Sunday, March 12, 2017

Hal Yang Perlu dipertimbangkan dalam Pengembangan Media Pembelajaran


Memperhatikan gejala perilaku peserta didik.
Kemampuan diri peserta didik menurut taksonomi Bloom dipisahkan menjadi tiga domain, yakni domain kognitif, afektif dan psikomotor.

Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir,  terdapat delapan aspek atau jenjang, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Kedelapan  jenjang atau aspek yang dimaksud adalah pengetahuan (Know), pemahaman (comprehend),  penerapan (apply), analisis (analyze), evaluasi (evaluate), sintesis (synthesize), imajinasi (imagine) dan mencipta/membuat (create) (Dettmer, 2006:73)


Media yang dikembangkan berkaitan dengan tujuan evaluasi ranah kognitif. Media membantu perserta didik dalam memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran atau penguasaan kompetensi. Media pembelajaran dapat mencakup instrumen evaluasi. Metode evaluasi hasil belajar berdasarkan target pencapaian hasil belajar diantaranya adalah pilihan ganda, esai, assesmen kinerja, komunikasi personal dan portofolio (Elly & Indrawati, 2009: 10-11).


Ranah afektif
Ranah afektif pada awalnya diklasifikasikan berdasarkan objektif sikap dan emosi. Tingkatan ranah afektif menurut Krathwohl ada lima, yaitu receiving (menerima),responding (menanggapi), valuing (menilai), organization (mengorganisasi), dan characterization (mencirikan). Kemudian, ranah afektif diperluas mencakup internalize (internalisasi nilai-nilai), wonder (rasa ingin tahu), dan aspire(mencita-citakan) (Dettmer, 2006). Dettmer menambahkan ranah sosial ke dalam taksonomi Bloom yang baru. Hal ini sangat beralasan, karena kemampuan afektif seseorang merupakan faktor internal yang berkaitan dengan perasaan dan proses merasakan dalam diri seseorang, sedangkan kemampuan sosial berkaitan erat dengan sosial budaya dan proses interaksi seseorang dengan orang lain atau lingkungan di sekitar.
Media pembelajaran yang didesain dapat memberi rangsangan kepada peserta didik dalam merima, menanggapi bahkan menunmbuhkan rasa ingin tahu siswa.

Ranah psikomotor
Ranah psikomotor berhubungan dengan pengembangan motorik, koordinasi otot, dan keterampilan-keterampilan fisik.
Ranah psikomotor menurut pendapat Harrow, A. (1972)  mencakup:
1) Reflex movements - Automatic reactions; 2) Basic fundamental movement - Simple movements that can build to more complex sets of movements; 3) Perceptual - Environmental cues that allow one to adjust movements; 4) Physical activities - Things requiring endurance, strength, vigor, and agility; 5) Skilled movements - Activities where a level of efficiency is achieved; 6) Non-discursive communication - Body language.

Maksudnya bahwa ranah psikomotorik menurut Harrow mencakup:
1. Gerak refleks (reflex movements): merupakan reaksi-reaksi/gerak otomatis. Hal ini mengandung arti bahwa gerak itu secara otomatis dan tidak dapat dilatih. Gerak refleks merupakan gerakan yang tidak disadari dan diperoleh sejak lahir yang berhubungan dengan gerakan yang dikoordinasikan oleh otak dan bagian sumsum tulang belakang.
2. Gerak dasar pokok (basic-foundamental movements): merupakan gerakan sederhana yang dapat membangun satu set gerakan yang lebih kompleks. Pola gerakan yang melekat dibentuk oleh kombinasi gerak refleks. Gerakan yang mengarah keketerampilan yang sifatnya kompleks seperti gerakan lokomotor (gerakan yang mengakibatkan tubuh berpindah tempat yaitu berjalan, tengkurap, merangkak), gerakan non-lokomotor (gerakan dinamis yang bertumpu pada sumbu tertentu seperti menari, senam, membungkuk), dan gerakan manipulatif (gerakan yang terjadi pada sebagian anggota badan seperti dalam kegiatan menggambar, naik sepeda).
3. Kemampuan perseptual (perceptual abilities): merupakan isyarat yang memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan gerak. Hal ini merupakan Interpretasi berbagai rangsangan yang memungkinkan seseorang untuk melakukan penyesuaian terhadap lingkungan. Kombinasi dari kemampuan kognitif dan gerakan seperti diskriminasi kinestetik (menyadari gerakan tubuh seseorang) dan body awareness(keberatsebelahan atau keseimbangan).
4. Kemampuan fisik (physical abilities): yang berkaitan dengan daya tahan, kekuatan, dan kelincahan. Daya tahan berkaitan kemampuan tubuh pada diri seseorang untuk dapat melakukan gerakan yang kontinyu. Kekuatan berkaitan dengan kemampuan mengerahkan kekuatan. Kelincahan berkaitan dengan yaitu kemampuan untuk bergerak dengan cepat, menanggapi rangsang untuk memulai/mengakhiri sesuatu, mengubah arah gerakan dan lain sebaginya.
5. Gerak terlatih (skilled movements): merupakan gerakan efisiensi saat melakukan tugas-tugas yang kompleks. Hal ini berkaitan juga dengan semua bentuk adaptasi pola gerak terpadu dari gerak-gerak dasar pokok dalam melaksanakan gerakan.
6. Komunikasi berkesinambungan (non-discursive communication) yang merupakan komunikasi melalui gerakan tubuh mulai dari ekspresi wajah ataupun gerak isyarat. Komunikasi berkesinambuangan Meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan gerakan.

Penilaian ranah psikomotor tidak berbeda jauh dengan penilaian ranah kognitif.Perbedaan di antara keduanya adalah pengukuran hasil belajar ranah kognitif umumnya dilakukan dengan tes tertulis, sedangkan pengukuran hasil belajar ranah psikomotor  menggunakan penilaian kinerja. Media pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan kinerja peserta didik.

Dalam mengembangka media pembelajaran perlu
•Mempelajari penerapan teori-teori psikologi (perkembangan) dalam bidang pendidikan.
Media pembelajaran yang dikembangkan sesuai untuk pembelajaran usia remaja. Memperhatikan faktor apa saja yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik, memotivasi mereka.
•Seluruh tingkah laku yang terlibat dalam proses pendidikan, yaitu tingkah laku siswa dalam belajar dan guru dalam mengajar.
Media pembelajaran yang dikembangkan dapat meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa.
•Obyek utama : belajar dan pembelajaran
Media pembelajaran menyediakan obyek utama belajar atau obyek studi. Melalui media pembelajaran siswa diajak untuk mengeksplorasi dan mengkaji obyek studi dalam media pembelajaran.
•Aspek-aspek psikis atau gejala kejiwaan yang terdapat pada siswa ketika belajar.
Media pembelajaran didesain agar pembelajaran tidak membosankan bagi siswa melainkan menbuat siswa senang dan selalu memiliki rasa ingin tahu.

Media pembelajaran yang didesain sebaiknya dapat memberi stimulus pada semua alat indera peserta didik. Semua yang masuk otak peserta didik didapat melalui stimulus. Setiap pesan atau informasi yang diterima otak akan disimpan dalam memori. Memori adalah kemampuan untuk memasukkan, menyimpan dan memunculkan kembali pesan atau informasi yang diterima. Baik memori jangka pendek, memori kerja maupun memori jangka panjang.


Media pembelajaran yang didesain untuk mengajak peserta didik berpikir
berpikir adalah proses mental yang bertujuan memecahkan masalah.
Mayer (dalam Solso, 1988), menyebutkan:
a.Berpikir merupakan aktivitas kognitif.
b.Berpikir melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan di dalam sistem kognitif. 
c.Berpikir diarahkan dan menghasilkan perbuatan pemecahan masalah

Dewasa ini kemampuan berpikir manusia dibagi menjadi dua karakteristik. Kemampuan berpikir dengan otak kiri dan otak kanan.
Karakeristik otak kiri 
•Logis
•Sekuensial
•Linear
•Rasional

Caranya :
•Teratur
•Ekspresi verbal
•Menulis
•Membaca
•Asosiasi auditorial
•Menempatkan detail dan fakta
•Fonetik serta simbolisme

Karakteristik otak kanan :
•Bersifat acak
•Tidak teratur
•Intuitif dan holistik

Banyak terlibat dalam :
•Kegiatan nonverbal
•Perasaan dan emosi
•Kesadaran yg terkait perasaan
•Kesadaran spatial
•Pengenalan bentuk dan pola
•Seni
•Kepekaan warna
•Kreativitas dan visualisasi

Media pembelajaran yang didesain untuk memaksimalkan pesreta didik menggunakan intelejensi atau kecerdasannya dalam belajar.
Ada tiga pandangan yang diberikan tentang kecerdasan:
•Pandangan kelompok pertama : inteligensi sebagai kemampuan menyesuaikan diri (Tyler, 1956, Wechsler 1958, Sorenson, 1977).
•Pandangan kelompok kedua : inteligensi sebagai kemapuan untuk belajar (Freeman, 1971, Flynn, dalam Azwar 1996).
•Pandangan kelompok ketiga : inteligensi sebagai kemampuan berfikir abstrak (Mahrens, 1973., Terman dalam Crider dkk, 1983, Stoddard, dalam Azwar, 1996)

Inteligensi atau kecerdasan tidak hanya dipandang sebagai kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan lain yang terkait bagi seseorang untuk memecahkan masalah.
Pada abad 20 muncul teori-tori : emotional intelligence, moral inteligence, social inteligence, dan spiritual inteligence.

Howard Gardner (1983) mengemukakan teori Multiple Inteligences
Setiap manusia memiliki berbagai cara untuk menjadi cerdas, menggunakan caranya sendiri untuk memecahkan masalah dan mengembangkan dirinya.

Media pembelajaran yang didesain harus dapat memotivasi siswa untuk mengembangkan pengetahuannya dengan kecerdasan yang dimilikinya. Masing-masing siswa memiliki keunikan tersendiri.

0 komentar:

Post a Comment