Wednesday, April 12, 2017

Pendekatan Saintifik

Makalah

“Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013”


Oleh :
Kelompok 4
Anggota Kelompok :
·               Farida Meliana L. Tobing (ACC 114 023)
·               Lusiana Hidayati (ACC 114 024)
·               Muhammad Fauji Rahman (ACC 114 030)
·               Okta Pirera (ACC 114 061)
·               Rini Astuti (ACC 114 019)
·               Rois AL Faizin (ACC 114 015)
·               Yesi Afrianti Tundan (ACC 114 045)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2017


BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
   Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahan yang terjadi adalah pergantian Kurikulum 2013 dari Kurikulum sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan pada Sekolah/Madrasah, yang  juga  bisa  disebut  dengan pembelajaran saintifik. Penerapan kurikulum ini tentu dilakukan secara bertahap. Ada banyak komponen yang melekat pada Kurikulum Tahun 2013 ini. Hal yang paling menonjol adalah pendekatan dan strategi pembelajarannya. Guru masih memahami dan menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran Kurikulum sebelumnya. Hal ini perlu ada perubahan mindset dari metodologi pembelajaran pola lama menuju pada metodologi pembelajaran pola baru sesuai dengan yang diterapkan pada Kurikulum Tahun 2013.
Diperkenalkannya  kurikulum  2013  ini  banyak pihak  berharap bahwa dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang dan  semakin  maju.  Dengasistem  pembelajaran  saintifik  yang  di dalamnya banyak terkadung berbagai metode pembelajaran yang dapat di gunakan oleh peserta didik. Di sini yang mendominasi seluruh pembelajaran adalah peserta didik, peserta didik di harapkan aktif dan bersifat memberi ilmu  pengetahuan  juga kepada teman  yang lain,  jadi tidak hanya menerima saja. Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) secara utuh atau holistic, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan yang lainnya. Dengan demikian, proses pembelajaran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi.
  
1.2    Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, penulis dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1.         Apa yang melatar belakangani terbentuknya pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 ?
2.         Apa pengertian pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 ?
3.         Apa saja kriteria pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 ?
4.         Bagaimana langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 ?
5.         Apa saja kelebihan dan kekurangan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 ?
1.3    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.         Untuk mengetahui yang melatar belakangani terbentuknya pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013
2.         Untuk mengetahui  pengertian pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013
3.         Untuk mengetahui kriteria pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013
4.         Untuk mengetahui langkah-langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013
5.         Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013
1.4    Manfaat Penulisan
Dengan makalah ini kita dapat menambah pengetahuan dan wawasan  tentang yang melatar belakangi, pengertian, kriteria, langkah-langkah, kelebihan dan kelemahan pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013, serta bisa dijadikan modal kita saat sudah mengajar nanti.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Yang Melatar Belakangani Terbentuknya Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahan yang terjadi adalah pergantian kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan di sekolah / madrasah. Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini.  Scientific approach (pendekata ilmiah) adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan pendekatan ilmiah.Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika, dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis dan menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif, teliti, dan taat aturan.
2.2 Pengertian Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Pendekatan saitifik adalah konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegtitasi. Terdapat tiga model pembelajaran yang digunakan dalam metode pendekatan scientific yaitu :
1.      Discovery Learning (Penemuan)
2.      Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek)
3.      Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peseta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipata diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.

