Monday, February 13, 2017

penelitian naratif

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang masalah
Pengalaman dalam kehidupan individu diceritakan kepada orang lain. Mereka memberikan pandangan mereka tentang kelas, sekolah, masalah pendidikan dan latar dimana mereka bekerja. Ketika individu menceritakan kehidupannya kepada peneliti, mereka merasa didengarkan. Informasi yang mereka berikan kepada peneliti berupa cerita pengalaman-pengalaman pribadi. Data yang berupa cerita dilaporkan menggunakan desain penelitian naratif. Tujuan makalah ini mendefinisikan desain penelitian naratif, mengidentifikasi kapan penelitian naratif digunakan, menentukan karakteristik kunci, menentukan langkah-langkah dalam melakukan penelitian, dan menentukan daftar kriteria untuk mengevaluasi desain penelitian naratif.

B.       Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam makalah ini mengenai:
1.         Apa yang dimaksud dengan penelitian naratif ?
2.         Kapan penelitian naratif digunakan?
3.         Apa saja jenis-jenis penelitian naratif ?
4.         Apa karakteristik kunci penelitian naratif ?
5.         Apa potensi masalah dalam mengumpulkan cerita naratif?
6.         Apa langkah-langkah dalam melakukan penelitian naratif ?
7.         Apa kriteria untuk  mengevaluasi penelitian naratif ?

  
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi penelitian naratif
Penelitian naratif adalah laporan bersifat narasi yang menceritakan urutan peristiwa secara terperinci. Dalam desain penelitian naratif, peneliti menggambarkan kehidupan individu, mengumpulkan cerita tentang kehidupan orang-orang, dan menulis narasi pengalaman individu (Connelly & Clandinin, 1990). Penelitian naratif biasanya berfokus pada studi satu orang atau individu tunggal dan bagaimana individu itu memberikan makna terhadap pengalamannya melalui cerita-cerita yang disampaikan, pengumpulan data dengan cara mengumpulkan cerita, pelaporan pengalaman individu, dan membahas arti pengalaman itu bagi individu.
Penelitian naratif biasanya digunakan ketika peneliti ingin membuat laporan naratif dari cerita individu. Peneliti membuat ikatan dengan partisipan dengan tujuan supaya peneliti maupun partisipan merasa nyaman. Bagi partisipan berbagi cerita akan membuatnya merasa ceritanya itu penting dan merasa didengarkan.
Penelitian naratif juga digunakan ketika cerita memiliki kronologi peristiwa. Penelitian ini berfokus pada gambar mikroanalitik (cerita individu) daripada gambar yang lebih luas tentang norma kebudayaan, seperti dalam etnografi, atau teori-teori umum dan abstrak, seperti dalam grounded theory.
Desain penelitian naratif ditinjau secara luas dalam bidang pendidikan baru pada tahun 1990. Tokoh pendidikan D. Jean Clandinin dan Michael Connelly untuk pertama kalinya yang memberikan tinjauan penelitian naratif dalam bidang pendidikan. Mereka menyebutkan dalam tulisannya beberapa aplikasi penelitian naratif dalam ilmu sosial, menguraikan proses pengumpulan catatan-catatan naratif dan mendiskusikan struktur atau kerangka penelitian dan penulisan laporan penelitian naratif.
Tren atau kecenderungan mempengaruhi perkembangan penelitian naratif dalam bidang pendidikan. Cortazzi (1993) mengemukakan tiga faktor. Pertama, sekarang ini ada peningkatan perhatian pada refleksi guru. Kedua, perhatian lebih ditekankan pada pengetahuan guru (apa yang mereka tahu, bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menjadi profesional, dan bagaimana mereka membuat tindakan dalam kelas). Ketiga, pendidik mencoba membawa suara guru ke permukaan dengan memberdayakan guru untuk melaporkan tentang pengalaman mereka.
B.       Jenis-jenis penelitian naratif
Beberapa jenis bentuk penelitian naratif antara lain adalah otobiografi, biografi, dokumen pribadi, riwayat hidup, personal accounts, etnobiografi, otoetnografi. Jika peneliti merencanakan melakukan studi naratif, maka perlu mempertimbangkan jenis studi naratif apa yang akan dilakukan. Dalam studi naratif, untuk mengetahui jenis naratif apa yang akan digunakan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui karakteristik esensial dari tiap-tiap jenis. Lima pertanyaan berikut ini yang akan membantu dalam menentukan jenis studi naratif.
1.         Siapa yang menulis atau mencatat cerita?
Menentukan siapa yang menulis dan mencatat cerita individu adalah perbedaan mendasar dalam penelitian naratif. Biografi adalah bentuk studi naratif dimana peneliti menulis dan mencatat pengalaman orang lain. Naratif otobiografi individu yang menjadi subjek studi yang menulis laporannya.
2.         Berapa banyak dari suatu kehidupan yang dicatat dan disajikan?
Riwayat hidup adalah suatu naratif dari keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Fokusnya sering meliputi titik balik atau peristiwa penting dalam kehidupan individu. Dalam pendidikan, studi naratif secara khusus tidak meliputi laporan dari suatu keseluruhan kehidupan tetapi malah berfokus pada suatu bagian atau peristiwa tunggal dalam kehidupan individu.
3.         Siapa yang memberikan cerita?
Faktor ini secara khusus relevan dalam pendidikan, dimana tipe pendidik atau tenaga pendidik menjadi fokus dalam beberapa studi naratif. Sebagai contoh, naratif guru merupakan personal account guru tentang pengalamannya di dalam kelas. Studi naratif yang lain berfokus pada siswa di dalam kelas. Beberapa individu yang lain dalam latar pendidikan dapat memberikan cerita, misalnya tenaga administrasi, pramusaji, tukang kebun dan tenaga kependidikan yang lain.
4.         Apakah suatu pandangan teoretis digunakan?
Suatu pandangan teoretis dalam penelitian naratif adalah pedoman perspektif atau ideologi yang memberikan kerangka untuk menyokong dan menulis laporan. Pandangan teoretis untuk Amerika latin menggunakan pandangan “testimonios”, untuk cerita tentang wanita menggunakan perspektif  “feminist”.
5.         Dapatkah bentuk naratif dikombinasikan?
Suatu studi naratif mungkin berupa biografi karena peneliti menulis dan melaporkan tentang partisipan dalam penelitiannya. Penelitian juga dapat berfokus pada suatu studi pribadi dari seorang guru. Hal ini dapat menunjukkan suatu peristiwa dalam kehidupan seorang guru, misalnya pemecatan guru dari sekolah, menghasilkan suatu naratif pribadi. Jika individunya seorang wanita, peneliti akan menggunakan perspektif teoretis “feminist” untuk menguji kekuatan dan mengontrol masalahnya. Pada akhirnya menghasilkan suatu naratif dari kombinasi beberapa unsur yang berbeda yaitu gabungan dari biografi, personal account, cerita guru, dan perspektif “feminist”.

C.      Karakteristik kunci penelitian naratif
Penelitian naratif memiliki beberapa karakteristik bersama. Peneliti naratif mengeksplorasi suatu penelitian masalah pendidikan dengan memahami pengalaman individu. Tinjauan pustaka memainkan sedikit peran, khususnya dalam mengarahkan pertanyaan penelitian dan peneliti memberi tekanan pada pentingnya pengetahuan dari partisipan dalam suatu latar atau setting. Pengetahuan ini diperoleh dari cerita. Cerita merupakan data dan peneliti secara khusus mengumpulkannya melalui wawancara atau percakapan informal. Datanya disebut “field text” atau teks lapangan (Clandinin & Connelly, 2000), yang memberikan data kasar/mentah bagi peneliti untuk dianalisis seperti yang diceritakan berdasarkan unsur masalah, karakter, latar, tindakan dan resolusi. Peneliti membuat cerita naratif dan seringkali mengidentifikasi tema-tema atau kategori-kategori yang muncul. Peneliti menulis atau menyusun kembali cerita menurut kronologi kejadian, mendeskripsikan penglaman masa lalu, sekarang dan masa depan dalam latar atau konteks tertentu. Sepanjang proses mengumpulkan dan menganalisis data, peneliti berkolaborasi dengan partisipan, kemudian peneliti dapat menjalin cerita menjadi laporan akhir.
Tujuh karakteristik utama penelitian naratif yaitu: pengalaman individu, kronologi pengalaman, pengumpulan cerita, restoryingcoding tema, konteks atau latar dan kolaborasi. Tujuh karakteristik ini menjadi pusat penelitian.
Peneliti naratif berfokus pada pengalaman satu individu atau lebih. Peneliti mengeksplorasi pengalaman-pengalaman individu. Pengalaman yang dimaksud pengalaman pribadi dan pengalaman sosial. Penelitian naratif berfokus memahami pengalaman masa lalu individu dan bagaimana pengalaman itu memberi kontribusi pada pengalaman masa sekarang dan masa depan.
Memahami masa lalu individu seperti juga masa sekarang dan masa depan adalah salah satu unsur kunci dalam penelitian naratif. Peneliti naratif menganalisis suatu kronologi dan melaporkan pengalaman individu. Ketika peneliti berfokus pada pemahaman pengalaman ini, peneliti memperoleh informasi tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan partisipan. Kronologi yang dimaksud dalam penelitian naratif adalah peneliti menganalisis dan menulis tentang kehidupan individu menggunakan urutan waktu menurut kronologi kejadian (Cortazzi, 1993).
Peneliti memberi tekanan pada pengumpulan cerita yang diceritakan oleh individu kepadanya atau dikumpulkan dari beragam field texts. Cerita dalam penelitian naratif adalah orang pertama langsung secara lisan yang mengatakan atau menceritakan. Cerita biasanya memiliki awal, tengah dan akhir. Cerita secara umum harus terdiri dari unsur waktu, tempat, plot dan adegan.
Peneliti naratif mengumpulkan cerita dari beberapa sumber data. Field texts dapat diwakili oleh informasi dari sumber lain yang dikumpulkan oleh peneliti dalam desain naratif. Cerita dikumpulkan dengan cara diskusi, percakapan atau wawancara.
Cerita pengalaman individu yang diceritakan kepada peneliti diceritakan kembali dengan kata-kata sendiri oleh peneliti. Peneliti melakukan ini untuk menghubungkan dan mengurutkannya. Restorying adalah proses dimana peneliti mengumpulkan cerita, menganalisisnya dengan unsur kunci cerita (waktu, tempat, plot dan adegan) dan kemudian menulis kembali cerita itu untuk menempatkannya dalam urutan kronologis. Ada beberapa tahap untuk melakukan restory :
1.         Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.
2.         Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.
3.    Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi.
Peneliti naratif dapat memberi kode dari cerita atau data menjadi tema-tema atau kategori-kategori. Identifikasi tema-tema memberikan kompleksitas sebuah cerita dan menambah kedalaman untuk menjelaskan tentang pemahaman pengalaman individu. Peneliti menggabungkan tema-tema menjadi kalimat mengenai cerita individu atau memasukannya sebagai bagian terpisah dalam suatu penelitian. Peneliti naratif secara khusus memberi tema utama setelah proses restory.
Peneliti menggambarkan secara terperinci latar atau konteks dimana pengalaman individu menjadi pusat fenomenanya. Ketika melakukan restory cerita partisipan dan menentukan tema, peneliti memasukkan rincian latar atau konteks pengalaman partisipan. Latar atau setting dalam penelitian naratif boleh jadi teman-teman, keluarga, tempat kerja, rumah dan organisasi sosial atau sekolah.
Peneliti dan partisipan berkolaborasi sepanjang proses penelitian. Kolaborasi dalam penelitian naratif yaitu peneliti secara aktif meliput partisipannya dalam memeriksa cerita yang dibukakan atau dikembangkan. Kolaborasi bisa meliputi beberapa tahap dalam proses penelitian dari merumuskan pusat fenomena sampai menentukan jenis field texts yang akan menghasilkan informasi yang berguna untuk menulis laporan cerita pengalaman individu. Kolaborasi meliputi negoisasi hubungan antara peneliti dan partisipan untuk mengurangi potensi gap atau celah antara penyampai naratif dan pelapor naratif. Kolaborasi juga termasuk menjelaskan tujuan dari penelitian kepada partisipan, negoisasi transisi dari mengumpulkan data sampai menulis cerita dan menyusun langkah-langkah untuk berbaur dengan partisipan dalam penelitian.

