Monday, February 13, 2017

filsafat ilmu pendidikan kimia

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendapat para filsuf tentang ilmu, dalam hal ini dilakukan reduksi untuk memahami pikiran filsuf: Socrates (pertanyaan), Thales (air), Anaximenes (udara), Phytagoras (suci, jiwa kekal), Permenides (tetap), Heraclitos (berubah), Demokritos (benar dan tidak benar), Plato (pengalaman dan pikiran), Aristoteles (pengalaman), Euchides (deduksi), Plotinos (pancaran dari Tuhan), Rene Descartes (keraguan), Bacon (terbebas dari idol), Berkeley (tipuan belaka), Hume (totalitas pengalaman), Kant (keputusan), Fitche (otonom, idealisme), Hegel (sejarah), Comte (positivisme), Darwin (perkembangan), Husserl (fenomenologi), Hartmann (nilai), Satre (merdeka, nihilisme), Freud (asmara), Einstein (relatif), Piaget (konstruktivist), Wittgenstain (bahasa), Brouwer (intuisi), Russell (logika), Lakatos (kesalahan, fallibisme), Stuartmill (manfaat), Ernest (socio-konstruktivist). Semua filsuf membangun filsafat mereka berdasarkan pikiran dan pengetahuan mereka, entah dari mana dan bagaimana pengetahuan itu diperoleh menurut cara dan pandangan mereka. Dalam filsafat, reduksi dilakukan untuk membangun filsafat dengan memahami pikiran para filsuf.
Perkembangan filsafat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu (pengetahuan) dan teknologi bahkan dalam kemajuan dunia pendidikan. Dalam teori psikologi pendidikan khususnya, filsafat memberikan banyak kontribusi dalam teori perkembangan. Tokoh-tokoh yang muncul silih berganti dengan memberikan kontribusi berbagai pandangan dan teori psikologi perkembangan yang mempengaruhi dunia pendidikan. Diantara mereka tokoh-tokoh yang berpengaruh antara lain ialah Locke, Gesell, Darwin, Montessori, Werner, Piaget, Kohlberg, Pavlov, Watson, Skinner, Bandura, Vygotsky, Freud, Erikson, Schactel, Jung, dan Chomsky.
Teori dan praktik pendidikan dilandasi dan dilatar belakangi oleh pemikiran para filsuf. Pada dasarnya teori-teori yang diturunkan dari teori yang ada pada tiga kategori ilmu yaitu humaniora, ilmu alam, dan ilmu sosial. Sinergi dari berbagai disiplin ilmu menghasilkan teori atau pendekatan pada berbagai cabang atau disiplin ilmu (Elaine, 2010).
Di Indonesia, ironisnya ujian nasional (UN) untuk menentukan kelulusan siswa, ini salah satu bahaya determinisme. Mata pelajaran yang diujikan termasuk kelompok mata pelajaran IPA. Pembelajaran IPA disini menuntut siswa menghafal lebih banyak teori dan konsep, dan lebih banyak berlatih soal supaya siswa siap menghadapi UN. Kecenderungan yang terjadi guru mengajar siswa hanya untuk persiapan ujian nasional dengan memberi lebih banyak materi pelajaran, lebih banyak latihan soal, lebih banyak menghafal konsep. Guru banyak menjelaskan, siswa mendengar, mencatat, dan memahami. Guru bertanya siswa menjawab, itulah yang terjadi ada bahaya infinite regress. Pembelajaran cenderung bersifat tekstual, transfer pengetahuan, siswa pasif, inilah dunia sore hari. Peran filsafat ilmulah dibutuhkan untuk mengubah paradigma belajar seperti ini. Pembelajaran yang diharapkan adalah pembelajaran yang kontekstual, yang kostruktif, supaya siswa dapat memperoleh pengetahuan yang faktual, relevan dan inovatif. Siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dan berupaya memperoleh pengetahuan yang obyektif, inilah dunia pagi hari.
Pendidikan sains sebagai suatu bidang ilmu alam yang dapat diklasifikasikan ke dalam ilmu pendidikan dan sains. Sebagai ilmu pendidikan, pendidikan sains bertujuan untuk mencapai pendidikan yang berhasil yaitu membangun manusia secara utuh tidak hanya dalam hal pengetahuan tetapi juga karakter, kepribadian yang berhubungan dengan tingkah laku dan sikap moral. Dalam pendidikan sains, sains itu sendiri dipelajari dalam konteks pendidikan bukan sebagai ilmu murni atau terapan. Jadi pembelajaran sains disini untuk mencapai tujuan pendidikan.
Filsafat ilmu dan sains memainkan peran penting dalam ilmu pendidikan sains. Peran filsafat ilmu memberi pemahaman tentang pikiran para filsuf atau tokoh-tokoh ilmu pendidikan. Pendidik atau pengajar perlu mengetahui dan memahami pikiran para filsuf guna membangun dan mengembangkan teori ilmu pendidikan pada zamannya untuk masa depan. Sebagai pendidik/pengajar kimia yang telah mempelajari filsafat ilmu memiliki peran untuk membangun konsep sains kimia untuk mencapai tujuan pendidikan. Peran pendidik/pengajar kimia adalah mengutamakan pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya dalam hal pendidikannya baik secara sosial maupun individual, memperlengkapi siswa dengan berbagai kompetensi dalam bidang sains kimia. Dalam makalah ini penulis mencoba membangun filsafat pendidikan sains kimia dengan paradigma belajar konstruktivistik.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Apakah filsafat?
2.      Kapan muncul filsafat?
3.      Apa jenis-jenis klasifikasi filsafat?
4.      Apakah filsafat ilmu?
5.      Bagaimana pandangan teori perkembangan?
6.      Bagaimana peran filsafat membangun ilmu pendidikan sains kimia?


PEMBAHASAN

A.    Filsafat
Istilah Filsafat dalam bahasa inggris philosophy yang berasal dari bahasa yunani philosophia, yang terdiri dari dua kata: philia (persahabatan,cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Secara etimologi filsafat dapat diartikan cinta kebijaksanaan, cinta hikmah atau cinta pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut filsuf (wikipedia Indonesia). Pada perkembangannya filsafat memiliki makna yang luas menurut pandangan para filsuf. Bila dibuat definisi tanpa referensi atau tanpa merefer pikiran para filsuf akan mengalami reduksi yang berbahaya atau bisa juga terjadi infinite regress.
Filsafat adalah diriku, yaitu apapun yang ada di hatiku dan pikiranku, aku berupaya menjelaskannya, dan apa yang mungkin ada aku berupaya memahaminya. Definisi ini diperoleh dari perkuliahan filsafat ilmu Dr. Marsigit, M.A (2010). Bila definisi ini diekstensikan maka filsafat itu adalah kata-kataku, tulisan-tulisanku, yaitu apa pun yang ada dan yang mungkin ada di pikiranku dan di hatiku adalah filsafatku. Fisafat adalah proses konstruksi pikiran dan hati untuk membangun konsep, teori atau pengetahuan.
Filsafat dapat berarti upaya manusia untuk memahami hakekat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Dalam hal ini filsafat merupakan sebuah proses untuk memahami untuk menghasilkan sebuah produk pengetahuan, konsep atau teori. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti, memahami dan mengevaluasi suatu informasi atau fakta dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak secara obyektif, bahkan bila perlu bukti empiris.
Pengertian pokok tentang filsafat menurut pikiran filsuf dapat diekstensikan sebagai:
1.      Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.
2.      Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata.
3.      Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumber daya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.
4.      Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.
5.      Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu kita melihat apa yang kita katakan dan untuk menyatakan apa yang kita lihat (anonim).
Wittgenstein mempunyai aliran analitik (filsafat analitik) yang dikembangkan di negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi juga diteruskan di Polandia. Filsafat analitik menolak setiap bentuk filsafat yang berbau ″metafisik”. Filsafat analitik menyerupai ilmu-ilmu alam yang empiris, sehingga kriteria yang berlaku dalam ilmu eksata juga harus dapat diterapkan pada filsafat. Yang menjadi obyek penelitian filsafat analitik sebetulnya bukan barang-barang, peristiwa-peristiwa, melainkan pernyataan, aksioma, prinsip. Filsafat analitik menggali dasar-dasar teori ilmu yang berlaku bagi setiap ilmu tersendiri. Yang menjadi pokok perhatian filsafat analitik ialah analisa logika bahasa sehari-hari, maupun dalam mengembangkan sistem bahasa buatan.
Imanuel Kant mempunyai aliran atau filsafat ″kritik” yang tidak mau melewati batas kemungkinan pemikiran manusiawi. Rasionalisme dan empirisme ingin disintesakannya. Untuk itu ia membedakan akal, budi, rasio, dan pengalaman inderawi. Pengetahuan merupakan hasil kerja sama antara pengalaman indrawi yang aposteriori dan keaktifan akal, faktor priori. Struktur pengetahuan harus kita teliti. Kant terkenal karena tiga tulisan: (1) Kritik atas rasio murni, apa yang saya dapat ketahui. Ding an sich, hakikat kenyataan yang dapat diketahui. Manusia hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang kemudian oleh akal terus ditampung oleh dua wadah pokok, yakni ruang dan waktu. Kemudian diperinci lagi misalnya menurut kategori sebab dan akibat dst. Seluruh pengetahuan kita berkiblat pada Tuhan, jiwa, dan dunia. (2) Kritik atas rasio praktis, apa yang harus saya buat. Kelakuan manusia ditentukan oleh kategori imperatif, keharusan mutlak: kau harus begini dan begitu. Ini mengandaikan tiga postulat: kebebasan, jiwa yang tak dapat mati, adanya Tuhan. (3) Kritik atas daya pertimbangan dalam mengambil keputusan. Di sini Kant membicarakan peranan intuisi (perasaan dan fantasi), jembatan antara yang umum dan yang khusus.
Rene Descartes berpendapat bahwa kebenaran terletak pada diri subyek. Mencari titik pangkal pasti dalam pikiran dan pengetahuan manusia, khusus dalam ilmu alam. Metode untuk memperoleh kepastian ialah menyangsikan atau meragukan segala sesuatu. Hanya satu kenyataan tak dapat disangsikan, yakni aku berpikir, jadi aku ada. Dalam mencari proses kebenaran hendaknya kita pergunakan ide-ide yang jelas dan tajam. Setiap orang, sejak ia dilahirkan, dilengkapi dengan ide-ide tertentu, khusus mengenai adanya Tuhan dan dalil-dalil matematika. Pandangannya tentang alam bersifat mekanistik dan kuantitatif.
Setidaknya ada tiga karakteristik berpikir filsafat yakni:
1.      Sifat menyeluruh: seseorang ilmuwan tidak akan pernah puas jika hanya mengenal ilmu hanya dari sudut pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin tahu hakekat ilmu dari sudut pandang lain, kaitannya dengan moralitas, serta ingin menempatkan hal-hal yang telah diketahui ke dalam suatu sistem yang tertib (Arief Furchan,2007). Hal ini akan membuat ilmuwan tidak merasa sombong dan paling hebat. Di atas langit masih ada langit. contoh: Socrates menyatakan dia tidak tahu apa-apa, menurutnya ilmu adalah pertanyaan. Profesor matematika mengakui hanya mampu menguasai tidak lebih dari 2% dari ilmu matematika (Marsigit, 2010).
2.      Sifat mendasar: yaitu sifat yang tidak begitu saja percaya bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu itu benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar sendiri itu apa? Seperti sebuah pertanyaan yang melingkar yang harus dimulai dengan menentukan titik yang benar. Berpikir filsafat sebagai upaya memperoleh kebenaran obyektif dan tidak memihak.
3.      Spekulatif: dalam menyusun sebuah lingkaran dan menentukan titik awal sebuah lingkaran yang sekaligus menjadi titik akhirnya dibutuhkan sebuah sifat spekulatif baik sisi proses, analisis maupun pembuktiannya, sehingga dapat dipisahkan mana yang logis atau tidak.

