Palangka Raya Juara Umum KejurProv Catur


Kampus Digital News - Kontingen catur Kota Palangka Raya menjadi juara umum Kejuaraan Provinsi Catur dan Kejuaraan Isen Mulang Cup Kalimantan Tengah yang dilaksanakan di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur “Para juara Kejurprov akan mewakili Kalimantan Tengah di Kejurnas pada 15 sampai 20 Juli nanti.

Kita tentu berharap atlet catur Kalimantan Tengah bisa meraih prestasi tertinggi saat Kejurnas nanti1 kata Ketua Harian Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kalimantan Tengah, Noorhayati di Sampit, Minggu.

Kejurprov Catur dan Kejuaraan Isen Mulang Cup 2017 dilaksanakan di lapangan Tennis Indoor komplek Stadion 29 November Sampit. Kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dan 12 kabupaten dan satu kota.

Kota Palangka Raya menjadi juara umum mengumpulkan 7 emas, 7 perak dan 8 perunggu. Atlet Kota Palangka Raya berjaya di nomor junior D Putra, Mario, junior G putra, Wildan, junior B putri, Elsa, junior E putri Anggraini, junior F putri Syifa Rahmatuzahra, junior Putri G Febby Gracia, veteran putra dan senior klasik putri.

Peringkat kedua direbut oleh kontingen asal Murung Raya yang mengumpulkan enam medali emas yaitu di kelompok junior A putra, M Ridho, junior B putra, Angga Ramadani, junior A putri, junior C putri Siti Komariah, junior D putri, Zakia, dan catur cepat putri Dita Ananda. Sementara itu, Kotawaringin Timur selaku tuan rumah memperoleh lima ornas. Atlet Kotim berjaya di nomor junior C putra atas nama Edwar, kemudian juara junior E putra, Anggara, juara junior F putra Ahmad Zaid Firdaus, juara senior klasik putra Amrullah dan juara catur cepat putra juga atas nama Amrullah. “Dalam rapat kerja, diputuskan Kabupaten Kapuas menjadi tuan rumah event ini tahun depan. Tentu kita berharap penyelenggaraan kegiatan tahun depan bisa Iebih baik lagi dan menggunakan standard Percasi, seperti catur klasik waktunya 90 menit, kata Noorhayati.


Febby Gracia salah satu peserta termuda putri grup G yang menymbangkan satu medali emas bagi kontingen Palangka Raya setelah mengalahkan peserta putri grup F dari Murung Raya. Di grup F-G Putri, Febby menduduki peringkat 2 yang seharusnya berhak mendapat medali perak, karena pada pelaksanaannya grup G putri bertanding melawan peserta grup F putri untuk meraih poin.
Share:

Teknik pengumpulan data atau penilaian dengan observasi atau pengamatan

Teknik pengumpulan data atau penilaian dengan observasi atau pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah salah satu teknik penilaian atau teknik pengumpulan data untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi sebenarnya atau dalam situasi yang dimanipulasi. Observasi atau pengamatan dapat digunakan sebagai cara untuk mengukur atau menilai hasil dan proses belajar mengajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam pembelajaran, dan penggunaan alat bantu belajar mengajar.

Ada tiga jenis observasi yaitu obsevasi langsung, observasi tidak langsung dan observasi partisipasi. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat. Observasi tidak langsung dilaksanakan dengan alat bantu misalnya rekaman suara, rekaman video. Observasi partisipasi dilaksanakan dengan cara sipengamat terlibat atau berpartisipasi atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.

Langkah dalam menyusun pedoman observasi atau pedoman pengamatan adalah:
1. lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akir pelajaran. Hal ini untuk menentukan jenis perilaku guru yang akan diukur pada saat melakukan pengamatan nantinya.
2. Tentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati berkaitan dengan data yang diperlukan. Urutkan tingkah laku tersebut misalnya berdasarkan teori mengajar (metode atau model pembelajaran tertentu). Rumusan tingkah laku harus jelas dan spesifik agar mudah diamati oleh pengamat.
3. Tentukan bentu pedoman observasi tersebut yaitu bentuk bebas atau bentuk berstruktur. Bila bentuk berstruktur, tentukan pilihan jawaban dan indikatornya.
4. Sebelum observasi atau pengamatan dilakukan, diskusikan dahulu pedoman observasi atau pedoman pengamatan yang telah dibuat dengan calon pengamat atau observan agar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
5. Bila ada hal khusus yang menarik, tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya disediakan tempat catatan khusus atau kolom komentar bagi pengamat pada lembar observasi atau lembar pengamatan.

Observasi atau pengamatan untuk menilai proses dan hasil belajar siswa dapat dilaksanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegiatan belajar, karena tidak bisa guru sambil mengajar sambil mengamati setiap siswa. Kalaupun bisa, tentukan siswa yang menjadi fokusnya misalnya siswa yang berprestasi rendah atau siswa yang nakal. Pada saat kegiatan siswa belajar misalnya diskusi kelompok, guru dapat memperhatikan perilaku setiap siswa dan mencatat hal-hal khusus yang perlu sesuia dengan pedoman atau kriteria yang telah ditentukan. Misalnya hubungan sosial siswa saat diskusi, partisipasi siswa dalam diskusi dan tanggungjawab individu mengerjakan tugas. Hasil pekerjaan siswapun dapat digunakan sebagai data pengamatan misalnya ketelitian, ketepatan jawaban, tulisan dan bahasa.
Share:

contoh skala sikap untuk mata pelajaran kimia

Skala sikap siswa terhadap mata pelajaran kimia

Jenis kelamin:
Umur:
Kelas/semester:

Petunjuk:
terhadap setiap pernyataan di bawah ini Anda diminta menilainya dengan cara memilih salah satu di antara sangat setuju (SS), setuju (S), tidak berpendapat (TB), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS).

No.    Pernyataan                                                                      SS   S   TB   TS   STS
1. Saya tidak perlu memahami tujuan mata pelajaran kimia
2. Pelajaran kimia harus menarik minat siswa
3. Konsep-konsep dalam kimia sangat abstrak
4. Isi mata pelajaran kimia tidak sesuai dengan kehidupan nyata
5. Mempelajari kimia sangat sulit
6. Konsep kimia perlu dipelajari dengan alat bantu
7. Saya merasa untuk mempelajari kimia perlu banyak latihan
8. Sebaiknya konsep kimia dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari
9. Saya merasa banyak praktik kehidupan sehari-hari yang
memerlukan pemecahan dengan konsep kimia.
10. saya senang bila guru kimia memberikan tugas pekerjaan
rumah
11. Saya berpendapat bahwa kimia tidak sulit apabila dikerjakan
dengan sungguh-sungguh.
12. Mempelajari konsep kimia memerlukan banyak sumber.
13. Semakin banyak sumber materi kimia yang saya pelajari,
semakin jelas konsep-konsepnya.
14. Semakin banyak latihan soal kimia, semakin tinggi pemahanan
saya terhadap konsep kimia.
15. Paham terhadap konsep kimia tidak berarti saya senang
terhadap pelajarn kimia.


Tanda tangan



(tidak perlu tuliskan nama)

Berilah skor terhadap jawaban siswa dengan ketentuan yang konsisten:
Pernyataan positif SS=5, S=4, TB=3, TS=2, STS=1.
Pernyataan negatif SS=1, S=2, TB=3, TS=4, STS=5.
Dengan demikian skor maksimal yang dapat dicapai oleh siswa adalah 75 skor terendah adalah 15.

Kategori skor
60-75             Sikap positif
45-59             Sikap netral
15-44             Sikap negatif

Demikian contoh skala sikap untuk mata pelajaran kimia.
Share:

Skala Sikap (skala likert)

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap misalnya mendukung (positif), menolak (negatif) dan netral. Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan berperilaku pada diri seseorang. Sikap dapat juga diartikan reaksi seseorang terhadap suatu rangsangan yang datang kepada dirinya.

Ada tiga komponen sikap yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau rangsangan yang dihadapinya, afeksi berkenanan dengan perasaan dalam menanggapi objek atau rangsangan tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek atau rangsangan tertentu. Oleh karena itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek atau rangsangan tertentu, misal sikap siswa terhadap mata pelajaran, sikap mahasiswa terhadap pendidika kimia, atau sikap guru terhadap siswa.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan tersebut didukung atau ditolak, bisa menggunkan rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu, pernyataan dibagi dalam dua kategori positif dan negatif dengan kategori respon bisa mendukung, netral atau menolak.

Skala Likert adalah salah satu skala yang paling sering digunakan. Dalam skala Likert peryataan diajukan dalam bentuk pernyataan positif dan pernyataan negatif yang dinilai oleh responden sanagt setuju, setuju, tidak berpendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor yang diberikan terhadap pilihan tersebut bergantung pada penilai asal penggunaannya konsisten.

Contoh:

Pernyataan sikap                                                 SS  S  TB   TS  STS
Pernyataan Positif                                                2   1    0     -1    -2
                                                                          5   4    3      2     1
Pernyataan negatif                                               -2  -1   0      1     2
                                                                          5    4   3      2     1

Keterangan:
SS: sangat setuju
S:Setuju
TB:Tidak Berpendapat
TS:Tidak Setuju
STS:Sangat Tidak Setuju

Pernyataan sikap selain kategori positif dan negatif harus juga mencerminkan dimensi sikap kognisi, afeksi dan konasi.

Contoh:
1. Saya senang belajar kimia yang berkaitang dengan struktur atom. (+, afeksi)
2. Saya merasa sulit menyisihkan waktu untuk menyelesaikan tugas berkaitan dengan pelajaran struktur atom (-, afeksi)
3. Saya berpendapat bahwa pelajaran struktur atom memerlukan bantuan atau pengetahuan prasyarat dari materi kimia yang lain. (+, kognisi)
4. Saya sering meminta pendapat teman mengenai kekurangan atau kesalahan jawaban saya pada materi struktur atom. (+, konasi)
5. Saya merasa telah cukup menguasai materi pelajaran struktur atom (-, afeksi)

Dalam menyusun skala Likert perlu memperhatikan:
1) tentukan objek yang dituju kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala Likert.
2) Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.
3) dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi dan konasi terhadap objek sikap.
4) susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif secara seimbang banyaknya.

Contoh subvariabel dari variabel sikap guru terhadap profesinya sebagai guru:
1. sikap terhadap diri sendiri
2. sikap terhadap bidang ilmu
3. sikap terhadap profesi pendidikan
4. sikap terhadap peserta didik

Contoh Indikator subvariabel:
1. sikap terhadap diri sendiri
a. menerima jabatan sebagai guru
b. penampilan diri
c. sadar akan kemampuan dan kelemahan diri
2. sikap terhadap bidang ilmu
a. kemauana memperdalam ilmu
b. toleransi terhadap bidang ilmu lain
c. menyenangi bidang ilmunya
3. sikap terhadap profesi pendidikan
a. paham dan yakin akan pentingnya pendidikan
b. pengabdian terhadap jabatan guru
c. kemauan mengembagkan ilmu pendidikan
d. kemauan untuk meningkatkan kinerja profesi guru sebagai pendidik
4. sikap terhadap peserta didik
a. menyayangi peserta didik
b. menyadari adanya perbedaan di antara individu-individu peserta didik
c. kemamuan untuk mengembangkan potensi peserta didik

contoh sikap siswa terhadap mata pelajaran kimia, subvariabelnya antara lain:
1. sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran kimia
2. sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran kimia
3. sikap terhadap guru yang mengajarkan mata pelajaran kimia
4. sikap terhadap upaya siswa memperdalam mata pelajaran kimia

indikator suvariabelnya antara lain:
1. sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran kimia
a. paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi mata pelajaran kimia
b. kemamuan untuk mempelajari materi pelajaran kimia
c. kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep kimia
d. senang mempelajari buku pelajaran kimia
2...dst


Share:

Skala Penilaian

Skala penilaian digunakan untuk mengukur penampilan (performance) atau perilaku siswa atau guru oleh siswa lain ataupun guru melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan ini bisa dalam bentuk huruf atau angka, sedangkan rentangan kategori seperti tinggi, sedang, rendah atau baik, sedang, kurang.

Contoh:
Skala Penilaian Penampilan Guru Mengajar

Nama Guru:
Mata Pelajaran:

No.    Pernyataan                                                Skala Nilai
                                                                        A         B        C      D
1.   Penguasaan Materi Ajar
2.   Interaksi dengan siswa
3.   Bahasa yang digunakan
4.   Penguasaan Metode mengaar
5.   Penguasaan alat bantu mengajar
6.   Respon terhadap pertanyaan siswa
7.   ....dst

Keterangan
A: Baik sekali              C: cukup
B: Baik                       D: kurang

Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah kriteri skala nilai,yaitu penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban (A,B,C,D). Adanya kriteria yang jelas untuk setiap alternatif jawaban akan mempermudah pemberian nilai dan terhindar dari subjektifitas penilai.

Misal untuk pernyataan 1.
A: jika guru dapat menjelaskan secara lengkap tujuan pelajaran, materi ajar beserta contoh dan latihan soal dengan tepat dan terampil.
B: jika guru ...
C:..
D; jika penjelasan guru kurang lengkap, tidak mencakup semua tujuan pelajaran, tidak disertai contoh dan latihan soal.

Skala nilai diatas dapat juga menggunakan kategori baik sekali, baik, cukup, kurang atau angka 4, 3, 2, 1. Jumlah skor maksimal adalah jumlah butir pernyataan x 4, dalam contoh diatas 6 x 4 = 24, skor, terendah 1 x 6 = 6.

Skala penilaian komparatif, jika penilaian dibandingkan dengan penampilan guru lain. Misal A baik sekali, B lebih baik dari guru X, C sama dengan guru X, D kurang dari guru X.

Skala Penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu proses misalnya proses mengajar guru atau proses belajar siswa., atau hasil siswa dala bentuk perilaku, keterampilan, hubungan sosial.

Penyusunan skala penilaian memperhatikan hal-hal berikut:
a. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
b. Berdasarkan tujuan tersebut tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instrumen ini.
c. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan misalnya nilai angka atau kategori.
d. Buat pedoman untuk mengolah dan menafsirkan data yang diperoleh dari penilaian.