D.      Potensi masalah yang muncul dalam mengumpulkan cerita
Apakah cerita itu autentik? Partisipan mungkin saja memberikan data atau cerita palsu (Connelly & Clandinin, 1990). Data palsu menimbulkan masalah bagi peneliti karena peneliti sangat bergantung pada informasi dari partisipan. Kumpulan field texts, triangulasi data, member checking dapat membantu memastikan bahwa data yang dikumpulkan baik.
Partisipan mungkin saja tidak dapat menceritakan cerita/kejadian yang sebenarnya. Ketidakmampuan ini dapat muncul ketika pengalaman itu sungguh terlalu menakutkan untuk dilaporkan atau terlalu buruk untuk diceritakan. Ketidakmampuan ini juga muncul ketika individu takut menerima sanksinya jika mereka menceritakan pengalamannya.
Siapa yang memiliki cerita? Dalam melaporkan cerita, peneliti beresiko melaporkan cerita yang belum mendapat ijin untuk diceritakan. Peneliti harus mendapat ijin untuk melaporkan cerita dan menjelaskan kepada individu tujuan dan manfaat cerita pada awal memulai penelitian.
Apakah suara partisipan hilang pada akhir laporan naratif? Ketika melakukan restory, mungkin saja laporan merefleksikan cerita peneliti dan bukan cerita partisipan. Penggunaan secara luas kutipan partisipan, bahasa yang tepat dari partisipan dan dengan hati-hati menyusun waktu dan tempat cerita, dapat membantu mencegah terjadinya masalah ini. Masalah yang berhubungan adalah apakah peneliti mengambil keuntungan dengan mengorbankan atau merugikan partisipan. Memberikan timbal balik atau balasan kepada partisipan misalnya memberikan penghargaan kepada partisipan dalam penelitian atau menjadi sukarelawan  bagi partisipan akan menguntungkan baik partisipan maupun peneliti.