B.     Munculnya filsafat
Filsafat, terutama filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas (wikipedia Indonesia).
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato (wikipedia Indonesia).

C.    Klasifikasi filsafat
Pada dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”,  “Filsafat Islam” dan “Filsafat Kristen”.
1.      Filsafat Barat
Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang Yunani kuno. Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu (wikipedia Indonesia).
·            Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi.
·            Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
·            Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia: etika dan estetika.
·            Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.
·            Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
Beberapa tokoh dalam filsafat barat yaitu: Wittgenstein, Imanuel Kant, Rene Descartes, dan yang lainnya. Dari tokoh-tokoh filsuf dan pengikutnya muncul banyak aliran dalam filsafat Barat.
2.      Filsafat Timur
Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Nama-nama beberapa filsuf: Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.
Pemikiran filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih dianggap agama dibanding filsafat. Pemikiran timur tidak menampilkan sistematika seperti dalam filsafat barat. Misalnya dalam pemikiran Cina sistematikanya berdasarkan pada konstrusksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya manusia dijalin secara runut.
3.      Filsafat Islam
Filsafat Islam ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihat dari sejarah, para filsuf dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani).
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya. (wikipedia Indonesia)
Majid Fakhri cenderung mengangap filsafat Islam sebagai mata rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak kematian Ibn Rusyd. Pendapat ini ditentang oleh Henry Corbin dan Louis Massignon yang menilai adanya eksistensi filsafat Islam. Menurut Kartanegara (2006) dalam filsafat Islam ada empat aliran yakni: (anonim)
1.      Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi (w. 866), Al Farabi (w. 950), Ibnu Sina (w. 1037), Ibn Rusyd (w. 1196), dan Nashir al Din Thusi (w.1274).
2.      Aliran Iluminasionis (Israqi)Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul (w. 1191). Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.
3.      Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.
4.      Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang filsuf syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi, Atau yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.
4.      Filsafat Kristen
Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura (wikipedia Indonesia).
John Creswell (2010) membagi empat pandangan dunia filosofis dalam penelitian yang umum digunakan oleh para peneliti, yaitu pandangan dunia post-positivisme, pandangan dunia konstruktivisme sosial, pandangan dunia advokasi dan partisipatoris, dan pandangan dunia pragmatik.
Post-positivisme
Konstruktivisme
·         Determinis
·         Reduksionis
·         Pengujian empiris
·         Verifikasi teori
·         Pemahaman
·         Makna yang beragam
·         Konstruksi sosial historis
·         Penciptaan teori
Advokasi/Partisipatoris
Pragmatisme
·         Bersifat politis
·         Berorientasi pada pemberdayaan
·         Kolaboratif
·         Berorientasi pada perubahan
·         Efek-efek tindakan
·         Berpusat pada masalah
·         Bersifat pluralistik
·         Berorientasi pada praktik nyata



D.    Filsafat Ilmu
Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Peran filsafat ilmu adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”.
Kant mengembangkan filsafat ilmu yang berangkat dari (i) luas pandangan empiris - seperti David Lewis, menurut peristiwa murni kontinjensi dalam ruang dan waktu (bersama dengan pertimbangan kesederhanaan, menentukan apakah akhirnya hukum alam, dan (ii) pandangan necessitarian tertentu - seperti David Armstrong, menurut hukum alam yang terdiri dari hubungan necessitation antara universal, yang kendala berlangsung pada peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu. Kant melakukannya dengan berpedoman bahwa (i) hukum ilmiah tidak melibatkan kebutuhan,tetapi bahwa (ii) kebutuhan ini didasarkan bukan pada (metafisika murni dan hence inaccessible) hubungan antara universal, tetapi lebih pada subjektif tertentu, kondisi a priori yang memungkinkan kita dapat bereksperimen, mengalami objek dalam ruang dan waktu.
Auguste Comte (1798-1857) berpendapat bahwa pemikiran manusia yang dikembangkan melalui beberapa tahap: mitos dan agama, metafisik dan tahap akhir positif yang ditandai dengan koleksi sistematis dari fakta-fakta yang diamati. Dia berpikir bahwa metode "positivis" sekarang harus beralih ke studi masyarakat. Dengan penemuan sosiologi, Comte mengusulkan bahwa pengetahuan kita tentang manusia dapat dijelaskan menggunakan metode yang sama dengan ilmu-ilmu alam. Dalam tahap awal asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran religi. Tahap berikutnya orang mulai berspekulasi tentang metafisika dan keberadaan wujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik. Tahap terakhir adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu) di mana asas-asas yang digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif. Tahap terakhir inilah karakteristik sains yang paling mendasar selain matematika.
Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistemologi. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti ilmu atau teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on=being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong pra-ilmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi).
Sumber pengetahuan dapat dikelompokan menjadi lima, yaitu pengalaman, otoritas, cara berpikir deduktif, cara berpikir induktif, dan pendekatan ilmiah (Arief Furchan,2007). 
Aspek ontologi ilmu pendidikan mencakup objek materil dan objek formil. Objek materil ilmu pendidikan ialah peserta didik seutuhnya, manusia yang lengkap aspek-aspek kepribadiannya, yaitu manusia yang berakhlak mulia dalam situasi pendidikan yang diharapkan mampu menjadi manusia sebagai makhluk sosial, sebagai warga masyarakat yang mempunyai ciri warga yang baik (good citizenship atau kewarganegaraan yang sebaik-baiknya). Agar pendidikan dalam prakteknya terbebas dari keragu-raguan, maka objek formal ilmu pendidikan dibatasi pada manusia seutuhnya di dalam fenomena atau situasi pendidikan (Nunu,2009).
Inti dasar epistemologis adalah agar dapat ditentukan bahwa dalam menjelaskaan objek formalnya, telaah ilmu pendidikan tidak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebagai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri baik secara makro maupun mikro sekalipun tidak dapat hanya menggunakan pendekatan kuantitatif atau pun eksperimental. Dengan demikian uji kebenaran pengetahuan sangat diperlukan secara korespondensi, secara koheren dan sekaligus secara praktis dan atau pragmatis.
Kemanfaatan teori pendidikan sebagai aspek aksiologi tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Oleh karena itu nilai ilmu pendidikan tidak hanya bersifat intrinsik sebagai ilmu seperti seni untuk seni, melainkan juga nilai ekstrinsik dan ilmu untuk menelaah dasar-dasar kemungkinan bertindak dalam praktek melalui kontrol terhadap pengaruh yang negatif dan meningkatkan pengaruh yang positif dalam pendidikan. Dengan demikian ilmu pendidikan tidak bebas nilai mengingat hanya terdapat batas yang sangat tipis antar pekerjaan ilmu pendidikan dan tugas pendidik sebagi pedagok. Dalam hal ini relevan sekali untuk memperhatikan pendidikan sebagai bidang yang sarat nilai.