Penialaian dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk menghindari subjektifitas penilai.

Skala yang dibuat hanya dengan kategori ya dan tidak atau ada dan tidak ada disebut daftar check list.


Share:

Ahok divonis 2 tahun penjara

Tidak hanya situs-situs berita teratas dalam negeri yang menyoroti kasus Ahok. Situs-situs berita teratas luar negeri pun tidak ketinggalan menyoroti vonis 2 tahun penjara yang diberikan majelis hakim kepada Ahok.



Vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan mejelis hakim kepada Ahok menjadi sorotan hampir semua media masa online dalam dan luar negeri. Kasus ini menjadi sorotan dunia. Bukan hanya Ahok, melainkan juga hukum yang berlaku di NKRI juga tentu menjadi sorotan dunia.

Bagi yang kontra tentu memandang vonis ini sebagai keadilan, sedangkan bagi yang pro tentu memandang vonis ini sebagai ketidakadilan. Jika dalam kasus ini masih banyak yang pro dan kontra, tentu mengundang banyak pertanyaan tentang hukum yang berlaku di negara kita, yaitu peraturan dan perundangan yang berlaku.

Bahkan di media sosial, vonis yang dijatuhkan kepada Ahok oleh majelis hakim telah menjadi trending topik, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri atau menjadi trending topik dunia pada hari ini selasa 09 Mei 2017.
Share:

Teknik penilaian/ alat pengumpulan data: kuesioner dan contoh kuesioner

Penilaian menggunakan kuesioner bersifat praktis, hemat waktu, tenaga dan biaya. Namun, jawaban yang diberikan responden mungkin kurang objektif, lebih lebih bila pertanyaan yang diajukan kurang tajam. Sama seperti wawancara, kuesioner dapat dibagi menjadi dua yaitu: kuesioner berstruktur dan kuesioner terbuka.

Penyampaian kuesioner dapat dilakukan secara langsung atau dapat juga dikirim melalui pos. Cara langsung dengan membagikan kuesioner kepada siswa, kemudian setelah diisi dikumpulkan lagi. Cara pengiriman melalui pos tidak menjamin semua pasti dikembalikan, oleh karena itu cara ini harus menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden lebih banyak dari yang diperlukan.

Petunjuk teknis dalam menyusun kuesioner adalah sebagai berikut:
1) mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
2) jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah, bila perlu berikan contoh.
3) mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas responden. Dalam identitas ini sebaiknya tidak diminta mengisi nama. Identitas cukup menuliskan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan hal-hal umum yang berkaitan dengan tujuan kuesioner.
4) isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
5) rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan tidak mengakibatkan salah penafsiran.
6) hubungan antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sitematis. Hindari penggolongan pertanyaan terhadap persoalan yang sama.
7) usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat atau rumusannya tidak lebih panjang dari pada pertanyaan.
8) kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak objektif lagi.
9) ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan tanpa nama si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

Untuk menguji validitasnya, dapat dilakukan wawancara kepada beberapa responden secara acak dengan pertanyaan yang identik pada kuesioner.

Tujuan penggunaan kuesioner dalam penilaian proses dan hasil belajar mengajar adalah:
1) untuk memperoleh data mengenai latar belakang siswa sebagai bahan dalam menganalisis tingkah laku siswa, hasil dan proses belajarnya.
2) untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapainya dan proses belajar yang ditempuhnya.
3) untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program belajar mengajar.

Kuesioner untuk tujuan pertama dapat disusun dalam bentuk pertanyaan bersturktur ataupun terbuka untuk mengungkapkan antara lain:
a) identitas siswa seperti jenis kelamin, usia, agama, keadaan fisik, hobi atau kegemaran, dan mata pelajaran yang disenangi.
b) latar belakang keluarga seperti pekerjaan orang tua, pendidkan orang tua, anak keberapa, jumlah saudara kandung, status dalam keluarga, fasilitas belajar dirumah.
c) latar belakang lingkungan siswa seperti alamat tempat tinggal, status perumahan, suasana keagamaan, aktivitas dalam organisasi kemasyarakatan, pemanfaatan waktu senggang dan kelompok bermain.

Kuesioner untuk tujuan kedua, mengungkapakan beberapa aspek seperti hasil belajar yang dicapainya, kesulitan belajar, cara belajar, fasilitas belajar, bimbingan yang diperlukan, motivasi dan minat belajar, sikap terhadap belajar, sikap terhadap mata pelajaran, pandangan siswa terhadap proses belajar mengajar, dan sikap terhadap guru.

Kuesioner untuk tujuan ketiga, mengungkapkan beberapa aspek yang berkenaan dengan luas bahasan, relevansi dan kegunaan materi/bahan pelajaran, cara menyajikan bahan/materi pelajaran, tingkat kesulitan bahan/materi pelajaran, cara guru mengajar, kesinambungan bahan pelajaran, sistem penilaian atau ujian, buku pelajaran, alat peraga, laboratorium atau praktikum, kegiatan ektrakurikuler, lama belajar dan kegiatan siswa.