E.       Langkah-langkah dalam melakukan penelitian naratif
Pendidik/peneliti yang melakukan studi naratif melewati proses yang sama tanpa memperhatikan jenis atau bentuk penelitian naratif. Prosesnya terdiri dari tujuh langkah utama, khususnya selama peneliti melakukan studi naratif. Ada tujuh langkah dalam melakukan penelitian naratif.

1.      Mengidentifikasi satu pusat fenomena untuk dieksplorasi yang menunjukkan suatu masalah pendidikan.
Proses penelitian dimulai dengan memfokuskan pada masalah penelitian untuk diteliti dan diidentifikasi. Satu pusat fenomena untuk dieksplorasi. Walaupun fenomena yang ditarik dalam penelitian adalah cerita (Connelly & Clandinin, 1990), tetapi peneliti perlu untuk mengidentifikasi suatu masalah atau keprihatinan peneliti pada suatu kondisi/keadaan tertentu. Peneliti berusaha untuk memahami pengalaman pribadi atau sosial dari seorang individu atau lebih dalam lingkup pendidikan.
2.      Secara sengaja (purposefully) memilih seorang individu untuk mempelajari tentang satu fenomena tersebut.
Peneliti mencari seorang individu atau lebih yang dapat memberikan suatu pemahaman tentang fenomena itu. Partisipan mungkin seseorang yang khas atau seseorang yang sangat penting untuk penelitian karena ia telah mengalami masalah tertentu atau situasi tertentu. Walaupun kebanyakan studi naratif meneliti hanya individu tunggal, peneliti dapat meneliti beberapa individu dalam penelitian, masing-masing dengan cerita berbeda yang dapat menimbulkan konflik atau malah saling mendukung satu sama lain.
3.      Mengumpulkan cerita dari individu tersebut.
Peneliti mengumpulkan field texts (data) yang akan memberikan cerita dari pengalaman partisipan. Boleh jadi langkah terbaik untuk mengumpulkan cerita adalah memiliki cerita partisipan tentang pengalamannya melalui percakapan atau wawancara. Peneliti dapat mengumpulkan field texts atau teks lapangan dari sumber yang lain juga, seperti jurnal atau catatan harian, mengamati individu dan membuat “fieldnote” atau catatan lapangan, mengumpulkan surat-surat yang dikirim oleh individu, mengumpulkan cerita individu dari anggota keluarganya, mengumpulkan dokumen-dokumen resmi mengenai individu, mengumpulkan foto-foto dan barang-barang pribadi yang lain dan mencatat pengalaman-pengalaman hidup individu.
4.      Restory atau menceritakan kembali cerita individu.
Proses ini meliputi pemeriksaan data kasar/mentah, mengidentifikasi unsur-unsur cerita di dalamnya, mengurutkan atau mengorganisir unsur-unsur cerita dan menyajikan ulangan cerita yang menggambarkan pengalaman partisipan. Peneliti melakukan restory karena pendengar dan pembaca akan lebih memahami cerita yang diceritakan oleh partisipan jika peneliti mengurutkan menjadi urutan yang logis.          Apakah peneliti mengeidentifikasi unsur-unsur cerita? Bagaimana peneliti mengurutkan dan mengorganisir unsur-unsur cerita? Peneliti naratif membedakan unsur-unsur cerita menjadi pilihan, misalnya, waktu, tempat, plot, dan adegan merupakan unsur utama terdapat dalam restory oleh peneliti (Connelly & Clandinin, 1990).
5.      Berkolaborasi dengan partisipan yang memberi cerita.
Peneliti secara aktif berkolaborasi dengan partisipan sepanjang proses penelitian. Kolaborasi ini dapat mengasumsikan beberapa bentuk, seperti negoisasi masuk ke tempat penelitian dan negoisasi dengan partisipan, bekerja secara dekat dengan partisipan supaya mendapatkan field texts untuk memahami pengalaman partisipan, menulis dan menceritakan cerita dalam kalimat atau kata-kata peneliti sendiri.
6.      Menulis laporan naratif tentang pengalaman partisipan.
Langkah utama dalam proses penelitian adalah supaya peneliti menulis dan menyajikan cerita dari pengalaman partisipan. Restorying peneliti tentu saja merupakan pusat dalam laporan naratif. Selanjutnya peneliti harus memasukkan suatu analisis untuk menyoroti tema khusus yang muncul sepanjang cerita.
7.      Validasi keakuratan laporan.
Peneliti juga perlu melakukan validasi keakuratan dari laporan naratifnya. Ketika berkolaborasi dengan partisipan, validasi ini dapat terjadi melalui kegiatan penelitian. Beberapa validasi praktis seperti member checking, triangulasi di antara sumber-sumber data dan mencari bukti-bukti dapat membantu menentukan keakuratan dan kredibilitas laporan naratif.

F.       Mengevaluasi penelitian naratif
Sebagai salah satu bentuk penelitian kualitatif, penelitian naratif perlu konsisten dengan kriteria penelitian kualitatif. Ada aspek-aspek spesifik naratif dalam membaca dan mengevaluasi studi naratif yang harus dipertimbangkan. Daftar pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laporan penelitian naratif.
-        Apakah peneliti berfokus pada pengalaman individu?
-        Apakah fokus pada seseorang atau beberapa orang individu?
-        Apakah peneliti mengumpulkan cerita suatu pengalaman individu?
-        Apakah peneliti malakukan restory cerita partisipan?
-        Dalam restorying, apakah suara partisipan terdengar seperti suara peneliti?
-        Apakah peneliti mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari cerita?
-        Apakah cerita ini termasuk informasi tentang tempat atau latar dari individu?
-        Apakah cerita memiliki kronologis, urutan temporal termasuk masa lalu, sekarang, dan masa depan?
-        Apakah ada bukti peneliti berkolaborasi dengan partisipan?
-        Apakah cerita itu cukup menjawab tujuan dan pertanyaan peneliti?

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Penelitian naratif sebagai suatu bentuk populer dari penelitian kualitatif. Penelitian naratif menjadi suatu cara untuk melakukan studi tentang guru, siswa dan tenaga kependidikan lainnya dalam latar pendidikan. Penelitian naratif mendeskripsikan pengalaman hidup individu, mengumpulkan cerita (data), menceritakan kembali dan menulis laporan naratif tentang pengalaman-pengalaman individu. Studi kualitatif ini berfokus pada mengidentifikasi pengalaman individu tunggal atau beberapa individu dan memahami pengalaman masa lalu, sekarang dan masa depannya.
            Peneliti naratif mengumpulkan cerita dari individu dan menceritakan kembali cerita partisipannya menjadi suatu kerangka kronologi karakter, latar, tindakan, masalah dan tindakan resolusinya. Peneliti dapat mengumpulkan ”field texts” atau teks lapangan dan membentuknya menjadi tema-tema atau kategori-kategori dan mendeskripsikan secara terperinci latar atau konteks cerita. Peneliti menekankan kolaborasi dengan partisipan sepanjang proses penelitian.
            Langkah-langkah dalam melakukan penelitian naratif adalah mengidentifikasi masalah yang sesuai untuk penelitian naratif dan memilih satu partisipan atau lebih untuk melakukan studi. Peneliti kemudian mengumpulkan cerita-cerita dari partisipan tentang pengalaman hidupnya dan menceritakan kembali cerita untuk membentuk kronologi kejadian termasuk karakter tokoh, latar, masalah, tindakan dan resolusi. Sepanjang proses ini peneliti berkolaborasi dengan partisipan dan cerita yang disusun oleh peneliti menceritakan pengalaman hidup partisipannya.

DAFTAR PUSTAKA

Clandinin, D. J., & Connelly, F. M. (1990). Stories of experience and narrative inquiry. Educational Researcher, 1S(5), 2—14.
Clandinin, D. J., & Connelly, F. M. (2000). Narrative inquiry: experience and story in qualitative research. San Francisco: Jossey-Bass.
Cortazzi, M. (1993). Narrative analysis. London: Falmer Press.
Creswell, J. W.(2008). Educational research, planning, conducting, and evaluating   quantitative  and qualitative research. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Creswell, J. W.(2010). Research design, penedekatan kualitatif, kuantitaif, dan mixed 3rd ed. (Terjemahan Achmad Fawaid). Thousand Oaks, CA : Sage. (Buku asli diterbitkan tahun 2009).

0 komentar:

Post a Comment