Sunday, November 20, 2016

Miskonsepsi Kimia

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Salah satu tujuan pembelajaran kimia baik di tingkat SLTA maupun di Perguruan Tinggi adalah agar peserta didik menguasai konsep-konsep dalam ilmu kimia dengan benar. Hal ini penting untuk keberlanjutan pembelajaran kimia karena konsep yang saling berkaitan satu dengan konsep yang lain. Peserta didik hanya dapat memahami suatu konsep dengan benar jika konsep yang mendasari sebelumnya atau prasyarat telah dikuasai dengan benar pula. Pernyataan ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh para ahli pendidikan dari berbagai aliran bahwa hal terpenting yang dibawa ke ruang kelas oleh setiap peserta didik sebelum memulai pelajaran adalah konsep-konsep yang telah mereka miliki dan kuasai sebelumnya (Griffith & Preston, 1992). Itulah sebabnya kajian tentang pemahaman konsep merupakan salah satu topik penelitian yang menarik, apalagi jika menyangkut konsep-konsep abstrak seperti  yang banyak ditemui dalam kimia.
Ilmu kimia mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi berkaitan dengan konsep-konsep dalam kimia bersifat abstrak, merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya, dan sifatnya berurutan. Kesulitan dalam memahami konsep-konsep dalam materi kimia dapat menyebabkan terjadinya kesalahan pemahaman. Pemahaman salah yang terjadi secara konsisten disebut dengan kesalahan konsep (miskonsepsi). Upaya untuk memperbaiki kesalahan konsep dapat dilakukan melalui beberapa tahap berikut yaitu upaya menganalisis dan mengidentifikasi miskonsepsi yang terjadi pada peserta didik, kemudian ditindaklanjuti dengan pembelajaran menggunakan pendekatan konflik kognitif dan atau pendekatan mikroskopis.

Beberapa masalah pendidikan dapat menyebabkan terjadinya miskonsepsi pada peserta didik, misalnya kurikulum, lembaga penyelenggara pendidikannya atau sekolah, guru, proses pembelajaran, sumber belajar, serta peserta didik itu sendiri. Keenam subyek atau sistem dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan kimia perlu diperhatikan melalui penelitian, pembentukan dan penetapan kebijakan dalam pendidikan di Indonesia.

Upaya menganalisis miskonsepsi yang ditinjau dari kesalahan interpretasi peserta didik terhadap konsep-konsep kimia yaitu mengidentifikasi kesalahan konsep, sumber penyebab terjadinya kesalahan konsep, dan persistensi kesalahan konsep. Tahapan tersebut sebenarnya harus mendapat perhatian lebih melalui penelitian-penelitian pendidikan, baik upaya analisis miskonsepsi maupun tahap perbaikannya agar pembelajaran kimia berhasil secara berarti di masa kini dan di masa yang datang.

 

B.     Rumusan Masalah
Miskonsepsi dalam pembelajaran kimia sudah menjadi perhatian penelitian pendidikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
  1. Apa saja sumber masalah miskonsepsi dalam pendidikan kimia SMA?
  2. Bagaimana kemampuan instrumen-instrumen untuk analisis miskonsepsi pada peserta didik dalam pembelajaran kimia?
  3. Bagaimana mengoptimalkan keefektifan pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran kimia untuk mengatasi miskonsepsi pada peserta didik?

C.    Tujuan Penelitian
Hasil yang diharapkan dari pembahasan masalah di atas, yaitu untuk mengetahui:
1.      Sumber masalah miskonsepsi dalam pendidikan kimia SMA.
2.      Kemampuan instrumen-instrumen untuk analisis miskonsepsi pada peserta didik dalam pembelajaran kimia.
3.      Mengoptimalkan pendekatan konflik kognitif dalam pembelajaran kimia untuk mengatasi miskonsepsi pada peserta didik.



BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN


A.    Tinjauan Masalah Pendidikan yang Menyebabkan Miskonsepsi dalam Pembelajaran Kimia
Keenam masalah pendidikan kimia yang dapat menyebabkan terjadinya miskonsepsi pada peserta didik, misalnya (1) kurikulum yang kurang dinamis, (2) sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal yang belum mampu mendukung pembelajaran kimia, (3) Guru yang belum mampu menguasai konsep kimia dengan benar, (4) Dalam proses pembelajaran kimia, model pembelajaran yang digunakan tidak tepat, (5) sumber belajar yang tidak tepat dan (6) peserta didik yang salah menginterpretasi konsep-konsep kimia tersebut.
1.      Kurikulum
Setiap kurikulum harus didasarkan pada prinsip yang terbaik (excellence) agar setiap siswa dapat mencapai yang terbaik bagi diri dan lingkungannya, maka kurikulum harus senantiasa diperbaiki sesuai dengan kemampuan anak dan perkembangan global. Kurikulum yang diimplementasikan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan, di antaranya perubahan kurikulum 1994 menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan dewasa ini pemerintah telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum, yaitu prinsip pengembangan kurikulum dan struktur kurikulum. Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Miskonsepsi dalam mata pelajaran kimia dapat terjadi jika hirarki materi kimia yang diajarkan tidak berurutan karena keberhasilan pembelajaran juga tergantung pada penguasaan konsep materi sebelumnya. Miskonsepsi dalam mata pelajaran kimia dapat juga terjadi jika muatan kurikulum antara mata pelajaran yang saling berhubungan pada setiap satuan pendidikan tidak ditata dengan baik, misalnya matematika, biologi, dan fisika.
KTSP merupakan kurikulum yang sudah baik dengan memberi otonomisasi kepada tingkat satuan pendidikan untuk mengatur kurikulum, maka pemerintah daerah bersama sekolah, guru dan peserta didik dapat memberi kontribusi dalam pengembangan kurikulum. Walaupun demikian, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dalam KTSP masih ada yang belum disusun secara hirarki serta SK dan KD antara mata pelajaran yang saling berhubungan apalagi dalam IPA terpadu harus ditata agar saling mendukung.
Kerangka dasar dan struktur kurikulum serta kurikulum tingkat satuan pendidikan baik hirarki materi pelajaran maupun tatanan materi antar mata pelajaran harus terus mengalami evaluasi dan perubahan untuk menghindari miskonsepsi yang berasal dari kurikulum, dengan kata lain kurikulum harus dinamis karena kurikulum yang statis tidak mampu menata hirarki pendidikan kimia di SMP maupun di SMA dan tidak memperhatikan ketimpangan materi antar mata pelajaran.

2.      Lembaga Penyelenggara Pendidikan Formal
Sekolah merupakan satuan pendidikan sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal yang memberdayakan subyek, sistem, serta sarana dan prasarana untuk kelancaran proses pembelajaran sehingga tercapai mutu pendidikan yang baik. Seorang ahli ekonomi pendidikan Henry M Levin yang mempelajari faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan sampai kepada paradigma bahwa mutu pendidikan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang dialami peserta didik, sedangkan proses pendidikan dipengaruhi oleh kondisi dari ketersediaan sumber daya pendidikan termasuk di dalamnya tenaga pendidik, sedangkan ketersediaan sumber daya pendidikan dipengaruhi oleh anggaran pendidikan, sedangkan anggaran pendidikan dipengaruhi oleh kebijaksanaan yang merupakan hasil proses politik[1].
Hal tersebut menggambarkan sekuensial dari faktor-faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, jelaslah bahwa tidak mungkin kita mengharapkan meningkatnya mutu pendidikan bila kualitas proses pendidikan tidak ditingkatkan. Kualitas proses pendidikan tidak akan mungkin diperoleh, meliputi sarana dan prasarana, tenaga pendidikan, dan manajemen pendidikan tidak dipenuhi dan ditingkatkan kualitasnya. Hal yang terakhir ini tidak mungkin dapat ditingkatkan kualitasnya bila tidak dipenuhi keperluan anggarannya. Pada saat ini, lembaga penyelenggara pendidikan atau sekolah memiliki otonomi atas faktor-faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan bahkan sampai pada tingkat kebijakan, maka sekolah seharusnya memaksimalkan pemberdayaan faktor-faktor tersebut, misalnya team teaching dibentuk untuk pembelajaran IPA Terpadu atau pembelajaran tematik, sehingga peserta didik dapat mempelajari secara utuh pada bidang studi kimia, fisika, dan biologi dalam pembelajaran IPA Terpadu tersebut.