Contoh kuesioner

Kuesioner untuk guru mata pelajaran kimia

Petunjuk pengisian kuesioner
1. melalui instrumen ini Anda diminta memberikan pandangan tentang tujuan, isi dan pendekatan pelaksanaan pembelajaran kimia kurikulum 2013 di SMA.
2. pendapat atau pandangan yang Anda berikan pada setiap butir yang terdapat dalam intrumen ini akan digunakan sebagai masukan untuk mengusulkan penyempurnaan kurikulum 2013.
3. Tugas Anda ialah memilih salah satu kemungkinan jawaban yang telah disediakan, yang menurut pendapat Anda paling tepat.
4. sebelum mengisi atau memberikan pandangan terhadap butir-butir yang terdapat dalam instrumen ini, Anda diminta mengisi identitas secara lengkap.

Identitas
a. Jenis kelamin : 1) pria         2) wanita
b. Pengalaman mengajar : 1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
c. Kelas yang Anda ajar sekarang  1) kelas 10   2) kelas 11  3) kelas 12
d. Pengalaman mengajar kelas 10 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
e. Pengalaman mengajar kelas 11 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
f. Pengalaman mengajar kelas 12 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
g. Pengalaman mengikuti pelatihan dan pendidikan kurikulum 2013  1) pernah   2) belum pernah

Pertanyaan bagian I. Pandangan terhadap tujuan dan isi pembelajaran kimia
1. Menurut pendapat Anda tujuan umum pembelajaran kimia sebaiknya diarahkan pada
a. penguasaan materi pelajaran kimia
b. perubahan sikap siswa terhadap isu lingkungan dan masyarakat
c. membina pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang rasional dan tanggungjawab terhadap masalah yang timbul sebagai akibat dampak yang berkaitan dengan kimia.
2. .... dstnya

pertanyaan bagian II. Pandangan mengenai pendekatan pembelajaran kimia menurut kurikulum 2013
1. ... dstnya

Tanda tangan/paraf


..........................(tidak perlu diberi nama)
Share:

Latihan Soal 1 Termokimia


Kerjakan dan jawablah soal berikut!
Sampel gas nitrogen mengembang dari volume 1,6 L menjadi 5,4 L pada suhu tetap.
1. Hitunglah kerja yang dilakukan (dalam joule) jika gas mengembang terhadap vakum!

a. 0 J

b. –1,62 x 102 J

c. –3,00 x 102 J

d. –3,84 x 102 J



2. Hitunglah kerja yang dilakukan (dalam joule) jika gas mengembang terhadap tekanan tetap 0,80 atm!

a. 0 J

b. –1,62 x 102 J

c. –3,00 x 102 J

d. –3,84 x 102 J



3. Hitunglah kerja yang dilakukan (dalam joule) jika gas mengembang terhadap tekanan tetap 3,7 atm!

a. –1,62 x 102 J

b. –3,00 x 102 J

c. –3,84 x 102 J

d. –1,40 x 102 J
Share:

Penialian Autentik: Jawaban Tertulis Lengkap

Jawaban tertulis lengkap memungkinkan para siswa memperlihatkan penguasaan mereka atas tujuan belajar sambil mempertajam keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi. Jawaban tertulis bisa diwujudkan dalam berbagai format diantaranya surat persuasi, buku pedoman pelatiahn teknis, brosur, studi kelayakan, esai penelitian dan esai singkat. Contoh berikut meminta siswa kelas empat sekola dasar dalam mata pelajaran IPA untuk menggali informasi dan memperlihatkan pengetahuan mereka mengenai masalah hutan.

Hutan kalimantan terkenal dengan kayu dan kualitasnya yang baik. Perusahaan penebang kayu menebang pohon-pohon yang kayunya dapat dijual atau dijadikan bahan baku pembangunan dan produk meubel. Hutan yang telah ditebang kemudian dijadikan lahan untuk menanam pohon sawit. Hutan adalah rumah bagi berbagi satwa seperti orang hutan, burung dan sebagainya. Masalah apa yang ditimbulkan oleh peruhaan penebang kayu, perusahaan sawit dan satwa yang memerlukan hutan sebagai rumahnya? Bagaimana Anda memecahkan masalah tersebut?

