Kampus Digital Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Palangka Raya Menuju Era Revoulusi Indutri 4.0

DjVu

Apa itu File Format .djvu dan bagaimana membukanya?

#
Djvu (dibaca “Deja vu”) adalah suatu set yang terdiri dari teknologi kompresi, sebuah format file (.djvu) dan sebuah software platform untuk pengiriman ke Web yang terdiri dari digital documents, scanned documents, dan high resolution images

Djvu dokumen men-download dan menampilkan secara cepat, tepat dengan tampilan sama pada semua platform tanpa masalah kompatibilitas karena font, warna, dan lainnya. DjVu bisa menjadi alternatif yang lebih unggul dari Software lainnya dalam menampilkan format-format tertentu. Di antaranya adalah :
DjVu lebih baik dari PDF dan PostScript dalam menampilkan dokumen digital
DjVu lebih baik dari TIFF (dan PDF) dalam menampilkan scanned bitonal documents
DjVu lebih baik dari JPEG2000 dan JPEG dalam menampilkan foto dan gambar
DjVu lebih baik dari GIF dalam menampilkan large palettized images
Djvu adalah satu-satunya web format yang praktis untuk mendistribusikan high-resolution scanned documents yang berwarna. Tidak ada web format lain yang dapat menandinginya dalam hal ini.
Kelebihan Type File .djvu adalah sebagai berikut:
Bitonal Scanned Documents : 5 - 30KB per halaman di 300dpi (3 - 10 kali lebih kecil dari .PDF atau .tiff)
Color Scanned Documents : 30 - 100KB per halaman di 300dpi (5 - 10 kali lebih kecil dari .JPEG).
Foto: 2 kali lebih kecil dari JPEG, hampir sama dengan ukurang JPEG-2000, tetapi decoder / renderer DjVu progresif dan memiliki persyaratan memori yang lebih kecil.
Palettized Images : 2 kali lebih kecil daripada .GIF ( bisa samapi 10 kali jika isinya kebanyakan teks).
Digital (non scanned) Documents : antara 1 - 3 kali lebih kecil dari .PDF atau gzipped PS (tergantung jumlah gambar), tetapi page flipping, zooming, panning jauh lebih cepat, dan kualitas gambar pada layar tampilan jauh lebih baik (antialiased teks, dan lainnya).
Kelebihan lainnya yang bisa dibilang yang terpenting adalah bahwa file djvu dapat dengan cepat diload, sehingga melihat dokumen menjadi jauh lebih menyenangkan.
Untuk dapat membuka / melihat file dengan ekstensi *.djvu ini anda dapat langsung mendownload software resminya klik





For Android  Click Here>>
Share:

Penelitian Ilmiah

Makna Penelitian Ilmiah

Ilmu pengetahuan merupakan produk dari penelitian baik ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial. Penelitian ilmiah merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu pengetahuan. Citra orang tentang ilmu pengetahuan sangat tergantung pada bagian penting yang merupakan wajahnya yaitu kegiatan penelitian ilmiah.

Penelitian ilmiah adalah penelitian yang mengandung unsur‐unsur ilmiah atau keilmuan di dalam aktivitasnya. Ostle pada Nazir (1999), menyatakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methode) disebut penelitian ilmiah, mengandung dua unsur penting yakni; unsur pengamatan (observation) dan unsur nalar (reasoning). Penelitian ilmiah juga berarti penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena‐fenomena alami, dengan dipandu oleh teori‐teori dan hipotesis‐hipotesis tentang hubungan yang dikira terdapat diantara fenomena‐fenomena itu (Kerlinger, 2000). Penelitian ilmiah merupakan mesin yang memproses produk ilmu pengetahuan. Dapat disimpulkan bahwa Penelitian ilmiah merupakan serangkain kegiatan sistematis yang didasarkan pada metode ilmiah dengan tujuan mendapatkan jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan atau pertanyaan penelitian yang diajukan sebelumnya. Tentunya ada banyak cara menemukan jawaban yang dimaksud, variasi cara penelitian terjadi tidak hanya dalam penelitian ilmiah terjadi tidak hanya dalam penelitian dalam bidang yang sama, malahan tentang yang sama.

