Thursday, April 6, 2017

PENILAIAN PSIKOMOTORIK

PENILAIAN PSIKOMOTORIK



OLEH :


  1. Andini Eka Junikurniawati (ACC 114 005)
  2. Firda Amalia  (ACC 114 055)
  3. Nanik Widiyas Tutik  (ACC 114 056)
  4. Nistikawati   (ACC 114 019)
  5. Norhalimah   (ACC 114 007)
  6. Riska   (ACC 114 026)
  7. Yuni Soraya   (ACC 114 064)
  8. Lovina Tampubolon  (ACC 114 053)







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2017


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap,pengetahuan, dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaianharus mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 20 Tahun 2007 menyebutkan bahwa salah satu prinsip penilaian adalah menyeluruh dan berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa penilaian oleh guru mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. Cakupan aspek penilaian yang dimaksud adalah aspek kognitif (pengetahuan), aspek psikomotor (keterampilan), dan aspek afektif (sikap). Untuk dapat merancang dan melaksanakan penilaian psikomotor yang sesuai dengan standar penilaian, guru harus memiliki pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan yang memadai dalam mengembangkan perangkat penilaian psikomotor.
Penilaian psikomotorik implementasinya dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi.
Untuk jenjang Pendidikan SMA, mata pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktikitu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor. Kegiatan-kegiatan praktikum tersebut nantinya bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja yang kreatif dan terampil dalam memanfaatkan segala sesuatu yang berpotensi dalam diri dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan di SMK di dominasi ranah psikomotoril karena dalam struktur kurikulum memang lebih dominan kegiatan praktik.
1.2  Rumusan Masalah
a.      Apa Definisi Psikomotorik?
b.      Bagaimana Pembelajaran Psikomotorik?
c.       Bagaimana Penilaian Hasil Belajar Psikomotorik?
d.      Apa saja Unsur yang terlibat dalam Penilaian Psikomotorik?
e.       Apa saja dasar-dasar hukum yang menjadi landasan pentingnya penilaian psikomotorik?
f.       Bagaimana Pengembangan penilaian psikomotorik?
g.      Bagaimana instruksi kerja dalam proses penyusunan instrumen penilaian psikomotorik?
h.      Apa saja Jenis Tes Psikomotorik?
i.        Bagaimana contoh Penilaian Psikomotorik?
1.3  Tujuan
a.      Untuk mengetahui Definisi Psikomotorik
b.      Untuk mengetahui Pembelajaran Psikomotorik
c.       Untuk mengetahui Penilaian Hasil Belajar Psikomotorik
d.      Untuk mengetahui Unsur yang terlibat dalam Penilaian Psikomotorik
e.       Untuk mengetahui -dasar hukum yang menjadi landasan pentingnya penilaian psikomotorik
f.       Untuk mengetahui Pengembangan penilaian psikomotorik
g.      Untuk mengetahui instruksi kerja dalam proses penyusunan instrumen penilaian psikomotorik
h.      Untuk mengetahui Jenis Tes Psikomotorik
i.        Untuk mengetahui contoh Penilaian Psikomotorik


























BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Psikomotorik
Hasil belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara eksplisit. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu, namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif, dan keduanya selalu mengandung ranah afektif.
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Berkaitan dengan psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972) menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.
Menurut Mardapi (2003), keterampilan psikomotor ada enam tahap, yaitu: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif. Gerakan refleks adalah respons motorik atau gerak tanpa sadar yang muncul ketika bayi lahir. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada keterampilan komplek yang khusus. Kemampuan perseptual adalah kombinasi kemampuan kognitif dan motorik atau gerak. Kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan terampil. Gerakan terampil adalah gerakan yang memerlukan belajar, seperti keterampilan dalam olah raga. Komunikasi nondiskursif adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan gerakan.
Buttler (1972) membagi hasil belajar psikomotor menjadi tiga, yaitu: specific responding, motor chaining, rule using. Pada tingkat specific responding peserta didik mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, (yang dapat didengar, dilihat, atau diraba), atau melakukan keterampilan yang sifatnya tunggal, misalnya memegang raket, memegang bed untuk tenis meja. Pada motor chaining peserta didik sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi satu keterampilan gabungan, misalnya memukul bola, menggergaji, menggunakan jangka sorong, dll. Pada tingkat rule using peserta didik sudah dapat menggunakan pengalamannya untuk melakukan keterampilan yang komplek, misalnya bagaimana memukul bola secara tepat agar dengan tenaga yang sama hasilnya lebih baik.
Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya. Contohnya, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat karena pernah melihat atau memperhatikan hal yang sama sebelumnya. Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihat tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat hanya berdasarkan pada petunjuk guru atau teori yang dibacanya. Kemampuan tingkat presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat. Contoh, peserta didik dapat mengarahkan bola yang dipukulnya sesuai dengan target yang diinginkan. Kemampuan pada tingkat artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan yang komplek dan tepat sehingga hasil kerjanya merupakan sesuatu yang utuh. Sebagai contoh, peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam hal ini, peserta didik sudah dapat melakukan tiga kegiatan yang tepat, yaitu lari dengan arah dan kecepatan tepat serta memukul bola dengan arah yang tepat pula. Kemampuan pada tingkat naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara reflek, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja tinggi. Sebagai contoh tanpa berpikir panjang peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan.
2.2.PEMBELAJARAN PSIKOMOTOR
Menurut Ebel (1972), ada kaitan erat antara tujuan yang akan dicapai, metode pembelajaran, dan evaluasi yang akan dilaksanakan. Oleh karena ada perbedaan titik berat tujuan pembelajaran psikomotor dan kognitif maka strategi pembelajarannya juga berbeda. Menurut Mills (1977), pembelajaran keterampilan akan efektif bila dilakukan dengan menggunakan prinsip belajar sambil mengerjakan (learning by doing). Leighbody (1968) menjelaskan bahwa keterampilan yang dilatih melalui praktik secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan atau otomatis dilakukan. Sementara itu Goetz (1981) dalam penelitiannya melaporkan bahwa latihan yang dilakukan berulang-ulang akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemahiran keterampilan. Lebih lanjut dalam penelitian itu dilaporkan bahwa pengulangan saja tidak cukup menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, namun diperlukan umpan balik yang relevan yang berfungsi untuk memantapkan kebiasaan. Sekali berkembang maka kebiasaan itu tidak pernah mati atau hilang.
Sementara itu, Gagne (1977) berpendapat bahwa kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan ada dua macam, yaitu kondisi internal dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara (a) mengingatkan kembali bagian dari keterampilan yang sudah dipelajari, dan (b) mengingatkan prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasai. Sementara itu untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik.
Dalam melatihkan kemampuan psikomotor atau keterampilan gerak ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar pembelajaran mampu membuahkan hasil yang optimal. Mills (1977) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam mengajar praktik adalah (a) menentukan tujuan dalam bentuk perbuatan, (b) menganalisis keterampilan secara rinci dan berutan, (c) mendemonstrasikan keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan memberikan perhatian pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar, (d) memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba melakukan praktik dengan pengawasan dan bimbingan, (e) memberikan penilaian terhadap usaha peserta didik.
Edwardes (1981) menjelaskan bahwa proses pembelajaran praktik mencakup tiga tahap, yaitu (a) penyajian dari pendidik, (b) kegiatan praktik peserta didik, dan (c) penilaian hasil kerja peserta didik. Guru harus menjelaskan kepada peserta didik kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Kompetensi kunci adalah kemampuan utama yang harus dimiliki seseorang agar tugas atau pekerjaan dapat diselesaikan dengan cara benar dan hasilnya optimal. Sebagai contoh, dalam memukul bola, kompetensi kuncinya adalah kemampuan peserta didik menempatkan bola pada titik ayun. Dengan cara ini, tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit namun hasilnya optimal. Contoh lain, dalam mengendorkan mur dari bautnya, kompetensi kuncinya adalah kemampuan peserta didik memegang kunci pas secara tepat yakni di ujung kunci. Dengan cara ini tenaga yang dikeluarkan untuk mengendorkan mur jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pengendoran mur dengan cara memegang kunci pas yang tidak tepat.
Dalam proses pembelajaran keterampilan, keselamatan kerja tidak boleh dikesampingkan, baik bagi peserta didik, bahan, maupun alat. Leighbody (1968) menjelaskan bahwa keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran psikomotor. Guru harus menjelaskan keselamatan kerja kepada peserta didik dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena kompetensi kunci dan keselamatan kerja merupakan dua hal penting dalam pembelajaran keterampilan, maka dalam penilaian kedua hal itu harus mendapatkan porsi yang tinggi.
2.3.PENILAIAN HASIL BELAJAR PSIKOMOTOR
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
2.4.UNSUR YANG TERLIBAT DALAM PENILAIAN PSIKOMOTOR
Secara umum unsur – unsur yang terlibat dalam pengembangan dan penyusunan penilaian psikomotorik dalam dunia pendidikan sebagai berikut:
1.      Kepala Sekolah
2.      Tim Pengembang Kurikulum (TPK).
3.      Guru / MGMP

2.5.DASAR HUKUM /REFERENSI
Adapun dasar-dasar hukum yang menjadi landasan pentingnya penilaian psikomotorik sebagai berikut:
1.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
2.       Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi,
3.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan,
4.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian,
5.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses,
6.      SK. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 12/C/KEP/TU/2008 tentang Bentuk dan Tata Cara Penyusunan laporan Hasil Belajar Peserta Didik Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
7.      Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Badan Standar Nasional Pendidikan;
8.      Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, Badan Standar Nasional Pendidikan;
9.      Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika, Badan Standar Nasional Pendidikan,
10.  Pedoman Pengembangan Perangkat Penilaian Psikomotor, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas;
11.  Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Psikomotor, Direktorat Pendidikan Menengah Umum
2.6. Pengembangan penilaian psikomotorik
Berikut ini adalah mekanisme pengembangan penilaian psikomotorik :
1.      Kepala sekolah menugaskan kepada TPK sekolah dan guru/MGMP sekolah untuk melakukan penyusunan perangkat penilaian psikomotor;
2.      Kepala sekolah memberikan arahan teknis kepada TPK dan guru tentang penyusunan perangkat penilaian psikomotor sekurang-kurangnya memuat:
a.       Dasar pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian psikomotor
b.      Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian psikomotor
c.       Manfaat penyusunan perangkat penilaian psikomotor
d.      Hasil yang diharapkan dari penyusunan perangkat penilaian psikomotor
e.       Mekanisme kerja penyusunan perangkat penilaian psikomotor
f.       Unsur-unsur yang terlibat dan uraian tugas dalam pelaksanaan penyusunan perangkat penilaian psikomotor.
3.      TPK sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil, pelaksana dan jadwal pelaksanaan, mencakup kegiatan.
4.      TPK sekolah menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan perangkat penilaian psikomotor SMA, sekurang-kurangnya berisi uraian kegiatan, sasaran/hasil, pelaksana dan jadwal pelaksanaan;
5.      TPK sekolah menyusun rambu-rambu mekanisme penyusunan perangkat penilaian psikomotor;
6.      Guru/MGMP sekolah menyusun perangkat penilaian psikomotor berupa instrumen penilaian psikomotor;
7.      Kepala sekolah dan TPK sekolah bersama guru/MGMP sekolah melakukan review dan revisi perangkat penilaian psikomotor;
8.      TPK sekolah bersama guru/MGMP sekolah memfinalkan hasil revisi perangkat penilaian psikomotor;
9.      Kepala sekolah menandatangani perangkat penilaian psikomotor;
10.  TPK sekolah menggandakan perangkat penilaian psikomotor sesuai kebutuhan dan mendistribusikan kepada dewan guru dan pihak lain yang memerlukan.
2.7. Instruksi Kerja
Adapun instruksi kerja proses penyusunan instrumen penilaian psikomotorik sebagai berikut:
1.      Analisis SK/KD mengikuti Instruksi Kerja Analisis SK/KD
2.      Menyusun kisi-kisi soal memperhatikan: identitas kisi-kisi dan kolom-kolom dalam tabel kisi-kisi (KD, Bahan Kelas/Semester, Materi, Indikator Soal, Bentuk dan Nomor Soal)
3.      Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun soal adalah kesesuaian kisi-kisi dan penjabaran indikator menjadi soal dengan mempertimbangkan materi pembelajaran



Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun pedoman penskoran adalah:
  1. Mencermati soal
  2. Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan kunci
  3. Mengidentifikasi aspek keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci
  4. Menentukan jenis instrumen
  5. Menentukan rentang skor tiap aspek keterampilan
  6. Menentukan skor minimal dan skor maksimal
  7. Membaca kembali skala penilaian
  8. Meminta orang lain untuk membaca atau menelaah instrument

2.8. JENIS TES PSIKOMOTOR
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut   dapat berupa tes paper and  pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
1.      Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga  peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah  menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
2.      Tes unjuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan  sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan   daftar cek (check-list) ataupun  skala penilaian (rating scale).  Psikomotorik  yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari  sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
 Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi:
a.       Gerak refleks, 
b.      Gerak dasar fundamen,
c.       Keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, 
d.      Keterampilan fisik, 
e.       Gerakan terampil, 
f.       Komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.
2.9. CONTOH PENILAIAN PSIKOMOTOR
Contoh Instrumen Penilaian Psikomotor pada Mata Pelajaran Penjas Orkes
Tabel 1. Contoh Kisi-kisi penilaian psikomotorik
Jenis Sekolah
:
SMA ---SMK
Mata Pelajaran
:
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Teknik Penilaian
:
Tes Praktik
Penilaian Pendidik
:
Ulangan Harian
Jumlah Soal/Waktu
:
1/30 menit
Standar Kompetensi
:
2. Mempraktikkan berbagai keterampilan permainan
olahraga dalam bentuk sederhana dan nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya

Kompetensi Dasar
Bahan kelas/sem
Materi pembelajaran
Indikator soal
Bentuk soal
Nomor soal
1.3  Mempraktikkan
keterampilan
atletik dengan
menggunakan
peraturan yang
dimodifikasi serta
nilai kerjasama,
kejujuran,
menghargai,
semangat, dan
percaya diri 
X / 1
Lari cepat 100
meter
Peserta didik
dapat
mendemon-
strasikan lari
cepat 100 meter
dengan teknik
yang benar
Unjuk
Kerja
1




BAB II
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
1.      Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
2.      kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan ada dua macam, yaitu kondisi internal dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara (a) mengingatkan kembali bagian dari keterampilan yang sudah dipelajari, dan (b) mengingatkan prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasai. Sementara itu untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik.
3.      penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
4.      unsur – unsur yang terlibat dalam pengembangan dan penyusunan penilaian psikomotorik dalam dunia pendidikan sebagai berikut: Kepala Sekolah, Tim Pengembang Kurikulum (TPK),  Guru / MGMP.
5.      Terdapat 11 dasar-dasar hukum yang menjadi landasan pentingnya penilaian psikomotorik
6.      mekanisme pengembangan penilaian psikomotorik ialah Kepala sekolah menugaskan kepada TPK sekolah dan guru/MGMP sekolah untuk melakukan penyusunan perangkat penilaian psikomotor; dan Kepala sekolah memberikan arahan teknis kepada TPK dan guru tentang penyusunan perangkat penilaian psikomotor.
7.      Jenis tes psikomotorik ada dua yaitu tes simulasi dan tes unjuk kerja.












DAFTAR PUSTAKA

Elfaty, Lasmi. 2013. Assesment Pembelajaran Penilaian. http://kemilauhijau. blogspot.co.id/2013/05/assesment-pembelajaran-penilaian.html.
Hayat, Bahrul. 2004. Penilaian Kelas dalam Penerapan Standard Kompetensi. Jurnal pendidikan Penabur No. 3 Desember 108-112.
Kemendikbud. 2015. Penilaian Hasil Belajar (Perencanaan Penilaian, Penyusunan Instrumen, Dan Pelaksanaan Penilaian). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah , Direktorat Pembinaan SMP.
Mutalazimah, dkk. 2008. Pengembangan Model Penilaian Autentik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa pada Mata Kuliah Statistika. Jurnal Varia Pendidikan Volume 20 Nomor 2, 102-112.
Nurcahyani, Indah, Eko Setyadi, dan Sriyono. 2015. Pengembangan Penilaian Autntik Guna Mengukur Pengetahuan dan Kreativitas dalam Pembelajaran Fisika pada Peserta Didik SMA Negeri 6 Purworejo. Jurnal Radisi Volume 3 Nomor 1.

Nurgiantoro, Burhan. 2011. Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Bahasa. Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Rahayu, Yuni Sri dan Adi Rahmat. 2010. Perangkat Rencana Pelaksanaan Pembalajaran Biologi SMA Transpor Sel. Direktorat Ketenagaan Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional.
Sukardi. 2012. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Penerbit Bumi Akasara, Jakarta Timur.
Tirza. 2014. Makalah Penilaian Autentik. http://tirzapangkali2014.blogspot.co.id /2014/04/makalah-penilaian-autentik.html. Diakses pada tanggal 30 November 2015.

Widoyoko, Eko Putro. 2011. Evaluasi Program Pembelajaran. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.



0 komentar:

Post a Comment