Teori Belajar Kognitivisme

Teori belajar kognitivisme yang seringkali diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah:

1. Teori Perkembangan Piaget

Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, artinya proses yang didasarkan atas mekanisme biologis berupa perkembangan sistem syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang semakin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya.

Menurut Piaget proses belajar seseorang akan mengikut pola dan tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Penjenjangan ini bersifat hierarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan orang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Disini terdapat empat macam jenjang, mulai jenjang sensorimotorik (0-2 tahun) yang bersifat eksternal, preoperasional (2-6 tahun), operaional konkrit (6/7-11/12 tahun), dan jenjang formal (11/12-18 tahun) yang bersifat internal.

Guru yang mengajar tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan cenderung menyulitkan peserta didiknya. Misalnya saja mengajarkan konsep-konsep abstrak kepada sekelompok siswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk mengkonkritkan konsep-konsep tersebut, tidak hanya akan percuma tetapi justru akan lebih membingungkan para peserta didik.

2. Teori Kognitif Bruner

Dalam perkembangan kognitif, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Sedangkan Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif menyebabkan perkembangan bahasa seseorang, sebaliknya Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif (Hilgared & Bower, 1981).

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Antara lain:

Ø Tahap pertama adalah tahap enaktif, dimana individu melakukan aktivitas-aktivitas dalam usahanya memahami lingkungan.

Ø Tahap kedua adalah tahap ikonik, dimana individu melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.

Ø Tahap terakhir adalah tahap simbolik, dimana idividu mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika.

Makin dewasa seseorang, makin dominan sistem simbolnya. Namun tidak berarti bahwa orang dewasa tidak lagi memakai sistem ikonik atau enaktif. Menurut teori belajar yang dikemukakan Bruner, maka pelaksanaan pembelajaran meliputi hal-hal berikut:

a) Pengalaman optimal untuk mau belajar.

Belajar dan memecahkan masalah memerlukan pencarian alternatif, pemeliharaan dan pengarahan.

b) Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal.

Pengetahuan yang disampaikan harus terstruktur. Struktur ini memiliki ciri-ciri cara penyajian ringkas tetapi informatif (rumus, bagian, tabel) dan memiliki kemampuan menghubungkan hal-hal yang kelihatannya terpisah.

c) Perincian urutan penyajian materi pembelajaran secara optimal.

Urutan materi permbelajaran ditujukan untuk membimbing siswa agar dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menerima, mengubah, dan mentransfer apa yang telah dipelajarinya.

d) Bentuk dan pemberian penguatan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa-siswa perlu diberi penguatan dalam bentuk yang tepat.

3. Teori Belajar Bermakna Ausubel

Beberapa teori belajar sangat menekankan pada belajar asosiatif atau menghafal. Padahal belajar seharusnya merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Untuk itu diperlukan dua hal, yaitu: (a) materi yang secara potensial bermakna, yang dipilih serta diatur oleh guru dan harus sesuai dengan tingkat perkembangan serta pengalaman masa lalu peserta didik; (b) situasi belajar bermakna. Faktor motivasional memegang peranan penting disini, sebab peserta didik tidak akan mengasimilasi materi baru apabila mereka tidak memiliki keinginan dan pengetahuan untuk melakukannya. Hal ini juga perlu diatur oleh guru sehingga materi tidak perlu dipelajari secara hafalan.

Satu hal yang sifatnya karakteristik dari teori ini ialah adanya konsep advance organizers yang dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mempelajari informasi baru. Advance organizers ini merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar dari apa yang harus dipelajari dan hubungannya dengan sesuatu yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.

Menurut Ausubel, faktor terpenting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Agar terjadi belajar bermakna, maka konsep atau pengetahuan baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.

Dalam proses pembelajaran, konsep-konsep yang disajikan guru disusun secara hierarkhi dan konsep yang paling umum disajikan terlebih dahulu menuju pada hal-hal yang lebih khusus. Proses penyusunan konsep dengan urutan seperti itu disebut diferensiasi progresif. Contoh penyusunan konsep secara hierarkhi konseptual adalah pembuatan peta konsep.

Prinsip kedua yang dikemukakan Ausubel ialah rekonsiliasi integratif atau penyesuaian integratif. Menurut prinsip ini, konsep atau gagasan perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep yang telah dipelajari sebelumnya.

Menurut teori ini proses belajar merupakan proses yang terjadi melalui interaksi-interaksi. Interaksi tersebut dapat berupa: (1) interaksi searah (one directional), yaitu adanya stimuli dari luar menyebabkan timbulnya respons; (2) interaksi dua arah, yaitu tingkah laku yang terjadi merupakan hasil interaksi antara individu yang belajar dengan lingkungannya atau sebaliknya; (3) interaksi reciprocal, yaitu beberapa faktor yang mempunyai saling ketergantungan seperti faktor-faktor pribadi dan faktor-faktor lingkungan saling berinteraksi dan menyebabkan perubahan tingkah laku.
Share:

No comments:

Post a Comment

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru