Monday, February 20, 2017

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SAINS BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DASAR SAINS DAN NILAI KEARIFAN LOKAL DI SMP

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SAINS BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK MENGEMBANGKAN KOMPETENSI DASAR SAINS DAN NILAI KEARIFAN LOKAL DI SMP

BAB I
Pendahuluan


1.1 Latar Belakang
Pendidikan berfungsi memberdayakan potensi manusia untuk mewariskan, mengembangkan serta membangun kebudayaan dan peradaban masa depan. Di satu sisi, pendidikan berfungsi untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang positif, di sisi lain pendidikan berfungsi untuk menciptakan perubahan ke arah kehidupan yang lebih inovatif. Oleh  karena itu, pendidikan memiliki fungsi kembar (Budhisantoso, 1992;  Pelly, 1992). Dengan fungsi kembar itu, sistem pendidikan asli di suatu daerah memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan dan kebudayaan.
Berbagai permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan.  The Third International Mathematics and Science Study Repeat melaporkan bahwa kemampuan sains siswa SLTP di Indonesia hanya berada pada urutan ke-32 dari 38 negara (TIMSS-R, 1999). Masalah lainnya adalah belum berhasilnya sektor pendidikan khususnya pendidikan sains dalam melatih  pendidikan nilai di sekolah. Hal ini terbukti dari berbagai permasalahan seperti rusaknya lingkungan alam yang mengakibatkan berbagai becana alam seperti kekeringan berkepanjangan, banjir bandang, kebakaran hutan, polusi udara, polusi tanah/air, dan terakhir luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sudah dua tahun, sampai hari ini belum juga dapat diatasi. Semua permasalahan ini hanya menghasilkan dan menyisakan kesengsaraan rakyat Indonesia. Adimassana (2000) menambahkan bahwa salah satu penyebabnya adalah akibat dari kegagalan sektor pendidikan dalam melaksanakan pendidikan nilai di sekolah. Zamroni (2000:1) mengemukakan bahwa pendidikan cenderung hanya menjadi sarana “stratifikasi sosial” dan sistem persekolahan yang hanya “mentransfer” kepada peserta didik, apa yang disebut sebagai dead knowled, yaitu pengetahuan yang terlalu berpusat pada buku (textbookish), sehingga bagaikan sudah diceraikan dari akar sumbernya dan aplikasinya. Lebih lanjut Suastra (2005) mengatakan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat asli yang penuh dengan nilai-nilai kearifan (local genius) diabaikan dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran sains di sekolah. Dengan demikian, pembelajaran sains menjadi ”kering” dan kurang bermakna bagi siswa. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius bagi para pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan sains baik di pusat maupun di daerah. 
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan, di antaranya PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional. Kedua perangkat hukum tersebut mengamanatkan agar kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah harus juga mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Penerapan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) adalah bentuk alternatif otonomi pendidikan sebagai wujud reformasi pendidikan di mana sekolah diberikan peluang yang sangat luas dalam mengelola sekolah serta mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan pendidikan di daerah dan para guru dalam rangka mengembangkan potensi lokal dan sekaligus melestarikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam budaya bangsa kita.
Pembelajaran sains yang akan datang perlu diupayakan agar ada keseimbangan/ke-harmonisan  antara pengetahuan sains itu sendiri dengan penanaman sikap-sikap ilmiah, serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada dan berkembang di masyarakat. Oleh karena itu,  lingkungan sosial-budaya siswa perlu mendapat perhatian serius  dalam mengembangkan pendidikan sains di sekolah karena di dalamnya terpendam sains asli yang dapat berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian, pedidikan sains akan betul-betul bermanfaat bagi siswa itu sendiri dan bagi masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan pandangan reformasi pendidikan sains dewasa ini yang menekankan pentingnya pendidikan sains bagi upaya meningkatkan tanggung jawab sosial. Berdasarkan usaha reformasi ini, tujuan pendidikan sains tidaklah hanya untuk meningkatkan pemahaman terhadap sains itu sendiri, tetapi yang lebih penting juga adalah bagaimana memahami kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana manusia membuat pemahaman tentang dunia alamnya dan bagaimana mereka berinteraksi dengan keseluruhan tatanan makrokosmos sangat  ditentukan oleh pandangan mereka tentang dunia dan nilai-nilai universal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah yang diteliti dalam dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana pendapat guru tentang pengembangan model pembelajaran sains berbasis budaya.
2.      Kompetensi dasar sains apa yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran sains berbasis budaya.
3.      Metode apa yang cocok diterapkan dalam pembelajaran sains berbasis budaya.
4.      Sumber belajar apa yang cocok diterapkan dalam pembelajaran sains berbasis budaya.
5.      Sistem penilaian apa yang cocok diterapkan dalam pembelajaran sains berbasis budaya, dan
6.      Bagaimana model konseptual pembelajaran sains berbasis budaya yang dapat mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal.
Berkaitan dengan masalah ini, maka dipandang perlu untuk mengembangkan pembelajaran sains berbasis budaya lokal dalam upaya mengembangkan kompetensi dasar sains dan kearifan lokal.

