madrasah lainnya dalam pengembangan akhlak mulia, budi pekerti luhur, kepribadian unggul, kepemimpinan, jiwa entrepreneur, jiwa patriot; dan jiwa inovator;
2. Diperkaya dengan model proses pembelajaran sekolah unggul dari salah satu negara OECD dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan;
3. Menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran;
4. Pembelajaran kelompok sains, matematika, dan inti kejuruan menggunakan bahasa Inggris, sementara pembelajaran mata pelajaran lainnya, kecuali pelajaran bahasa asing, harus menggunakan bahasa Indonesia.

Karakteristik Pendidik
1. Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK
2. Guru kelompok mata pelajaran sains, matematika, dan inti kejuruan mampu mengampu pembelajaran berbahasa Inggris;
3. Minimal 10% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SD/MI;
4. Minimal 20% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMP/MTs;
5. Minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK.

Karakteristik Kepala Sekolah
1. Kepala sekolah/madrasah berpendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A dan telah menempuh pelatihan kepala sekolah/madrasah dari lembaga yang diakui oleh Pemerintah;
2. Kepala sekolah/madrasah mampu berbahasa Inggris secara aktif;
3. Kepala sekolah/madrasah bervisi internasional, mampu membangun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa kepemimpinan dan entrepreneur yang kuat.

Karakteristik Sarana Prasarana
1. Setiap ruang kelas dilengkapi dengan sarana pembelajaran berbasis TIK;
2. Perpustakaan dilengkapi dengan sarana digital yang memberikan akses ke sumber pembelajaran berbasis TIK di seluruh dunia; dan
3. Sekolah memiliki ruang multi media, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olah raga, klinik, dan lain sebagainya.

Karakteristik Pengelolaan
1. Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000;
2. Merupakan sekolah/madrasah multi kultural;
3. Menjalin hubungan “sister school” dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri;
4. Bebas narkoba dan rokok;
5. Bebas kekerasan (bullying);
6. Menerapkan prinsip kesetaraan jender dalam segala aspek pengelolaan sekolah; dan
7. Meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, tekonologi, seni, dan olah raga.

Kriteria SMA RSBI
1. Telah memiliki akreditasi A dari Badan Akreditasi Sekolah
2. SMA Kategori Mandiri (SKM);
3. Diutamakan Kabupaten/Kota yang belum ada Rintisan SMA Bertaraf Internasional;
4. Kabupaten/Kota yang telah mempunyai program rintisan SMP Bertaraf Internasional;
5. Penyelenggaraan sekolah 1 sift (tidak double shift);
6. Memiliki sarana prasarana yang lengkap antara lain:
a. Memiliki 3 labaoratorium IPA (Fisiki, Kimia, Biologi);
b. Memiliki perpustakaan yang memadai;
c. Memiliki laboratorium komputer;
d. Ada akses internet;
e. Memiliki web Sekolah;
f. Tersedia ruang kelas yang sesuai dengan rombongan belajar;
g. Memiliki kultur sekolah yang memadai (bersih, bebas asap rokok, bebas kekerasan, rindang);
7. Memiliki sumber daya manusia yang memadai:
a. memiliki kepala sekolah:
1) SK Pengangkatan dari pejabat yang berwenang
2) mampu mengoperasikan komputer
3) memiliki kemampuan Bahasa Inggris minimal secara pasif
b. memiliki guru mata pelajaran yang cukup (minimal 80% mengajar sesuai latar belakang pendidikan)
c. memiliki staf penunjang yang memadai (staf TU, Laboran, Pustakawan, Teknisi)
8. Memiliki minimal 9 rombongan belajar.
9. Mengajukan proposal