E.     Teori Perkembangan
1.      Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Menurut Piaget, tahap perkembangan intelektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Umur 0-2 tahun ciri pokok perkembangannya, anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek. Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamah, mendengar, membau dan lain-lain.
Pada tahap sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum mempunyai gagasan” menjadi “ sudah mempunyai gagasan”. Gagasan mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum terakomodasi dengan baik. Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.
Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi yang baru.
Umur 2-7 tahun ciri pokok perkembangannya adalah penggunaan simbol/bahasa tanda dan konsep intuitif. Istilah “operasi” di sini adalah suatu proses berpikir logis, dan merupakan aktivitas sensorimotor. Dalam tahap ini anak sangat egosentris, mereka sulit menerima pendapat orang lain. Anak percaya bahwa apa yang mereka pikirkan dan alami juga menjadi pikiran dan pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa benda yang tidak bernyawa mempunyai sifat bernyawa.
Tahap pra-operasional dapat dibedakan atas dua bagian. Pertama, tahap pra-konseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.
Umur 7-11/12 tahun ciri pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret. Tahap operasi konkret (concrete operations) dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan operasi-operasi logis. Operasi itu bersifat reversible, artinya dapat dimengerti dalam dua arah, yaitu suatu pemikiran yang dapat dikembalikan kepada awalnya lagi. Tahap operasi konkret dapat ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret.
Umur 12 tahun ke atas ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis. Tahap operasi formal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada  tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti.
Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif sintifik, dan abstrak reflektif. Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan benar hanya jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan yang real.
Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi adanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri tahu atau tidak. Mereka bermimpi tentang masa depan yang menakjubkan atau mentransformasi dunia lewat ide-ide, tanpa berusaha menguji pikiran-pikiran mereka di dalam realitas. Mereka belajar bahwa konstruksi teoritis atau pun visi utopian bernilai hanya jika terkait dengan bagaimana keduanya beroperasi di dalam realitas (Crain, 2007).
Pemikiran induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel control, mencatat hasil, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama.
Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman.
Berdasarkan pengalamannya sejak masa kanak-kanak, Piaget berkesimpulan bahwa setiap makhluk hidup memang perlu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat melestarikan kehidupannya. Manusia adalah makhluk hidup, maka manusia juga harus beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal ini, Piaget beranggapan bahwa perkembangan pemikiran manusia mirip dengan perkembangan biologis, yaitu perlu beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget sendiri menyatakan bahwa teori pengetahuannya adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organisme yang beradaptasi dengan lingkungannya.
Menurut Piaget, mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual dimana pengalaman dan ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui untuk membentuk struktur pengertian yang baru. Setiap orang mempunyai struktur pengetahuan awal (skema) yang berperan sebagai suatu filter atau fasilitator terhadap berbagai ide dan pengalaman yang baru. Melalui kontak dengan pengalaman baru,skema dapat dikembangkan dan diubah, yaitu dengan proses asimilasi dan akomodasi. Skema seseorang selalu dikembangkan, diperbaharui , bahkan diubah untuk dapat memahami tayangan pemikiran dari luar. Proses ini disebut adaptasi pikiran.
Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan pengetahuan , Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yakni
1.      Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis suatu objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi dengan yang lain.
2.      Pengetahuan matematis logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman akan suatu objek atau kejadian tertentu.
3.      Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama.
Teori konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan (bentukan) orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan.
Teori Piaget seringkali disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Terlebih lagi karena Piaget banyak mengadakan penelitian pada proses seorang anak dalam belajar dan membangun pengetahuannya.

2.      Teori Sosial-Historis Vygotsky tentang Perkembangan Kognitif
Vygotsky telah membaca tulisan-tulisan awal Gesell, Werner dan Piaget dan ia menyadari pentingnya perkembangan intrinsik. Sebagai seorang Marxis, Vygotsky berusaha menciptakan sebuah teori yang memadukan dua garis utama perkembangan yaitu garis alamiah yang muncul dari dalam diri manusia dan garis sosial-historis yang mempengaruhi manusia sejak kecil tanpa bisa dihindari.  Prinsip pertama Vygotsky mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pengenalan terhadap tanda (sign) atau simbol sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan,
Vygotsky memberikan beberapa perbedaan yang dibuat terhadap teori perkembangan kognitif Piaget. Piaget menarik batasan tajam antara perkembangan dan pengajaran. Perkembangan menurut Piaget adalah proses spontan yang muncul dari dalam diri anak, berasal dari pertumbuhan kedewasaan batiniah dan dari upaya anak memahami dunia. Menurut Piaget anak adalah penjelajah intelektual kecil, membuat penemuan-penemuanya sendiri dan merumuskan pendapatnya sendiri. Piaget sangat kritis terhadap instruksi yang diarahkan guru seperti umumnya yang terjadi di sekolah-sekolah. Para guru berusaha menuntut belajar anak, bertindak seolah-olah mereka bisa menuangkan materi pelajaran ke dalam kepala anak didik. Mereka memaksa anak didik diam dalam posisi pasif. Lebih jauh lagi, para guru sering kali memberikan konsep-konsep abstrak di dalam matematika, sains dan lainnya yang melampaui pemahaman anak didik. Anak didik kelihatannya telah belajar sesuatu namun sebenarnya mereka hanya melakukan verbalisme yaitu mengulangi kata-kata guru tanpa memperoleh pengertian sejati (genuine) mereka sendiri atas konsep-konsep tersebut. Jika guru ingin anak didik mereka memahami konsep dengan cara yang sejati, maka anak didik harus diberi kesempatan untuk menemukan konsep tersebut dengan cara mereka sendiri (Piaget, 1969).
Menurut Vygotsky, perkembangan spontan seperti ini memang penting namun instruksi juga penting. Jika pikiran anak melulu produk dari penemuan dan pencarian mereka sendiri, maka pikiran mereka tidak akan bisa berkembang jauh. Dalam realitas, anak didik juga memperoleh manfaat besar dari pengetahuan dan model-model konseptual yang diturunkan kepada mereka melalui budaya. Menurut Vygotsky, materi pelajaran yang terlalu sulit bagi anak didik untuk dipelajari oleh mereka sendiri, justru tempat terbaik dimulainya instruksi. Karena instruksi yang demikian dapat mendorong perkembangan anak didik, menariknya ke depan, membantu menguasai materi pelajaran yang tidak bisa mereka pahami dengan cara mereka sendiri. Awalnya intruksi guru tampak berlebihan, namun instruksi penting karena dapat mendorong pikiran anak didik maju ke depan.
Vygotsky melihat nilai-nilai khusus di dalam konsep-konsep abstrak yang diajarkan di sekolah-sekolah. Dia menyebutnya konsep-konsep ilmiah mencakup matematika dan sains. Dia mempertentangkan konsep-konsep ini dengan konsep spontan yang dipelajari anak didik denga caranya sendiri. Konsep spontan banyak dipelajari anak didik di luar pengajaran sekolah, tetapi dalam kehidupan keseharian mereka. Vygotsky bertanya mengapa sekolah tidak memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan penemuan mereka sendiri seperti yang dilakukan Dewey dan Piaget.
Vygotsky berpendapat bahwa instruksi di dalam konsep-konsep ilmiah lebih banyak menolong perkembangan anak didik, karena menyediakan mereka kerangka pikir yang lebih luas untuk menggantikan konsep-konsep spontan mereka. Vygotsky berpendapat bahwa instruksi formal membawa dua keuntungan khusus. Pertama, memberikan kesadaran/pemahaman bagi pikiran anak didik. Kedua, ketika anak didik memperoleh pengertian atas konsep-konsep mereka sendiri, maka mereka bisa menggunakan konsep-konsep itu dengan bebas.
Konsep-konsep ilmiah dan konsep-konsep spontan ini saling mempengaruhi dan saling menguntungkan. Konsep-konsep ilmiah yang diinsruksikan guru membuka jalan bagi proses pembelajaran. Memberikan sebuah tujuan baru dalam perkembangan kognitif. Menekankan anak didik berpikir secara lebih abstrak dari pada yang biasa mereka lakukan.
Awalnya anak didik selalu kesulitan dalam memahami konsep-konsep baru. Namun jika kemudian anak didik berhasil memahaminya adalah karena konsep-konsep spontannya bekerja. Konsep spontan menbuka jalan bagi pemahaman konsep ilmiah (Vygotsky, 1934).
Guru memberikan dan menekankan instruksi untuk mendorong anak didik berpikir tentang konsep-konsep yang lebih jauh. Setelah beberapa waktu, anak didik akan memiliki konsep yang lebih utuh. Jadi, instruksi diberikan agar anak didik berpikir maju.
Vygotsky berpendapat bahwa guru tidak bisa menggambarkan cara anak didik belajar. Guru hanya bisa menciptakan sebuah kurikulum yang maju selangkah demi selangkah, namun tidak berarti anak didik akan berkembang menurut rencana guru. Perkembangan anak didik menurut ritmenya sendiri. Instruksi dari guru tetap dibutuhkan. Tanpa ini semua, pikiran anak tidak akan berkembang lebih jauh (Vygotsky, 1934).
Umumnya sekolah-sekolah melakukan tes standar prestasi dan tes intelegensia untuk menentukan kelulusan atau kenaikan kelas. Menurut Vygotsky tes-tes konvensional seperti ini hanya mengukur tingkat aktual perkembangan anak didik, dan tidak memberi informasi seberapa besar kemampuan anak didik untuk dapat belajar materi yang baru yang melampaui kemampuannya sekarang. Menurut Vygotsky, penguji perlu memberi mereka sejumlah masalah baru yang lebih sulit untuk dikerjakan anak-anak pada usia mereka untuk dikerjakan dengan cara mereka sendiri. Di sini penguji memberikan pertanyaan penuntun atau langkah awal solusi pemecahan masalah. Dengan bantuan ini, anak didik akan menunjukkan kemajuan kemampuan yang bisa sama, bisa berbeda.
Vygotsky menyebut jarak yang bisa dilakukan anak didik melebihi tingkat kemampuan yang sekarang sebagai zona perkembangan proksimal, yaitu jarak antara tingkat perkembangan aktual yang ditentukan dengan pemecahan masalah secara independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan lewat pemecahan masalah dengan bantuan atau bimbingan guru atau dalam kolaborasi dengan rekan yang lebih mampu (Vygotsky, 1935). Namun jika bantuan yang diberikan terlalu banyak dapat menyebabkan anak didik menjadi pasif.

