Pendidikan Kimia dan Pembelajaran Kimia

Share:

Introduction to Analytical Atomic Spectroscopy




Description

An Introduction to Analytical Atomic Spectrometry is a thoroughly revised and updated version of the highly successful book by Les Ebdon, An Introduction to Atomic Absorption Spectroscopy. The change in title reflects the number of significant developments in the field of atomic spectrometry since publication of the earlier book. New topics include plasma atomic emission spectrometry and inductively coupled plasma mass spectrometry. Key features:

* Self assessment questions throughout book to test understanding

* Keywords highlighted to facilitate revision

* Practical exercises using modern techniques

* Comprehensive bibliography for further reading

The accessibility of An Introduction to Analytical Atomic Spectrometry, makes it an ideal revision text for postgraduates, or for those studying the subject by distance learning.


Table of Contents

Overview of Analytical Atomic Spectrometry.
Flame Atomic Absorption Spectrometry.
Electrothermal Atomization.
Plasma Atomic Emission Spectrometry.
Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry.Download Sekarang
Share:

Introduction to Modern NMR Spectro






Description

Clear, accessible coverage of modern NMR spectroscopy-for students and professionals in many fields of science
Nuclear magnetic resonance (NMR) spectroscopy has made quantum leaps in the last decade, becoming a staple tool in such divergent fields as chemistry, physics, materials science, biology, and medicine. That is why it is essential that scientists working in these areas be fully conversant with current NMR theory and practice.
This down-to-basics text offers a comprehensive, up-to-date treatment of the fundamentals of NMR spectroscopy. Using a straightforward approach that develops all concepts from a rudimentary level without using heavy mathematics, it gives readers the knowledge they need to solve any molecular structure problem from a complete set of NMR data. Topics are illustrated throughout with hundreds of figures and actual spectra. Chapter-end summaries and review problems with answers are included to help reinforce and test understanding of key material.
From NMR studies of biologically important molecules to magnetic resonance imaging, this book serves as an excellent all-around primer on NMR spectroscopic analysis.

Table of Contents
Partial table of contents:
Spectroscopy: Some Preliminary Considerations.
Magnetic Properties of Nuclei.
Obtaining an NMR Spectrum.
Correlating Proton Chemical Shifts with Molecular Structure.

Author Information
ROGER S. MACOMBER was Professor of Chemistry at the University of Cincinnati, Ohio, from 1969-1997, and is currently Professor of Chemistry at Pepperdine University. He is the author of nearly 100 scientific and professional articles, as well as several monographs, including The Vocabulary of Organic Chemistry, NMR Spectroscopy: Essential Theory and Practice, and Organic Chemistry, Volumes I and II.Download Sekarang
Share:

Analytical Electrochemistry


Description

Third Edition covers the latest advances in methodologies, sensors, detectors, and mIcrochips
The greatly expanded Third Edition of this internationally respected text continues to provide readers with a complete panorama of electroanalytical techniques and devices, offering a balancebetween voltammetric and potentiometric techniques. Emphasizing electroanalysis rather than physical electrochemistry, readers gain a deep understanding of the fundamentals of electrodereactions and electrochemical methods. Moreover, readers learn to apply their newfoundknowledge and skills to solve real-world analytical problems.

The text consists of six expertly crafted chapters:

* Chapter 1 introduces fundamental aspects of electrode reactions and the structure of the interfacial region

* Chapter 2 studies electrode reactions and high-resolution surface characterization, using techniques ranging from cyclic voltammetry to scanning probe microscopies

* Chapter 3 features an overview of modern finite-current controlled potential techniques

* Chapter 4 presents electrochemical instrumentation and electrode materials, including modified electrodes and ultramicroelectrodes

* Chapter 5 details the principles of potentiometric measurements and various classes of ion selective electrodes

* Chapter 6 explores the growing field of chemical sensors, including biosensors, gas sensors, microchip
devices, and sensor arrays

Author Information


JOSEPH WANG, PHD, is Director of the Center for Bioelectronics and Biosensors at the Biodesign Institute and Professor in the Departments of Chemical & Materials Engineering and Chemistry & Biochemistry at Arizona State University. Dr. Wang has authored six books and more than 680 research papers. He holds fifteen patents and is the recipient of the American Chemical Society's Award in Chemical Instrumentation and the Heyrovsky Medal. He was ranked the "Most Cited Electrochemist in the World" in 1995, and was ranked number five on the ISI list of "Most Cited Researchers in Chemistry" for the period 1995 to 2005.

Reviews

"Anyone at any level wanting to get involved in electrochemical experimentation should benefit from access to this book." (CHOICE, October 2006)Download Sekarang
Share:

Metodologi Penelitian Pendidikan Kimia

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN

Metode penelitian ilmiah adalah strategi yang digunakan dalam pengumpulan data dan analisis data yang diperlukan, untuk menjawab rumusan masalah atau memecahkan masalah yang dihadapi. Kategori yang umum digunakan dalam penelitian ilmiah adalah

1. Penelitian Eksperimen
Suatu penelitian ilmiah yang mengharuskan peneliti memanipulasi dan mengendalikan satu atau lebih variabel bebas serta mengamati variabel terikat. Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/ tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Misalnya, suatu eksperimen dimaksudkan untuk menilai/ membuktikan pengaruh perlakuan pendidikan (pembelajaran dengan metode pemecahan soal) terhadap prestasi belajar matematika pada siswa SMA atau untuk menguji hipotesis tentang ada-tidaknya pengaruh perlakuan tersebut bila dibandingkan dengan metode pemahaman konsep. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.