Ilmiah berarti kegiatan penelitian didasarkan pada ciri‐ciri keilmuan (Sugiyono,1999), diantaranya: 
1. Rasional: penyelidikan ilmiah adalah sesuatu yang masuk akal dan terjangkau oleh penalaran manusia. Polisi menyelidiki kasus pencurian dan menemukan pencuri adalah contoh yang masuk akal, tetapi paranormal menemukan dalam menemukan pencuri atau barang yang hilang adalah tindakan yang tidak masuk akal manusia. 
2. Empiris: menggunakan cara‐cara tertentu yang dapat diamati orang lain dengan menggunakan panca indera mereka. Paranormal berusaha menemukan pesawat yang jatuh di Sibolangit bukan merupakan cara empiris, karena tidak kita dapat mengamati bagaimana proses paranormal tersebut dalam menemukan pesawat tersebut. 
3. Sistematis: menggunakan proses dengan langkah‐langkah logis. Proses yang dilakukan dalam penelitian ilmiah berawal dari penemuan masalah, merujuk teori, mengemukakan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan

Beberapa karakteristik umum yang dimiliki Metode Ilmiah : 
• Kritis dan Analitis : Mendorong suatu kepastian dan proses penyelidikaan untuk megidentifikasi masalah dan solusinya. 
• Logis : Merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah dan kesimpulan rasional dari bukti‐ bukti yang ada. 
• Objektif : Bahwa yang diperoleh ilmu lain akan sama apabila studi yang samaadilakukan padaa kondisi yang sama. 
• Konseptual dan teoritis : Menuntun dan mengarahkan upaya penelitian. 
• Empiris : Bersandar pada realitas. • Sistematis : Prosedur yang cermat dan aturan baku

Penemuan kebenaran ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh : 
1. scientific object yang bermaksud memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. 
2. practical objective bertujuan untuk memecahkan problema praktikal yang mendesak. Untuk memperoleh kebenaran ilmiah dikembangan metode ilmiah yang memilki pola umum sebagai berikut ;
Penarikan kesimpulan hasil penelitian ada 2 pola yaitu :
• Deduktif : Penarikan kesimpulan untuk hal spesifik dari gejala umum. 
• Induktif : Penarikan kesimpulan berdasar keadaan spesifik untuk hal‐hal umum.Beberapa hal yang termasuk pada bagian ini adalah menaksir, meramalkan, menguji hipotesis dan hubungan antara beberapa variabel.

semoga bermanfaat:

Share:

MENGENAL IPA

MENGENAL IPA
1. Rasa Ingin Tahu
    Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu merupakan ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang alam sekitarnya, benda-benda di sekelilingnya, gunung, awan, bulan, bintang, dan matahari yang dipandangnya dari jauh, bahkan ia ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu atas jawaban fenomena gejala alam. Rasa ingin tahu itu untuk memenuhi kebutuhan fisik, mempertahankan kelestarian hidupnya, dan untuk kebutuhan nonfisik, kebutuhan alam pikirannya.
    Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Pengetahuan manusia berkembang sampai kepada hal-hal bercocok tanam, menyangkut keindahan dan sebagainya.
2. Mitos dan Perkembangan Alam Pikiran Manusia
    Manusia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga ingin memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terjawab atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia membuat atau mereka-reka sendiri jawabannya.
Contoh:
Apakah pelangi itu ?
Karena tak dapat dijawab, mereka meraka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah “selendang bidadari”. Muncul pengetahuan baru, yaitu “bidadari”.
Mengapa gunung meletus ?
Karena tak tahu jawabannya, maka di reka-reka sendiri dengan jawaban “yang berkuasa dari gunung sedang marah”. Muncul pengetahuan baru, yaitu yang disebut “yang berkuasa”.
    Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama, muncul anggapan “yang berkuasa di dalam hutan yang lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, kilat, raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan ini di terima sebagai kepercayaan masyarakat.
Pengetahuan-pengetahuan baru yang bermunculan dan merupakan gabungan dari pengamatan, pengalaman dan kepercayaan itu disebut mitos. Adapun cerita yang berdasarkan atas mitos ini disebut “legenda”. Mitos ini timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia. Misalnya :
a. Penglihatan
Banyak benda-benda bergerak begitu cepat sehingga tak tampak oleh mata. Mata tak dapat membedakan seluruh gambar yang berbeda dalam satu detik. Mata tak mampu melihat partikel atau jauhnya benda.
b. Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai dengan 30.000 perdetik. Getaran dibawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.
c. Bau dan rasa
Bau dan rasa tidak dapat dipastikan benda yang dikecap maupun diciumnya. Manusia hanya bisa membedakan empat jenis rasa, yaitu : rasa manis, masam, asin, dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita jika konsentrasinya di udara lebih dari 1/10 juta dari udara. Bau dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain, namun tidak semua orang bisa melakukannya.
d. Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin, namun sangat relatif, sehingga tidak dapat dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
    Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain, ada yang sangat tajam penglihatannya ada yang tidak. Demikian pula ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran.
    Untuk meningkatkan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, tapi tetap sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah menciptakan alat, meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi mitos ini dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena :
a.Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.
b.Keterbatasan penalaran.
c.Hasrat ingin tahunya terpenuhi.
    Hasrat ingin tahunya berkembang terus dan mitos merupakan jawaban yang paling memuaskan pada masa itu. Puncak hasil pemikiran seperti itu yaitu pada zaman Babylonia ±700-600 SM. Alam semesta menurut pendapat mereka waktu itu adalah berupa suatu ruangan atau selungkup. Bumi datar sebagai lantainya dan langit-langit melengkung di atas sebagai atapnya. Bintang-bintang, matahari dan bulan menempel dan bergerak pada permukaan dalam langit. Pada atap ada semacam jendela dimana air hujan dapat sampai ke bumi. Tetapi yang menakjubkan adalah bahwa mereka telah mengenal ekliptika atau bidang edar matahari, dan telah menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar kembali ke tempat semula, sama dengan 362,25 hari.
    Horoskop atau ramalan nasib manusia berdasarkan perbintangan juga berasal dari zaman Babylonia ini. Masyarakat waktu itu, bahkan mungkin masih ada pada masa kini, dapat menerimanya. Pengetahuan yang mereka peroleh dari kenyataan pengamatan dan pengalaman tidak dapat digunakan untuk memecahkan masalah hidup sehari-hari yang mereka hadapi.
Contoh :