BAB II
Pembahasan
2.1. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian analisis kebutuhan yang nantinya digunakan sebagai dasar dalam merancang model pembelajaran sains untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal. Populasi penelitian ini adalah guru-guru sains SMP Negeri dan Swasta di Singaraja yang berjumlah 38 orang. Guru yang dijadikan sampel penelitian ini adalah sebanyak 30 orang guru sains SMP yang tersebar di Singaraja. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi 1) pendapat guru tentang pembelajaran sains berbasis budaya lokal, 2) kompetensi dasar sains yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran berbasis budaya, 3) metode yang relevan untuk model pembelajaran berbasis budaya lokal; dan 4) sumber belajar yang relevan untuk mendukung model pem-belajaran berbasis budaya lokal; 5) rancangan (disain) pembelajaran sains berbasis budaya lokal beserta penilaiannya untuk mengem-bangkan kompetensi dasar sains dan nilai ke-arifan lokal, serta 6) penilaian yang relevan untuk pembelajaran berbasis budaya lokal. Data penelitian ini dikumpulkan melalui kajian pustaka, wawancara, dan kuisioner. Data dianalisis secara deskriptif.
2.2. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data pendapat guru tentang pengembangan pembelajaran sains berbasis budaya ditemukan bahwa 90% guru menyatakan berkeinginan untuk mengembang-kan model tersebut, namun hanya 20% guru yang memiliki wawasan/pengetahuan dan ke-mampuan untuk mengembangkannya.
Hasil analisis silabus siswa  kelas VII dan VIII terdapat 11 kompetensi dasar (KD) yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran sains berbasis budaya. Kompetensi dasar tersebut dapat dilihat pada Tabel  01 berikut.
Tabel 01: Kompetensi dan Kearifan Lokal
No
Kompetensi Dasar
Nilai Kearifan Lokal
1.
Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya
Memperkenalkan pengukuran tradisional atau tak baku “si-kut” untuk pembangunan tempat suci atau rumah. Nilai keharmonisan/ keselarasan
2.
Mendeskripsikan pengertian suhu dan pengukuran-nya
Mengekop anak yang sakit panas dengan menggunakan pelapah pisang atau daun dapdap. Nilai pelestarian tumbuh-tumbuhan (kontrol)  dan tradisi.
3.
Melakukan pengu-kuran dasar secara teliti dengan meng-gunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

Melakukan pengukuran dengan ukuran sikut, seperti adepa, alengkat, ahasta, atampak ngandang, anyari, dll. Nilai keharmonisan/keselarasan antara tempat suci/ rumah dengan pemiliknya. Nilai keharmonisan/keselarasan antara isi dan tem-patnya.
4.
Melakukan percobaan sederhana tentang asam, basa, dan garam dari dengan bahan-bahan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari
Pembersihan alat-alat upacara yang terbuat dari perak yang berwarna hitam dengan bahan asem atau buah krerek.  Nilai kontrol.
No
Kompetensi Dasar
Nilai Kearifan Lokal
5.
Mendeskripsikan konsep massa jenis dalam kehidupan
Para tukang bangunan “undagi” menentukan “muncuk” dan “bongkol” kayu  dengan cara menimbang kayu dengan benang/tali pada ba-gian tengahnya, agar tidak terbalik dalam pemasangannya. Nilai  kontrol dan  etika dalam arsitektur tradisional.


