Permasalahan Penelitian

Penelitian umumnya dimulai dengan adanya permasalahan yang perlu dicari pemecahanya atau jawaban secara ilmiah. Pertemuan antara aspek objektif dan aspek subyektif ini merupakan titik tolak dasar dari semua penelitian. Setiap penelitian selalu bermula dari adanya masalah‐masalah yang timbul di lapangan maupun sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagi peneliti dan orang banyak. Masalah menjadi semacam tempat awal berpijak melakukan penelitian, untuk selanjutnya dipecahkan melalui langkah‐langkah yang sistematis seperti yang ada dalam sebuah penelitian ilmiah.

Untuk memberikan jawaban secara ilmiah terhadap pertanyaan penelitian peneliti mencoba menggali khsanah teori dan konsepi konsep yang relevan dengan permasalahan yang diajukan.
Jawaban –jawaban yang dimaksud memiliki dua kedudukan yaitu:
1. sebagai jawaban final terhadap permasalahan penelitian, merupakan konklusi dan diperlukan sebagai tesis.
2. jawaban tadi walaupun dianggap paling benar namun masih akan dibuktikan lagi pada tahap lain.dianggap sebagai hipotesis jika jawaban itu diperlukan sebagi hipotesis, maka masih ada satu tahap lagi yang harus dilewati yaitu pembuktian.

Permasalahan dapat didefenisikan sebagai statement mengenai populasi yang menunjukan adanya jarak antara rencana dan pelaksanaan antara aspirasi dengan kenyataan, antara cita‐cita dengan harapan, yaitu antara kenyataan dan harapan. Jarak antara kenyataan dan harapan tersebut sering kali berupa ketimpangan, ketidakseimbangan, kelangkaan, kekurangan, ketidaktahuan, dan semacamnya sumber untuk merumuskan permasalahan penelitian bisa dari bermacam‐macam sumber:
1. kepustakaan
2. pengalaman
3. pengamatan
4. seminar/diskusi
5. intuisi, maupun
6. pernyataan pemegang otoritas.
Rumusan permasalahan yang baik memiliki ciri‐ciri sebagai berikut:
1. permasalahan dirumuskan secara spesifik hanya mengenai aspek tertentu secara jelas, kecuali peneliti memilki waktu, biaya, dan tentu saja kemampuan secara cukup memadai
2. permasalahan penelitian harus memiliki basic empirical atau bersifat factual problem metafisik seyogyanya tidak memiliki prioritas dalam riset
3. permasalahan prioritas perlu diorientasikan pada satu teori tertentu sebab teori merupaka body of knowledge yang memberikan penjelasan pada keaneka yang luas mengenai suatu fenomena.
4. permasalahan penelitian dirumuskan seyogyanya mimiliki tingkat tingkat aktulitas yang tinggi sehingga memiliki pula academic interest dan public interest yang cukup yang sangat tinggi bagi pengembangnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan ada 3 langkah awal dalam proses penelitian, yaitu:
1. Identifikasi bidang masalah (topik)
2. Pencarian data awal melalui studi pustaka (survey literature)
3. Perumusan masalah secara jelas dan tepat

Alur berpikir dalam merumuskan masalah penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. berikut ini.

Latar Belakang Masalah
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah

Gambar 1. Pola Pikir Merumuskan Masalah Penelitian

Semoga bermanfaat!

Baca juga:


Share:

No comments:

Post a Comment

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru