Sunday, November 20, 2016

MENGOPTIMALISASI PENDIDIKAN KARAKTER bagi SISWA MELALUI PELAJARAN PENGANTAR PENELITIAN MENJADI PELAJARAN WAJIB DITINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS

BAB I. PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Modernisasi yang berkembang pesat dengan teknologi informasi dan komunikasi, kemudian diiringi dengan globalisasi telah membuat manusia keluar dari sekat-sekat konvensional. Lihatlah berbagai kasus dan peristiwa yang terjadi dan muncul dan berkembang setiap hari melalui berbagai media informasi baik lewat berita tertulis, surat kabar maupun berita dari visualisasi seperti koran dan internet yang memberitakan kejadian anarkis, pornografi, perkelahian dan lainnya.
Kondisi bangsa kita sekarang ini sangat memprihatinkan sekali, disegala aspek kehidupan mengalami yang namanya krisis moral. Keadaan tersebut terjadi diawali sejak tahun 1997 / 1998 dimana terjadinya krisis multidemensi yang dampaknya sedang kita alami hingga saat ini dan tak kunjung selesai. Dimulai dari adanya krisis moneter, ekonomi, politik, kepercayaan, kepemimpinan, dan yang sangat fatal adalah adanya krisis akhlak dan moral yang mempunyai dampak berkelanjutan sampai hari ini. Krisis yang semula merupakan krisis identitas ini menjadi lebih parah karena menyangkut masalah hati nurani yang mencerminkan adanya krisis karakter, terlebih lagi adanya krisis yang berkaitan dengan jati diri. Kita sebenarnya sudah tahu dan sadar serta  maklum bahwa perubahan atau pergeseran nilai-nilai yang dialami oleh bangsa kita ini tidak lepas dari kehidupan modernisasi dan globalisasi yang tiap hari terus menyerang dan menjejali segi-segi kehidupan bangsa Indonesia  dari segala arah. Oleh sebab itu eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Hanya bangsa yang memiliki karakter yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan disegani oleh bangsa lain. Oleh karena itu menjadi bangsa yang berkarakter adalah keinginan kita semua.
Sebenarnya, manusia Indonesia tidak kalah cerdas dengan bangsa-bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak bermasalah dengan IQ atau otak kita, yang menjadi masalah justru adalah yang berkaitan dengan hati nurani yang mencerminkan karakter dan jati dirinya. Cuma yang ditampilkan baik di surat kabar maupun internet lebih banyak menampilkan manusia Indonesia atau sosok yang tidak tulus ikhlas, tidak bersungguh-sunggu, senang yang semu, senang berbasa-basi, membudayakan ABS (asal bapak senang). Kesemuanya ini sangat merusak karakter individu dan mempunyai implikasi pada rusaknya karakter bangsa. Penampilan semacam ini dalam satu kata disebut penampilan memakai kedok atau topeng. Dapat kita bayangkan bagaimana kinerja dan aktivitas yang akan ditampilkan oleh manusia seperti tersebut, maka akan tercipta sikap-sikap seperti : kata-katanya tidak bisa dipercaya, ingkar janji, tidak bertanggung-jawab, saling menghujat. Dengan kata lain tidak ada satunya antara kata dengan perbuatan.
Penampilan atau gambaran kinerja semacam ini jelas sekali menunjukkan bahwa manusia Indonesia “kehilangan” jati dirinya dimana implikasi pada rusaknya karakter bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang selama ini dikenal ramah tamah, gotong royong, sopan santun, sekarang berubah dengan penampilan yang nyaris disamakan dengan penampilan yang arogan, cenderung menampilkan kekerasan yang berujung anarkis. (Sutikno,2010:6). Pada tataran dunia pendidikan, masih maraknya tawuran antar pelajar bahkan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba, serta masih rendahnya mutu pendidikan kita bila dibandingkan dengan negara tetangga semisal Malaysia padahal “start” pendidikan kita lebih depan bila dibandingkan negara jiran tersebut. Lalu apa yang terjadi di negeri ini? Bila kita kaji lebih dalam, kita sedang pada kondisi krisis yaitu krisis karakter.
Kondisi yang memperhatinkan itu tentu saja menggelisahkan semua komponen bangsa, termasuk Presiden Republik Indonesia. Presiden Bambang Yudhoyono memandang perlunya pembangunan karakter saat ini. Pada peringatan Dharma Shanti Hari Nyepi 2010 menyatakan “Pembangunan karakter (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, budi pekerti, dan mulia. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia Indonesia merupakan manusia yang berakhlak baik, manusia yang bermoral, dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula. Berdasarkan hal tersebut maka banyak. (Anonim, 2010).
Upaya yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah melalui pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia, termasuk potensi mental. Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik menjadi baik. Melalui pendidikan inilah sekarang banyak lembaga pendidikan dan institusi Pembina mulai mengkaji lebih dalam tentang pendidikan karakter. Hal tersebut bisa kita rasakan melalui berbagai media masa, seminar-seminar yang dilakukan pada lembaga institusi serta instansi lain yang terkait, .serta beberapa versi yang berkaitan dengan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Pengantar penelitian sebagai subsistem pendidika kontribusinya penting dalam pembentukan karakter siswa. Sedangkan karakter sebagai hasil dari pendidikan membawa arti penting dalam kehidupan yang sesungguhnya di masyarakat. Karena itu penting sekali memahami nilai karakter yang dilaksanakan dalam pembelajaran pengantar penelitian. Pengantar penelitian merupakan teori awal atau dasar penelitian meliputi serangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara hai-hati sehingga memecahkan masalah yang ada. Dengan demikian materinya meliputi proses penyelidikan, investigasi, pemeriksaan dan eksperimen serta kesimpulan yang didapat.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah mengoptimalisasi pendidikan karakter disekolah melalui pelajaran pengantar penelitian menjadi pelajaran wajib di sekolah
2.      Bagaimanakah hasil pendidikan karakter disekolah melalui pelajaran pengantar penelitian menjadi pelajaran wajib disekolah
C.    TUJUAN
1.      Dapat mengoptimalisasi pendidikan karakter disekolah melalui pelajaran pengantar penelitian menjadi pelajaran wajib disekolah
2.      Dapat memperoleh gambaran bahwa pendidikan karakter dapat diterapkan pada pelajaran pengantar penelitian sehingga menjadi materi pelajaran wajib disekolah


BAB II. PEMBAHASAN

1.      Definisi Karakter dan Indikator Karakter
Banyak ahli yang berbeda-beda tentang definisi karakter. Karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, akhlak atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi “positif” bukan netral. Sedangkan karakter menurut kamus besar bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Untuk melakukan kajian tentang pendidikan karakter adalah penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan karakter. Watak atau karakter  (character) adalah suatu konsep yang merupakan subjek dari berbagai disiplin, mulai dari filsafat hingga ke teologi, dari psikologi hingga ke sosiologi (http://en.wikipedia.org). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila istilah karakter didefinisikan secara beragam sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan masing-masing disiplin. Kadang-kadang, istilah karakter dipahami secara keliru. Misalnya,seseorang dipandang memiliki karakter atau tidak memiliki karakter; atau karakter disamakan dengan kepribadian (personality). (Soelehudin, 2010).
                        Sejalan dengan pengertian karakter di atas, istilah karakter sering digunakan
dengan merujuk pada seberapa baik seseorang (how ‘good’ a person is) (http:// en.wikipedia.org). Dengan kata lain, seseorang yang menunjukkan kualitas pribadi yang cocok dengan yang diinginkan oleh masyarakat bisa dianggap memiliki karakter yang baik. Sebaliknya, bila seseorang menujukkan kualitas pribadi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka ia dipandang memiliki karakter yang jelek.
      Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Karakter yang dikeluarkan oleh Character Counts Coalition ( a project of  The Joseph Institute of Ethics) adalah sebagai berikut: a.Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal b.Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka memanfaatkan orang lain. c.Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar. d.Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu
menghargai dan menghormati orang lain. e. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam. f. Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Karakter 6 pilar ini dicetuskan oleh sekelompok guru, ahli etika, dan orang terdidik lain yang mengadakan pertemuan di Aspen Colorado. Gagasan six pillars ini diinspirasi dari buku Thomas Lickona, Education for Character. 1991. Ratna Megawangi (2008) menyebut sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini usia prasekolah. Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong- menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatu
      Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat penting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentukan oleh factor lingkungan (Anonim,2010). Pembentukan karakter melalui rekayasa fackor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan (4) Penguatan. Dengan kata lain perkembangan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.
2.       Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter sesungguhnya sudah sejak lama diselenggarakan di Indonesia,mungkin sejak kegiatan pendidikan itu diselenggarakan. Meskipun tidak disebut sebagai pendidikan karakter, tetapi program-program pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan agama, atau program pengembangan diri sesungguhnya merupakan pendidikan karakter atau sekurang-kurangnya terkait dengan upaya pembentukan karakater anak. Jadi, sesungguhnya kita tidak pernah berhenti menyelenggarakan pendidikan karakter, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan formal. Tapi, mengapa program-program pendidikan karakter yang selama ini kita lakukan seperti tidak memberikan dampak positif yang berarti bagi pembangunan dan pengembangan karakter anak-anak didik kita?. (Soulehudin, 2010). Pendidikan ini berkembang karena para pakar pendidikan di Indonesia mengakui bahwa sistem pendidikan yang telah ada, khususnya dalam bidang kepribadian (karakter) telah gagal dilakukan. Gagalnya pendidikan di Indonesia menghasilkan manusia yang kurang berkarakter masih. Tetapi kegagalan ini setidaknya diperkuat oleh pendapat I Ketut Sumarta, seorang yang telah lama bergelut dalam dunia pendidikan. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan yang Memekarkan Rasa, ia mengatakan: “Pendidikan nasional kita cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia manusia yang berotak pintar, manusia berprestasi secara kuantitatif akademik, namun tiada berkecerdasan budi sekaligus sangat berkegantungan, tidak merdeka mandiri.” Kutipan di atas menunjukkan bahwa telah terjadi ketidakpuasan atau cenderung terjadinya kegagalan dalam dunia pendidikan dalam rangka membentuk manusia dewasa dan berwatak mandiri. Kegagalan membentuk manusia dewasa dan berwatak mandiri ini kemudian diatasi atau diperkecil dengan melakukan program pendidikan karakter. (Supriadi, 2009).
Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Pendidikan merupakan hal terpenting membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri. (Anonim.2010). Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter.
Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah.
Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).
3.      Model Pendidikan Karakter
Aspek karakter mencakup KAS (Knowledge, Attitude, dan Skill). Aspek tersebut dapat dicapai melalui 2 point pokok dalam model pendidikan yaitu sterilisasi dan imunisasi. Pada sterilisasi, anak dijauhkan dari realitas dan kita selalu mengatakan “jangan”. Model seperti ini tidak efektif dalam pendidikan karakter karena menjadikan anak munafik. Sedangkan pada imunisasi, anak didekatkan kepada realitas. Anak diberikan pemahaman logis dan konsekuen. Harapannya, anak menjadi kokoh dalam menghadapi berbagai situasi. Tahapan pembentukan karakter yang
diharapkan tersebut.
       Selain metode di atas, model yang dapat dipakai dalam pendidikan karakter adalah: Metode pembentukan karakter: 1. Curiousity Timbulkan rasa ingin tahu anak dengan mengajaknya melihat di sekitarnya dan ajak ia berpikir. 2. Share Ajak anak berdiskusi dan menanyakan kepada anak jika ia berada dalam situasi sebagai pelaku sesuai dengan apa yang dilihatnya. 3. Planning Bersama anak merencanakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. 4. Action Ajak anak melakukan rencana yang telah disusun, ajari keahlian yang menunjang karakter dan mintalah untuk melakukan suatu perbuatan sesuai kemampuannya. Selanjutnya biasakan anak melakukan perbuatan atau pekerjaan tersebut secara konsisten. 5. Reflection Ajak anak mengevaluasi apa
yang telah ia lakukan, berikan teladan yang baik setiap waktu dan orang tua sekali-kali perlu terlibat dalam kegiatan anak. Kegiatan di atas dapat diintegrasikan melalui kegiatan-kegiatan intrakurikuler maupun ekstra kurikuler (pengembangan diri) di sekolah. (Miftahul Fuad,2010).
                        Kegiatan kokurikuler dan ekstrakkurikuler akan semakin bermakna jika diisi dengan berbagai kegiatan bermuatan nilai yang menarik dan bermanfaat bagi peserta didik. Masih banyak peserta didik yang hanya belajar saja, tanpa menghiraukan kegiatan kokulikuler apalagi ekstrakurikuler. Alasannya malas, mengganggu konsentrasi belajar, hanya membuang waktu, atau tidak bermanfaat. Tidak sedikit juga kegiatan peserta didik yang tidak mendukung peningkatan pengembangan pribadi. Contoh ;kegiatan yang bagus seperti seminar ilmiah, namun panitianya banyak yang berkerumun diluar ruang karena menjadi panitia logistic atau penerima tamu. Akhirnya peserta didik yang berorganisasi menjadi panitia tidak mendapat pembelajaran dari seminar tersebut. Jadi kegiatan yang akan mengembangkan pendidikan karakter adalah kegiatan yang terencana, terprogram, dan tersistem. Kegiatan Ekstrakulikuler lain yang mendukung pendidikan karakter disekolah Pramuka, Paskibra, KIR dlsb.
            Arti penting dari pendidikan karakter
Mengoptimalkan muatan-muatan karakter baik dan kuat (sifat, sikap, dan perilaku budi luhur, akhlak mulia) yang menjadi pegangan kuat dan modal dasar pengembangan individu dan bangsa nantinya. Dunia barat pun sudah sejak lama menyadari betapa ilmu pengetahuan tanpa karakter menjadi tidak berarti. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Inteligence menyatakan betapa kepribadian manusia mendominasi 80 persen dari kehidupan seseorang. Para teknokrat di dunia barat sudah sadar bahwa betapa pun sebuah kemajuan dicapai, dapat menjadi perusak bila tidak dibekali dengan perimbangan karakter yang di dalamnya menggabungkan kaidah-kaidah etika, moral dan agama. Karena itu, pendidikan yang sekarang ini dijalankan oleh bangsa Indonesia, harus dapat memberikan andil dalam pembentukan karakter bangsa, akan lebih mudah jika pembelajaran karakter itu direvitalisasi melalui agama dan mata pelajaran lain yang tercantum disekolah
4.      Definisi Pengantar Penelitian
Penelitian adalah salah satu cara untuk menjawab pertanyaan. Ketika melakukan studi
penelitian atau research study itu berarti ada proses studi tersebut dilakukan dalam kerangka filosofi tertentu, menggunakan prosedur, metode dan teknik yang telah diuji validitas dan keandalannya, dan dirancang untuk objektif dan tidak bias (Kumar;2005; 6). Sementara menurut Paul Leedy, penelitian adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita. Dua definisi lain dari sumber yang berbeda dalam tulisan Kumar adalah :
1.      Research is astructured inquiry that utilises acceptable scientific methodology to solve problems and creates new knowledge that is generally applicable (Grinnell)
2.      Scientific methods consist of systematic observation, classification and interpretation of data. Now obviously this process is one is which nearly all people engage in the course of their daily lives. The main difference between our day-to-day generalisations and the conclusions usually recognised as scientific method lies in the degree of formality, rigorousness, verifiablity and general validity of the latter (Lundberg)
3.      Research is a systematic investigation to find answer to a problem( Burns)
Dari definisi-definisi di atas dapat dikatakan bahwa penelitian diawali dengan masalah atau pertanyaan yang memerlukan jawaban atau penyelesaian dan untuk menjawabnya diperlukan langkah langkah yang sistematis dengan tujuan yang jelas dan penelitian berada dalam kerangka ilmu tertentu. Hal yang penting dalam penelitian adalah pengumpulan data dan interpretasi data sehingga menghasilkan jawaban atau pengetahuan yang baru. Dengan demikian penelitian tidak hanya :
1. Mengumpulkan informasi tentang sesuatu atau beberapa hal. Ini namanya pencarian informasi (information discovery)
2.  Memindahkan fakta dari satu lokasi ke lokasi lain, dengan menghilangkan inti dari penelitian yaitu: intepretasi data. Misalnya seorang mahasiswa membuat tulisan tentang Teknologi
Pendeteksi Gempa Bumi yang membutuhkan sumber informasi dari berbagai macam sumber dan format. Namun demikian karena sifatnya mengkoleksi data, informasi dari berbagai sumber dan kemudian menyusunnya menjadi sebuah tulisan tanpa intepretasi data, maka kegiatan yang menghasilkan tulisan ini bukanlah penelitian.
3. mencari informasi tertentu secara acak. Misalnya kita ingin membeli rumah, kemudian kita mencari informasi-informasi tentang rumah-rumah yang setipe, harga yang mendekati, lokasi yang bervariasi dan model-model yang ditawarkan melalui brosur-brosur perumahan untuk menentukan rumah yang seperti apa yang kita inginkan, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
4.  sekedar istilah untuk menarik perhatian. Beberapa iklan produk menggunakan kata “penelitian” untuk menarik perhatian konsumen dan meyakinkan konsumen bahwa produk mereka bermutu.
Jadi penelitian adalam proses mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data untuk menjawab pertanyaan. Dalam melakukan proses-proses itu, penelitian juga dalam dilihat dari sudut pandang yang berbeda : penelitian yang aplikatif, penelitian yang berdasarkan objek dan penelitian yang didasari pada cara penyelidikan. Tiga hal tersebut adalah tipe penelitian yang dijelaskan lebih. (Proboyekti,2006)
      Berdasarkan hal tersebut diatas maka pendidikan karakter yang sudah dicanang dan digalakan dapat di terpakan kedalam mata pelajaran pengantar penelitian.

4.      SOLUSI PERMASALAHAN
1.      Pembelajaran pengantar penelitian banyak dilakukan diluar kelas sehingga siswa lebih banyak inspirasi dan akan tumbuh kreativitas terhadap permasalahan yang ada disekitar lingkungan
2.      Pengantar penelitian dijadikan pelajaran wajib disekolah karena materi yang terangkum didalamnya mencerminkan pendidikan karakter yang terdiri dari Sembilan pilar pendidikan karakter: Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong- menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatu  dan enam model pendidikan karakter yaitu Curiousity,share, planning, action, reflection. Dengan demikian pembelajaran pengantar penelitian lebih dekat terhadap pembentukan karakter siswa. Apabila pembelajaran pengantar penelitian dengan nilai-nilai seperti disebut di atas dapat dilaksanakan maka mutu pendidikan sains akan makin baik dan secara utuh dapat membentuk lulusan yang baik pula.
3.      Faktor guru sebagai komponen yang penting dalam pendidikan karakter memberikan sumbangan yang berharga bagi pembentukan karakter dan nilai-nilai kebaikan (moral) pada siswa. Richard D.Osguthorpe (2008) melaporkan ada banyak alasan mengapa guru harus memiliki watak (dispositions) dan karakter moral yang baik agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik pula. Selanjutnya dia menyarankan ruang lingkup watak guru harus diperluas dalam kaitan dengan seluruh aktivitas kelas dan efektivitasnya sebagai guru.
Karakter yang terbentuk dari pembelajaran pengantar penelitian sebenarnya bersumber dari esensi pembelajaran pengantar penelitian itu sendiri. Secara subtansi pembelajaran pengantar penelitian memiliki dua aspek pokok yaitu pengantar penelitian sebagai proses dan produk. Sebagai proses pembelajaran pengantar penelitian dilaksanakan melalui pendekatan yang mengarahkan siswa berperan seolah seorang ilmuwan yang berupaya memecahkan masalah. Pendekatan untuk membelajarkan siswa dalam proses penelitian dikenal sebagai pendekatan ketrampilan proses dengan berbagai jenis metode aplikasinya. Ada substanstif ketrampilan proses tingkat dasar mencakup : (1) Observation, (2) Communication, (3) Classification, (4) Measurement, (5) Inference, dan (6)prediction Sedangkan ketrampilan proses tingkat lanjut antara lain : (1) Merencanakan eksperimen, (2) Menyusun hipotesis, dan (3) Membuat kesimpulan. Ketrampilan-ketrampilan tersebut tentu harus ditampakan dalam pembelajaran penelitian. Untuk dapat melaksanakan ketrampilan-ketrampilan tersebut dengan benar, terutama dalam kerja kelompok, diperlukan beberapa syarat antara lain : kedisiplinan, kecermatan, ketelitian, tanggung jawab dan kerja sama. Hal-hal yang terakhir disebut merupakan komponen- komponen yang dapat membentuk karakter siswa. Dengan demikian pembelajaran pengantar penelitian memang dianggap berpoetnsi kuat dalam pembentukan karakter siswa. Sehingga dapat dimasukan sebagai kurikulum wajib.
4.      Membuat kontrak dengan orang tua siswa
Dewasa ini antara guru dan siswa jarang mengadakan kontrak kerja dengan siswa dalam hal program pembuatan perangkat belajar dikelas yang ada hubungan erat dengan siswa. Hal demikian tidak dilakukan karena budaya siswa yang menerima apa adanya dari guru. Dengan demikian peran serta orang tua dan masyarakat sangat penting dalam kontrak belajar untuk menentukan perangkat pembelajaran. Jika berhasil maka kontrak kerja menjadi kesepakatan bersama antara guru orang tua dan masyarakat.
Dalam gagasan ini penulis secara singkat mensyaratkan enam hal agar sebuah kontrak belajar yang melibatkan peran serta masyarakat dapat memberi hasil yang maksimal, yaitu : (1) tujuan, berupa produk pengetahuan, ketrampilan, dan sikap apa yang akan diperoleh, (2) bagaimana cara mencapai tujuan, (3) syarat-syarat apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan, termasuk kebutuhan sarana/prasarana, dan aktivitas guru, siswa dan orangtua/masyarakat yang diperlukan, (4) kapan hasil tujuan dapat dicapai, (5) Apa bukti pencapaian tujuan dan bagaimana membuktikannya, (6) Apa bentuk aktivitas yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengontrol dan mendorong pencapaian tujuan belajar
Dalam pelaksanaan kontrak pembelajaran ini diharapkan dapat tercapai dalam tiga tahapan. Tahap pertama guru bersama dengan koleganya menyusun Program Semester dan draft rencana pembelajaran, berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk satu semester. Tahap kedua adalah mengkomunikasikan dan menegosiasikan bersama orang tua (komite sekolah), dan kemudian orang tua melakukan pembahasan RPP yang dibuat guru dengan mediasi ahli pendidikan. Pembahasan RPP difokuskan pada indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa. Tahap ketiga dilakukan kontrak mencakup enam hal seperti disebut di atas dengan menggunakan format instrument yang telah disiapkan. Tahap keempat yaitu monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kontrak yang dibuat guru. Untuk melaksanakan tahap terakhir ini dibuat satu program monitoring dan evaluasi secara terjadwal selama satu semester. Aspek yang dimonitoring adalah apakah unsur-unsur yang direncanakan dalam kontrak berjalan. sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Bila terdapat kendala karena suatu alasan kontrak tidak berjalan sesuai rencana, maka dilakukan negosiasi lagi sehingga ditemukan jalan tengah yang disepakati kedua pihak. Selama tahap monitoring dan evaluasi peran orang tua/masyarakat tidak boleh mengintervensi hak-hak guru dalam mengelola pembelajaran asal tetap sesuai dengan kontrak. Tahapan pelaksanaan kontrak pembelajaran dan instrument monitoring
5.      Menurut Lickona dkk (2007) terdapat 11 prinsip agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif: (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi karakter yang baik, (2) definisikan 'karakter' secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif dalam pengembangan karakter, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, mengembangkan karakter, dan membantu siswa untuk berhasil, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral yang berbagi tanggung jawab dalam pendidikan karakter dan upaya untuk mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang membimbing pendidikan siswa, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang bagi inisiatif pendidikan karakter, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter, (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestasikan karakter yang baik. Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan


PENUTUP

1.      Sebagai sebuah gagasan baru tentu model kontrak pembelajaran ini masih harus banyak ditelaah baik dari aspek teoritik maupun aspek teknis aplikasinya. Namun diyakini bahwa dengan pelibatan peran masyarakat secara maksimal maka pencapaian tujuan-tujuan pendidikan akan dapat diperoleh secara maksimal pula. Guru (sekolah) dan masyarakat (orang tua) akan merasa memiliki kepentingan yang besar dalam mempersiapkan generasi penerus yang lebih siap secara pengetahuan, ketrampilan dan mental untuk menghadapi era persaingan.
2.      Perilaku masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak, yang sudah sangat  engkhawatirkan sekarang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak,  khususnya dari pemerintah dan warga masyarakat pendidikan. Kondisi demikian,
salah satunya, mengimplikasikan perlunya perombakan dalam pendekatan dan cara
pendidikan karakter secara mendasar. Cara-cara pendidikan karakter yang selama
ini dilakukan, baik di rumah maupun di sekolah, tampaknya sudah tidak berdaya lagi dalam membentengi anak dari pengaruh negatif arus kehidupan yang berjangkit di era globalisasi dan desentralisasi sekarang ini. Rumah dan sekolah perlu memperbaiki cara-cara pendidikan karakter yang selama ini diterapkan dengan cara-cara yang lebih tepat, di samping mereka juga perlu melengkapinya dengan cara-cara dan pendekatan pendekatan lainnya secara lebih menyeluruh. Secara lebih operasional, akhirnya sekolah dan rumah direkomendasikan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan berikut dalam pendidikan karakter.
1. Dengan segala keterbatasan yang ada, setiap rumah perlu mengupayakan terciptanya rumah sebagai laboratorium kehidupan yang memungkinkan tumbuh
dan terbentuknya karakter anak yang baik. Para orang tua perlu meningkatkan
pengetahuan dan cara pendidikan mereka sehingga dapat menciptakan interaksi
pendidikan yang lebih berkualitas dengan anaknya. Di rumah perlu ada struktur
dan aturan berperilaku yang manusiawi, jelas, dan ditegakkan oleh setiap anggota
keluarga. Bahkan orang tua dituntut untuk memainkan peran sebagai model dalam
menerapkan aturan-aturan tersebut.
2. Sekolah-sekolah yang selama ini lebih terbatas menerapkan pendekatan Pengajaran Eksplisit tentang Karakter dan Nilai dalam pendidikan karakakter perlu
memperbaiki penerapan pendekatan tersebut, alih-alih menambah pelajaran baru,
di samping melengkapinya dengan pendekatan-pendekatan lain yang lebih tepat.
Bila memungkinkan, dan mengapa tidak, sekolah bisa menerapkan pendekatan
Smorgasbord dan Holistik sehingga peran sekolah (seperti halnya juga rumah)
sebagai laboratorium kehidupan yang memfasilitasi pembentukan karakter anak
dapat terpenuhi.
3. Sekolah dan rumah tidak boleh jalan sendiri-sendiri, apalagi saling bertentangan.

3.      Mereka perlu berada dalam suatu sinergi melalui jalinan komunikasi dan kolaborasi yang harmonis. Sekolah perlu merancang berbagai program yang mengundang dan mengkondisikan orang tua terlibat aktif dalam mendukung program-program sekolah. Sekolah juga perlu menyelenggarakan layanan konsultasi yang dapat meningkatkan dan meperbaiki wawasan pengetahuan dan perlakuan pendidikan orang tua. Sebaliknya, orang tua juga perlu mendukung program-program sekolah, di samping memberikan balikan-balikan untuk perbaikan program sekolah.

0 komentar:

Post a Comment