Saturday, March 11, 2017

Pembelajaran Remedial Kimia

I.  PENDAHULUAN


A.         Latar Belakang

Dalam kegiatan  pembelajaran termasuk pembelajaran kimia mungkin dijumpai ada peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mencapai standar kompetensi, kompetensi inti dan penguasaan materi pembelajaran (tujuan pembelajaran) yang telah ditentukan. Secara garis besar kesulitan yang dimaksud dapat berupa kurangnya pengetahuan prasyarat, kesulitan memahami materi pembelajaran kimia, maupun kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas latihan dan menyelesaikan soal-soal ulangan kimia yang diberikan guru. Secara khusus, kesulitan yang dijumpai peserta didik dapat berupa tidak dikuasainya kompetensi dasar mata pelajaran kimia,  misalnya operasi bilangan dalam matematika dalam stoikiometri dan termokimia; atau membaca dan menulis simbolis dalam pelajaran kimia struktur ataom dan tabel periodik unsur. Agar peserta didik dapat memecahkan kesulitan tersebut perlu adanya bantuan. Bantuan dimaksud berupa pemberian pembelajaran remedial kimia atau perbaikan pemahaman konsep peserta didik. Untuk keperluan pemberian pembelajaran remedial kimia perlu dipilih strategi dan langkah-langkah yang tepat setelah terlebih dahulu diadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar yang dialami peserta didik.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut, pendidik dalam hal ini guru kimia perlu menyusun rencana sistematis pemberian pembelajaran remedial kimia tersebut untuk membantu mengatasi kesulitan belajar kimia peserta didik.


B.         Tujuan

Penyusunan panduan ini bertujuan :
  1. Memberikan pemahaman lebih luas bagaimana menyelenggarakan pembelajaran remedial kimia.
  2. Memberikan alternatif penyelenggaraan pembelajaran remedial kimia yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan atau pendidik.
  3. Memberikan layanan optimal melalui proses pembelajaran remedial kimia.



C.         Ruang Lingkup

Ruang lingkup materi: pembelajaran remedial kimia, hakikat pembelajaran remedial kimia, dan pelaksanaan pembelajaran remedial kimia.


II.  PEMBELAJARAN REMEDIAL KIMIA


A.  Pembelajaran Menurut Standar Nasional Pendidikan

Standar nasional pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP No. 19/2005) menetapkan 8 standar yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pendidikan. Kedelapan standar dimaksud meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Secara khusus, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran ditetapkan dalam standar isi dan standar kompetensi kelulusan. Standar  isi memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Standar kompetensi lulusan (SKL) berisikan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik pada setiap satuan pendidikan. Berkenaan dengan materi yang harus dipelajari, diatur dalam silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dikembangkan oleh pendidik. Menurut pasal 6 PP no.19 Tahun 2005,  terdapat 5 kelompok mata pelajaran yang harus dipelajari peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah untuk jenis pendidikan umum, kejuruan dan khusus. Kelima kelompok mata pelajaran tersebut meliputi kelompok mata pelajaran: agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan  agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut pasti dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah belajar. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran remedial atau perbaikan.


B.  Hakikat Pembelajaran Remedial Kimia

Pembelajaran remedial kimia merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang  ditetapkan dalam mata pelajaran kimia. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial kimia, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas  22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Untuk kurikulum 2013 Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD (KD dan KI untuk K13) setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.

Pelaksanaan pembelajaran kimia berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi kimia yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran kimia menggunakan berbagai metode ilmiah melalui ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran kimia atau pada saat kegiatan pembelajaran kimia sedang berlangsung, diadakan penilaian  proses  menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran kimia, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.

Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial kimia atau perbaikan. Dengan kata lain, remedial kimia diperlukan bagi peserta didik yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran kimia. Pemberian program pembelajaran remedial kimia didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik.

Dengan diberikannya pembelajaran remedial kimia bagi peserta didik  yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedial kimia.


C.  Prinsip Pembelajaran Remedial Kimia

Pembelajaran remedial kimia merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial kimia sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:
  
1.    Adaptif

Setiap peserta didik memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu program pembelajaran remedial kimia hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedial kimia harus mengakomodasi perbedaan individual peserta didik.

2.    Interaktif

Pembelajaran remedial kimia hendaknya memungkinkan peserta didik untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar peserta didik yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan segera diberikan bantuan.

3.    Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian

Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar peserta didik yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedial kimia perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

4.    Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin

Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang  berlarut-larut yang dialami peserta didik.

5.    Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian  Pelayanan

Program pembelajaran kimia reguler dengan pembelajaran remedial kimia merupakan satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran kimia reguler dengan remedial kimia harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.


D.  Bentuk Kegiatan Remedial Kimia

Dengan memperhatikan pengertian dan prinsip pembelajaran remedial kimia tersebut, maka pembelajaran remedial kimia dapat diselenggarakan dengan berbagai kegiatan antara lain:

1.     Memberikan tambahan penjelasan atau contoh

Peserta didik kadang-kadang mengalami kesulitan memahami penyampaian materi pembelajaran kimia untuk mencapai kompetensi yang disajikan hanya sekali, apalagi kurang ilustrasi dan contoh. Pemberian tambahan ilustrasi, contoh dan bukan contoh untuk pembelajaran konsep misalnya akan membantu pembentukan konsep pada diri peserta didik.

2.     Menggunakan strategi pembelajaran kimia yang berbeda dengan sebelumnya

Penggunaan alternatif berbagai strategi pembelajaran kimia akan memungkinkan peserta didik  dapat mengatasi masalah pembelajaran kimia yang dihadapi.

3.     Mengkaji ulang pembelajaran kimia yang lalu.

Penerapan prinsip pengulangan dalam pembelajaran kimia akan membantu peserta didik menangkap pesan pembelajaran kimia. Pengulangan dapat dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah dan media pembelajaran yang sama atau metode ilmiah dan media pembelajaran yang  berbeda.

4.     Menggunakan berbagai jenis media pembelajaran

Penggunaan berbagai jenis media pembelajaran dapat menarik perhatian peserta didik. Perhatian memegang peranan penting dalam proses pembelajaran kimia. Semakin memperhatikan, hasil belajar akan lebih baik. Namun peserta didik seringkali mengalami kesulitan untuk memperhatikan atau berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Agar perhatian peserta didik terkonsentrasi pada materi kimia yang sedand dipelajari perlu digunakan berbagai media untuk mengendalikan perhatian peserta didik.




III.  PELAKSANAAN PEMBELAJARAN REMEDIAL KIMIA
  
Pembelajaran remedial kimia pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar kimia. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remedial kimia meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial kimia.


A.      Diagnosis Kesulitan Belajar Kimia

1.     Tujuan

Diagnosis kesulitan belajar kimia dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat.
a.    Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.
b.    Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar diri peserta didik, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dsb.
c.    Kesulitan belajar berat dijumpai pada peserta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa, dsb.

2.     Teknik

Teknik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar kimia antara lain: tes prasyarat (prasyarat pengetahuan, prasyarat keterampilan), tes diagnostik, wawancara, pengamatan, dsb.
a.    Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan.
b.  Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.
c.    Wawancara dilakukan  dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar kimia yang dijumpai peserta didik.
d.    Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun penyebab kesulitan belajar kimia peserta didik.
   

B.      Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial Kimia

Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial kimia. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial kimia antara lain:

1. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode ilmiah dan media pembelajaran kimia yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar kimia. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode ilmiah dan/atau media pembelajaran kimia yang lebih tepat.

2.   Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan belajar kimia,  perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran  pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan.

3.   Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus.
Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan belajar kimia dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.

4.   Pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.

Hasil belajar yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui postes, tes kinerja, observasi dan lain-lain. Sedangkan penilaian hasil diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.

Jika peserta didik tidak tuntas karena penilaian hasil maka sebaiknya hanya mengulang tes tersebut dengan pembelajaran ulang jika diperlukan. Namun apabila ketidaktuntasan akibat penilaian proses yang tidak diikuti (misalnya kinerja praktik, diskusi/presentasi kelompok) maka sebaiknya peserta didik mengulang semua proses yang harus diikuti.

C.  Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial Kimia

Terdapat beberapa alternatif berkenaan dengan waktu atau kapan  pembelajaran remedial kimia dilaksanakan. Pertanyaan yang timbul, apakah pembelajaran remedial kimia diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remedial kimia diberikan setelah peserta didik mempelajari SK dan KD atau KI tertentu? Pembelajaran remedial dapat diberikan setelah peserta didik mempelajari KD dan KI tertentu. Namun karena dalam setiap SK terdapat beberapa KD dan KI, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran remedial kimia setiap selesai mempelajari KD atau KI tertentu. Mengingat indikator keberhasilan belajar peserta didik adalah tingkat ketuntasan dalam mencapai SK yang terdiri dari beberapa KD dan KI, maka pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah peserta didik menempuh tes SK yang terdiri dari beberapa KD dan KI. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SK merupakan satu kebulatan kemampuan yang terdiri dari beberapa KD dan KI. Mereka yang belum mencapai penguasaan SK tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remedial kimia.


D.  Tes Ulang

Tes ulang diberikan kepada peserta didik yang telah mengikuti program pembelajaran remedial kimia agar dapat diketahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan dalam penguasaan kompetensi yang telah ditentukan.


E.  Nilai Hasil Remedial Kimia

Nilai hasil remedial tidak melebihi nilai KKM atau nilai yang diberikan adalah nilai KKM.



IV. PENUTUP


Peserta didik memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda-beda. Sesuai dengan kemampuan dan karakteristik yang berbeda-beda tersebut maka permasalahan yang dihadapi berbeda-beda pula. Dalam melaksanakan pembelajaran, pendidik perlu tanggap terhadap kesulitan yang dihadapi peserta didik.

Dalam rangka pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, peserta didik yang gagal mencapai tingkat pencapaian kompetensi yang telah ditentukan dalam mata pelajaran kimia perlu diberikan pembelajaran remedial kimia (perbaikan). Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemberian pembelajaran remedial kimia antara lain adaptif, interaktif, fleksibel, pemberian umpan balik, dan ketersediaan program sepanjang waktu.

Sebelum memberikan pembelajaran remedial kimia, terlebih dahulu pendidik perlu melaksanakan diagnosis terhadap kesulitan belajar kimia peserta didik. Banyak teknik yang dapat digunakan, antara lain menggunakan tes, wawancara, pengamatan, dan sebagainya.

Setelah diketahui kesulitan belajarnya, peserta didik diberikan pembelajaran remedial kimia. Banyak teknik yang dapat digunakan, misalnya pembelajaran ulang dengan metode ilmiah dan media pembelajaran yang berbeda, penyederhanaan materi, pemanfaatan tutor sebaya, dan sebagainya.

Dalam memberikan pembelajaran remedial kimia perlu dipertimbangkan kapan pembelajaran remedial kimia tersebut diberikan. Sesuai dengan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, maka pembelajaran remedial kimia dapat diberikan setelah peserta didik satu atau beberapa kompetensi dasar. Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik setelah menempuh remedial kimia, perlu diberikan tes ulang.



DAFTAR PUSTAKA



Armstrong, D.G. & J.J. Denton (1998). Instructional skills handbook. Englewood Cliffs: Educational Technology Publications.

Boon, R. (2005) Remediation of reading, spelling, and comprehension. Sydney: Harris Park

McKeachie, et.al. (1994). Teaching tips: Strategies, research, and theory for college and university teachers. Lexington: D.C. Heath and Co.

Rienties B, Martin Rehm, and Joost Dijkstra (2005). Remedial online teaching in theory and practice. Netherlands: Maastricht University Publ.


0 komentar:

Post a Comment