2.3  Kriteria Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Pendekatan saintifik (scientific approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah. Dalam konsep pendekatan saintifik yang disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan minimal ada 7 (tujuh) kriteria dalam pendekatan saintifik. Ketujuh kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira–kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
  2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru– siswa terbebas dari prasangka yang serta  merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
  3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
  4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu samalain dari materi pembelajaran.
  5. Mendorong dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
  6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
  7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, tetapi menarik sistem penyajiannya.
2.4  Langkah-langkah Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Langkah-langkah Pendekatan Saintifik dalam proses pembelajaran adalah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Berikut ini dalah gambar masing-masing langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik.
Gambar 1. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik
Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah,yaitu attitude/sikap, knowledge/pengetahuan, dan skill/keterampilan (disingkat KSA= knowledge, skill, dan attitude).
Gambar 2. Hasil belajar melahirkan siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi
a. Ranah sikap menggamit transformasi materi pelajaran agar peserta “tahu mengapa”.
b. Ranah keterampilan menggamit transformasi materi pelajaran agar peserta “tahu bagaimana”.
c. Ranah pengetahuan menggamit transformasi materi pelajaran agar peserta “tahu apa”.
d. Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan serta pengetahuan untuk hidup layak (hard skills) dari siswa yang meliputi kopetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
e. Hasil belajar melahirkan siswa yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi. Kelima kegiatan/langkah pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik diimplementasikan pada saat memasuki kegiatan inti pembelajaran. Penjelasan untuk langkah-langkah/kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik adalah sebagai berikut.
a. Mengamati
Pengamatan atau observasi adalah menggunakan panca indera untuk memperoleh informasi. Mengamati adalah kegiatan studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Kegiatan mengamati mengutamakan proses pembelajaran yang bermakna. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Metode ini memiliki keunggulan tertentu, diantaranya: menyajikan media atau objek secara nyata, menantang/menarik rasa ingin tahu siswa, serta pelaksanaannya yang mudah. Metode ini sangat tepat untuk memenuhi rasa ingin tahu siswa, sehingga menimbulkan proses pembelajaran yang bermakna.
            Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, menyebutkan bahwa aktivitas mengamati dilakukan melalui kegiatan membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya. Peran guru adalah memfasilitasi siswa untuk melakukan proses mengamati. Guru bisa menyajikan media berupa gambar, video, benda nyata, miniatur, dll. Guru memfasilitasi peserta didik untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda/objek. Siswa mengamati objek/media yang akan dipelajari atau digunakan saat pembelajaran. Kompetensi yang ingin dikembangkan dari kegiatan ini adalah melatih ketelitian, kesungguhan, dan mencari informasi. Observasi bertujuan untuk mendiskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yan berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang yang diamati tersebut. Langkah-langkah dalam melakukan kegiatan mengamati adalah sebagai berikut.
a. Mengetahui/memperoleh pengetahuan yang akan diobservasi.
b. Membuat pedoman observasi atau sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi.
c. Menentukan data yang perlu diobservasi.
d. Menentukan tempat objek yang akan diobservasi.
e. Menentukan bagaimana observasi akan dilakukan.
f. Menentukan cara melakukan pencatatan atas hasil observasi.
            Siswa melakukan pengamatan terhadap benda untuk mengetahui karakteristiknya, misal: warna, volume, bau, bentuk, tekstur, berat, dan suaranya. Benda memiliki karakteristik yang berbeda jika terkena pengaruh lingkungan. Perilaku manusia juga bisa diamati oleh siswa. Pengamatan terhadap perilaku manusia dilakukan untuk mengetahui kebiasaan, sifat, respon, pendapat, dan karakteristik lainnya. Pengamatan dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil dari pengamatan kualitatif berupa deskripsi dan pengamatan kuantitatif berupa hasil pengukuran. Pengamatan kuantitatif untuk melihat perilaku manusia atau hewan dilakukan dengan cara menghitung banyaknya kejadian.
Tabel 2. Tabel Contoh Data Kualitatif dan Kuantitatif
            Guru bisa meminta siswa untuk mengamati fenomena alam atau fenomena sosial, seperti mengamati tingkah laku hewan, mengamati benda yang ada di lingkungan kelas dan rumah, mengamati ciri-ciri wajah teman, mengamati kegiatan di masjid, dll. Hosnan menyatakan bahwa lingkungan pembelajaran seharusnya tidak terbatas dalam ruang kelas, melainkan dapat di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran. Dengan mengamati lingkungan, siswa akan memperoleh pengalaman langsung. Pengalaman langsung dalam kegiatan mengamati ini merupakan alat yang baik untuk memperoleh kebenaran/fakta. Selain itu, siswa juga bisa diminta untuk mengamati media. Adapun fungsi media menurut Sadiman adalah sebagai berikut.
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalisme.
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera.
3. Mengatasi sikap pasif peserta didik.
            Fungsi dari media menurut Sagala yaitu lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar. Siswa dituntut untuk cermat dalam mengamati suatu fenomena atau permasalahan agar mendapatkan informasi yang akurat. Setelah melakukan pengamatan, siswa melakukan pencatatan hasil pengamatan. Catatan ini berisi tentang hal-hal apa yang diamati dan dianggap penting oleh siswa. Catatan pengamatan juga harus dilakukan langsung setelah melakukan pengamatan. Selain itu, catatan pengamatan juga harus memuat keterangan objek pengamatan, tempat, tanggal dan waktu pengamatan.
b. Menanya
            Langkah kedua dalam Pendekatan Saintifik adalah menanya. Kegiatan menanya adalah membuat dan mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati. Model pembelajaran menanya sebenarnya merupakan pengembangan dari metode tanya jawab. Sudirman mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama guru kepada siswa, tetapi dapat pula siswa kepada guru”. Metode tanya jawab juga dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) dengan berbagai sumber belajar, seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa menanya adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati untuk memahami materi pembelajaran.
            Peran guru adalah memfasilitasi siswa untuk melakukan proses menanya. Siswa dilatih mengembangkan kemampuan bertanya mulai dari siswa masih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan, sampai ke tingkat dimana siswa mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. Hosnan menyatakan bahwa dalam kegiatan menanya guru berusaha membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat.          Kegiatan bertanya ini sangat penting untuk mengembangkan rasa ingin tahu (curiousity) siswa. Fungsi bertanya menurut Rusman adalah menggali informasi, mengecek pemahaman siswa, dan memfokuskan perhatian siswa. Fungsi bertanya lainnya menurut Hosnan adalah mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberikan jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.   Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, menyebutkan bahwa aktivitas menanya dilakukan melalui kegiatan membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi. Semakin siswa terlatih untuk bertanya, maka akan semakin berkembang rasa ingin tahu siswa.
            Guru diharapkan mampu menginspirasi siswa untuk meningkatkan mengembangkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Saat guru bertanya, berarti guru membimbing siswa untuk belajar dengan baik. Saat guru menjawab, berarti guru mendorong siswa untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.
            Guru juga perlu mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan. Cara memberikan giliran dalam kegiatan tanya jawab adalah sebagai berikut.
1. Dengan memberikan pertanyaan yang ditujukan kepada seseorang dan gilirannya kepada orang lain.
2. Dengan pertanyaan yang diberikan kepada kelompok dan gilirannya dengan kelompok lain.
3. Dengan pertanyaan yang ditujukan kepada siapapun dan diarahkan secara tersebar.
4. Dengan pertanyaan kepada seluruh kelas dan dijawab secara spontan oleh siapa saja
            Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah pertanyaan tidak selalu dalam bentuk kalimat tanya, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkn tanggapan verbal. Bentuk pertanyaan, misalnya “Apa saja kegiatan yang dilakukan para petani berdasarkan pada gambar?”. Bentuk pernyataan, misalnya “sebutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan para petani berdasarkan pada gambar?”. Guru diharapkan dapat memberikan pertanyaan yang menginspirasi siswa untuk memberikan jawaban yang baik dan benar.
c. Mengumpulkan Informasi/Mencoba
            Kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, menyebutkan bahwa aktivitas mengumpulkan informasi/mencoba dilakukan melalui kegiatan mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan. Belajar dengan menggunakan pendekatan saiintifik akan melibatkan siswa dalam melakukan aktivitas meyelidiki fenomena dalam upaya menjawab suatu permasalahan. Jadi, kegiatan mengumpulkan informasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang dilakukan melalui berbagai cara, antara lain: melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan nara sumber dan sebagainya sebagai upaya untuk menjawab suatu permasalahan.
            Kegiatan yang dilakukan dalam mengumpulkan informasi adalah eksperimen. Eksperimen/ mencoba sebagai cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Eksperimen/ mencoba sebagai kegiatan terperinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa mencoba adalah kegiatan pembelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari untuk mendapatkan data untuk menjawab permasalahan atau menguji hipotesis.
            Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat. Peran guru adalah memfasilitasi siswa untuk melakukan proses mengumpulkan informasi/mencoba.
            Beberapa kelebihan dan kekurangan metode eksperimen. Kelebihan dan kekurangan tersebut adalah sebagi berikut ini.
1) Kelebihan Metode Ekserimen
a) Membuat siswa percaya pada kebenaran kesimpulan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru.
b) Siswa aktif terlibat mengumpulkan fakta, informasi, atau data yang diperlukan melalui percobaan yang dilakukan.
c) Dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan berpikir ilmiah.
d) Memperkaya pengalaman dengan hal-hal yang bersifat objektif,realistik, dan menghilangkan verbalisme.
e) Hasil belajar menjadi kepemilikan siswa yang bertalian lama.
2) Kekurangan Metode Ekserimen
a) Memerlukan peralatan percobaan yang komplit.
b) Dapat menghambat laju pembelajaran dalam penelitian yang memerlukan waktu lama.
c) Menimbulkan kesulitan bagi guru dan siswa apabila kurang berpengalaman dalam penelitian.
d) Kegagalan dan kesalahan dalam bereksperimen akan berakibat pada kesalahan penyimpulan. Kegiatan mengumpulkan informasi lainnya adalah diskusi. Diskusi memiliki manfaat dan kelemahan. Manfaat dari diskusi antara lain: (1) peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpikir; (2) peserta didik dapat berlatih mengeluarkan pendapat; (3) diskusi dapat menumbuhkan parsitipasi aktif peserta didik; dan (4) peserta didik belajar bersikap toleran. Sedangkan kelemahan diskusi antara lain: (1) diskusi terlampau menyerap waktu; (2) peserta didik tidak berlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik; dan (3) terkadang guru tidak memahami cara-cara melaksanakan diskusi, sehingga diskusi cenderung menjadi tanya jawab.
            Kegiatan mencoba memiliki peran penting dalam melatih siswa untuk memperoleh data dan fakta dari hasil pengamatan dan bukan hanya opini semata. Dengan melakukan percobaan, siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang dimiliki. Selain itu, ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan mencoba diharapkan dapat bertahan lama dalam ingatan siswa.
d. Menalar/Mengasosiasi
            Menalar adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi/diamati untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan berbagai ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukkannya menjadi penggalan memori. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kegiatan mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar dalam kegiatan pembelajaran adalah kegiatan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan untuk memperoleh simpulan.
            Kegiatan mengasosiasi/ menalar dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut. Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, menyebutkan bahwa aktivitas menalar/mengasosiasikan dilakukan melalui kegiatan mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan. Kompetensi yang diharapkan dari kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
            Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik kesimpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara khusus menjadi simpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Jadi, menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu, kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagian yang khusus.
            Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi. Setelah menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya dan menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut, selanjutnya siswa secara bersama-sama dalam satu kelompok atau secara individual membuat kesimpulan.
e. Mengkomunikasikan
            Pendekatan Saintifik pada Kurikulum 2013 memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan apa yang sudah dipelajari. Siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan hasil pekerjaan yang sudah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok maupun secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat.
            Kegiatan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran menurut adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, menyebutkan bahwa aktivitas mengkomunikasikan dilakukan melalui kegiatan menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan.
            Kompetensi yang diharapkan dari kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.  Siswa diharapkan dapat menyampaikan hasil temuannya dengan lancar dan baik di depan teman-teman satu kelas. Hal ini bertujuan untuk melatih dan mengembangkan rasa percaya diri siswa. Sedangkan, siswa yang lain dapat memberikan komentar atau masukan mengenai apa yang disampaikan oleh temannya. Peran guru adalah memfasilitasi siswa untuk melakukan proses mengkomunikasikan.
            Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, kegiatan pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas pembelajaran, selain itu guru memiliki peran dalam setiap aktivitas. Pada penelitian ini, kegiatan pembelajaran dan peran guru menggunakan Lampiran Permendikbud 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Kegiatan pembelajaran dan peran guru dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Tabel Deskripsi Kegiatan dan Peran Guru dalam Kegiatan
Pembelajaran menggunakan Pendekatan Saintifik

2.5  Kelebihan Dan Kekurangan Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
      Pendekatan saintifik memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan yaitu sebagai berikut :
1.      Kelebihan
·         Proses pembelajaran lebih terpusat pada siswa sehingga memungkinkan siswa aktif dan kreatif dalam pembelajaran.
·         Langkah-langkah pembelajarannya sistematis sehingga memudahkan guru untuk memanajemen pelaksanaan pembelajaran.
·         Memberi peluang guru untuk lebih kreatif,  dan mengajak siswa untuk aktif dengan berbagai sumber belajar.
·         Langkah-langkah pembelajaran melibatkan keterampilan proses sains dalam mengontruksi konsep, hukum atau prinsip.
·         Proses pembelajarannya melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
·         Dapat mengembangkan karakteristik siswa.
·         Penilaian mencakup semua aspek.
2.      Kelemahan
·         Dibutuhkan kreatifitas tinggi dari guru untuk menciptakan lingkungan belajar dengan menggunakan pendekatan saintifik sehingga apabila guru tidak mau kreatif, maka pembelajaran tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
·         Guru jarang menjelaskan materi pembelajaran, karena guru banyak yang beranggapan bahwa dengan kurikulum yang terbaru ini guru tidak perlu menjelaskan materinya.

  

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu :
a.       Yang melatar belakangi terbentuknya pendekatakan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 adalah pemerintah ingin menerapkan pendidikan yang bermutu.
b.      Pendekatan saitifik adalah konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah.
c.       Dalam konsep pendekatan saintifik yang disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan minimal ada 7 (tujuh) kriteria dalam pendekatan saintifik.
d.      Langkah-langkah pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran adalah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.
e.       Pendekatan saintifik memiliki banyak kelebihan dan beberapa kekurangan.
3.2. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami menyadari dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna oleh karena itu, kami sangat mengharapkan  kritik dan saran dari pembaca agar bisa menjadikan motivasi bagi kami sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA
Bailer, Jill. (2006). Teaching Science Process Skills-Middle School. Michigan: Milestone.
Daryanto. (2014). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:
Gava Media.
Fadlillah, M. (2014). Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI,
SMP/MTs,& SMA/MA. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21 Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Kemdikbud. (2014). Permendikbud No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah. Jakarta:Kemdikbud.
Kemdikbud. (2014). Permendikbud No. 104tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta:Kemdikbud
Sadiman, S. (2006). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sagala, Syaiful. (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alvabeta.
Sani, Abdullah Ridwan. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013.   Jakarta: PT. Bumi Aksara


0 komentar:

Post a Comment