Anak-anak berbakat ditentukan oleh kecerdasan (intelegensi)

Prestasi anak salah satunya ditentukan oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Seorang anak yang memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi, orang tuanya mesti memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan anak yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecersan anak). Secara umum intelegensi dapat didefinsikan sebagai berikut :

1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Definisi intelegensi yang pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Definisi intelegensi kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan definsi intelegensi ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkhaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauhmana anak dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. 

Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi Intelligence Quotient (IQ).
Apakah hanya kecerdasan (yang diukur dengan tes intelegensi dan menghasilkan IQ) yang menentukan keberbakatan seseorang ? barangkali untuk bakat intelektual masih tepat jika IQ menjadi kriteria (patokan) utama, tetapi belum tentu untuk bakat seni, bakat kreatif-produktif, dan bakat kepemimpinan. Memang dulu para ahli cenderung untuk mengidentifikasi bakat intelektual berdasarkan tes intelegensi semata-mata, dalam penelitian jangka panjangnya mengenai keberbakatan menetapkan IQ 140 untuk membedakan antara yang berbakat dan tidak. Akan tetapi, akhir-akhir ini para ahli makin menyadari bahwa keberbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macam-macam ranah atau aspek, tidak hanya kecerdasan.
Keberbakatan dan Anak Berbakat menurut Renzulli, dkk.(1981) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tangung jawab terhadap tugas). Anak yang berbakat adalah anak yang memiliki ketiga ciri tersebut. Masing-masing ciri mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Anak dapat dikatakan mempunyai bakat intelektual, apabila ia mempunyai intelegensi tinggi atau kemampuan di atas rata-rata dalam bidang intelektual yang antara lain mempunyai daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah). Akan tetapi, kecerdasan yang cukup tinggi belum menjamin keberbakatan seseorang. Kreatifitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya. Demikian juga berlaku bagi pengikatan diri terhadap tugas yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatnya diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan. Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Contoh Ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam prestasi yang unggul.



Share:

Pengetahuan Faktual

Penilaian Pengetahuan yang dimaksud dalam kurikulum 2013 termasuk pengetahuan faktual

PENGETAHUAN FAKTUAL
Pengetahuan Faktual meliputi elemen-elemen dasar yang digunakan oleh para pakar dalam menjelaskan, memahami, dan secara sistematis menata disiplin ilmunya. Elemen-elemen ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bergulat dalam suatu disiplin ilmu, dan tidak atau hanya sedikit berubah ketika digunakan dalam bidang lain. Pengetahuan Faktual berisikan elemen-elemen dasar yang harus diketahui siswa jika mereka akan mempelajari suatu disiplin ilmu atau menyelesaikan masalah dalam disiplin iimu tersebut. Elemen-elemen ini lazimnya berupa simbol-simbol yang diasosiasikan dengan makna-makna konkret atau “Senarai simbol” yang mengandung informasi penting. Pengetahuan faktual kebanyakan berada pada tingkat abstraksi yang relatif rendah.

Oleh karena terdapat banyak sekali elemen dasar, siswa hampir mustahil mampu mempelajari semua elemen yang relevan dengan sebuah mata pelajaran. Pengetahuan dalam ilmu-ilmu sosial, alam dan humaniora terus berkembang, sehingga para ahli di bidang-bidang itu pun menemui kesulitan untuk menguasai semua elemen baru. Maka dari itu, memilih elemen-elemen yang perlu dipelajari siswa menjadi sebuah keniscayaan. Dalam klasifikasi, pengetahuan faktual dibedakan dari pengetahuan konseptual berdasarkan spesifikasinya; pengetahuan faktual dapat disendirikan sebagai elemen atau bit informasi yang dipercaya tetap bermakna. Dua subjenis pengetahuan faktual adalah pengetahuan tentang terminologi (Aa) dan pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik (Ab).

1. Pengetahuan tentang Terminologi
Pengetahuan tentang terminologi melingkupi pengetahuan tentang label dan simbol verbal dan nonverbal (misalnya kata, angka, tanda, gambar). Setiap materi kajian mempunyai banyak label dan simbol, baik verbal ataupun nonverbal, yang merujuk pada makna-makna tertentu. Label dan simbol ini merupakan bahasa dasar dalam suatu disiplin ilmu - semacam stenografi yang digunakan oleh para pakar untuk mengungkapkan apa yang mereka ketahui. Sewaktu berusaha menjelaskan fenomena dalam disiplin ilmu mereka kepada orang lain, para pakar perlu menggunakan label dan simbol khusus yang telah mereka rancang. Sering kali, mereka tidak mungkin membicarakan masalah-masalah dalam disiplin ilmu mereka tanpa menggunakan istilah-istilah pokok. Bahkan, mereka tak mungkin memikirkan banyak fenomena, bila tidak memakai label-label dan simbol-simbol tersebut.

Siswa baru mesti mengetahui label-label dan simbol-simbol ini dan mempelajari makna-makna yang melekat pada label dan simbol tersebut dan diterima oleh banyak orang. Lantaran para pakar harus mengomunikasikan label dan simbol itu, orang-orang yang mempelajari suatu disiplin ilmu mesti mengetahui label dan simbol serta maknanya jika mereka hendak memahami atau memikirkan fenomena dalam ilmu tersebut.
Label dan simbol ini sangat spesifik dan berguna, sehingga para ahli berharap siswa mengetahui lebih daripada apa yang siswa ingin atau dapat ketahui. Penggunaan label dan simbol pun harus sangat cermat. Hanya dengan label dan simbol ini, para ahli dapat dengan mudah mengungkapkan ide-ide mereka, dan mereka mengalami kesulitan bila menggunakan istilah-istilah "populer" atau "bahasa awam" yang lebih familiar bagi masyarakat pada umumnya.
Contol-contoh pengetahuan tentang terminologi adalah sebagai berikut:
·         Pengetahuan tentang alfabet, pengetahuan tentang istilah-istilah tertentu (misalnya, label untuk nama-nama unsur, nama-nama partikel sub-atom)
·         Pengetahuan tentang kosakata dalam seni rupa
·         Pengetahuan tentang istilah-istilah pokok akuntansi
·         Pengetahuan tentang simbol-simbol pokok pada peta dan kartu
·         Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk menggambarkan pengucapan kata yang tepat.

2. Pengetahuan Tentang Detail-detail dan Elemen-elemen yang Spesifik
Pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik merupakan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber inforrnasi, dan semacamnya. Pengetahuan ini meliputi semua informasi, yang mendetail dan spesifik, seperti tanggal terjadinya sebuah peristiwa atau ukuran suatu fenomena. Fakta-fakta yang spesifik adalah fakta-fakta yang dapat disendirikan sebagai elemen-elemen yang terpisah dan berdiri sendiri; ini berkebalikan
dengan fakta-fakta yang hanya dapat dikenali dalam konteks yang lebih luas.
Setiap bidang kajian mengandung peristiwa, lokasi, orang, tanggal, dan detail-detail lain yang para ahli ketahui dan percayai merepresentasikan pengetahuan penting tentang bidang itu. Fakta-fakta yang spesifik ini merupakan informasi dasar yang para ahli gunakan untuk mendeskripsikan bidang mereka dan mengkaji masalah-masalah atau topik-topik tertentu dalam bidang mereka. Fakta-fakta ini dapat dibedakan dari terminologi. Terminologi jamaknya merepresentasikan konvensi atau kesepakatan dalam suatu bidang (yakni bahasa bersama), sedangkan fakta merepresentasikan temuan-ternuan yang diperoleh bukan berdasarkan kesepakatan dan tidak dimaksudkan sebagai alat untuk berkomunikasi. Subjenis Ab ini juga mencakup pengetahuan perihal buku, tulisan, dan sumber-sumber informasi lain tentang topik dan masalah tertentu. Alhasil, pengetahuan tentang fakta yang spesifik dan pengetahuan tentang sumber-sumber faktanya diklasifikasikan dalam subjenis ini.
Fakta-fakta yang berlimpah ruah memaksa para pendidik (yakni ahli kurikulum, penulis buku teks, guru) memilih mana fakta primer dan mana fakta sekunder atau mana fakta yang penting di mata para ahli. Pendidik juga harus mempertimbangkan tingkat presisi dalam membedakan fakta-fakta. Mereka kerap kali mengharapkan siswa-siswa mereka sekadar mengetahui ukuran kasar suatu fenomena, bukan ukuran persisnya, atau hanya mengetahui kisaran waktunya, bukan tanggal atau hari terjadinya suatu peristiwa. Pendidik merasa cukup sulit untuk menentukan apakah banyak fakta yang harus dipelajari siswa ini merupakan bagian dari satu unit atau mata pengajaran, atau malah fakta-fakta tersebut akan dipelajari jika siswa benar-benar mernerlukannya.
Contoh pengetahuan tentang detail-detail dan elemen-elemen yang spesifik adalah sebagai berikut:
·         Pengetahuan tentang fakta-fakta pokok perihal kebudayaan dan masyarakat tertentu.
·         Pengetahuan tentang fakta-fakta praktis yang penting menyangkut kesehatan, kewarganegaraan, dan urusan-urusan manusia lain.
·         Pengetahuan tentang nama orang, tempat, dan peristiwa yang signifikan di koran.
·         Pengetahuan tentang produk utama dan produk ekspor negara-negara tertentu.

·         Pengetahuan tentang sumber-sumber informasi yang; tepercaya tentang pembelian yang tepat.

Sumber: Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. (2001), Addison Wesly Longman Inc. "A Taxonomy  for learning, teaching, and assesing."
Share:

KATEGORI-KATEGORI atau JENIS-JENIS PENILAIAN PENGETAHUAN

KATEGORI-KATEGORI atau JENIS-JENIS PENILAIAN PENGETAHUAN
Empat jenis atau kategori pengetahuan yang dimaksud dalam kurikulum 2013 dipaparkan secara ringkas dalam Tabel 1. Tiga jenis pertama dalam taksonomi Bloom yang direvisi mencakup semua jenis pengetahuan yang terdapat pada taksonomi Bloom. Pada taksonomi revisi diganti sebagian nama jenisnya dan diubah sebagian subjenisnya ke daram kategori-kategori yang lebih umum. Meski demikian, dapat diambil banyak teks dan contoh yang relevan dari Handbook. Sementara itu, kategori keempat, yakni Pengetahuan Metakognitif dan sub-subjenisnya semuanya baru.

Tabel 1. Jenis-jenis atau ketegori-kategori penilaian pengetahuan dalam kurikulum 2013

Sumber: Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. (2001), Addison Wesly Longman Inc. 
A Taxonomy  for learning, teaching, and assesing.

Share:

Pedoman Penulisan Skripsi FKIP UPR 2017



Pedoman Penulisan Skripsi FKIP UPR 2017

Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru