Pembelajaran Pendekatan Saintifik

MAKALAH
KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN KIMIA
Topik: Pembelajaran Pendekatan Saintifik 


Oleh :
                                     

Anjeli 
Awi 
Cais Kristiani        
Ike Yosepha  
Inzana Friskila  
Jawanti  
Susi susanti
ACC 113 022
ACC 113 020
ACC 113 007
ACC 113 046
ACC 113 034
ACC 113 042 
ACC 113 025










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2017

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan. Perubahn yang terjadi adalah pergantian kurikulum 2013 dari kurikulum sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah telah menetapkan kurikulum tahun 2013 untuk diterapkan pada sekolah atau madrasah, yang juga bisa disebut dengan pembelajaran saintifik. Penerapan kurikulum ini dilakukan secara bertahap ada banyak komponen yang melekat pada kurikulum 2013 hal yang paling menonjol adalah pendekatan dan strategi pembelajarannya. Guru masih memahami dan menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran kurikulum sebelumnya. Hal ini perlu ada perubahan mindset dari metodologi pembelajaran pola lama menuju pada metodologi pembelajaran pola baru sesuai dengan yang diterapkan pada kurikulum tahun 2013.
Diperkenalkannya kurikulum 2013 ini banyak pihak berharap bahwa dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang dan semakin maju. Dengan sistem pembelajaran saintifik yang di dalamnya banyak terkandung berbagai metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh peserta didik. Di sini yang mendominasi seluruh pembelajaran adalah pesrta didik, perserta didik diharapkan aktif dan bersifat memberi ilmu pengetahuan juga kepada teman yang lain, jadi tidak hanya menerima saja. Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah (sikaf, pengetahuan, dan keterampilan) secara utuh dan holistik, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan yang lainnya. Dengan demikian, proses pembelajaran utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap pengatahuan, dan keterampilan yang terintegrasi.
  
1.2 Rumusan Masalah
    1. Apa definisi pembelajaran dengan pendekatan saintifik ?
    2. Bagaimana karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik ?
    3. Apa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik ?
    4. Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik ?
    5. Bagaimana langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik ?
    6. Apa saja konsep pendekatan saintifik dalam ilmu kimia?
1.3 Tujuan Penulisan
  1. Mendefinisikan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
  2. Menjelaskan karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
  3. Menjelaskan tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
  4. Menjelaskan prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
  5. Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik.
  6. Menjelaskan konsep pendekatan saintifik dalam ilmu kimia.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan mampu membantu pembaca dalam mengetahui pengertian pendekatan saintifik dari kurikulum 2013.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agan peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekana saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, menguku, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebu harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Banyak para ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifi/ilmiah, selain dapat menjadikan siswa lebih aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-faktadari suatufenomenaataukejadian. Dengan demikian peserta  didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagafakta,membangunkonsep, dan nilai-nilai baruyang diperlukan untuk kehidupannya.  Fokus  proses pembelajaran  diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan,menemukan dan mengembangkasendiri fakta,konsep,dan nilai-nilayang diperlukan.
2.2 Karakteristik Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Berpusat pada siswa.
  2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengontruksi konsep, hukum atau prinsip.
  3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa.
  4. Dapat mengembangkan karakter siswa.

2.3 Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik sebagai berikut :
  1. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
  2. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
  3. Terciptanya kondidi pembelajaran di mana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
  4. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi
  5. Untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide khusussnya dalam menulis artikel ilmiah.
  6. Untuk mengembangkangkan karakter siswa.

2.4 Prinsip-prinsip Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
  1. Pembelajaran berpusat pada siswa.
  2. Pembelajaran membentuk student self concept.
  3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme.
  4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep,hukum,dan prinsip.
  5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa.
  6. Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru.
  7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi.
  8. Adanya proses validasi terhadap konsep,hukum,dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.

2.5 Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Kegiatan pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (Saintifik).Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah,yaitu sikap,pengetahuan,dan keterampilan.Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta.
Untuk mata pelajaran,materi atau situasi tertentu sangat mungkin pendekatan ilmia ini tidak selalu tepat di aplikasikan secara prosedural.Pada kondisi seperti ini,tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat non-ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut.

1.    Mengamati
Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningful learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mangamati sangat bermanfaat bagi pemenuh rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bevariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Adapun prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran yaitu cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.
2.    Menanya
Guru harus mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Dalam kegiatan menanya, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, atau dibaca. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai pada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotesis. Tujuannnya agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi secara kritis, logis, dan sistematis (critical thinking skills).
Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mendiri. Dari kegitan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya, dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya, rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
3.    Mencoba
Aplikasi metode mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah:
    1. Menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum;
    2. Mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan;
    3. Mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya;
    4. Melakukan dan mengamati percobaan;
    5. Mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;
    6. Menarik kesimpulan atas hasil percobaan; dan
    7. Membuat laporan dan mengomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka:
    1. Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan murid;
    2. Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan;
    3. Perlu memperhitungkan tempat dan waktu;
    4. Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid;
    5. Guru membicarakan masalah yang akan dijadikan eksperimen;
    6. Membagi kertas kerja kepada murid;
    7. Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru; dan
    8. Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, jika dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.
Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan eksperimen atau mencoba dilakukan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.

4.    Menalar
Menalar adalah salah satu istilah dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam benyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
Istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar.
5.    Mengolah
Pada tahapan mengoalah ini, peserta didik sedapat mungkin dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. Sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah pribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru.
Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman sehingga memungkinkan peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tuntutan belajar secara bersama-sama. Peserta didik secara bersama-sama, saling bekerja sama, saling membantu mengerjakan hasil tugas terkait dengan materi yang sedang dipelajari.
6.    Menyimpulkan
Kegiatan menyimpulkan merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah, bisa dilakukan bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau bisa juga dengan dikerjakan sendiri setelah mendengarkan hasil kegiatan mengolah informasi.
7.    Menyajikan
Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok dan atau individu, yang sebelumnya dikonsultasikan terlebih dulu kepada guru. Pada tahapan ini kendati tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil pencatatan dilakukan oleh masing-masing individu sehingga portofolio yang dimasukkan ke dalam file atau map peserta didik terisi dari hasil pekerjaannya sendiri secara individu.
8.    Mengomunikasikan
Pada kegiatan akhir diharapkan peserta didik dapat mengomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengomunikasikan ini dapat diberikan klarifikasi oleh guru agar peserta didik mengetahui secara benar apakah jawaban yang telah dikerjakan sudah benar atau ada yang harus diperbaiki.




2.6 Konsep Pendekatan Saintifik dalam Ilmu Kimia
Pendekatan saintifik memiliki kegiatan inti: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan menyimpulkan. Kegiatan ini diupayakan untuk mengarahkan peserta didik dalam penguasaan materi kimia, belajar mengaplikasikan, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah, belajar mandiri bertanggung jawab untuk mencapai tujuan, belajar memahami dan menghargai orang lain. Untuk mata pelajaran kimia, materi atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Namun pada kondisi seperti ini, proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifatsifat ilmiah.   Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai pijakan perkembangan dan pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para guru lebih mengedepankan penalaran induktif. Penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik kesimpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.   Pentingnya proses pembelajaran kimia dengan pendekatan saintifik untuk dikuasai peserta didik, bahkan dianjurkan sejak di bangku sekolah dasar.  Semiawan dalam Bundu (2006: 5) mengemukaan bahwa: (1) perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat sehingga tidak mungkin lagi mengajarkan fakta dan konsep kepada peserta didik, (2) peserta didik akan lebih mudah memahami konsep yang abstrak jika belajar melalui benda-benda konkret dan langsung melakukan sendiri, (3) penemuan ilmiah pengetahuan sifat kebenarannya relatif. Suatu teori yang dianggap benar hari ini, belum tentu benar di masa datang jika teori tersebut tidak lagi didukung oleh fakta ilmiah, dan (4) dalam proses pembelajaran pengembangan konsep tidak bisa dipisahkan dari pengembangan sikap dan nilai. Pendekatan saintifik akan menjadi wahana pengait antara pengembangan konsep dan pengembangan sikap dan nilai.  Pembelajaran kimia dengan pendekatan saintifik bertujuan untuk mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Belajar aktif adalah pembelajaran dimana peserta didik melakukan sebagian besar pekerjaan dengan menggunakan otaknya untuk mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung, menarik untuk dipelajar. Guru yang inovatif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.  Karakteristik peserta didik yang beragam, gaya belajar yang berbeda-beda mengharuskan guru membuat pembelajaran menjadi mudah dan menarik dengan menggunakan konteks kehidupan nyata mereka, sehingga mereka tidak lagi menganggap Kimia itu sulit tetapi Kimia itu mudah.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulakan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti: mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengolah, menyimpulkan, menyajikan dan mengomunikasikan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
Dalam model pembelajaran saintifik, peserta  didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagafakta,membangunkonsep, dan nilai-nilai baruyang diperlukan  untuk kehidupannya.  Fokus  proses pembelajaran  diarahkan pada pengembanganketerampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkanendirifakta, konsep, dan nilai-nilayang diperlukan.
4.2     Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2016.makalah konsep tujuan strategi.http://www.rumah pintarr.com/2016/11/
makalah-konsep-tujuan-strategi.html. Diakses tanggal 01 Maret 2017
Solikhaton.2014.Contoh Makalah Pendekatan Scientific.http://solikhaton.blogspot.com
/2014/06/contoh-makalah-pendekatan-scientific.html. Diakses tanggal 01 Maret 2017
Idalutfiyati, Liani.2015.Makalah Pembelajaran Saintifikhttp://lianiidalutfiyati. blogspot.com/2015/06/makalah-pembelajaran-saintifik.html. Diakses tanggal 01 Maret 2017
Ichacha.2016.Makalah Penerapan Metode Pendekatan.http://icha-cha.blospot.com/2016
/01/makalah-penerapan-metode-pendekatan.html. Diakses tanggal 01 Maret 2017
Hasanah,Umik.2014.Bab I Pendahuluan.http://umikhasanah49.blogspot.com/2014/
05/bab-i-pendahuluan.html. Diakses tanggal 01 Maret 2017.
Share:

No comments:

Post a Comment

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Blog Archive

Post Terbaru