6.
Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan kimianya
Pembuatan garam dapur dari air laut dengan cara tradisional. Pembuatan minyak tandusan. Nilai kontrol dan   alamiah
7.
5
Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem
Pelestarian berbagai tumbuhan dan binatang langka di Bali dengan konsep duwe betara, seperti penyu hijau dengan tapak dara di punggungnya, kokokan di Bedulu, kera di Pulaki/Sangeh, kelelawar di Goa Lawah, ular poleng di pura Uluwatu, pohon beringin, pule, kepah, ketapang kembar, dll.  Nilai pelestarian satwa dan alam lingkungannya  (kontrol) dan spiritualitas.
8.
Mendeskripsikan tahapan perkem-bangan manusia
Tahapan perkembangan manusia Bali dari proses dalam kandungan (garbadana), dua belas hari, bulan pitung dina, oton, menek kelih, metatah, pawiwahan, ngaben. Nilai holistik, kontrol dan spiri-tualitas.

9.
Melakukan percobaan tentang sifat-sifat cahaya
Pembuatan terowongan menggunakan lampu sentir untuk menentukan lurusnya lubang terowongan. Nilai kontrol.  

10.
Menjelaskan sifat-sifat bunyi
Memperkenalkan berbagai alat musik tradisional seperti gong, suling, gangsa, kendang. Memperkenalkan alat komunikasi tradisional “kulkul”. Nilai seni dan spiri-tualitas.

11.
Melakukan percobaan tentang nada dan frekuensi bunyi
Penyetelan nada gangsa oleh pembuat gamelan dengan menggunakan prinsip reso-nansi. Nilai seni, kontrol, dan spiritualitas

Metode yang relevan digunakan dalam pembelajaran sains berbasis budaya lokal untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan kearifan lokal  adalah penyelidikan/eksperimen dengan rerata 4,8 (kualifikasi sangat cocok), metode  observasi lapangan dengan rerata 4,6  (kualifikasi  sangat cocok), dan diskusi kelompok dengan rerata 3,8 (kualifikasi cocok). 
Dari 4 sumber belajar yang diajukan, ternyata tiga sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran sains  untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan adalah  lingkungan alamiah dengan rerata 4,4 (kualifikasi cocok), lingkungan sosial budaya dengan rerata 4,4 (kualifikasi cocok), buku-buku pelajaran dan buku lainnya dengan rerata 4,2 (kualifikasi cocok),  audio visual dengan rerata 4,0 (kualifiaksi cocok), serta internet dengan rerata 3,8 (kualifikasi cocok).
Sistem penilaian yang relevan digunakan dalam pembelajaran sains berbasis budaya untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan kearifan lokal adalah  non-tes  dengan skor rerata 4,6 (kualifikasi sangat cocok) dan tes dengan skor rerata 3,8 (kualifikasi cocok).
Berdasarkan analisis kebutuhan yang diperoleh di atas, maka alur  pembelajaran sains berbasis budaya untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan kearifan lokal seperti Gambar 1 berikut. Ada 5 tahapan pokok dalam pembelajaran meliputi 1) kegiatan awal, 2) eksplorasi (fase penyelidikan dari berbagai pers-pektif), 3) fase elaborasi, 4) konfirmasi, dan 5) kegiatan akhir.



KEGIATAN AWAL
  • Guru menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan belajar
  • Siswa diminta untuk mengungkapkan ide/gagasan awal dan keyakinannya terhadap materi yang akan diajarkan
  • Guru tidak membenarkan atau menyalahkan gagasan siswa

EKSPLORASI
(Penyelidikan dari Berbagai Perspektif)
  • Guru memberikan kepada siswa untuk membentuk kelompok kecil (3-5 orang) untuk melakukan penyelidikan dari berbagai perpektif, seperti sejarah, sains asli, dan ilmiah
  • Guru memfasilitasi siswa melakukan penyelidikan
  • Siswa disarankan membuat laporan hasil penyelidikan siswa
  • Siswa melaporkan hasil penyelidikan di papan tulis.                                                                          

KONFIRMASI
  • Guru memfasilitasi siswa untuk berkomentar, mengajukan pertanyaan, dan mengklarikiasi topik yang dipelajari serta melakukan refleksi.
  • Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil penyelidikan siswa
  • Guru memberikan umpan balik positif dalam bentuk pujian tertulis maupun lisan terhadap keberhasilan siswa
  • Guru melakukan penilaian/asesmen selama proses berlangsung.

ELABORASI

  • Siswa menyampaikan hasil penyelidikannya di depan kelas dan siswa lain diberikan kesempatan menyanggah atau memberi komentar
  • Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka  (open ended) untuk mengecek kompetensi dasar  siswa  maupun kearifan lokal terkait dengan topik yang telah dipelajarinya.
 

KEGIATAN AKHIR
  • Guru menyarankan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran
  • Guru memberikan tes akhir
  • Guru memberikan tugas-tugas pengayaan
  • Menyampaikan doa bersama dan salam untuk menutup pelajaran

 
 Alur Kegiatan Pembelajaran Sains Berbasis Budaya
                      


Agar kompetensi dasar dan nilai kearifan lokal dapat dikembangkan melalui pembelajaran sains berbasis budaya lokal, maka peran guru dalam proses pembelajaran sebagai berikut.
(1)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya, untuk mengakomodasi konsep-konsep atau ke-yakinan yang dimiliki siswa yang berakar pada sains asli (budaya).
(2)      Menyajikan kepada siswa contoh-contoh keganjilan (discrepant events) yang sebenarnya hal biasa menurut konsep-konsep sains Barat.
(3)      Berperan untuk mengidentifikasi batas budaya yang akan dilewatkan serta menuntun siswa melintasi batas budaya, sehingga membuat masuk akal bila terjadi konflik budaya yang muncul.
(4)      Mendorong siswa untuk aktif bertanya, memberi komentar, dan memecahkan masalah, serta
(5)      Memotivasi siswa agar menyadari akan pengaruh positif dan negatif sains Barat dan teknologi bagi kehidupan dalam dunianya (bukan pada kontribusi sains Barat dan teknologi untuk menjadikan mono-kultural dari elit yang memiliki hak istimewa).

Berdasarkan hasil analisis data pendapat guru tentang pengembangan pembelajaran sains berbasis budaya ditemukan bahwa 90% guru menyatakan berkeinginan untuk mengembang-kan model tersebut, namun hanya 20% guru yang memiliki wawasan/pengetahuan dan ke-mampuan untuk mengembangkannya. Hal ini mengindikasikan bahwa model pembelajaran berbasis budaya dapat diterima dengan baik, meskipun wawasan dan pengetahuan mereka masih minim. Minimnya wawasan/pengetahuan guru terhadap model pembelajaran sains berbasis budaya terletak pada  kemampuan guru untuk mencari contoh-contoh kejadian/peristiwa yang mengandung nilai kearifan lokal untuk dapat  diintegrasikan ke dalam silabus atau rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini terbukti dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun guru sangat sedikit mengaitkan dengan budaya lokal. Begitu juga dalam observasi langsung selama proses pembelajaran, guru masih tampak ragu dan canggung untuk menghubungkan dengan budaya lokal. Hal ini disebabkan karena selama ini guru belum pernah mengembangkannya dalam pembelajaran sains di sekolah. Yang menarik justru model ini telah dicobakan melalui penelitian kelas (PTK) yang juga sebagai payung penelitian ini oleh seorang mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya di SMP Negeri 3 Banjar ternyata mendapat respon yang sangat positif oleh baik guru maupun siswa. Di samping itu, prestasi belajar siswa juga mengalami peningkatan dari awal sampai akhir siklus tindakan.
Hasil analisis terhadap silabus kelas VII dan VIII SMP ditemukan 10 kompetensi dasar (KD) yang dapat dikembangkan dengan model pembelajaran berbasis budaya. Pengembangan kompetensi dasar ini akan mampu menjembatani pengetahuan dan keyakinan siswa yang merupakan budaya aslinya menuju konsepsi ilmiah. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Cobern dan Aikenhead (1996)  yang menyatakan jika subkultur sains  modern yang diajarkan di sekolah harmonis dengan subkultur kehidupan sehari-hari siswa, pembelajaran sains akan berkecenderungan memperkuat pandangan siswa tentang alam semesta, dan hasilnya adalah enkulturasi. Dengan kata lain, di satu sisi kompetensi dasar siswa akan meningkat dan di sisi lain kearifan lokal siswa  tetap lestari.    
Metode pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam pembelajaran sains untuk pengembangan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal adalah metode/penyelidikan           ( ), observasi langsung ( ), dan diskusi/ ( ). Dalam penelitian ini, ketiga metode yang cocok digunakan secara pro-porsional sesuai dengan strategi yang dirancang. Ketiga metode ini yaitu metode inkuiri, demonstrasi, dan diskusi merupakan metode penting dan cocok diterapkan dalam pembelajaran sains dalam upaya mengembangkan keteampilan proses sains atau sering disebut keterampilan berpikir (thinking skill) (Harlen, 1992; Trowbridge & Bybee, 1990; Dahar, 1989; Carin & Sund, 1975).
Sumber belajar yang cocok digunakan dalam pembelajaran sains bagi pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa adalah lingkungan alamiah dan sosial budaya ( ), buku-buku teks/dan buku pelajaran ( ), audio visual ( ),dan  internet ( ). Dalam penelitian untuk tahap selanjutnya, sumber belajar yang digunakan adalah lingkungan alamiah dan sosial, buku-buku pelajaran dan buku teks lainnya, audio visual, dan internet. Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains untuk siswa SMP  sumber belajarnya yang paling sesuai adalah lingkungan alamiah dan sosial siswa, buku-buku pelajaran dan buku teks, di samping audio visual dan internet. Lingkungan alamiah dan sosial merupakan sumber belajar yang ada di sekitar siswa yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam merancang pembelajaran sesuai dengan materi pelajaran yang dibelajarkan. Melalui sumber belajar alamiah dan sosial budaya, siswa akan lebih mudah menghubungkan pelajaran yang sedang mereka pelajari dengan kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam merancang kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan alamiah dan sosial budaya  siswa sebagai sumber belajar. Audio visual dianggap cocok dimanfaatkan dalam pembelajaran sains SMP  menginggat dewasa ini sudah cukup banyak media audio visual yang ada di sekolah maupun di pasaran yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sains. Hal ini dibutuhkan terutama dalam menjelaskan suatu fenomena yang sulit untuk dilihat secara langsung, seperti peredaran darah, denyut jantung. Dengan media audio visual, proses kerja peredaran adarah, denyut jantung, bayi dalam kandungan akan dapat terlihat dengan jelas dalam tayangan video. Pembelajaran dengan bantuan audio visual ini tentu akan memotivasi siswa belajar dan sudah barang tentu merangsang pikiran siswa karena mereka secara nyata dapat mengamati secara langsung proses-proses alamiah.  Buku-buku sumber merupakan sumber belajar konvensional  yang sudah terbiasa digunakan para guru dalam pembelajaran sains merupakan hal yang wajar. Adanya perubahan orientasi guru kepada sumber internet merupakan suatu kemajuan dalam mengembangkan pembelajaran sains berbasis ICT. Mengingat sumber belajar ini merupakan tuntutan jaman sehingga dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahauan dan teknologi yang begitu cepat sehingga paling tidak dapat mengikuti atau setara dengan negara-negara maju dalam bidang pendidikan lainnya.
Sistem penilaian yang cocok untuk pembelajaran sains bagi pengembangan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal   adalah non tes seperti penilaian kinerja, sikap, portofolio, produk dan penilaian dengan menggunakan tes. Ini berarti kedua bentuk penilaian dapat digunakan dalam mengembangkan kompetensi dasar dan kenilai kearifan lokal dalam pembelajaran sains di SMP. Hal ini sesuai dengan temuan Suastra (2006) yang mengatakan bahwa penilaian otentik cukup efektif digunakan dalam pembelajaran sains (Fisika). Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat pergeseran pandangan guru akan pentingnya penilaian non tes dalam pembelajaran IPA. Selama ini dan dari hasil wawancara dengan guru, tes dianggap sebagai satu-satunya alat penilai keberhasilan belajar siswa. Dengan diterapkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan, guru telah banyak memperoleh wawasan melalui penataran-penataran sehingga kesadaran akan pentingnya non tes mulai bangkit. Hasil kuesioner penelitian ini menunjukkan bahwa non tes memperoleh rerata lebih tinggi dari tes. Ini berarti ada pergeseran pandangan tentang pentingnya non tes dalam pembelajaran sains yang selama ini terabaikan.

BAB III
Penutup

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan rumusan masalah,  dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. 1) Terdapat 11 kompetensi dasar (KD) yang ada di kelas VII dan VIII yang dapat dikembangkan pembelajaran sains berbasis budaya di SMP.  2) Metode yang cocok untuk pembelajaran sains berbasis budaya untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal adalah metode penyelidikan/ eksperimen, observasi lapangan, dan  metode diskusi/tanya jawab, yang ketiganya digunakan secara proporsional dalam pembelajaran. 3) Sumber belajar yang cocok untuk mendukung kegiatan pembelajaran sains berbasis budaya  adalah lingkungan alamiah dan sosial-budaya, buku-buku pelajaran dan buku teks, audio visual, dan internet. 4) Sistem penilaian yang cocok untuk pembelajaran sains berbasis budaya untuk mengembangkan kompetensi dasar sains dan nilai kearifan lokal adalah penilaian non tes (kinerja, sikap, portofolio, produk) dan penilaian dengan tes. 5) Model konseptual  pembelajaran berbasis budaya untuk mengembangkan kompetensi dasar dan nilai kearifan lokal meliputi lima tahapan yaitu: (1) kegiatan awal, (2) eksplorasi (penyelidikan dari berbagai persepktif), (3) elaborasi, 4) konfirmasi, dan (5) kegiatan akhir.

3.2. Saran presentator
1.      Pengembangan pembelajaran sains berbasis budaya lokal sangat diperlukan agar kearifan lokal tetap terjaga dan lestari.
2.      Dalam rangka mengembangkan proses pembelajaran sains berbasis kerarifan lokal, masih diperlukan sosialisasi dan pelatihan yang lebih intensif untuk para guru.
3.      Diperlukan suatu petunjuk pelaksanaan yang jelas mengenai bagaiamana mengembangkan pembelajaran sains berbasis kearifan lokal,misalkan data apa saja yang diperlukan sebagai bahan untuk mengembangkan pembelajaran sains berbasis kearifan lokal tersebut.
4.      Hendaknya pengembangan pembelajaran berbasis budaya lokal tidak hanya pada mata pelajaran sains saja tapi juga pada mata pelajaran-mata pelajaran yang lain.
5.      Perlu segera dilakukan kajian lebih lanjut terhadap penelitian ini untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran sains berbasis budaya untuk dapat mengembangkan kompetensi dasar dan kearifan lokal yang sangat dibutuhkan oleh guru sains SMP.

Daftar pustaka


Adimassana,Y.B.(2000). Revitalisasi pendidikan nilai di dalam sektor pendidikan formal. Atmadi & Setiyaningsih (eds). Transformasi pendidikan memasuki milenium ketiga. Yogyakarta: Pe-nerbit Kanisius
Borg,W.R & Gall,M.D (1989). Educational research. New York: Longman.
Budhisantoso,S.(1992). Pendidikan Indonesia berakar pada kebudayaan nasional. Makalah pada konvensi nasional pendidikan Indonesia II.Medan.
Cobern,W.W. Aikenhead,G.S. (1996). Cultural Aspects of  learning science. SLCSP Working paper#121.http://www.wmich.edu/slcsp/ 121. htm’.
Dahar. R.W. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Depdiknas (2005). Mutu pendidikan Indonesia tahun 2003 “ Laporan trends in international  mathematics and science study . Warta Balit-bang Depdiknas  Vol II No. 1 Januari  2005.

George.J. (2001). Culture and science education: Developing world. http://www.id21.org/ educa-tion/e3jg1g2.html.
Harlen, W. (1992). The teaching of science. London: David Fulton Publishers.
Jeged,O.J, Aikenhead.G, and  Cobern,W. (2002) Cultural studies in science educationhttp://www.157.80.39.44/jrp/report.htm.
Johnson,E.B. (2002). Contextual teaching learning. California: Corwin Press.
Pelly,U (1992). Pendidikan berakar pada kebudayaan nasional. Makalah pada konvensi nasional pendidikan Indonesia II. Medan.
Suastra,I W. (2005). Merekonstruksi sains asli (Indigenous Science) dalam rangka mengem-bangkan pendidikan sains berbasis budaya lokal di sekolah (Studi etnosains pada masya-rakat Penglipuran Bali). Disertasi. Tidak Dipublikasikan.
Suastra, I,W. dkk. (2006). Pengembangan asesmen otentik dalam pembelajaran Fisika di SMA. Laporan penelitian. Undiksha Singaraja.
Suastra, I.W (2006). Perspektif Kultural Pendidikan Sains: Belajar Sebagai Proses Inkulturasi. Jurnal Pendidikan dan Prngajaran  Undiksha (Terakreditasi) . No. 3 Tahun XXXIX Juli 2006.
13
Suastra. I.W (2005). Merekonstruksi Sains Asli (Indi-genous Science) dalam Upaya  Mengembang-kan Pendidikan Sains Berbasis Budaya Lokal di Sekolah.  Jurnal Pendidikan dan Penga-jaran IKIP Negeri Singaraja (Terakreditasi). Volume 38   No.3, Juli 2005. 
Trawbridge, L & Rodger W Bybee. (1990). Becoming a secondary school science teacher. London: Merril Publishing Company.
Zamroni. (2000). Paradigma pendidikan masa depan. Yogyakarta: Bigraf

           Publishing.

0 komentar:

Post a Comment