Suatu saat hasil pertanian mereka tidak memuaskan namun pada saat yang lain baik sekali. Mereka sendiri tidak memahami mengapa demikian. Pengetahuan mereka belum dapat menjawab mengapa hal itu terjadi maka mereka percaya pada mitos, dan dikaitkan nasib itu pada bulan, matahari, dan bintang-bintang.
    Pengetahuan perbintangan pada masa itu memang sedang berkembang. Kelompok bintang atau rasi scorpio, virgo, pisces, leo, dan sebagainya yang masih kita kenal pada zaman sekarang ini, berasal dari zaman Babylonia. Pengetahuan ajaran orang-orang Babylonia itu setengahnya memang berasal dari hasil pengamatan maupun pengalaman namun setengahnya berupa dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos. Pengetahuan seperti ini dapat disebut sebagai “pseudo science” artinya mirip sains tapi bukan sains.
Suatu pola berpikir yang satu langkah lebih maju daripada mitos ataupun  pseudo science tersebut di atas ialah penggabungan antara pengamatan, pengalaman, dan akal sehat atau rasional.
Contoh : ajaran orang-orang Yunani pada 600-200 SM.
   Sebagai tonggak sejarah dapat disebutkan disini seorang ahli pikir bangsa Yunani bernama Thales (624-548 SM), seorang astronom yang juga ahli dibidang matematika dan tehnik. Thales orang yang pertama berpendapat bahwa bintang-bintang mengeluarkan cahayanya sendiri sedangkan bulan hanya sekedar memantulakan cahayanya dari matahari.
Ia juga berpendapat bahwa bumi merupakan suatu piring yang datar yang terapung di atas air. Dialah orang yang pertama mempertanyakan asal usul dari semua benda yang kita lihat di alam raya ini. Ia berpendapat bahwa adanya beranekaragamnya benda di alam ini sebenarnya merupakan gejala saja bahan dasarnya amat sederhana. Bahan dasar tersebut membentuk benda-benda beraneka ragam itu melalui suatu proses, jadi tidak berbentuk begitu saja.
   Pendapat tersebut di atas sungguh merupakan perubahan besar dari alam pikiran manusia pada masa itu. Masa itu orang-orang beranggapan bahwa aneka ragam benda di alam itu diciptakan oleh dewa-dewa seperti apa adanya.
Karena kemampuan berpikir manusia semakin maju dan disertai juga oleh adanya perlengkapan pengamatan, misalnya berupa teropong bintang yang mungkin sempurna, maka mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan. Manusia makin cenderung menggunakan akal sehat atau rasionya.
    Orang-orang Yunani lainnya yang patut dicatat sebagai pemberi kontribusi kepada perubahan pola berpikir masa itu antara lain :
1. Pythagoras (500 SM). Terkenal dibidang matematika.
Tentang unsur dasar alam semesta, Pythagoras berpendapat bahwa ada 4 bentuk yaitu; tanah, api, udara dan air. Tentang alam semesta, Pythagoras berpendapat bahwa bumi ini bulat dan berputar; karena berputar maka nampaknya seolah-olah alam berputar mengelilingi bumi.
2. Demokritos (460-370 SM).
Tentang unsur-unsur dasar ia berpendapat bahwa apabila suatu benda dipecah dan dibagi terus menerus pada suatu saat sampailah pada bagian yang terkecil dari benda itu. Bagian terkecil dari benda itu yang tak dapat dibagi-bagi lagi disebut atomos atau atom. Karena kecilnya, maka tidak tampak oleh mata. 
3. Aristoteles (348-322 SM).
Tentang unsur dasar ia menyebutkan adanya zat tunggal. Zat tunggal ini dapat berubah-ubah bentuk tergantung kondisinya, yaitu menjadi bentuk tanah, air, udara atau api (transmutasi). Adnya transmutasi ini disebabkan oleh keadaan dingin, lembab, panas dan kering.
dalam kondisi lembab dan panas           bentuk udara
dalam kondisi panas dan kering             bentuk api
dalam keadaan kering dan dingin           bentuk tanah
dalam keadaan dingin dan lembab         bentuk air
    Aristoteles berpendapat pula bahwa apabila disuatu tempat tidak ada apa-apanya (benda) disitu ada sesuatu yang imaterial. Ia tidak percaya adanya hampa udara.
Ajarannya yang penting adalah suatu pola berfikir dalam memperoleh kebenaran berdasarkan logika.
Contoh :
semua benda jika dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api (1).
kayu adalah benda (2).
kayu jika dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api (3).
(1) disebut premis mayor yaitu sesuatu yang berlaku umum.
(2) premis minor yaitu sesuatu yang khusus.
(3) kesimpulan.
    Kesimpulan ditarik dari sesuatu yang umum menuju kepada yang khusus. Cara ini dikenal sekarang sebagai metode deduksi.
4. Ptolomeus (127-151).
    Orang besar 450 tahun setelah Aristoteles. Ptolomeus berpendapat bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya, berbentuk bulat, diam setimbang tanpa tiang penyangga. Bintang-bintang menempel tetap pada langit dan berputar mengelilingi bumi sekali dalam 24 jam. Planet beredar melalui orbitnya sendiri terletak antara bumi dan bintang.


Share:

DASAR – DASAR PENDIDIKAN MIPA


DASAR – DASAR PENDIDIKAN MIPA

A. HAKEKAT MIPA

1. Hakekat MIPA
MIPA = Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam = Matematika + IPA
Ciri – Ciri khusus IPA adalah keterkaitan antara ekperimen dan teori. Teori IPA merupakan pemodelan matematis terhadap berbagai prinsip dasar yang kebenarannya harus diuji dengan eksperimen yang dapat memberikan hasil serupa dalam keadaan yang sama. Dengan menggunakan teori dalam IPA, orang dapat membuat prediksi (ramalan) kuantitatif terhadap suatu kejadian. Pada dasarnya eksperimen merupakan :
- Suatu proses induktif dalam menemukan prinsip dasar yang baru
- Suatu proses deduktif bagi pengujian teori baru

Dalam membuat interprestasi hasil eksperimen untuk pengambilan kesimpulan diperlukan kemampuan menggunakan inferensi (kesimpulan) statistik. Inilah yang dikenal dengan metode ilmiah suatu metode yang juga digunakan ilmu – ilmu lain. Dalam IPA ditekankan pada proses induktif maupun deduktif. Dalam Matematika terutama menekankan pada proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksionatik.

Matematika terkenal pula dengan materinya yang sangat hierarkhis sifatnya serta menghasilkan bahasa yang efisien yang sangat dibutuhkan oleh Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dari segi kemampuan analisis kuantitatif terhadap masalah yang berkaitan dengan pengajaran MIPA, pemodelan matematis dalam taraf sederhana dengan menerapkan pemahaman atas berbagai konsep dan prinsip dalam MIPA merupakan hal yang mutlak perlu dikuasai. Oleh karena itu, ciri MIPA antara lain :

a. Pengetahuan yang sangat terstruktur dalam arti antara bagian yang satu dengan bagian yang lain terjalin hubungan fungsional yang erat.

b. Karena itu konsep – konsep dan prinsip – prinsip dalam MIPA akan lebih mudah dikuasai jika disajikan dalam bentuk terkait satu dengan yang lain dengan simpulan – simpulan yang jelas.

c. Penerapan berbagai pengertian dan prinsip MIPA dalam taraf sederhana terhadap masalah alamiah seringkali memerlukan: keterpaduan berbagai komponen MIPA, dengan Matematika sebagai dasar logika penalaran dan penyelesaian kuantitatif sedangkan fisika, kimia, biologi sebagai deskripsi permasalahan yang ada.

d. Untuk menekuninya diperlukan kecintaan yang dalam terhadap ilmu sebagai suatu sistem logis yang indah dan ampuh.

Kesadaran ini akan menimbulkan dedikasi yang tinggi terhadap pemahaman ataupun pengembangan ilmu sebagai suatu kebutuham hidup.

2. Hakekat Pendidikan dan Pendidikan MIPA

a. Pendidikan
Suatu proses untuk membantu manusia mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan identitas dirinya. Tujuan Pendidikan Nasional adalah meningkatkan kualitas manusia sebagai perwujudan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, antara lain:
1) Berbudi pekerti yang luhur
2) Berkepribadian
3) Berdisiplin
4) Bekerja keras
5) Tangguh
6) Bertanggungjawab
7) Mandiri
8) Cerdas
9) Sehat jasmani dan rohani

b. Pendidikan MIPA
MIPA sebagai suatu kumpulan mata pelajaran, hendaknya jangan hanya dipandang sebagai :
1) Sekumpulan informasi hasil kajian orang terdahulu yang harus diteruskan kepada peserta didik, tetapi harus pula dipandang
2) Sebagai alat pendidikan yang potensial dapat memberikan uriman (sumbangan) nyata untuk perwujudan manusia Indonesia yang utuh.

c. Implikasi dari Ciri MIPA
Pendidikan MIPA menghendaki pendekatan – pendekatan tertentu dan metode – metode tertentu yang sesuai, serta sarana yang mendukung untuk memantapkan berbagai konsep MIPA pada anak didik.

1) membuat mereka mampu berpikir kritis,
2) menggunakan nalar (akal budi) mereka secara efektif dan efisien.
3) menanamkan benih sikap ilmiah pada diri mereka

Dengan ciri perilaku ini, lulusan sekolah menengah atas akan merupakan potensi tenaga kerja berkualitas yang merupakan sumber daya manusia bagi pembangunan.

3. Hakekat Tugas Guru dan Tugas Guru MIPA
Dalam upaya menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional seperti yang selalu dikemukakan, seorang guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar melainkan juga sebagai pendidik.

Misi utama guru sebagai pengajar ialah mengupayakan tercapainya tujuan – tujuan instruksional mata pelajaran yang diajarkannya,

Misi utama guru sebagai pendidik ialah mengupayakan terwujudnya perkembangan kepribadian peserta didik dalam dimensi yang lebih luas untuk memberikan iuran (sumbangan) nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Sejalan dengan pikiran pokok di atas, tugas guru MIPA tidak hanya sekedar mengupayakan diperolehnya berbagai pengetahuan dan ketrampilan dalam MIPA dikalangan peserta didik. Lebih penting dari itu, seorang guru MIPA hendaknya dapat mendorong berkembangnya pemahaman dan penghayatan akan prinsip – prinsip dan nilai – nilai IPA dikalangan peserta didik dalam rangka menumbuhkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis dan kreatif, kecerdasan, serta sikap kritis, terbuka dan ingin tahu.