3.      Tenaga Pendidik
Sejak tahun tujuh puluhan terjadi perubahan paradigma dalam pendidikan yang mempengaruhi pandangan terhadap pendidik dan peserta didik di dalam proses belajar mengajar. Mengajar tidak lagi dimaknakan sebagai yang dahulu dipahami sebagai kegiatan menyampaikan pengetahuan, menyuapkan ilmu pengetahuan kepada siswa. Mengajar dalam pengertian baru menjadi guru pembelajar (bukan guru pengajar), membantu siswa belajar untuk belajar, membimbing siswa sampai ke penyadaran akan pemelajaran sepanjang hayat. Guru tidak lagi menempatkan diri berperan sebagai satu-satunya model bagi pemelajaran bahasa dan satu-satunya yang mampu menemukan dan membetulkan kesalahan siswa. Guru berperanan lebih sebagai konselor, fasilitator, kolaborator, dan pelatih strategi belajar bagi siswa.
Kompetensi merupakan satu kesatuan yang utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi tertentu berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan dan diwujudkan dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tertentu[2]. Sedangkan bertolak dari UU No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, setiap guru harus menguasai serangkaian kompetensi.
Dalam makalah ini, kompetensi guru dibatasi hanya dua kompetensi saja, yaitu kompetensi pedagogi dan profesional. Kompetensi pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya, sedangkan kompetensi profesional, adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Dengan demikian, peranan guru agar tidak terjadi miskonsepsi sangat besar, yaitu mulai dari memahami siswa hingga evaluasi pembelajaran dapat membantu peserta didik agar tidak mengalami miskonsepsi, dan yang terutama guru menguasai materi kimia sehingga gurunya sendiri tidak mengalami miskonsepsi dan dapat membimbing peserta didik mencapai kompetensi yang ditetapkan.

4.      Proses Pendidikan/Pembelajaran
Mutu pendidikan tergantung dari mutu proses pendidikan dan proses pendidikan tergantung dari kualitas dan ketersediaan sumberdaya pendidikan, agar mutu pendidikan meningkat tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan kualitas proses pendidikan. Tetapi kita masih menemukan proses belajar yang masih tradisional dalam bentuk mendengar, mencatat, menghafal. Praktek itu diperkuat dengan diterapkannya sistem Ujian Nasional yang dalam dirinya bertentangan dengan prinsip pendidikan demokrasi yang dianut UU No. 20 Tahun 2003, karena hakekat pendidikan demokrasi di samping tidak diskriminatif juga mengutamakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik seoptimal mungkin sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya[3].
Proses pendidikan yang mengutamakan pengembangan potensi peserta didik seoptimal mungkin harus menerapkan empat pilar belajar yang diajukan oleh komisi internasional UNESCO yaitu (1) learning to know; (2) learning to do; (3) learning to live together; dan (4) learning to be. Penerapan keempat pilar tersebut dalam proses pembelajaran kimia dapat berarti sehingga tidak terjadi miskonsepsi karena peserta didik dapat mempelajari konsep kimia secara utuh sehingga tidak terjadi miskonsepsi, misalnya pembelajaran yang disertai demonstrasi reaksi-reaksi kimia atau bahkan praktikum sehingga peserta didik dapat mengalami sendiri dan menarik pelajaran dari pengalamannya itu.

5.      Sumber Belajar
Pengembangan buku teks pelajaran sebagai salah satu sumber belajar harus selaras dengan perubahan paradigma terhadap pendidikan, yaitu perubahan kedudukan peserta didik dalam proses belajar dan membelajarkan. Peserta didik menjadi subjek dan pusat perhatian dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran. Pendidik berperan lebih sebagai perancang, pengelola, fasilitator, tutor, dan mentor. Peranan buku teks pelajaran sebagai salah satu sumber belajar berkaitan dengan usaha memberikan kecakapan belajar agar mampu belajar sepanjang hayat, maka diangap perlu menyusun buku teks pelajaran yang dapat dijadikan acuan dalam mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Isi buku pelajaran dianggap perlu dikembangkan dengan mendayagunakan berbagai sumber belajar di lingkungan peserta didik. Ciri itu perlu dilihat pada materi, metode pembelajaran dalam mengembangkan bahan ajar, bahasa, ilustrasi dan grafika buku teks pelajaran[4]. Muatan, bahasa, dan ilustrasi dalam buku teks pelajaran yang kurang baik akan mempengaruhi interpretasi peserta didik pada saat mempelajarinya.
Pada saat ini, isi dalam buku teks pelajaran kimia masih sering ditemukan kesalahan konsep sehingga jika peserta didik belajar tanpa bimbingan dapat mengalami kesalahan konsep. Dengan demikian, dalam pembelajaran kimia sebaiknya menggunakan lebih dari satu sumber belajar atau misalnya menggunakan buku teks berbasis aneka sumber.

6.      Peserta Didik
Dhamas Mega Amarlita (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terjadinya miskonsepsi materi laju reaksi pada peserta didik kurang lengkapnya penjelasan dan tidak akuratnya pemahaman guru tentang materi tersebut[5]. Hal tersebut dapat terjadi karena peserta didik tidak dibimbing mempelajarinya dari sumber belajar yang lain, misalnya melalui praktikum, sumber bacaan lain, dan atau internet.
Penyebab lain terjadinya miskonsepsi dapat juga dari pengetahuan kimia terdahulu peserta didik belum matang yang merupakan dasar pembelajaran kimia yang dilaksanakan, atau kesalahan peserta didik menginterpretasikan pelajaran kimia dari sumber-sumber belajar yang dipelajarinya.

B.     Kemampuan/Keefektivan Instrumen untuk Analisis Miskonsepsi pada Pemahaman Siswa dalam Pembelajaran Kimia
Dr. Das Salirawati, M.Si. menegaskan bahwa produk Instrumen Pendeteksi Miskonsepsi Kimia (IPMK) dapat diterapkan setelah materi pokok kesetimbangan kimia diajarkan, sehingga jika terjadi miskonsepsi dapat segera terdeteksi dan dicari pemecahannya. Dalam penelitiannya, hasil uji fisibilitas menunjukkan para guru kimia SMA tidak mengalami kesulitan dalam menerapkan IPMK dan menganalisisnya[6].
Beberapa instrumen untuk mendeteksi dan menganalisis miskonsepsi kimia sudah diciptakan untuk setiap SK dan KD pelajaran kimia, baik yang berupa perangkat wawancara, tes soal dan beberapa di antaranya sudah merupakan produk penelitian yang dapat digunakan pembelajaran kimia atau penelitian pembelajaran kimia yang lain.
Setiap penelitian tentang analisis miskonsepsi menggunakan instrumen soal tes dengan jumlah soal yang banyak sehingga mungkin cukup banyak menggunakan waktu pembelajaran di kelas. Hal ini sebaiknya dipertimbangkan karena jika pembelajaran menggunakan model pembelajaran yang menggunakan waktu yang banyak, maka proses pembelajaran tersebut tidak dapat dilaksanakan sampai tuntas. Dasar ini dapat dijadikan untuk penelitian di masa yang akan datang, yaitu pembuatan produk instrumen analisis miskonsepsi berupa tes soal yang disesuaikan jumlah indikator kompetensi dasar yang akan dicapai, harapannya akan tersedia waktu untuk melaksanakan berbagai model pembelajaran yang menggunakan waktu yang banyak.
 
C.    Kemampuan/Keefektivan Pendekatan Konflik Kognitif untuk Memperbaiki Miskonsepsi pada Pemahaman Siswa dalam Pembelajaran Kimia

Konflik kognitif merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat efektif dibangun, mengembangkan dan kemudian mengelola konflik kognitif dalam pembelajaran. Hampir semua media massa dapat eksis karena metode dan strategi konflik. Konsep penggunaan metode ini yaitu orang atau siswa akan dibenturkan/dikondisikan dalam konflik dua atau lebih pilihan/kondisi yang menuntut untuk diketahui. Dengan demikian, situasi dan kondisi ini akan meningkatkan courious/rasa ingin tahu siswa, oleh karenanya mereka akan lebih aktif dalam pembelajaran.

Penelitian dan atau pembelajaran dengan pendekatan konflik kognitif harus melalui 4 langkah kegiatan, yaitu: (1) pre tes dilanjutkan dengan wawancara, (2) pembelajaran strategi konflik kognitif, (3) pos tes dan wawancara, (4) tes persistensi yang dilakukan setelah selang waktu dua minggu. Keempat langkah tersebut dilaksanakan agar evaluasi terhadap pendekatan konflik kognitif dapat memperoleh hasil yang berarti.

Peneliti yang menggunakan pendekatan konflik kognitif dalam upaya mengatasi miskonsepsi sebenarnya dapat memperkaya strateginya, selain dengan menggunakan LKS/LKM, maka peneliti dapat melalui analog, contoh-contoh tandingan (counter example), demonstrasi dan eksperimen.



BAB III

P E N U T U P

 

 

A.    Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan:

1.      Sumber miskonsepsi pendidikan kimia SMA pada peserta didik dapat berasal dari berbagai komponen sistem dan subyek pendidikan kimia, sehingga komponen-komponen tersebut seharusnya diberdayakan seoptimal mungkin dan dijaga keseimbangan proporsi fungsinya masing-masing, yaitu:

a.       Kurikulum disusun secara hirarki dalam satu bidang studi dan kurikulum antar bidang studi yang saling mendukung.

b.      Sekolah yang memaksimalkan pemberdayaan faktor-faktor yang mutu pendidikan.

c.       Guru sebagai tenaga pendidik yang memahami peserta didik sampai kepada evaluasi pembelajaran kimia dan guru yang menguasai materi kimia sehingga gurunya sendiri tidak dapat mengalami miskonsepi dan dapat membimbing peserta didik mencapai kompetensi yang ditetapkan.

d.      Proses pendidikan yang mengutamakan pengembangan potensi peserta didik seoptimal mungkin harus menerapkan empat pilar belajar yang diajukan oleh komisi internasional UNESCO yaitu (1) learning to know; (2) learning to do; (3) learning to live together; dan (4) learning to be.

e.       Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran kimia sebaiknya lebih dari satu sumber atau misalnya menggunakan buku teks berbasis aneka sumber, sehingga tidak terjadi miskonsepsi jika peserta didik belajar tanpa bimbingan.

f.       Peserta didik harus menguasai konsep-konsep kimia sebelumnya sehingga tidak salah menginterpretasikan pelajaran kimia dari sumber-sumber belajar yang dipelajarinya.

2.      Instrumen pendeteksi miskonsep kimia yang berupa tes soal yang diciptakan dari penelitian analisis miskonsepsi sudah dapat digunakan dalam pembelajaran kimia atau penelitian pembelajaran kimia.

3.      Pendekatan konflik kognitif dapat mengatasi miskonsepsi kimia SMA dan dapat dioptimalkan keefektifannya dengan memperkaya strategi yang digunakan, misalnya penggunaan LKS, analog, contoh-contoh tandingan (counter example), demonstrasi dan eksperimen.

 

B.     Saran

Saran yang dapat dimunculkan dari penulisan ini adalah:

1.      KKG (untuk SD pada mata pelajaran lain) atau MGMP dapat meneliti dan menciptakan kurikulum (kimia) untuk tingkat satuan pendidikan disusun secara hirarki dan saling mendukung antar bidang studi.

2.      Penelitian analisis miskonsepsi yang akan datang dapat menciptakan instrumen tes soal yang dapat diujikan untuk beberapa pertemuan untuk beberapa kompetensi dasar.

3.      Penelitian pendekatan konflik kognitif yang akan datang dapat menggunakan berbagai strategi, misalnya penggunaan LKS, analog, contoh-contoh tandingan (counter example), demonstrasi dan eksperimen.



DAFTAR PUSTAKA

 

 

--------- UU no. 20 Tahun 2003

--------- PP No. 19 Tahun 2005

--------- IPMK Deteksi Miskonsepsi Pembelajaran Kimia. Kedaulatan Rakyat http://www.kr.co.id/web///detail.php?sid=238620&actmenu=43, diunduh pada tanggal 4 Maret 2015

Amarlita, Dhamas Mega. 2010. Identifikasi Kesalahan Konsep Materi Laju Reaksi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pagak dan Perbaikannya dengan Menggunakan Strategi Konflik Kognitif. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

 

Miarso, Yusufhadi. (2008). Peningkatan kualifikasi guru dalam perspektif teknologi pendidikan. Jurnal Pendidikan Penabur No. 10. Tahun Ke-7. Juni 2008, Diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2015.


Sitepu, B.P. (2008). Buku Teks Pelajaran Berbasis Aneka Sumber. Jurnal Pendidikan Penabur No. 10, Tahun Ke-7, Juni 2008. diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2015.

Soedijarto. (2011). Tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagai ukuran bagi pendidikan yang bermutu dan implikasinya. Jurnal Pendidikan Penabur No. 11. Tahun Ke-7. Desember 2008. Diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2015.




[1] Soedijarto. (2011). Tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagai ukuran bagi pendidikan yang bermutu dan implikasinya. Jurnal Pendidikan Penabur No. 11. Tahun Ke-7. Desember 2008. Diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2011.

[2] Miarso, Yusufhadi. (2008). Peningkatan kualifikasi guru dalam perspektif teknologi pendidikan. Jurnal Pendidikan Penabur No. 10. Tahun Ke-7. Juni 2008, Diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2011.
[3] Soedijarto. (2011). Tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagai ukuran bagi pendidikan yang bermutu dan implikasinya. Jurnal Pendidikan Penabur No. 11. Tahun Ke-7. Desember 2008. Diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2011.
[4] B.P. Sitepu, (2008), Buku Teks Pelajaran Berbasis Aneka Sumber, Jurnal Pendidikan Penabur No. 10, Tahun Ke-7, Juni 2008, diunduh dari http://www.bpkpenabur.or.id/id/jurnal?page=1 pada tanggal 4 Maret 2011.
[5] Amarlita, Dhamas Mega. 2010. Identifikasi Kesalahan Konsep Materi Laju Reaksi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Pagak dan Perbaikannya dengan Menggunakan Strategi Konflik Kognitif. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
[6]Kedaulatan Rakyat, IPMK Deteksi Miskonsepsi Pembelajaran Kimia, http://www.kr.co.id/web///detail.php?sid=238620&actmenu=43, diunduh pada 5/20/2011 8:45 AM


0 komentar:

Post a Comment