Kriteria SMA Bertaraf Internasional
1. Pemenuhan Standar Kompetensi Lulusan, yang diwujudkan dengan adanya:
a. Dokumen kriteria input siswa (misal: rapot, tes seleksi dsb) minimal 7,5;
b. Dokumen SK Kepala Sekolah tentang nilai KKM minimal 7,5 untuk seluruh mata pelajaran;
c. Dokumen nilai rata-rata UN lulusan minimal 7,5;
d. Dokumen meraih kejuaraan nasional, regional, dan internasional pada bidang; Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Komputer, Astronomi, Kebumian, Ekonomi, Debat Bahasa Inggris, Olimpiade Penelitian Siswa, Olimpiade Olah raga Siswa Nasional (O2SN), Festival dan Lomba Seni Nasinal (FLS2N), selama mengikuti program Rintisan SMA Bertaraf Internasional.
2. Pemenuhan Standar Isi, yaitu dengan menunjukkan dokumen adopsi, adaptasi materi pelajaran berstandar internasional
3. Pemenuhan Standar Proses, dengan menunjukkan adanya :
a. Dokumen proses pembelajaran berbasis TIK dan siswa menggunakan fasilitas pembelajaran berbasis TIK sebagai sumber belajar;;
b. Dokumen penyelenggaraan pembinaan kesiswaan untuk meraih prestasi bertaraf internasional ;
4. Pemenuhan Standar Pendidik yaitu dengan menunjukkan:
a. Foto copy ijazah guru yang berpendidikan S2/S3 minimal 30 %;
b. Data kesesuaian mengajar antara ijazah S2 atau S3 bagi pendidik dengan mata pelajaran yang diampu.
c. Foto copy sertifikat skor TOEFL ≥ 7,5 (computer based) bagi pendidik
5. Pemenuhan Standar Tenaga Kependidikan yaitu dengan menunjukkan :
a. Foto copy ijazah Kepala Sekolah berpendidikan minimal S2 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi atau dari perguruan tinggi negara lain yang diakui setara S2 di Indonesia
b. Kepala Sekolah mampu berbahasa Inggris, dan/atau bahasa asing lainnya secara aktif;
c. Foto copy sertifikat skor TOEFL ≥ 7,5 (computer based) bagi Kepala Sekolah;
d. Data Kepala Sekolah mengirimkan guru dalam kolaborasi internasional secara mandiri;
e. Dokumen penghargaan atas prestasi yang diraih Kepala Sekolah atau tenaga kependidikan pada tingkat nasional atau internasional;
f. Dokumen Kepala Sekolah menunjukkan data bahwa dirinya melakukan jejaring internasional.
6. Pemenuhan Standar Sarana dan Prasarana yang diwujudkan dengan adanya:
a. Data jumlah ruang kelas yang dilengkapi dengan jaringan dan perangkat TIK;
b. Data keadaan ruang perpustakaan digital (dilengkapi jaringan internet) yang berfungsi sebagai sumber belajar;
c. Data keadaan ruang dan fasilitas untuk sumber belajar guru (TRRC) yang mendukung pengembangan profesionalisme guru;
d. Data keadaan lab kimia, fisika, dan biologi yang berfungsi sebagai sarana belajar siswa;
e. Data keadaan lab bahasa, dan lab komputer yang berfungsi sebagai sarana belajar siswa.
7. Pemenuhan Standar Pengelolaan yang diwujudkan dengan memperlihatkan:
a. Dokumen RKJM, RKT, dan RKAS sebagai penjabaran dari visi dan misi sekolah;
b. Bukti fisik penerapan PAS;
c. Foto copy sertifikasi ISO 9001;
d. Lingkungan sekolah yang bersih, tertib, indah, rindang, aman, sehat, dan bebas asap rokok;
e. Dokumen guru mata pelajaran melaksanakan lesson studi atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK);
f. Dokumen sekolah melaksanakan seleksi penerimaan siswa baru sesuai persyaratan standar nasional;
g. Dokumen kegiatan sekolah yang menggunakan bahasa Inggris seperti majalah dinding, web sekolah, diskusi siswa, seminar, dsb;
h. Dokumen sekolah melaksanakan kegiatan pertukaran siswa/berkolaborasi dalam pengembangan jejaring internasional;
i. Dokumen/bukti sekolah mendayagunakan TIK dalam aktivitas kesiswaan berkolaborasi dalam pengembangan jejaring internasional seperti e-mail, dan dokumen elektronik lainnya.
8. Pemenuhan Standar Pembiayaan yang diwujudkan dengan adanya:
a. Dokumen Dokumen pengumuman pengalokasian anggaran dana block grant pada papan pengumuman di sekolah;
b. Dokumen penerimaan pembiayaan pemerintah provinsi;
c. Dokumen penerimaan pembiayaan pemerintah kabupaten/kota;
d. Dokumen penerimaan pembiayaan masyarakat atau sumber lainnya;
e. Dokumen laporan penggunaan alokasi anggaran sesuai dengan rencana;
f. Laporan pertanggung jawaban keuangan dalam musyawarah pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah;
g. Dokumen kegiatan sekolah yang menggunakan bahasa Inggris seperti majalah dinding, web sekolah, diskusi siswa, seminar, dsb;
h. Dokumen alokasi minimum 20% dari seluruh dana block grant untuk beasiswa bagi siswa memiliki potensi akademik tinggi tetapi kurang mampu secara ekonomi, seperti bukti penerima beasiswa.

Kriteria SMK Bertaraf Internasional
1. Output/outcomes bercirikan:
a. lulusan SMK-SBI dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf internasional, baik di dalam maupun di luar negeri,
b. lulusan SMK-SBI dapat bekerja pada lembaga-lembaga dan/atau dunia bisnis bertaraf internasional, dan/atau berusaha secara mandiri dalam kancah persaingan global.
2. Proses pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan harus bercirikan internasional, yaitu:
a. menumbuhkan kreativitas, dan kewirausahawanan,
b. menerapkan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan,
c. menerapkan proses pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK),
d. proses pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (bilingual),
e. proses penilaian menggunakan model-model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD,
f. manajemen penyelenggaraan memenuhi standar internasional yaitu mengimplementasikan dan meraih ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000, serta menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri.
3. Input SBI yang esensial bertaraf internasional antara lain:
a. telah terakreditasi dengan nilai A dari badan akreditasi sekolah/nasional dan terakreditasi dari salah satu negara anggota OECD, dan/atau negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan
b. standar kelulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional, sistem administrasi akademik berbasis TIK, muatan mata pelajaran sama dengan muatan mata pelajaran sekolah unggul diantara Negara anggota OECD atau Negara maju lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan,
c. jumlah guru minimal 30% berpendidikan S2/S3 dari Perguruan Tinggi yang Program Studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa asing/berbahasa Inggris aktif,
d. kepala sekolah minimal S2 dari Perguruan Tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa asing/berbahasa Inggris aktif, serta semua guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis TIK,
e. tiap ruang kelas dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran berbasis TIK, perpustakaan dilengkapi sarana digital/berbasis TIK, dan memiliki ruang dan fasilitas multi media, dan
f. menerapkan berbagai model pembiayaan yang efisien.

Strategi Menuju SBI
1. Melaksanakan Program Pendampingan dari institusi terkait untuk membantu sekolah mencapai profil SBI
2. Mendorong terjalinnya kerjasama internasional
3. Melakukan sertifikasi sistem manajemen mutu
4. Melakukan bench marking internasional
5. Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana
6. Memperkuat kualitas SDM pendukung (Guru, Kepala Sekolah).

Proses Menuju SBI
1. Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi:
a. standar isi;
b. Standar proses;
c. Standar kompetensi lulusan;
d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan;
e. Standar sarana dan prasarana;
f. Standar pengelolaan;
g. Standar pembiayaan; dan
h. Standar penilaian pendidikan
2. Sekolah yang memenuhi standar minimal SNP diberikan pendampingan, pembimbingan, penguatan, dalam bentuk Rintisan SBI (RSBI)
3. Tahapannya dari sekolah biasa, rintisan SBI dan menjadi SBI

B. Tantangan Pendidikan Kimia Menghadapi Sekolah Bertaraf Internasional
1. Tantangan Bagi Pendidik
Tantangan pendidikan kimia menghadapi sekolah bertaraf internasional adalah bagaimana memiliki segala aspek ilmu pendidikan kimia maupun ilmu kimia itu sendiri bertaraf internasional. Aspek pendidikan kimia paling tidak mencakup kurikulum, pendidik, peserta didik, sarana prasarana, dan sistem penilaian pendidikan kimia yang keseluruhannya memenuhi standar internasional. Kualitas pendidikan kimia tentunya diukur dari pencapaian keberhasilan pendidikan kimia dalam tingkat nasional dan internasional. Sebelum mencapai semua itu maka penting bagi para pendidik untuk mengevaluasi terlebih dahulu tingkat ketercapaian pendidikan kimia saat ini agar dapat membuat strategi dan langkah tindak lanjut.

Data prestasi belajar peserta didik yang diperoleh dari website UPT perpustakaan Universitas Sebelas Maret menunjukkan indeks fasilitas dari calon mahasiswa di Sumatera dan Jawa Barat selama rentang sembilan tahunan (1997-2006) disajikan dalam Tabel 1.
   
Data pada tabel 1 menggambarkan pencapaian lulusan SMA dalam sains masih rendah, yang berarti bahwa kualitas input bagi perguruan tinggi khususnya fakultas MIPA dan pendidikan MIPA juga masih rendah, hal ini juga bisa diekstrapolasi yang bisa menunjukkan kualitas guru dalam hal pemahaman dan pengajaran sainsnya masih belum bagus berhubung siswa adalah produk pengajaran mereka. Jika sudah mengajar dengan bagus tetapi siswanya belum mampu menguasai materi pelajaran, hal ini juga adalah tanggungjawab guru untuk bisa membuat siswanya mengerti dan memahami. Bila dirujuk bahwa MIPA merupakan dasar berkembangnya produktivitas, inovasi maupun 'competitiveness' suatu bangsa, maka ini juga mengindikasikan negara kita masih lemah dalam menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas dan kompetitif dalam bidang sains. Jika ditetapkan indeks fasilitas standar adalah 70% dengan rentang indeks fasilitas 1 s/d 100% maka dapat dikatakan bahwa kualitas pencapaian pendidikan kita masih jauh dibawah standar. Bila dibandingkan dengan mata pelajaran sains yang lain mata pelajaran kimia berada diatas, tetapi masih jauh dari standar yang diharapkan.

Tantangan pertama bagi pendidik kimia adalah mendorong dan memotivasi peserta didik untuk berprestasi sehingga memberikan input atau masukkan yang berkualitas bagi perguruan tinggi. Pelajaran kimia di SMA merupakan pendidikan dasar bagi ilmu pendidikan kimia maupun ilmu kimia. Pemahaman dan penguasaan kompetensi dasar yang mantap menjadi modal dasar bagi peserta didik mengikuti mata kuliah, praktikum dan penelitian kimia lebih lanjut. Tugas bagi pendidik adalah menolong peserta didik menguasai kompetensi dasar, apalagi jika tuntutannya berstandar internasional maka tantangan bagi pendidik untuk bekerja lebih keras supaya pencapaiannya lebih tinggi dari standar kompetensi nasional.

Hasil belajar kimia peserta didik dari beberapa sekolah dapat dilihat dari hasil-hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh nilai UAN/UAS/Ulangan harian (UH). Data nilai ujian dari beberapa sekolah disajikan dalam Tabel 2:

Tabel 2. Rata-rata nilai kimia UAN, UAS dan Ulangan harian (UH) di beberapa SMA
No
Nama Sekolah/ Kelas
Materi
Tahun
Jenis
Nilai 
1*
SMA N 2 Karanganyar   
Kelas X s/d XII
2007/20082008/2009
UAN
UAN
8.45
8.56
2
SMA N 2 Surakarta   
Kelas X s/d XII
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
6.42
7.51
SMA Taruna Nusantara Magelang
Kelas X s/d XII 
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
8.1
8.72
4
SMA (Se-Kalimantan tengah)   
Kelas X s/d XII 
2008/2009
UAN
6.75
5
SMA (se-Kabupaten Kota Waringin)  
Kelas X s/d XII
2008/2009
UAN
6.34
6
SMA Pangkalan Bun
Kelas X s/d XII
2008/2009
UAN
7.16
7
SMA (se-Kota Palangkarara)
Kelas X s/d XII
2008/2009
UAN
6.83
8
SMA 1 Palangkaraya 
Kelas X s/d XII
2008/2009
UAN
7.34
9
SMA Negeri 1 Solo   
Kelas X s/d XII
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
7.79
8.35
11
SMA Batik I Surakarta
Kelas X s/d XII
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
6.34
7.05
12
SMA N 3 Madiun      
Kelas X s/d XII
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
8.59
9.01
13
SMA Negeri Sekay (RSBI)  Sumatra Selatan   

Kelas X s/d XII
2007/2008
2008/2009
UAN
UAN
8.05
9.03
14**
SMA Taruna Nusantara Magelang/ Kelas X 
Hukum Dasar Kimia
2005/2006
2006/2007
2007/2008
UH
UH
UH
65.10
60.50
63.50
15
SMA N 1 Pemalang/ Kelas XI
Koloid
2007/2008
UH
60.62
16
SMA N 1 Boyolali/ kelas X
Ikatan Kimia
2008/2009
UH
61
17
SMA Negeri 2 Boyolali/ kelas XI   
Laju reaksi
2005/2006
2006/20072007/2008
UH
UH
UH
55.10
52.20
52.60
18
SMA Batik II Surakarta/ Kelas X
Kelas X smt 2
2005/2006
2006/2007
UAS
UAS
58.50
68.70
19
SMA N 1 Sukodono/Kelas XI
Kesetim-bangan kimia
2004/2005
2005/2006
2006/2007
UH
UH
UH
65.32
66.45
66.16
20
SMA N 1 Pekalongan/ Kelas XI
Laju reaksi 
2007/2008
UH
66.50
21
SMA N 2 Karanganyar/Kelas X
Kelas X smt 1
2007/2008
UAS Smt 1
44.31
*)dengan rentang 1-10  **)dengan rentang 1 – 100
Sumber data: Guru sekolah terkait.  

Data pada tabel 2 di atas menggambarkan hasil evaluasi pembelajaran kimia tingkat nasional dan tingkat sekolah. KKM untuk tingkat nasional 7,50 ada yang sudah mencapai rerata sesuai standar bahkan lebih dari 9 tetapi ada juga yang masih dibawah KKM nasional. Rerata nilai UAN mata pelajaran kimia pada tahun pelajaran 2008/2009 SMA se-Kalimantan Tengah masih berada dibawah KKM nasional, berbeda dibandingkan rerata nilai di Jawa yang masih berada diatas KKM. Jika kita mengikuti faham mastery learning, Bloom mendefinisikan mastery leraning dicapai kalau siswa sudah mampu mengerjakan tes dengan benar antara 80 s/d 90 %. Dalam kebijakan pemerintah tentang SBI menetapkan nilai rata-rata mata pelajaran MIPA harus minimal 8,00. Berdasarkan data ini, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar sekolah belum memenuhi kriteria matery dan belum siap menaikkan standar bertaraf internasional.

Tantangan kedua bagi pendidik kimia adalah bagaimana meningkatkan nilai UAN peserta didik agar melebihi standar nasional atau KKM nasional. Tentunya peserta didik perlu mencoba berbagai metode mengajar, membuat materi ajar dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks untuk terus mengukur tingkat pencapaian peserta didik, menguasai berbagai keahlian untuk memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana belajar mengajar, dan membuat sistem penilaian yang autentik. Jika tuntutannya berstandar internasional maka tantangan besar bagi guru untuk bekerja lebih keras lagi.

Hasil belajar kimia peserta didik di salah satu sekolah dapat dilihat dari data jumlah siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar (KKM) pada tes kimia yang disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Pencapaian KKM di SMA
No
Nama SMA/ Kelas
Materi
Jml siswa
Mencapai KKM
Tidak mencapai KKM
1
SMA N 1 Boyolali/ Kelas X
SPU
Ikatan Kimia
Tatanama
Konsep Mol
Elektrolit
Redoks
Hidrokarbon
40
40
40
40
40
40
40
20
19
17
18
28
19
15
20
21
23
22
12
21
25

Sumber : Sekolah terkait

Data pada tabel 3 di atas menunjukkan hampir lebih dari setengah jumlah siswa yang diuji pada salah satu sekolah di Boyolali belum memenuhi KKM 7,50, hal ini mengindikasikan peserta mengalami kesulitan dalam memahami dan menguasai materi pelajaran kimia. Materi yang diujikan merupakan materi yang sangat mendasar dan merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai untuk mengerti dan memahami materi yang lebih kompleks. Tantangan bagi pendidik adalah menguasai setiap materi yang diajarkan dan mampu menguasai berbagai metode mengajar dan media ajar.

Hasil UAN salah satu sekolah RSBI di Jakarta tahun 2008 s/d 2010 dapat di lihat pada tabel berikut ini :



Tabel 4. Data Nilai Ujian Nasional SMU N 13 Jakarta



Data tabel 4 menunjukkan rerata nilai UAN kimia untuk mata pelajaran kimia di salah satu SMA RSBI di Jakarta sudah melebihi standar nasional pendidikan. Terlihat pada tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010 mata pelajaran kimia mencapai rerata yang paling tinggi dari antara mata pelajaran yang diujikan. Hal ini menunjukkan bahwa pada sekolah yang menuju ketaraf internasional peserta didik memilki ketertarikan besar terhadap pelajaran kimia yang dibuktikan dengan prestasi yang tinggi. Tantangan selanjutnya bagi pendidik adalah memotivasi peserta didik untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau universitas yang maju atau bahkan ke perguruan tinggi atau universitas negara yang lebih maju seperti University of Cambridge, Oxford University, Harvard University, MIT, Stanford University dan yang lainnya.

Sekolah RSBI sudah tersebar luas di Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar di Sumatera dan Sulawesi. Berikut ini data pendidik kimia di beberapa sekolah RSBI:

Tabel 5.  Data pendidik kimia di beberapa RSBI tahun 2010:
No
Sekolah
Guru/Pendidik
Pendidikan
1
SMU N 70 Jakarta
1.      Hj. Darul Husna, S.Pd
2.      Gilang Nurfajarudi, S.Pd
S1
S1
2
SMU N 3 Jakarta
1.      Hj. Murni Astra, S.Pd
2.      Yenita, S.Pd
3.      Dra. Sri Sudarwati
4.      Dra. Berliana Pasaribu
5.      Dra. Rosnani
6.      Iman Nurchaed, M.Si
S1
S1
S1
S1
S1
S2
3
SMUN 13 Jakarta
1.      Dra. Hj. Iis Rosidah
2.      Dra. Nursyamsiah, M.Pd
3.      Dra. Ade Amalia
4.      Eka Barkah, S.Pd
S1
S2
S1
S1
4
SMU N 5 Yogyakarta
1.      Dra. CH. Triwedaringsih
S1
      Sumber : Sekolah terkait

      Data pada tebel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar pendidik kimia di beberapa SMA RSBI masih berpendidikan S1. Tantangan bagi pendidik adalah melanjutkan studi ke jenjang S2 atau bahkan S3 di perguruan tinggi yang berakreditasi A atau ke pergeruan tinggi berakreditasi di negara maju.
      Sarana prasarana yang memadai tentu akan sangat menunjang terlaksananya kegiatan belajar mengajar di SMA. Tabel 6 berikut ini memuata data sarana dan prasarana di salah satu SMA RSBI di Jakarta :