Penilaian autentik bentuk ini mengajak siswa untuk memberikan tanggapan atau jawaban tertulis secara lengkap.
Share:

Penilaian Autentik: Proyek

Kehidupan di luar sekolah ada banyak sekali proyek. Penilaian autentik proyek mengacu apa saja, termasuk memecahkan masalah, yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah hasil. Dalam keadaan biasa, kita mengerjakan suatu proyek karena proyek itu menarik minat kita, atau karena kita diminta melakukannya, atau mungkin karena ada sekelompok orang setuju bahwa sebuah proyek dibutuhkan demi kebaikan bersama. Sistem pembelajaran kontekstual sangat bergantung pada proyek sebagai cara untuk mencapai tujuan akademik sambil menyesuaikan perbedaan gaya belajar, minat dan bakat setiap siswa. Karena proyek menghubungkan muatan akademik dengan konteks dunia nyata, proyek membangkitkan antusiasme siswa untuk ikut berpartisipasi.

Menangani sebuah proyek secara sistematis membantu semua siswa untuk merasakan bahwa mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Anak-anak disekolah dasar dengan mudah menguasai langkah-langkah ABCD untuk menyelesaikan proyek apapun, besar ataupun kecil. Sistem kerja dengan urutan ABCD mengingatkan siswa bahwa untuk meyelesaikan sebuah proyek dengan sukses, maka sebaiknya siswa menjalankan kegiatan "Arrange" (menyusun), "Begin" (memulai), "Change" (mengubah), "Demonstrate" (mempertunjukkan). Setiap kata memiliki penjabaran tugas sendiri-sendiri.

Arrange: ketahui tujuan belajarmu, putuskan proyek yang akan dikerjakan, atur waktu sebaik-baiknya, siapkan persediaan dan atur waktu untuk bertemu dengan orang-orang penting.

Begin: mulai mengerjakan proyek

Change: sambil bekerja, lakukan perubahan yang akan memperkuat dan memperbaiki proyek

Demosnstarte: tunjukkan apa yang telah kamu capai.

Kadang-kadang guru dari pelajaran yang berbeda bekerja sama untuk merancang satu proyek untuk menilai sekelompok siswa yang mempertunjukkan seberapa baik mereka dalam mencapai berbagai tujuan belajar. Dalam hal proyek terpadu, guru dibidang pelajaran tertentu tentu saja bertanggungjawab untuk menentukan tujuan belajar dan mengembagkan pedoman penilaian untuk mata pelajaran mereka masing-masing. Ujian standar atau EBTANAS menuntut para siswa menunjukkan bahwa mereka telah menghafal fakta dan prosedur, penialian autentik mengajak para siswa untuk mencapai tujuan yang penting dengan menggunakan fakta dan prosedur yang telah mereka hafal. Tujuan yang penting jelas sekali terlihat dalam proyek-proyek penilaian autentik, yang sebagian besar proyek melibatkan lebih dari satu mata pelajaran.

Contoh-contoh tugas proyek
1) Guru bimbingan konseling disekolah memiliki banyak sekali beban kasus yang harus ditangani sehingga sulit bagi guru untuk mengetahui dan bertemu dengan siswa satu per satu. Selidiki mengapa hal seperti ini terjadi dan tulis sebuah laporan yang mengusulkan cara untuk meningkatkan hubungan antara siswa dengan guru di sekolah. Laporan tersebut harus ditunjukkan atau disampaikan kepada guru bimbingan konseling di sekolah.

2) Temukan sebuah masalah lingkungan yang mempengaruhi sekolah, lingkungan atau masyarakat di sekitarmu. Selidiki masalah ini. Siapkan sebuah presentasi dengan menggunakan alat peraga visual dan jelaskan tentang masalah itu kepada masyarakat dan sarankan tindakan yang dapat diambil.

3) Bank berusaha menarik pelanggan dengan menawarkan layanan khusus. Secara berkelompok aturlah jadwal dengan bank lokal untuk belajar tentang layanan khusus yang disediakan oleh bank untuk menarik pelanggan. Lalu selidiki efektivitas dari layanan tersebut dan kembangkan strategi pemasaran untuk bank. Sampaikan strategi tersebut kepada manajer bank.

4) Secara berkelompok teliti dan adakan presentasi umum mengenai langkah-langkah mengolah limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah rumah sakit di sekitarmu. Gunakan video, grafik dan foto untuk menyampaikan hasil temuanmu.

5) Hujan asam menjadi masalah lingkungan yang menyebabkan korosi pada logam. Teliti dan selidiki masalah tersebut di lingkungan Anda. Laporkan hasil temuanmu dalam bentuk makalah atau jurnal.

Seperti yang ditunjukkan saran-saran di atas, proyek penilaian autentik didasarkan pada konteks dan mengangkat permasalahan dan persoalan aktual. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya "fakta apa yang dapat Anda sampaikan sehubungan dengan permasalahan ini?", tetapi juga pertanyaan yang lebih membuka pikiran, "seberapa cermatkah penalaran Anda, seberapa bisakah Anda bekerja sama dan bertindak?" "Apa yang Anda ketahui dan apa yang dapat Anda lakukan?" Para siswa ini berusaha sekuat tenaga belajar sambil membantu orang lain. Para siswa yang melakukan tugas autentik memenuhi target waktu, menerima tanggung jawab, membuat keputusan, mengelola bahan dan waktu, mempraktikan pemikiran dalam tingkatan yang lebih tinggi dan menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri. Hal-hal tersebut menjadikan pekerjaan mereka bermakna dan memotivasi mereka agar menjadi lebih unggul.
Share:

Penilaian Autentik: Kinerja / Pertunjukan / Performance

Sama seperti bentuk penilaian portofolio dan proyek, pertunjukan juga bisa dipakai sebagai alat ajar sekaligus alat penilaian kinerja siswa. Dalam penilaian autentik pertunjukan, siswa mempertontonkan atau menampilkan di hadapan khalayak atau masyarakat luas bahwa mereka telah menguasai tujuan belajar tertentu. Seorang siswa dengan bakat musik menonjol bisa memperlihatkan pengetahuannya tentang bakatnya dengan menggubah dan memainkan musik untuk mengiringi sebuah adegan atau babak dalam drama. Kelompok siswa lain mungkin menunjukan bakat memasak, bagaimana meramu dan menyajikan sebuah resep masakan yang disajikan dalam rumah makan atau restoran. Kelompok siswa lain mungkin menulis dan memainkan sebuah drama. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyertai setiap pertunjukan dengan narasi, tertulis atau lisan, yang menjelaskan hubungan pertunjukan tersebut dengan materi yang sedang dipelajari. Narasi tersbut menjelaskan mengapa pertunjukkan tersebut berisi fitur-fitur tertentu dan detail mana yang paling cocok.

Para penonton sering kali membantu memberikan penilaian. Mereka dibantu oleh para guru untuk memahami dan menerapkan hasil penilaian tersebut.

Tugas pertunjukan untuk menilai bahwa siswa telah
1) Meguasai informasi, konsep, dan keterampilan tertentu yang terdapat dalam tujuan belajar.
2) Memahami dan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk mengadakan pertunjukan. Contohnya model teater zaman kayu atau zaman batu, gubahan musik, melukis, yang masing-masing memiliki kriteria sendiri.
3) Memperlihatkan minat dan bakat individu.
4) Berkomunikasi dengan efektif dengan para penonton
5) Memberikan narasi yang seimbang dan/atau melakukan diskusi tentang gagasan di balik tugas pertunjukan terakhir mereka.

Tugas yang diberikan untuk melakukan penilaian autentik kinerja / pertunjukan / performance siswa.
Share:

Penilaian Autentik: Portofolio

Penilaian autentik paling terkenal adalah portofolio. Sebagai bagian intrinsik dari prestasi harian kelas yang dilakukan terus menerus, portofolio timbul dari konteks kehidupan sehari-hari. Saat melakukan berbagai jenis tugas para siswa menilai dan mengumpulkan tugas dan selama itu mereka melihat diri mereka sebagai seorang yang kreatif dan memiliki kemampuan.  Siswa memperoleh kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab dengan mengunpulkan dan menilai pekerjaan mereka sendiri.

Sama seperti jenis penilaian autentik yang lain, tujuan penilaian harus jelas. Dalam portofolio siswa mengevaluasi pekerjaan mereka dengan mengacu pada tujuan yang sudah ditetapkan, menilai kemajuan, dan menetapkan target-target pribadi. Selama pembuatan portofolio, siswa tidak hanya menunjukkan materi tersebut yang telah mereka pelajari, tetapi juga materi apa yang mereka senangi, bagaimana pendapat mereka, dan bagaimana menilai kemampuan mereka. Portofolio sama uniknya dengan siswa yang membuatnya. Karena portofolio memberi siswa pilihan, membiarkan mereka menggunakan gaya belajar mereka sendiri, dan memberikan kesempatan untuk maju, portofolio mendorong dan dan memotivasi semangat belajar.

Umumnya portofolio dinilai oleh guru bersama-sama pihak lain di sekolah atau masyarakat luas. Para orang tua memperoleh wawasan dengan menggunakan pedoman penilaian untuk mengevaluasi portofolio yang telah dibuatoleh siswa.

Baik pilihan siswa maupun sifat proyek mempengaruhi karakter unik atau ciri khas portofolio sebagai bentuk penilaian autentik. Misalnya, seorang siswa SMA mungkin memilih untuk mengungkapkan tujuan akademik dan tujuan yang berhubungan dengan karier yang didapatnya selama dirinya menjabat sebagai bendahara kelas atau bendahara organisasi atau bendahara kegiatan atau bendahara sekolah dengan cara mencantumkan pada portofolionya contoh-contoh tugas yang menjadikan kemampuannya dalam pelajaran matematika semakin tajam. Siswa bisa menjelaskan dalam buku catatannya pengalaman-pengalaman yang menjadikan keterampilan interpersonalnya semakin meroket. Siswa tersebut bisa melampirkan sebuah tulisan mengenai bank sebagai kegiatan sistematis atau menyertakan sebuah makalah penelitian yang mendiskusikan tentang cara kerja perusahaan perbankan. Dengan cara itu, portofolio mengaitkan pembelajaran dengan apa yang dilakukan orang dalam dunia nyata dan akibatnya menumbuhkan prestasi akademik yang tinggi.
Share:

Penilaian Autentik

Penilaian autentik memberikan tantangan kepada siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik adalah teknik bagi sekolah yang ingin maju yang tahu dengan jelas apa yang diharapkan dari siswa dan tahu dengan jelas bagaimana mereka dapat menunjukkan kualitas tersebut. Penilaian autentik memberikan kesempatan keapda siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

Sebagai bagian kecil dari sebuah sistem pembelajaran kontekstual, penialaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, dan menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi. Karena tugas-tugas yang diberikan dalam penilaian autentik mengharuskan penggunaan startegi-strategi tersebut, maka para siswa bisa menunjukkan penguasaannya terhadap tujuan pelajaran dan kedalaman pemahamannya dan pada saat yang bersamaan meningkatkan pengetahuan dan cara untuk memperbaiki diri.

Penilaian autentik mengajak para siswa untuk menggunakan pengetahuan akademik dalam konteks dunia nyata untuk tujuan bermakna. Sebagai contoh, siswa menjelaskan informasi akademik yang telah mereka pelajari dalam semua bidang ilmu yang diajarkan di sekolah. Ketika melakukan tugas dalam penilaian autentik tersebut, siswa menghadapi tantangan-tantangan yang lazim menyertai setiap usaha untuk mencapai hasil yang berarti dalam konteks pekerjaan atau masyarakat.

Kekuatan atau keuntungan penilaian autentik bagi siswa
Penilaian autentik meningkatkan pembelajaran dalam banyak hal. Ujian standar (seperti EBTANAS) bersifat eksklusif dan sempit, sementara penilaian autentik yang bersifat inklusif memberi keuntungan bagi siswa dengan memungkinkan siswa:
1) mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka
2) mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menguasai teknologi, dan berpikir secara sistematis.
3) menghubungkan pembelajaran dengan dengan pengalaman mereka sendiri, lingkungan mereka dan masyarakat luas.
4) Mempertajam keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, mengidentifikasi masalah menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat.
5) Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan
6) Berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan tugas
7) Belajar mengevaluasi tingkat prestasi mereka sendiri.

Empat jenis penilaian autentik
Pada umumnya para pendidik telah mengenal empat jenis penilaian autentik, yaitu:
1) Portofolio
2) Penilaian kinerja / pengukuran kinerja / pertunjukan (performance)
3) Proyek
4) Jawaban tertulis secara lengkap

Prosedur untuk merancang soal penilaian autentik
Dalam membuat soal untuk penilaian autentik, apapun kategori yang dipakai, para guru yang menerapkan pembelajaran kontekstual perlu memperhatikan prosedur berikut:
1) Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan bisa dikerjakan oleh siswa. Beri tahukan kepada mereka standar yang harus dicapai atau kriteria yang harus dipenuhi.
2) Hubungkan pelajaran akademik dengan konteks dunia nyata dengan cara yang penuh makna.
3) Tugaskan para siswa untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui, untuk memperlihatkan keterampilan dan kedalaman pengetahuan mereka dengan memproduksi hasil (contoh produk nyata, presentasi, koleksi hasil tugas.
4) Putuskan tingkat penguasaan yang harus dicapai.
5) Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik, yaitu dalam bentuk pedoman penilaian yang dilengkapi dengan kriteria yang digunakan untuk menilai.
6) Biasakan para siswa dengan rubrik tersebut. Ajak siswa untuk terus menerus melakukan penilaian diri saat mereka menilai kerja mereka sendiri.
7) Libatkan sekelompok orang selain guru untuk menanggapi penilaian ini.

Apapun bentuk penilaian autentik yang dipakai, membuat portofolio, mengembangkan proyek, menampilkan sebuah pertunjukan atau menyiapkan pertanyaan yang dijawab secara lengkap, para siswa harus mampu mempertunjukkan secara lengkap lingkup pembelajaran mereka dan pada saat yang bersamaan menambah pengetahuan dan keterampilan mereka. Selain itu, penilaian autentik menjadikan siswa berminat dengan menghubungkan mata pelajaran kademik dengan dunia nyata dengan cara yang bermakna. Siswa tidak menghafalkan fakta, tetapi menggunakan keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi untuk tujuan penting yang mempengaruhi konteks kehidupan mereka sehari-hari.

Baca:
1) Portofolio
2) Penilaian kinerja / pengukuran kinerja / pertunjukan (performance)
3) Proyek
4) Jawaban tertulis secara lengkap
Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru