Monday, March 6, 2017

KURIKULUM KIMIA 2013

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN KIMIA

KURIKULUM KIMIA 2013

Oleh :
Dwi Azarianti ACC 114 012
Elinur Indah Sari ACC 114 044
Marlina ACC 114 040
Muhammad Iqbal ACC 114 075
Siti Wahidah ACC 114 069
Utami Widiyaningsih ACC 114 033
Wagiah ACC 114 039
Winda eka Lestari ACC 114 059

Dosen Pengampu
Drs. Akhmad Damsyik,M.Sc, Ph.D
Nopriawan Berkat Asi, S.Si, M.Pd 


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2017



BAB I
PENDAHULUAN


1. Latar Belakang

Kurikulum merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan nasional pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kurikulum 2013 merupakan perubahan dari kurikulum sebelumnya yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Perubahan kurikulum ini ditujukan sebagai penyempurnaan kurikulum lama. Dalam perubahan tersebut, terjadi pemadatan dan pengurangan sejumlah mata pelajaran. Selain itu, ada pula penggatian materi dan metode pembelajaran secara keseluruhan di beberapa mata pelajaran. Penggantian materi dan metode itu terjadi seperti pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang sekarang sudah menggunakan metode berbasis teks. Kurikulum 2013 telah melalui percobaan pada tahun ajaran 2013/2014 pada beberapa sekolah yang ditujuk oleh pemerintah. Pada tahun ajaran 2014/2015 kurikulum 2013 mulai di implementasikan di seluruh sekolah tanpa terkecuali. Namun pada pelaksaannya di temukan kendala dan permasalahan seperti banyak kasus yang dituliskan pada media cetak maupun media eletronik. Oleh karena itu, observasi ini dilakukan untuk menelaah permasalahan-permasalahan yang masih menjadi topik hangat oleh seluruh pelaksana pendidikan di Indonesia. Dengan harapan nantinya implementasi kurikulum 2013 dapat berjalan secara optimal dan sesuai dengan tujuan pelaksaan kurikulum 2013.
2. Rumusan Masalah
Apa saja problematika implementasi kurikulum 2013 terhadap guru dan siswa ?
Apa saja kendala operasional yang dihadapi dalam kurikulum 2013 ?


3. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui apa saja problematika yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam implementasi kurikulum 2013.
Untuk mengetahui apa saja kendala operasional yang dihadapi dalam kurikulum 2013.


BAB II
PEMBAHASAN

Dalam perubahan kurikulum ini banyak kendala yang dihadapi baik sekolah, siswa, guru maupun beberapa kalangan tertentu walau karena perubahan akan selalu membawa dampak dan masalah serta kendala selama proses penyesuaian berlangsung. Jika dilihat dari segi standar isi, kurikulum 2013 telah mengalami perubahan dalam bentuk pembaharuan materi, perubahan jumlah mata pelajaran, dan pendekatan yang berubah pula. Hal ini tentu menimbulkan beberapa kendala dan masalah dalam proses pelaksanaan kurikulum 2013.

  1. Problematika Implementasi Kurikulum 2013 Terhadap Guru dan Siswa
Ada beberapa masalah yang dihadapi oleh guru dan siswa, antara lain :
  1. Didalam Kurikulum 2013 siswa dituntut aktif dengan guru sebagai fasilitator namun masih terdapat masalah yang dihadapi siswa.
Pada kurikulum 2013 ini siswa lebih mendapatkan tempat dan kesempatan untuk bereksplorasi dan menyatakan pendapat dalam setiap proses pembelajaran. pada kurikulum ini, siswa merupakan objek utama pembelajaran dimana siswa akan lebih banyak menguraikan materi melalui penjabaran dengan berpendapat secara langsung maupun dengan menggunakan metode presentasi. Dan guru hanya menjadi fasilitator untuk membantu siswa dalam proses tersebut dan beberapa peran lainnya seperti coach, mentor, instructor dan motivator. Namun, fakta di lapangan melalui hasil pengamatan di kelas, siswa justru cenderung diam dan tidak mau berpendapat jika tidak ditunjuk atau ditakut-takuti oleh guru berkaitan dengan proses pemberian nilai pada siswa tersebut.
Pada kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya dikurangi takarannya. Siswa dituntut aktif dalam segala masalah. Proses mengamati dalam pelajaran fisika, biologi, kimia merupakan suatu proses belajar yang sering digunakan. Namun, bagi mata pelajaran lain, guru dituntut harus paham materi sebelum menghadirkan siswa kedunia nyata dengan mengamati sendiri semua fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya. Namun dikarenakan pada kurikulum ini siswa dituntut aktif sehingga terkadang guru tidak terlalu banyak menjelaskan materi yang seharusnya dijelaskan secara rinci kepada siswa dikarenakan guru berpegang bahwa pembelajaran berpusat pada siswa. Dan ujung-ujungnya siswa yang dituntut aktif cenderung diam karena tidak terlalu memahami materi yang dijelaskan oleh gurunya.
  1. Kendala Guru Dalam Menerapkan Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013
Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Secara konseptual, penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi di luar sekolah.
Sistem penilaian ini membuat guru kurang maksimal dalam melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran siswa. Guru menganggap penilaian autentik ini rumit dan sulit untuk dilakukan. Karena proses penilaiannya dilakukan secara bersamaan dengan proses belajar. Perubahan paradigma pembelajaran dalam kurikulum 2013 ini, mendatangkan masalah bagi guru dalam proses penilaian. Faktanya masih banyak mempraktikkan penilaian hanya sebatas penilaian pengetahuan saja sedangkan dalam kurikulum 2013 guru dituntut untuk melakukan penilaian pada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di kelas masih kurang mendapat perhatian, begitu juga dengan penilaian guru dalam peoses pembelajaran. Belum semua guru melakukan inovasi pada penilaian siswa dalam proses pembelajaan. Guru harus melakukan penilaian secara sedetail mungkin mulai perilaku dan sikap sampai dalam pengetahuan siswa secara menyeluruh.
Berbagai fenomena mengenai penilaian kurikulum 2013 membuat guru-guru semakin kebingungan dalam hal menilai. Guru tidak hanya disibukan dalam pembuatan rencana pembelajaran, penguasaan materi, penerapan strategi, namun guru juga disibukan dengan penilaian autentik, yang sebelumnya pada KTSP pendidik hanya menilai pengetahuan saja, dengan adanya kurikulum 2013 guru juga menilai sikap dan keterampilan peserta didik. Guru harus mencermati karakter masing-masing peserta didik saat proses pembelajaran berlangsung. Di dalam penilaian guru tidak hanya memberikan nilai berupa angka-angka, namun harus menunjukkan fakta-fakta pendukung. Perkembangan belajar siswa untuk ranah sikap,pengetahuan, dan keterampilan akan mudah diketahui guru apabila penilaian autentik benar-benar diterapkan dan guru sudah terbiasa menerapkan penilaian autentik. Hal tersebut dikarenakan hasil dari penilaian autentik akan menentukan perlakuanapa yang harus diberikangurukepada siswa. Guru dapat menggunakan berbagai teknik dalam penilaian autentik untuk menilai sikap, pengetahuan,dan keterampilan siswa.
  1. Mengenai pemahaman guru terhadap kurikulum 2013 secara menyeluruh yang masih kurang
Kurangnya pemahaman guru tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti proses penyuluhan kurikulum 2013 dan diklat untuk para guru yang dianggap masih kurang dan belum optimal. Terlebih lagi, proses penyuluhan tersebut belum menyentuh seluruh tenaga pengajar sebagai pelaksana kegiatan kurikulum 2013. Hanya beberapa guru yang ditunjuk oleh pemerintah saja yang telah menerima penyuluhan dan diklat mengenai kurikulum 2013 ini. Itu pun waktunya sangat sedikit dan terbatas, sehingga tidak bisa diserap secara optimal oleh guru yang mengikuti penyuluhan.
  1. Kendala Operasional Yang Dihadapi Dalam Kurikulum 2013
Ada beberapa masalah operasional yang dihadapi dalam kurikulum 2013, antara lain :
  1. proses pengadaan buku yang dinilai lambat didistribusikan oleh pemerintah pusat.
Masalah pertama dan utama yang dikeluhkan oleh guru dan siswa adalah terlambatnya buku yang didistribusikan oleh pemerintah pusat. Guru dan siswa menuturkan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran karena tidak ada panduan berupa hardcopy yang dapat mereka pergunakan sebagai acuan pembelajaran. Untuk beberapa buku pelajaran memang sudah didistribusikan, tetapi khusus pada mata pelajaran tertentu, ada sejumlah buku belum sampai di sekolah. Sebenarnya, buku-buku sudah sempat didistribusikan, meskipun jumlahnya masih terbatas dan belum setara dengan jumlah siswa, namun isi pada buku tersebut tidak sesuai dengan silabus yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sehingga buku tersebut belum layak untuk dipergunakan dalam pembelajaran, karena nantinya akan memberatkan siswa. Kesulitan yang paling utama jika buku tidak kunjung didistribusikan adalah terhambatnya pembelajaran dikelas.
Keterlambatan datangnya buku itu disebabkan masalah teknis dalam pencetakan dan pengiriman. Beberapa percetakan terbatas kapasitas produksi dan kekurangan stok bahan. Selain itu, waktu pengiriman juga terkesan lebih lama. keterlambatan buku mengganggu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru. Mekanisme pengadaan buku siswa dilaksanakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP). Setidaknya 30 perusahaan percetakan memenangi tender. Sekolah diwajibkan memesan langsung buku kepada penyedia. Setelah memesan, sekolah membayar sesuai kontrak pemberian menggunakan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Harga berkisar dari Rp 6.000 sampai Rp 18.000 per buku. Untuk membeli buku, Kemdikbud menyediakan dana Rp 2,1 triliun yang dibagikan ke sekolah.
  1. Bidang pendanaan
Pembiayaan Kurikulum 2013 akan didanai melalui tiga sumber, yakni Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pusat, bantuan operasional sekolah (BOS), dan dana alokasi khusus (DAK). Pos-pos anggaran itu akan difokuskan untuk penggandaan buku dan pelatihan guru.
Musliar (Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan) mengatakan, untuk penggandaan buku akan menggunakan dana BOS dan sebagian dari DAK. "Kalau BOS kurang akan ditransfer dari pusat dari DIPA untuk tambahan BOS Buku," katanya. Dijelaskan Musliar, saat ini dana BOS SD dan SMP sebanyak Rp 580 ribu dan Rp 710 ribu, jika digunakan untuk membeli buku mencapai Rp 70 ribu, sedangkan BOS SMA cukup besar yaitu Rp 1 juta. "Kita transfer lebih kurang Rp 800 miliar untuk beli buku khusus buku SD dan SMP, yang bosnya kecil, tetapi kalau SMA kan BOS-nya besar," ujarnya. Sementara untuk pelatihan guru, sebagian besar akan menggunakan dana dari DIPA pusat. Namun, daerah juga diharapkan berpartisipasi.
  1. proses pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 yang menuntut pembelajaran berbasis IT
Komputer merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan respon yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa. Lebih dari itu, komputer memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai dengan kebutuhan. Perkembangan teknologi yang pesat saat ini telah memungkinkan komputer memuat dan menayangkan beragam bentuk media di dalamnya. Saat ini teknologi komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komputasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana belajar multi media yang memungkinkan peserta didik membuat desain dan rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan.
Sajian multimedia berbasis komputer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran komputer sebagai sarana untuk menampilkan dan merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengkombinasikan berbagai unsur penyampaian informasi dan pesan, komputer dapat dirancang dan digunakan sebagai media teknologi yang efektif untuk mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya rancangan grafis dan animasi.
Multimedia berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu. Misalnya, penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tampilan multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa pada jurusan eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan tanpa harus berada di laboratorium.
Seiring dengan berkembangnya kurikulum di indonesia, maka pada pelaksanaan implementasi kurikulum saat ini atau kurikulum 2013 yang menuntut pembelajaran berbasis IT. Pembelajaran berbasis tekhnologi informasi sangat baik dalam proses pembelajaran tapi banyak menimbulkan kontra dan masalah.
Salah satu masalahnya adalah dari segi sarana dan prasarana, sebenarnya sekolah-sekolah di indonesia dapat dikatakan sangat siap untuk melaksanakan kurikulum 2013 yang menuntut pembelajaran berbasis IT. Selain itu di sekolah sudah dilengkapi dengan LCD sebagai penunjang pembelajaran tapi banyak juga masih sekolah-sekolah di indonesia yang kekurangan dalam masalah sarana dan prasana, terutama di pelosok-pelosok desa.
Selain itu permasalah pembelajaran berbasis IT adalah kurangnya minat guru untuk dapat mengoptimalkan potensi mengajarnya dengan menggunakan bantuan LCD untuk memaparkan materi yang hendak disampaikan. Memang tidak semua guru demikian, hanya beberapa guru mata pelajaran saja yang belum mengoptimalkan sarana tersebut, namun hal ini juga akan mempengaruhi hasil ketercapaian tujuan kurikulum 2013 untuk menerapkan model pembelajaran berbasis IT di seluruh sekolah dengan melibatkan seluruh tenaga pengajar pendidikan tanpa terkecuali.



BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut yaitu sebagai berikut :
  1. proses pengadaan buku yang dinilai lambat didistribusikan oleh pemerintah pusat.
  2. Didalam Kurikulum 2013 siswa dituntut aktif dengan guru sebagai fasilitator namun masih terdapat masalah yang dihadapi siswa
  3. Guru masih kesulitan dalam Menerapkan Penilaian Autentik Kurikulum 2013.
  4. Adanya beberapa kendala dalam bidang pendanaan.
  5. Kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum 2013 secara menyeluruh.
  6. proses pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 yang menuntut pembelajaran berbasis IT.

    1. Saran
Dari masalah ini semoga kita bisa merumuskan maslah-masalah yang ada pada kurikulum 2013 dan mencari solusi agar dapat membangun pendidikan Indonesia lebih maju lagi.





DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Post a Comment