Sehubungan dengan itu, seorang guru MIPA Hendaknya tidak sekedar menyampaikan informasi/ceritera tentang MIPA kepada peserta didik tetapi betul – betul membimbing para siswanya berbuat sesuai dengan prinsip – prinsip dan nilai – nilai yang terkandung dalam MIPA. Dengan kata lain, guru MIPA hendaknya dapat membawa peserta didiknya untuk menjalani proses MIPA itu sendiri melalui kegiatan pengamatan, percobaan, pemecahan masalah, diskusi dengan teman – temannya dan sebagainya.

Masih berkaitan dengan sifat dikemukakan di atas, seorang guru MIPA hendaknya dapat menumbuhkan kesenangan belajar MIPA dikalangan peserta didik. Ini akan besar pengaruhnya terhadap pencapaian hasil yang diharapkan dari pengajaran MIPA. Disamping itu, seorang guru MIPA hendaknya memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak segan mengakui keterbatasan pengetahuannya tentang hal – hal tertentu kepda peserta didik tanpa mengabaikan tanggungjawabnya membantu mereka menemukan jawaban terhadap persoalan – persoalan yang diajukan.
Share:

Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia

#

Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia
Metodologi Penelitian: Pendidikan Kimia Sebagai Suatu Bidang Ilmu
v  Kimia adalah rumpun ilmu yang mempelajari tentang materi dan perubahannya (Chang, 2007)
v  Pendidikan kimia  dapat dimasukkan dalam klasifikasi bidang ilmu kimia dan pendidikan.
v  Bila masuk  ilmu pendidikan, tergolong ilmu  bidang studi, yaitu bidang studi pendidikan kimia, seperti halnya pendidikan kimia, pendidikan matematika, dsb.
v  Pendidikan  kimia merupakan bidang ilmu interdisiplin antara  Kimia dengan Ilmu Pendidikan.
v  Ilmu Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari proses pembentukan kepribadian manusia yang dirancang secara sadar dan sistematis dalam proses interaksi antara pendidik dengan peserta didik, baik di dalam maupun di luar sekolah (Anna Poedjiadi, 2007: 744).
v  Pendidikan kimia pada hakikatnya merupakan penerapan teori pendidikan dalam konteks kimia untuk tujuan pembelajaran.
v  Ilmu Pendidikan Kimia tersusun dari dua bidang ilmu (Gambar 1).

Gambar 1. Ilmu Pendidikan Kimia

Komponen objek studi (aspek ontologis) pendidikan kimia
a.    Kurikulum kimia, yang meliputi:
Ø  teori tentang pengembangan kurikulum kimia,
Ø  organisasi kurikulum kimia,
Ø  isi atau materi kurikulum kimia, dan 
Ø  model-model pengembangan kurikulum kimia.
b.   Peserta didik dan perbuatan belajar kimia, yang  meliputi:
Ø  teori tentang karakteristik peserta  didik,
Ø  jenis-jenis dan cara belajar kimia,
Ø  hirarkhi proses  belajar kimia, dan
Ø  kondisi-kondisi belajar kimia.
c.   Pendidik dan perbuatan mendidik/mengajar kimia, yang meliputi:
Ø  teori tentang karakteristik pendidik/pengajar kimia,
Ø  karakteristik perbuatan mendidik/mengajar kimia,
Ø  model-model mendidik/mengajar kimia,   
Ø  metode dan teknik mendidik /mengajar kimia, dan
Ø  sistem  pengelolaan kelas.
d.    Lingkungan Pendidikan kimia, yang meliputi:
Ø  teori tentang pranata pendidikan kimia,
Ø  perencanaan dan pengelolaan pendidikan kimia,
Ø  bimbingan dan penyuluhan atau bimbingan karir, dan
Ø  sarana atau media pendidikan kimia.
e.   Penilaian hasil belajar kimia, yang meliputi:
Ø  teori tentang model-model penilaian  hasil belajar kimia,
Ø  teknik penilaian hasil belajar kimia, dan 
Ø  instrumen penilaian hasil belajar kimia.

Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia: Tujuan Penelitian Pendidikan Kimia
Ø  Penelitian pendidikan kimia adalah aspek epistemologi ilmu pendidikan kimia
Ø  Penelitian pendidikan  kimia  merupakan  suatu  rangkaian kegiatan untuk memahami dan memecahkan masalah di bidang pendidikan kimia secara ilmiah, sistematis, dan logis.
Ø  Secara ilmiah artinya berdasarkan fakta atau data empiris, sistematis artinya menurut pola tertentu, dan logis artinya berdasarkan penalaran (reasoning).
Ø  Penelitian pendidikan kimia juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan baru di bidang pendidikan kimia
Ø  Creswell (2002) memberi definisi penelitian pendidikan secara lengkap dan rinci, sesuai dengan tahap pelaksanaan penelitian pendidikan.

Research Defined:
“Research is a cyclical process of steps that typically begins with identifying the problem or issue of the study.  It then consists of reviewing the literature, specifying a purpose for the study, and forming an interpretation of the information.  This process culminates in a report disseminated to the audience that is evaluated and used in the educational community.” (p. 18-19)

Objek studi ilmu pendidikan kimia juga merupakan objek penelitian pendidikan kimia, dan berupa masalah makro atau mikro
Masalah  makro pendidikan kimia, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan:
1. kuantitas pendidikan,
2.kualitas pendidikan,
3.relevansi pendidikan, dan
4.efisiensi serta efektivitas pendidikan;
5.pembinaan generasi muda

     Masalah mikro pendidikan kimia (gambar 2), yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan:
1.kurikulum kimia,
2.peserta didik dan perbuatan belajar kimia,
3.pendidik/pengajar dan mendidik/mengajar kimia,
4.lingkungan pendidikan kimia, dan
5.penilaian hasil belajar kimia.
Objek penelitian pendidikan kimia juga dapat ditentukan dengan memandang pendidikan sebagai suatu sistem atau suatu bentuk komunikasi (gambar 3. dan Gambar 4)
Penelitian dilakukan terhadap komponen-komponennya.
Ø  Salah satu langkah penting pada penelitian adalah pengumpulan data.
Ø  Data adalah rekaman dari fakta, data empiris adalah data yang diperoleh dari lapangan.
Ø  Data dibagi menjadi data kualitatif (tekstual) dan data kantitatif (numerik); data numerik dibagi menjadi data diskrit (nominal) dan kontinu (ordinal, interval, dan rasio).
Ø  Fakta direkam dengan teknik dan instrumen pengmpulan data tertentu. 
Ø  Teknik pengumpulan data yang banyak dipakai:
1.Teknik observasi,  instrumennya pedoman pengamatan, daftar cek, skala lajuan;
2.Teknik wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara
3.Teknik angket, intrumennya adalah lembar angket, skala sikap;
4.Teknik pengukuran kependidikan, instrumennya berbentuk soal objektif atau uraian.

Salah satu pola penelitian pendidikan kimia (Gambar 5) , terdiri atas sepuluh langkah (Sutrisno Hadi, 1983), yaitu:
                1.            masalah,                            2. kaji pustaka,
                3.            hipotesis,                           4. variabel,
                5.            instrumen,                          6. rancangan,
                7.            sampel,                              8. data,
                9.            hasil, dan                           10. laporan.
Kesepuluh langkah tersebut dapat dibagi menjadi tiga kegiatan:
                1.            penyusunan rancangan (proposal) penelitian atau  proposal penelitian
                2.            pelaksanaan penelitian, dan
                3.            penulisan laporan penelitian.
Ø  Cara berpikir logis atau penalaran (reasoning) dipergunakan untuk menafsirkan hasil penelitian menjadi kesimpulan penelitian.
Ø  Hasil penelitian bersifat kuantitatif, sedangkan kesimpulan penelitian bersifat kualitatif.
Ø  Untuk mengubah hasil penelitian menjadi kesimpulan penelitian, dipergunakan kriteria-kriteria tertentu yang sangat memerlukan penalaran (reasoning).
Ø  Creswell (2002) memberikan pola penelitian yang berbeda (gambar 6.)


Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia: Jenis Penelitian Pendidikan kimia
    Penelitian pendidikan kimia dapat dibagi atas dasar tujuan umum, kegunaan, atau metodenya.
Atas dasar tujuan umum:
1.       Penelitian eksploratif:
penelitian yang bertujuan untuk menemukan problematik-problematik atau permasalahan-permasalahan baru dalam pendidikan kimia.
2.       Penelitian pengembangan:
adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan atau teori pendidikan yang sudah ada, atau menghasilkan suatu produk
3.       Penelitian verivikatif:
adalah penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran suatu pengetahuan atau suatu teori dalam bidang pendidikan.
Atas dasar kegunaan:
1.Penelitian dasar, bertujuan menemukan pengetahuan, generalisasi, maupun teori baru.
2.Penelitian terapan, bertujuan memperbaiki suatu proses dgn menerapkan teori yang ada.
3.Penelitian tindakan, bertujuan mencari suatu dasar pengetahuan praktis dalam rangka memperbaiki keadaan atau situasi yang sedang berjalan .
4.Penelitian evaluasi, bertujuan melakukan penilaian terhadap pelaksanaan suatu kegiatan yang sedang dilakukan dalam rangka mencari umpan balik yang akan dijadikan dasar untuk memperbaiki suatu sistem.
5.Penelitian asesmen, bertujuan menentukan  perubahan   atau perbaikan perilaku individu setelah menjalani  suatu perlakuan tertentu selama jangka waktu tertentu dan menurut suatu program tertentu.
Atas dasar metode:
1.Penelitian sejarah, bertujuan meninjau suatu masalah dari perspektif sejarah, berdasarkan peninggalan atau dokumen sejaran yang ada.
2.Penelitian deskriptif, bertujuan mendeskripsikan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Jenis penelitian ini dibagi menjadi penelitian survai, studi kasus, studi perbandingan, studi korelasi, studi prediksi, studi pertumbuhan, dan studi kecenderungan.
3.Penelitian eksperimen, bertujuan untuk mengetahui pengaruh suatu perlakuan terhadap subjek penelitian.
Gay (1981) membagi penelitian atas dasar tujuan dan metode.
Atas dasar tujuan :
a.   Penelitian dasar lawan terapan
b.   Penelitian evaluasi;
c.   Penelitian dan pengembangan
d.   Penelitan tindakan

Atas dasar metode:
a.   Penelitian sejarah;
b.   Penelitian Desktiptif
c.   Penelitian Korelasional
d.   Penelitian Komparatif kausal dan Penelitian Eksperimen

Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia: Manfaat Penelitian (Teoretik dan Praktis)
1.Untuk pengembangan ilmu pendidikan kimia.
Hasil-hasil penelitian pendidikan kimia membe-rikan sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pendidikan kimia itu sendiri.                
2. Memberikan gambaran menyeluruh keadaan pendidikan kimia di sekolah, baik tentang kemajuan yang diperoleh, keadaan sarana-prasaran, keadaan gurunya, dsb.
3.Dapat dipakai untuk mengetahui kekurangan atau kegagalan dalam pendidikan kimia, sehingga dapat dilakukan perbaikan komponen yang diperlukan.
4.Dapat dipakai untuk mengambil kebijakan tertentu di bidang pendidikan kimia.

Daftar Putaka           
v  Gay, L. R. (1981 ). Edcational Research. Sydney: charles E. Merril Publishing C.
v  Borg, W. R. And M. D. Gall. (1983). Educational , An Introduction. New York: Longman Inc.
v  Creswell. (2002). Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Approches.
Referensi
v  Anas Sudjono. (1994). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo.
v  Mohamad Ali. (1987). Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung:  Penerbit Angkasa.
v  Sukardi. (2007). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta:  Bumi Aksara.
v  Simatupang, L. R. (1990). Asas-asas Penelitian Behevioral. Yogyakarta: UGM Press.
v  Sutrisno Hadi. (1988). Metodologi Research, Jilid 1, 2, dan 3. Yogyakarta: AndiOffset
v  _----------------. (1988). Statistik, Jilid 1, 2, dan 3. Yogyakarta: Andi Offset
v Zainal Arifin. (1993). Penelitian dan Statistik Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru