Pengantar Kimia Dasar


BUKU TEKS PENGANTAR KIMIA

Yashito Takeuchi,

diterjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya

oleh Ismunandar

MUKI KAGAKU by Taro Saito

© 2006 by Yashito Takeuchi

Reproduced by permission of Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo

Sesuai dengan kesepakatan dengan Iwamani Shoten, buku online ini, hanya diperbolehkan digunakan dalam bentuk file elektronik, digunakan hanya untuk tujuan

pendidikan, untuk guru, siswa, dosen, dan mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Tidak boleh didistribusikan dalam bentuk tercetak.

Pengantar Kimia


Pengantar Penerjemah

Untuk mengatasi keterbatasan akses pada buku teks dan masalah bahasa, maka saya berinisiatif menerjemahkan buku elektronik ini, yang dapat diakses gratis. Buku versi internet ini adalah sebagai buku gratis untuk mahasiswa yang memiliki akses terbatas pada buku cetak dan menghadapai masalah bahasa dalam membaca buku bahasa asing. Saya berharap pembaca dapat mengambil manfaat dari buku ini. Saya menyampaikan terimakasih kepada Professor Ito atas bantuannya merealisasikan proyek ini dan kepada Iwanami Publishing Company yang mengizinkan publikasi edisi internet tanpa mengklaim royalty. Terimakasih pula kepada Dr. Bambang Prijamboedi yang telah membaca dan memberikan beberapa koreksi akhir.

Ismunandar

Prakata Buku teks ini awalnya ditulis dalam bahasa Jepang sebagai volume pertama seri “Pengantar Kimia” (ada total delapan buku) yang diterbitkan oleh Iwanami Publishing Co. pada tahun 1996. Tujuan penulis menulis buku teks, ”Kimia Dasar”, adalah memberikan petunjuk kompak pda kimia modern tidak hanya bagi mahasiswa tahun pertama yang akan berkonsentrasi pada bidang sains/teknologi, tetapi juga bagi apa yang disebut sebagai pelajar “seni” atau warga masyarakat umum. Akibatnya, tidak terlalu banyak matematik. Namun, sejumlah cukup halaman dialokasikan sebagai pendahuluan pada kimia struktural (Bab 1-4). Menurut penulis, konsep of orbital dan geometrinya merupakan bagian yang paling penting kimia dasar. Tanpa pengetahuan ini, seseorang tidak akan pernah memahami bagian penting kimia modern, yakni hubungan struktur molekular dan fungsinya. Bagian kedua dalam Bab 11-13. Dengan mempelajari bab-bab ini, pelajar dapat melihat apa yang dilakukan kimiawan (khususnya kimiawan di laboratorium) dalam kesehariannya di laboratorium. Pelajar dapat pada saat yang sama mempelajari rasa metodologi kimia modern. Akhirnya, bab 14 secara ringkas memaparkan aspek sosiologi kimia modern yang secara alami mencakup isu lingkungan. Peran kimia dalam mempertahankan masyarakat yang berkelanjutan juga didiskusikan. Harus disampaikan bahwa penggunaan model moekular (misalnya model molekular HGS) akan membuat studi beberapa bab (khususnya bab 1, 2, 3 dan 9) jauh lebih mudah. Alasannya jelas. Molekul adalah objek 3-dimensi. Struktur molekular yang dicetak di buku ini jelas berupa gambar 2-dimensi. Kemampuan gambar 2-dimensi untuk menampilkan informasi 3-dimensi jelas terbatas. Akhirnya pengarang ingin menyampaikan terimakasih yang tulus pada Prof. M. M. Ito, anggota IUPAC CCE, atas usaha kerasnya dari awal proyek ini. Tanpa inisiatif dan kerjanya, proyek ini tidak akan pernah terwujud. Penulis juga memberikan penghargaan yang tinggi pada bantuan Professor Emeritus E. E. Daub, University of Wisconsin, atas kebaikannya memikul tanggung jawab membaca manuskrip berbahasa Inggris dan memberikan masukkan.

Buku ini ditulis dengan memperhatikan penulisan yang di dasarkan pada metode ilmiah. Buku ini juga berisi latihan soal yang bagus digunakan untuk persiapan latihan soal un kimia bagi siswa SMA.

Download bukunya

Download Sekarang
Share:

Pola komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar

A. Tiga Pola Komunikasi
Guru sebagai tenaga profesional dibidang pendidikan, disamping memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, juga harus mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang bersifat teknis ini, terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan interaksi belajar mengajar.

Dalam proses pendidikan sering kita jumpai kegagalan-kegagatan, hal ini biasanya dikarenakan lemahnya sistem komunikasi. Untuk itu, pendidik perlu mengembangkan pola komunikasi efektif dalam proses belajar mengajar. Komunikasi pendidikan yang dimaksudkan di smi adalah hubungan atau interaksi antara pendidik dengan peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung, atau dengan istilah lain yaitu hubungan aktif antara pendidik dengan peserta didik.

Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksj dinamis antara guru dengan siswa yaitu:

1. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah.
Dalam komunikasi ini guru berperan sehagal pemberi aksi dan siswa sebagai penerima aksi. Guru aktif dan siswa pasif. Ceramah pada dasarnya adalah komunikasi satu arah, atau komunikasi sebagal aksi. Komunikasi jenis ini kurang banyak mengaktifkan kegiatan belajar siswa.

Gambar 1. Pola komunikasi satu arah


2. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
Pada pola komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru dan siswa dapat berperan sama, yaitu pemberi aksi dan penerima aksi. Di sini, sudah terlihat hubungan dua arah, tetapi terbatas antara guru dan siswa secara individual. Antara siswa dan siswa tidak ada hubungan. Siswa tidak dapat berdiskusi dengan atau bertanya sesama temannya. Keduanya dapat saling memberi dan menerima. Komunikasi ini lebih baik daripada yang pertama, sebab kegiatan guru dan kegiatan siswa relatif sama.

Gambar 2. Pola komunikasi dua arah

3. Komunikasl banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi.
Komunikasi ini tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa tetapi juga melibatkan interaksi yang dinamis antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Proses belajar mengajar dengar pola komunikasi ini mengarah kepada proses pengajaran yang mengembanga kegiatan siswa yang optimal, sehingga menumbuhkan siswa belajar aktif. Diskusi dan simulasi merupakan strategi yang dapat mengembangkan komunikasi ini (Sudjana, 1989).

Gambar 3. {Pola komunikasi banyak arah

Dakam kegiatan belajaran mengajar, siswa memerlukan sesuatu yang memungkinkan dirinya berkomunikasi secara baik dengan guru, teman maupun dengan lingkungannya. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengaiar terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilannya, yaitu pengaturan proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri yang keduanya mempunyai ketergantungan untuk menciptakan situasi komunikasi yang baik yang memungkinkan siswa untuk belajar.


B. Strategi Membangun Komunikasi Efektif Guru dan Peserta Didik datam Proses Belajar Mengajar 

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, berbagai pendekatan yang digunakan oleh guru dalam mendidik para peserta didik. Adakalanya guru bagaikan seorang bos atau raja yang hanya menyuruh dan memerintah peserta didik menurut kehendaknya. Adakalanya guru mengajak para peserta didik bersama-sama menyelesaikan topik yang dibincangkan. Namun kesemua kaedah itu berguna dan bermanfaat sesuai dengan keadaan. Seorang guru yang ditakuti pada dasamya dianggap tidak berhasil dalam menjalankan komunikas efektif, karena peserta didik merasakan terdapat jurang untuk menyatakan pendapat.Tanpa komunkasi yang baik, hasil yang dituai juga tidak akan mernuaskar. 

Terdapat minimal lima strategi yang dapat dkembangkan dalam upaya untuk menciptakan/membangun komunikasi efektif, sepertì dijelaskan berikut ini:

1. Respek 
Komunikasi harus diawalí dengan rasa saling menghargai. Adanya penghargaan biasanya akan menimbulkan kesan serupa dari si penerima pesan. Guru akan berhasil berkomunikasi dengan peserta didik bila ia melakukan dengan penuh respek. Bila ini dilakukan maka peserta didik pun akan melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan guru.

2. Emapti
Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain. Syarat utama dari sikap empati adalah kemampuan untuk mendengar dan mengerti orang lain, sebelum didengar dan dimengerti orang lain.

Guru yang baik tidak akan menuntut peserta didiknya untuk mengerti keinginannya, tetapi ia akan berusaha memahami peserta didiknya terlebih dahulu. Ia akan membuka dialog dengan mereka, juga mendengar keluhan dan harapan mereka. Di sini berarti, seorang guru tidak hanya melibatkan komponen indrawinya saja, tapî melibatkan pula mata hati dan perasaannya dalam memahami berbagai perihal yang ada pada peserta didiknya. 

3, Audìble 
Audible berarti “dapat didengarkan” atau bisa dimengerti dengan baik. Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan. Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik. kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke dalam komunikasi yang Audibel. 

4.Jelas maknanya
Pesan yang disampaikan harus jelas maknanya dan tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan transparan. Ketika berkomunikasì dengan peserta didik, seorang guru harus berusaha agar pesan yang disampaikan bisa jelas maknanya. Salah satu caranya adalah berbicara sesuai bahasa yang mereka pahami (melihat tingkatan usia). 

5. Rendah hati 
Sikap rendah hati rnengandung makna saling menghargaì, tidak memandang rendah, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri.

Share:

Macam-macam atau Jenis-jenis Pendekatan Pembelajaran

Macam-macam atau Jenis-jenis Pendekatan Pembelajaran sebagai Sistem Belajar Mengajar

1. Ekspository Learning atau pendekatan ekspositori
Pendekatan ekspositori ini dilatarbelakangi anggapan terhadap siswa bahwa mereka masih kosong dengan ilmu. Pendekatan ini sangat cocok diterapkan pada materi ketahui dan sebutkan. Dalam pendekatan ini guru berfungsi sebagai perancang dan sebagai pengambil keputusan/tindakan.
Dalam sistem ini juga, guru menyajikan materi ajar dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap, sehingga peserta didik tinggal menyimak dan mencernakannya saja secara tertib dan teratur.

Secara garis besar prosedur pendekatan Ekspository Learning ini adalah:
1.      Preparasi. Guru mempersiapkan (preparasi) bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi.
2.      Apersepsi. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan.
3.      Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh peserta didik membaca bahan yang telah disiapkati dari buku teks tertentu atau yang ditulis guru sendiri.
4.      Resitasi. Guru bertanya dan peserta didik menjawab sesual bahan yang dipelajari, atau peserta didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri (resitasi), tentang pokok-pokok masalah yang telah dipelajari, baik yang dipelajari secara lisan maupun tulisan (Djamarah & Zain, 2002).

Langkah-Iangkah pendekatan Ekspository Learning adalah:
1.      Penentuan tema pokok bahasan;
2.      Menyusun pokok bahasan;
3.      Menjelaskan materi secara baik;
4.      Melakukan kegiatan revisi.

2. Enquiry Learning atau pendekatan inkuiri
Enquiry learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi peserta didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masatah.

Pendekatan enquiry learning dilatarbelakangi oleh anggapan seorang pendidik bahwa siswa merupakan subjek dan objek yang telah memiliki ilmu pengetahuan. Dalam pendekatan ini guru berfungsi sebagai supervisor, fasilitator, mediator, dan komentator.

Hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, mudah ditransfer untuk memecahkan masalah. Pengetahuan dan kecakapan peserta didik didik bersangkutan lebih jauh dapat menumbuhkan motivasi intrinsik, karena peserta didik merasa puas atas penemuannya sendiri.

Secara garis besar prosedur Pendekatan Enquiry Learning adalah:
1.      Simulation. Guru mutai bertanya dengan mengajukan persoatan, atau menyuruh peserta didik didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.
2.      Problem statement. Peserta didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan. Sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, kemudian membuat hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
3.      Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.
4.      Data Processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semua diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu misal statistika serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu
5.      Verification, atau pembuktian. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek apakah terjawab atau tidak, atau apakah terbukti atau tidak.
6.      Generalization. Berdasarkan hasil verifikasi tadi, peserta didik belajar menarik kesimpulan.

Pendekatan Enquiry learning atau pendekatan inkuiri sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup banyak, dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menjurus kepada kekacauan dan kekaburan/ketidakjelasan atas materi yang dipelajari.

Langkah-langkah dalam proses Inquiry:
1.      Pemberian masalah kepada siswa;
2.      Hipotesis (Spesifikasi permasalahan);
3.      Pengumpulan data;
4.      Pengolahan data untuk menjawab hipotesis yang dibuat;
5.      Pembuatan/penarikan kesimpulan.

3. Mastery Learning atau pembelajaran tuntas
Istilah belajar tuntas diangkat dari pengertian tentang apa yang disebut dengan “situasi belajar’. Dalam situasi belajar terdapat aneka macam kecepatan individu sebagai peserta belajar (baik siswa, maupun mahasiswa). Ada murid yang cepat menguasai pelajaran sehingga ia dapat berpartisipasi penuh dalam proses interaksi kelas. Di samping itu ada pula peserta didik yang lamban sehingga tingkat partisipasi dan prestasinya rendah. Mereka yang terakhir ini akan mengalami kesukaran dalam mengikuti kecepatan belajar yang digunakan guru. Mereka akan mengalami kesulitan apalagi bantuan yang diberikan terhadap mereka kurang sekali (Nasution, dkk. 1994).

Belajar tuntas didasarkan pada kondisi objektif bahwa setiap siswa dapat mencapai belajar tuntas, namun biasanya membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Dalam realitasnya ada siswa yang dapat menguasaj 90-100% bahan ajar yang disampaikan guru, namun sebagiannya baru menguasai 50-80% bahkan ada yang baru menguasai lebih rendah dan rata-rata. Bagi siswa yang tingkat penguasaannya rendah diperlukan perbaikan yang terus menerus. Itulah sebabnya dalam filsafat belajar, 10 x 2 lebih baik daripada 2 x 10 (Fathurrohman, 2001). Taraf belajar tuntas ini dapat diformufasikan sebagai penentuan proporsi waktu yang tersedia untuk belajar secara tepat dengan waktu yang dibutuhkan untuk belajar.

Dalam belajar tuntas setiap siswa yang berkopetensi dapat menguasai keterampilan tertentu pada tingkat penguasaan yang memuaskan. Dengan demikian belajar tuntas menolak istilah adanya kewajaran dalam kegagalan kalau yang bersangkutan memang belum mendapatkan bantuan belajar yang yang seharusnya.

Sebab-sebab kegagalan tentu saja oleh banyak faktor, antara lain; keadaan siswa itu sendiri, faktor lingkungan keluarga dan sosial, dan sebagainya. Belajar tuntas melihat faktor penyebab utama yang terletak pada proses belajar itu sendiri. Oleh karena itu yang terpenting adalah perbaikan proses belajar tersebut. Dalam kaitan ini, Bloom (1982) mendefinisikan belajar tuntas itu berdasarkan asumsi bahwa sebagian besar siswa dapat mencapai suatu kemampuan belajar tingkat tinggi apabila pengajaran didekati secara sensitif dan sistematis, dan apa bila siswa dapat dibantu kapan pun dan di mana pun mereka menjumpai kesulitan belajar, apabila mereka diberi waktu yang cukup untuk mencapai penguasaan, dan terdapatnya kriteria yang jetas tentang apa yang disebut dengan mastery (Nasution, dkk., 1994).

Pendekatan belajar tuntas dapat digunakan dengan baik apabila tujuan pengajaraan yang hendak dicapai itu adalah tujuan yang termasuk ranah kognitif dan psikomotor. Pencapaian ranah afektif tidak sesuai menggunakan model belajar tuntas, karena kejelasan (ketuntasan) keterukurannya sukar sekali. Sebaliknya, ranah kognitif dan psikomotor memiliki batasan ketuntasan yang lebih jelas dan lebih mudah dirumuskan menjadi objek yang dapat dikuantifikasi.

Bentuk pengajaran dalam model belajar tuntas ini bisa dilaksanakan secara individual, tetapi dapat juga secara kelompok. Pengajaran individual dapat dilakukan di dalam kelas, dalam arti perlakuan terhadap murid tetap bersifat individual sesuai dengan kemajuan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing murid.Tentu saja strategi individual ini memerlukan adanya kelengkapan perangkat penunjang seperti modul, laboratorium, ataupun teaching machine.

Fase-fase Model Belajar Tuntas
Pendekatan belajar tuntas terdiri dari lima fase, yaitu:
1.      Fase orientasi.
Pada fase orientasi inilah disusun kerangka dasar pelajaran, perumusan harapan apa yang ingin dicapai, penjelasan dan perincian tugas-tugas belajar peserta didik serta apa yang menjadi tanggung jawab mereka
2.      Fase penyajian atau presentasi.
Guru menjelaskan konsep-konsep baru dan keterampilan melalui demontrasi dan dihantu dengan berbagai usaha visual.
3.      Fase penstrukturan latihan prakteknya
4.      Guru memperlihatkan pada siswa contoh mempraktekan sesuatu antara lain dengan bantuan visual, seperti penggunaan power point, macromedia, multimedia interaktif dan audio-visual lainnya. Latihan seperti ini bersifat komunal (kelompok).
5.      Fase praktek terbimbing
Peserta didik diberi kesempatan mempraktekkan dengan caranya sendiri sernentara guru tetap herada disekitar mereka. Guru mempunyai kesempatan menilai penampilan setiap siswa. Guru berfungsi memonitor keseluruhan dengan menggunakan teknik memuji, menganjurkan, dan meninggalkan.
6.      Fase praktek bebas
Fase terakhir ini baru dapat diberikan pada siswa apabila mereka telah menguasai 85% - 95% penguasaan akurasi kemampuan dalam fase keempat, praktek yang dilakukan siswa dalam fase ini adafah praktek yang dilakukan mereka menurut cara mereka sendiri tanpa bantuan guru, dan dengan memperlambat umpan balik.

4.Humanity Education
Menurut Muhibin Syah (2004) humanity education adalah sebuah sistem klasik yang bersifat global, tetapi beberapa prinsip dasarnya diambil para ahli pendidikan untuk dijadikan sebuah sistem pendekatan PBM. Pendekatan ini menekankan pengembangan martabat manuasia yang bebas membuat pilihan dan berkeyakinan. Dalam sistem ini pengembangan ranah afektif merupakan hal penting dan perlu diintegrasikan dengan proses belajar pengembangan ranah kognitif  dan psikomotor. Perbedaan yang menonjol dalam pendidikan humanistik adalah peranan guru yang lebih banyak menjadi pembimbing daripada pemberi ilmu pengetahuan kepada siswa.

Disamping itu pendidikan humanistik juga menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar dapat mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan dasar dan kekhususan yang ada pada diri siswa. Dalam hal penggunaannya dalam PBM pada prinsipnya relatif sama dengan enquiry-discovery, hanya titik tekannya yang berbeda (Muhibin, 2004).

Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai fasilitas fasilitator.
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal yang baik.
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan- tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat lebih umum.
3.      Fasilitator mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya sendiri, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyl di dalam belajar yang bermakna.
4.      Fasilitator mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.      Fasilitator menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menggapai ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik sebagai individual ataupun sebagai kelompok.
7.      Bila mana suasana penerimaan kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok. Dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.      Fasilitator mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya, dan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau tidak oleh siswa.
9.      Fasilitator harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang alami dan kuat selama belajar.
10.  Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Hamacheek (1969) menyebutkan bahwa guru-guru yang efektif tampaknya adalah guru-guru yang “manusiawi”. Mereka mempunyai rasa humor, adil, menarik lebih demokratis dari pada autokratik, dan mereka harus mampu berhubungan dengan mudah dan wajar dengan para siswa, baik secara perorangan atau pun secara kelompok, ruang kelas tampak seperti suatu perusahaan kecil dengan pengertian bahwa mereka lebih terbuka, spontanitas dan mampu menyesuaikan diri pada perubahan. Guru yang tidak efektif jelas kurang memiliki rasa humor, mudah menjadi tidak sabar, menggunakan komentar-komentar yang melukai dan mengurangi rasa ego, kurang teninterogasi, cenderung bertindak agak otoriter, dan biasanya kurang peka terhadap kebutuhan-kebutuhan siswa mereka.

<<<back                                                next>>>
Share:

Langkah-langkah Perencanaan Strategi Belajar Mengajar

Perencanaan Belajar Mengajar

Menurut Affifudin (2005) ada empat belas Langkah-langkah Perencanaan Strategi Belajar Mengajar yang perlu dilakukan guru dalam membuat sebuah perencanaan belajar mengajar:

1.      Identifikasi tugas-tugas
Kegiatan merancang suatau program harus dimulai dari identifikasi tugas-tugas yang menjadi tuntutan suatu pekerjaan. Karena itu perlu dibuat suatu job description atau uraian tugas secara cermat dan lengkap. Berdasarkan tuntutan pekerjaan itu, selanjutnya ditentukan, peranan-peranan yang harus dilaksanakan sehubungan dengan uraian tugas tersebut, yang menjadi titik tolak untuk menentukan tugas-tugas yang akan dikerjakan.

2.      Analisis tugas
Tugas-tugas yang telah ditetapkan secara dimensional dijabarkan menjadi seperangkat tugas yang rinci. Setiap dimensi tugas dijabarkan sedemikian rupa yang mencerminkan segala sesuatu yang harus dikerjakan.

3.      Penetapan kemampuan
Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Setiap kemampuan hendaknya didasarkan pada kriteria kognitif, afektif dan psikomotor (performance), serta produk. Tentu saja kemampuan-kemampuan yang diharapkan itu harus relevan dengan tuntutan kerja yang telah ditentukan.

4.      Spesifikasi pengetahuan, ketrampilan dan sikap
Hal-hal tersebut di no.3 sebagai kriteria kognitif, afektif dan psikomotor (performance). Setiap kemampuan yang perlu dimiliki, dirinci menjadi pengetahuan apa, sikap-sikap apa, dan keterampilan-keterampilan apa  yang perlu dimiliki oleh setiap lulusan.

5.      Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
Langkah ini merupakan analisis kebutuhan pendidikan dan latihan, artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang sewajarnya disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan, seperti kegiatan teoritik dan praktik.

6.      Perumusan tujuan
Tujuan-tujuan program atau tujuan pendidikan ini masih bersifat umum sebagai tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum. Tujuan-tujuan yang dirumuskan harus koheren dengan kemampuan-kemampuan yang hendak dikembangkan.

7.      Kriteria keberhasilan program
Kriteria ini sebagai indikator keberhasilan suatu program. Keberhasilan itu ditandai oleh ketercapaian tujuan-tujuan atau kemampuan yang diharapkan.Tujuan-tujuan program dianggap tercapai jika lulusan dapat menunjukkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas yang telah ditentukan.

8.      Organisasi sumber-sumber belajar
Langkah ini menekankan pada materi pelajaran yang akan disampaikan sehubungan dengan pencapaian tujuan kemampuan yang telah ditentukan. Komponen ini juga berisikan sumber materi dan obyek masyarakat yang dapat dijadikan sebagal sumber informasi.

9.      Pemilihan strategi pengajaran
Titik berat analisis pada langkah ini adalah penentuan strategi dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan kemampuan yang diharapkan. Perlu dirancang kegiatan-kegiatan pengajaran dan dalam bentuk kegiatan tatap muka, kegiatan berstruktur dan kegiatan mandiri, serta kegiatan pengalamanan lapangan yang relevan dengan bidang yang bersangkutan. Strategi pengajaran terpadu dapat menunjang keberhasilan program pengajaran ini di samping strategi pengajaran remedial.

10.  Uji lapangan program
Uji coba program yang telah didisain dimaksudkan untuk melihat kemungkinan keterlaksanaannya. Melalui uji coba secara sistematik dapat dinilai hingga mana kemungkinan keberhasilan, jenis kesulitan, yang pada gilirannya memberikan informasi balikan untuk perbaikan program.

11.  Pengukuran rehabilitas program
Pengukuran ini sejalan dengan pelaksanaan uji coba program di lapangan. Berdasarkan pengukuran itu dapat dicek sejauh mana efektivitas program, validitas, dan rehabilitas alat ukur, dan efektivìtas sistern instruksional. Informasi pengukuran dapat dijadikan umpan balik untuk perbaikan dan penyesuaian program.

12.  Perbaikan dan Penyesuaian
Langkah ini merupakan tindak lanjut setelah dilaksanakannya ujicoba dan pengukuran. Perbaikan dan adaptasi program barangkali diperlukan guna menjamin konsistensi koherensi, dan monitoring system dan selanjutnya memberikan umpan balik kepada organisasi sumber-sumber belajar, strategi pengajaran dan motivasi belajar.

13.  Pelaksanaan program
Pada tingkat ini perlu dirancang dan dianalisis langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka pelaksanaan program. Langkah ini didasari oleh suatu asumsi, bahwa rancangan program yang telah didisain secara cermat dan telah mengalami uji coba serta perbaikan dapat dipublikasikan dan dilaksanakan dalam sampel yang lebih tuas.

14.  Monitoring program
Sepanjang pelaksanaan program perlu diadakan monitoring secara terus dan berkala untuk menghimpun informasi tentang pelaksanaan program. Kegiatan monitoring hendaknya didesain secara analisis. Mungkin selama pelaksanaan masih terdapat aspek-aspek yang perlu diperbaiki dan diadaptasikan. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya dapat dikembangkan suatu program yang benar-benar sinkron dengan kebutuhan lapangan dan memiliki kemampuan beradaptasi.


<<<back                                             next>>>
Share:

Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem

Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem

Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai perangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan secara sinergis dan sistemik. Karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen pengajaran secara parsial. Misalnya metode terpisah dari bahan. Bahan tidak mendukung sistem evaluasi dan seterusnya. Oleh karena itu, dalam kegiatan mengajar, biasanya guru dihadapkan pada beberapa persoalan pokok, seperti: (1) tujuan apa yang akan dicapai, (2) materi apa yang perlu diberikan, (3) metode dan alat apa yang akan digunakan, (4) kondisi bagaimana yang dapat membelajarkan siswa, (5) prosedur apa yang akan digunakan dalam evaluasi.

Sehubungan dengan tujuan utama kegiatan mengajar adalah membelajarkan siswa, maka paling bijaksana apabila guru mampu mengenal, memahami dan menerima karakter peserta didik berkaitan dengan, (1) tingkat kecerdasan dan bakat peserta didik, (2) kemampuan awal, (3) perkembangan jasamani dan kesehatan, (4) cita-cita, sikap, minat dan hobi, (5) kebiasaan dan latar sosial keluarga, (6) sifat-sifat khusus dan persoalan pribadi peserta didik.

<<<back                                                next>>>
Share:

Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar

Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar

A.      Pengertian motivasi
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan tindakan atau aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern. Menurut Mc Donald (dalam Sadirman, 2004) motivasi adalah perubahan energi di dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Tiga komponen utama yang menjadi ciri utama motivasi adalah perubahan energi, feeling, dan tujuan.

Secara sederhana, definisi motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat memiliki pengertian sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan, menjamin dan memberikan arah kegiatan belajar mengajar, sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dan pendidikan dapat tercapai.

Motivasi dapat dibagi menjadi dua:
1.       Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.       Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, entahkah karena adanya ajakan, perintah atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan yang demikian peserta didik mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi peserta didik yang selalu memperhatikan pelajaran dan mampu menerima materi yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru karena di dalam diri peserta didik tersebut sudah ada motivasi intrinsik. Peserta didik yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Biasanya peserta didik seperti ini dapat berkonsentrasi dengan baik dan mampu mengatasi gangguan yang mempengaruhinya.

Berbeda dengan peserta didik yang tidak memiliki motivasi belajar di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Pada masalah ini, tugas guru adalah menemukan cara untuk menumbuhkan atau memunculkan motivasi peserta didik sehaingga ia mau belajar.

B.      Fungsi Motivasi
Menurut Hamalik (2002) ada tiga fungsi motivasi:
1.       Mendorong manusia untuk bertindak, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.       Menentukan arah perbuatan yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuan.
3.       Menyeleksi tindakan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Guru berperan penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara yang tepat dan terutama untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

C.      Strategi Menumbuhkan motivasi
Ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1.       Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.
2.       Hadiah atau Penghargaan
Berikan hadiah atau penghargaan bagi peserta didik yang berhasil dalam pembelajaran. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berhasil akan termotivasi untuk bisa mengejar keberhasilannya.
3.       Persaingan/kompetisi
Guru bisa mengadakan persaingan di antara peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajar dan berusaha memperbaiki prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.       Pujian
Sudah sepantasnya peserta didik yang berhasil dengan giat mendapat pujian dan penghargaan. Tentunya pujian yang membangun.
5.       Hukuman
Sanksi atau hukuman dapat diberikan kepada peserta didik yang tidak berhasil atau gagal dengan melakukan kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman atau sanksi yang diberikan harus dapat memberi motivasi agar peserta didik yang beri sanksi mau merubah diri dan berusaha memotivasi dirinya untuk belajar.
6.       Memberikan perhatian maksimal bagi peserta didik yang kurang atau tidak memiliki motivasi belajar.
7.       Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
8.       Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individu maupun kelompok.
9.       Menggunakan metode yang bervariasi.
10.   Menggunakan media yang tepat yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tiap peserta didik memiliki kemampuan mengindera yang berbeda, baik kemampuan mendengar maupun melihat, demikian juga kemampuan berbicara. Ada siswa yang lebih senang mebaca,ada siswa yang lebih senang mendengar. Ada siswa yang lebih cepat paham dengan membaca, ada juga siswa yang cepat paham dengan mendengar. Dengan variasi penggunaan media, diharapak dari hari ke hari tiap kelemahan mengindera dari peserta didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian, disetiap pembelajaran guru dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan memberikan contoh konkret/kaitan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikian, diharapkan dapat memberi stimulus terhadap kemampuan mengindera peserta didik.


<<<back                                               next>>>
Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Blog Archive

Post Terbaru