Tabel 6. Sarana Prasarana SMA Negeri 28 Jakarta
No.
JENIS RUANG
JUMLAH
KETERANGAN
1.
Ruang Belajar
21 ruang
14 ruang  AC + LCD
7 ruang AC
2.
Ruang Laboratorium  IPA
3 ruang
AC + LCD
3.
Ruang Lab Bahasa
1 ruang
AC
4.
Ruang Lab Komputer
2 ruang
AC + LCD
5.
Ruang Guru
1 ruang
AC
6.
Ruang Perpustakaan
1 ruang
AC
7.
Ruang BK
1 ruang
AC
8.
Ruang Kepala Sekolah
1 ruang
AC
9.
Ruang Tata Usaha
1 ruang
AC
10.
Ruang Audio Visual
1 ruang
AC + LCD
11.
Ruang Studio Musik
1 ruang
AC + LCD
12.
Ruang OSIS
1 ruang
AC
13.
Ruang  UKS
1 ruang
AC
14.
Ruang secretariat Sanggar 011
1 ruang
AC
15.
Tempat Ibadah (Masjid)
1 unit
AC
16.
Lapangan Basket
2 lapangan

17.
Lapangan Bulutangkis
1 lapangan

18
Ruang Sebaguna
1 ruang
AC
19
Ruang ganti pakaian
1 ruang

20
Toilet Siswa
18 kamar

21
Ruang Satpam
1 ruang

22
Kantin
18 lapak

Sumber : Sekolah terkait   

Data tabel 6 menggambarkan kelengkapan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar mengajar bagi pendidik dan peserta didik di salah satu SMA RSBI. Sarana prasarana yang menunjang tentu memotivasi belajar peserta didik dan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Tantangan bagi pendidik kimia adalah memanfaatkan laboratorium kimia untuk memotivasi peserta didik melakukan penelitian untuk dipublikasikan pada tingkat nasional dan internasional. Pendidik juga ditantang untuk menguasai materi pendidikan kimia tingkat internasional dengan menyediakan buku-buku dan jurnal internasional sebagai referensi baca di perpustkaan. Tantangan bagi pendidik adalah selalu belajar menguasai hal-hal baru sehingga pelajaran kimia yang diajarkan selalu relevan dan tidak ketinggalan dengan negara maju. Pendidik juga ditantang untuk menguasai teknologi internet guna memperoleh informasi global atau informasi internasional yang akan menunjang materi yang diajarkan.

2. Strategi pendidik menghadapi sekolah bertaraf internasional
Salah satu hal yang utama dan pertama sebelum membuat strategi menghadapi sekolah bertaraf internasional adalah menentukan visi dan misi sekolah atau satuan pendidikan. Tanpa visi dan misi ibarat sebuah perjalanan tanpa tujuan yang tidak tahu ke mana arahnya. Visi dan misi akan menentukan arah dan tujuan pendidikan. Berikut contoh visi misi salah satu SMA RSBI di Jakarta.

Visi Misi SMAN 13 Jakarta
VISI

Terwujudnya generasi berakhlak mulia, cerdas dan demokratis mengakar pada budaya bangsa serta mampu bersaing diera global
MISI
Mengadakan kegiatan keagamaan secara rutin dan teratur untuk menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran yang dianutnya.
Membentuk watak siswa yang berperilaku, berbudi pekerti luhur sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Menyelenggarakan proses pendidikan yang bermutu berorientasi pada pencapaian kompetensi berstandar nasional dan internasional.
Membentuk siswa kreatif, inovatif dan cerdas yang mampu berkompetisi diera globalisasi.
Membentuk siswa yang memiliki sikap disiplin, jujur, baik, adil, demokrasi serta bertanggung jawab.
Mendidik dan melatih siswa agar mampu bersaing di Perguruan Tinggi terbaik di dalam maupun diluar negeri dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Visi SMA N 13 Jakarta di atas merupakan arah dan tujuan pendidikan yang akan dilaksanakan di SMA tersebut. Telah jelas bahwa tujuan pendidikannya mewujudkan generasi berakhlak mulia, cerdas dan demokratis mengakar pada budaya bangsa serta mampu bersaing diera global. Misi adalah cara untuk mewujudkan visi, tanpa misi maka visi tidak dapat terwujud, untuk mewujudkan visi perlu strategi. Dengan demikian, jika ingin bermisi maka perlu membuat strategi. Dalam hal ini fokus pertama adalah pendidik, karena pendidik berperan penting dalam misi yang akan dilaksanakan. Strategi yang perlu disiapkan adalah mempersiapkan pendidik yang beragama, berakhlak mulia, bermutu, berkompetensi, berprinsip dan mampu bersaing.