F.     Paradigma Pembelajaran Konstruktivistik Pendidikan Kimia
Pembelajaran kimia dengan menerapkan teori konstruktivistik Piaget menekankan keaktifan peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget ada beberapa tahap yang perlu dikembangkan oleh peserta didik dalam membangun konsep. Sebelum sampai pada pembelajaran kimia ada kompetensi atau pengetahuan awal peserta didik yang telah dikonstruksi sebelumnya. Tahap awal yang perlu dikuasai peserta didik adalah mengenal objek pembelajaran kimia. Objek pembelajaran kimia adalah materi, baik dalam wujud padat, cair dan gas. Peserta didik perlu mengenal nama-nama materi yang mereka jumpai sehari-hari. Pengalaman empirik, yaitu pengalaman yang diperoleh melalui panca indera ditekankan pada tahap ini. Contoh cara membangun pengetahuan melalui pengalaman empirik, yaitu: Guru menggunakan gula sebagai objek pembelajaran sains. Peserta didik membangun pengetahuan mereka dengan mengamati gula tersebut. Misal, warna putih, bentuk kristal padat, rasa manis, larut dalam air, bila dipanaskan melebur membentuk padatan warna cokelat.  Namun seringkali guru salah kaprah, pembelajaran sains malah belajar sosial yang dibahas malah manfaatnya. Tahap ini seharusnya telah mereka lalui pada masa sekolah dasar (SD). Kemampuan untuk mengenali nama-nama materi dan menyebutkan sisfat-sifat fisikanya.
Setelah mengenal contoh-contoh objek pembelajaran sains, peserta didik perlu mengenal unsur-unsur kimia yang terdapat di alam melalui pengamatan atau melalui referensi dan menguasai simbol-simbol atau lambang-lambang unsur kimia. Pada tahap ini mereka mulai membangun konsep bahwa segala jenis materi tersusun dari unsur-unsur kimia yaitu atom-atom. Pada contoh gula tersebut mereka akan mulai mengidentifikasi gula termasuk unsur apa. Melalui referensi mereka akan mulai membangun konsep bahwa gula merupakan gabungan dari beberapa atom unsur, disini mereka mengenal senyawa yang merupakan gabungan atom unsur-unsur. Pada tahap ini peserta didik mulai berpikir kearah formal. Mereka mengetahui simbol atau lambang kimia untuk gula. Pengetahuan ini telah mereka kuasai di tingkat menengah pertama (SMP). Mereka mampu memberi simbol untuk unsur-unsur atau menyebutkan unsur-unsur berdasarkan simbol-simbol atau lambang-lambang unsur.
Pembelajaran kimia di SMA menuju pada tahap ­mastery, yaitu peserta didik mampu berpikir formal dengan melakukan analisis, membuat hipotesis, melakukan abstraksi dari pengamatan dan eksperimen atau pembelajaran yang dilakukan. Pada pengamatan tentang gula mereka sudah mampu menganalisis bagaimana atom-atom membentuk senyawa gula. Contoh pembelajaran kimia membuktikan bahwa materi terdiri dari atom-atom atau unsur-unsur dan senyawa. Misal, melakukan percobaan Dalton adalah salah satu percobaan yang sederhana. Guru memberikan instruksi mengenai prosedur pengamatan dan eksperimen. Peserta didik dapat merancang sendiri percobaan dan melakukan sendiri eksperimennya dengan pengetahuan dan konsep yang telah mereka kuasai.
Berdasarkan teori Vygotsky, Terdapat dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vigotsky adalah: (1)  mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pengenalan terhadap tanda (sign) atau simbol sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) perkembangan zona proksimal, guru sebagai  mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani peserta didik dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan mencapai kompetensi.
Penting untuk membuat model-model pembelajaran konstruktivistik dengan pendekatan kontekstual, yaitu konsep-konsep pembelajaran yang dibangun dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Konsep-konsep yang diinstruksikan guru di sekolah, dikonstruksi peserta didik dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Misal pembelajaran kimia menggunakan objek pembelajaran dengan menggunakan materi atau benda-benda yang telah dikenal peserta didik atau digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka seperti garam, gula, sabun, dan lain-lain. Metode yang digunakan guru adalah memberi tugas kepada peserta didik untuk melakukan pengamatan atau eksperimen yang dibimbing oleh guru. Guru membimbing dan memberi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit dan abstrak untuk mendorong peserta didik berpikir maju. Jika peserta didik mengalami kesulitan, guru dapat memberikan bantuan atau langkah awal pemecahan masalah. Dalam interaksi sosial di kelas, ketika terjadi saling tukar pendapat antar siswa dalam memecahkan suatu masalah, siswa yang lebih pandai memberi bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan berupa petunjuk bagaimana cara memecahkan masalah tersebut.
Guru membuat kurikulum bersama-sama dengan peserta didik. Peserta didik boleh menentukan kurikulum pembelajaran, guru membuat kurikulum sesuai kebutuhan peserta didik, sesuai perkembangan mereka tahap demi tahap. Setiap waktu peserta didik mengalami perkembangan dalam mengkonstrusi konsep mereka sendiri maupun dengan bantuan guru atau rekan mereka.
Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata.  Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar.
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi menekankan pada keterampilan proses bukan hanya produk. Peserta didik ditekankan untuk memiliki kompetensi, dalam hal ini mereka memahami dan mengerti pengetahuan kimia yang mereka dapatkan, bukan sekedar tahu tetapi tidak mengerti, walaupun pendidikan kimia bukan dalam bentuk ilmu terapan tetapi siswa perlu memiliki konsep tentang kimia. Evaluasi dengan ujian nasional bukan cara yang efektif untuk menentukan kelulusan peserta didik. Penilaian autentik dengan fortofolio, tugas, proyek dan demonstrasi yang cocok digunakan, maka dalam pembelajaran semua siswa berpotensi untuk lulus sesuai kompetensi atau kemampuan yang dimiliki (Elaine, 2010). Dalam hal ini ujian nasional hanya digunakan untuk evaluasi standarisasi pendidikan secara nasional. Peran pemerintah adalah membina dan memfasilitasi sekolah yang masih dibawah standar nasional.

PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat adalah upaya manusia untuk memahami hakekat segala sesuatu secara secara sistematis, radikal, dan kritis. Filsafat muncul dari Yunani kira-kira abad ke-7 SM. Filsafat biasa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”,  “Filsafat Islam” dan “Filsafat Kristen”.
Aspek ontologi ilmu pendidikan mencakup objek materil dan objek formil. Inti dasar epistemologis adalah agar dapat ditentukan bahwa dalam menjelaskaan objek formalnya, telaah ilmu pendidikan tidak hanya mengembangkan ilmu terapan melainkan menuju kepada telaah teori dan ilmu pendidikan sebagai ilmu otonom yang mempunyi objek formil sendiri atau problematika sendiri. Kemanfaatan teori pendidikan sebagai aspek aksiologi tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab.
Teori konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan (bentukan) manusia itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan.
Terdapat dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vigotsky adalah: (1)  mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pengenalan terhadap tanda (sign) atau simbol sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) perkembangan zona proksimal, guru sebagai  mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani peserta didik dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan mencapai kompetensi.
Pembelajaran kimia dengan paradigma konstruktivistik dan pendekatan kontekstual berdasarkan teori Piaget dan Vygotsky memberikan jalan keluar atau solusi terhadap pembelajaran konvensional yang berorientasi pada UN ke arah kompetensi atau kemampuan peserta didik. Beralih dari dunia sore hari ke dunia pagi hari, beralih dari sistem suap/delivery system atau transfer of knowledge ke konstruktivist. Dalam hal ini filsafat sangat berperan dalam upaya memahami masalah pendidikan dan membangun teori atau konsep pendidikan yang diharapkan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http:// usupress.usu.ac.id/

Crain, W. (2007). Teori perkembangan: konsep dan aplikasi (3rd ed.). (Terjemahan Yudi Santoso). New Jersey. (Buku asli terbitan tahun 2007).

Creswell, J. W.(2010). Research design, penedekatan kualitatif, kuantitaif, dan mixed 3rd ed. (Terjemahan Achmad Fawaid). Thousand Oaks, CA : Sage. (Buku asli diterbitkan tahun 2009).

Furchan, A. (2007). Pengantar penelitian dalam pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Heryanto, N. (2009). Pentingnya landasan filsafat ilmu pendidikan bagi pendidikan. http://meetabied.wordpress.com/2009/11/01/

Johnson, E.B. (2010). Contextual teaching and learning. (Terjemahan Ibnu Setiawan). Thousand Oaks, CA: Corwin Press Inc. (Buku asli diterbitkan tahun 2002).

Kant's Philosophy of Science. http://plato.stanford.edu/entries/kant-science/

Marsigit. (2010). The South Circle of School Philosophy: humanitary neo criticism. http://powermathematics.blogspot.com/.

Philosophy of sciencehttp://www.philosopher.org.uk/sci.htm

Suriasumantri, Jujun. 1993. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Vygotsky, L.S. (1934). Thought and language. Cambridge. MA: MIT Press, 1986. Dalam Crain, W. (2007). Teori perkembangan: konsep dan aplikasi (3rd ed.). (Terjemahan Yudi Santoso). New Jersey. (Buku asli terbitan tahun 2007).

 Vygotsky, L.S. (1935). Mental development of children and the process of learning. Cambridge. MA: Harvard University Press. 1978. Dalam Crain, W. (2007). Teori perkembangan: konsep dan aplikasi (3rd ed.). (Terjemahan Yudi Santoso). New Jersey. (Buku asli terbitan tahun 2007).



Wikipedia Indonesia. (2010). http://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Filsafat

0 komentar:

Post a Comment