Seorang pendidik/guru kimia juga perlu memiliki visi dan misi sesuai bidang profesionalnya. Visi pendidikan kimia perlu dirumuskan dengan melihat konteks pendidikan kimia saat ini dan melihat peluang pengembangan pendidikan kimia dimasa akan datang. Misalnya peluang pendidikan kimia dalam bidang pendidikan kimia sendiri untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi dalam kimia fisika, kimia analitik, kimia organik dan kimia anorganik, juga penelitian yang berhubungan dengan pangan, farmasi, lingkungan, bioteknologi, bahan alam, dan yang lainnya.

Strategi pendidik/guru kimia dalam menghadapi sekolah bertaraf internasional antara lain adalah :

· Mengikuti pelatihan tingkat nasional dan internasional dalam bidang kimia.

· Mengikuti pelatihan atau kursus bahasa Inggris dan/atau bahasa internasional lainnya yang mendukung untuk membaca buku-buku dan jurnal-jurnal internasional.

· Mengikuti pelatihan atau kursus TIK.

· Melanjutkan studi ke jenjang S2 atau S3 di perguruan tinggi berakrditasi A atau bahkan ke perguruan tinggi terakreditasi di negara maju.

· Melakukan penelitian pendidikan kimia atau penelitian dalam bidang ilmu kimia dalam jejaring internasional.
PENUTUP


Kesimpulan

1. Pendidik/guru mata pelajaran kimia masih sedikit yang berpendidikan S2, dan hasil belajar mengajar yang mencapai nilai rerata kriteria sekolah bertaraf internasional masih sedikit.

2. Tantangan bagi pendidik/guru kimia menghadapi sekolah bertaraf internasional adalah mendorong dan memotivasi peserta didik untuk berprestasi, meningkatkan nilai UAN peserta didik memenuhi bahkan melebihi standar nasional atau KKM nasional, menguasai setiap materi yang diajarkan dan mampu menguasai berbagai metode mengajar dan media ajar, memotivasi peserta didik untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau universitas yang maju atau bahkan ke perguruan tinggi atau universitas negara yang lebih maju, pendidik melanjutkan studi ke jenjang S2 atau bahkan S3 di perguruan tinggi yang berakreditasi A atau ke pergeruan tinggi terakreditasi di negara maju, selalu belajar menguasai hal-hal baru sehingga pelajaran kimia yang diajarkan selalu relevan dan tidak ketinggalan dengan negara maju, dan menguasai teknologi internet guna memperoleh informasi global atau informasi internasional yang akan menunjang materi yang diajarkan.

3. Strategi pendidik/guru kimia dalam menghadapi sekolah bertaraf internasional antara lain adalah :

· Mengikuti pelatihan tingkat nasional dan internasional dalam bidang kimia.

· Mengikuti pelatihan atau kursus bahasa Inggris dan/atau bahasa internasional lainnya yang mendukung untuk membaca buku-buku dan jurnal-jurnal internasional.

· Mengikuti pelatihan atau kursus TIK.

· Melanjutkan studi ke jenjang S2 atau S3 di perguruan tinggi berakrditasi A atau bahkan ke perguruan tinggi terakreditasi di negara maju.

· Melakukan penelitian pendidikan kimia atau penelitian dalam bidang ilmu kimia dalam jejaring internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Fahriza, F. , 2009. Sekolah bertaraf interanasional. http://www.sinarharapan.co.id/detail/article/tentang-sekolah-bertaraf-internasional/
Rini, L.G.P., 2009. Sekolah bertaraf internasional, tantangan bagi pendidik.
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/04/15/09532498/
http://www.sman70-jkt.sch.id/index.php/profil/guru
http://www.sman3jakarta.com/site/
http://www.sman13jkt.sch.id/
http://sman5yk.sch.id/html/guru.php?id=dbguru
http://pustaka.uns.ac.id
www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/docs/dok_34.pdf
http://www.google.co.id/sekolah bertaraf internasional
Share:

4 comments:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Blog Archive

Post Terbaru