2. Penelitian Ex past facto
Mirip seperti penelitian eksperimenal, bedanya peneliti di sini tidak dapat memanipulasi variabel bebas secara langsung.
3. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan dan menafsirkan keadaan yang ada sekarang. Penelitian ini berhubungan dengan praktik-praktik yang sedang berlaku seperti sudut pandang atau sikap yang dimiliki; proses-proses yang sedang berlangsung seperti pengaruh yang dirasakan atau trend yang sedang berkembang. Tujuan utama penelitian deskriptif ialah mendeskripsikan keadaan sesuatu atau peristiwa yang sedang terjadi pada saat penelitian berlangsung.
Penelitian deskriptif terdiri atas:
a. studi kasus
b. survey
c. studi perkembangan
d. studi tindak lanjut
e. analisis dokumenter
f. studi kecenderungan
g. studi korelasi

4. Penelitian Tindakan (bagi guru di sebut Penelitian Tindakan Kelas atau PTK)
Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada suatu kelompok subyek (kelas) yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Tindakan kelas di kalangan pendidikan dapat diterapkan pada sebuah kelas sehingga sering disebut Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), bila yang melakukan tindakan adalah kepala sekolah atau pimpinan lain maka disebut penelitian tindakan sekolah.


Share:

Kimia: Pelajaran tentang Perubahan (perubahan kimia, perubahan fisika, perubahan energi)

BAB 1
Kimia: Pelajaran tentang Perubahan (Materi dan Energi)


Kita mulai dengan pengenalan singkat tentang pelajaran kimia dan menjelaskan peranannya dalam masyarakat modern. (1.1 dan 1.2) • Selanjutnya, kita akan menjadi akrab dengan metode ilmiah, yang merupakan pendekatan sistematis untuk penelitian di semua disiplin ilmu ilmiah. (1.3) • Kita menjelaskan dan memperhatikan bahwa zat murni dapat berupa unsur atau senyawa. Kita membedakan antara campuran homogen dan campuran heterogen. Kita juga belajar bahwa, pada prinsipnya, semua materi bisa eksis di salah satu dari tiga keadaan: padat, cair, dan gas. (1.4 dan 1.5) • Untuk menandai suatu zat, kita perlu mengetahui sifat fisik, yang dapat diamati tanpa mengubah identitas dan sifat kimianya, yang dapat ditunjukkan hanya dengan perubahan kimia. (1,6) • Menjadi ilmu eksperimental, kimia melibatkan pengukuran. Kita belajar satuan SI pokok dan menggunakan satuan SI yang diturunkan untuk jumlah misalnya volume dan kerapatan. Kita juga akan menjadi akrab dengan tiga skala suhu: Celsius, Fahrenheit, dan Kelvin. (1,7

#
Kimia adalah ilmu aktif, berkembang yang penting untuk dunia kita, baik dalam ilmu alam maupun ilmu sosial, seperti yang kita akan pelajari, kimia adalah ilmu pengetahuan modern. Kita akan mulai pelajaran kimia pada tingkat makroskopik, di mana kita bisa melihat dan mengukur bahan yang darinya dunia kita dibuat. Dalam bab ini, kita akan membahas metode ilmiah, yang menyediakan kerangka kerja untuk penelitian tidak hanya dalam kimia tetapi dalam semua ilmu lain juga. Selanjutnya kita akan  tahu bagaimana ilmuwan menemukan dan menetapkan ciri materi. Kemudian kita akan meluangkan waktu untuk belajar bagaimana menangani hasil numerik dari pengukuran kimia dan memecahkan masalah numerik tersebut. Dalam Bab 2, kita akan mulai menjelajahi dunia mikroskopis atom dan molekul. 

1.1. Kimia: ilmu abad dua satu
Kimia adalah pelajaran tentang materi dan perubahannya. Kimia sering disebut ilmu pusat, karena pengetahuan dasar kimia sangat penting bagi mahasiswa biologi, fisika, geologi, ekologi, dan mata pelajaran lainnya. Memang, kimia adalah pusat cara hidup kita; tanpa kimia, kita akan menjalani kehidupan yang lebih pendek dari apa yang kita anggap kondisi primitif, tanpa mobil, listrik, komputer, CD, dan banyak kenyamanan sehari-hari lainnya.

Meskipun kimia adalah ilmu kuno, namun merupakan yayasan modern pada abad kesembilan belas, ketika kemajuan intelektual dan teknologi memungkinkan para ilmuwan untuk memecah zat ke dalam komponen yang lebih kecil dan akibatnya digunakan untuk menjelaskan banyak karakteristik fisik dan kimianya. Pesatnya perkembangan teknologi yang semakin canggih sepanjang abad kedua puluh telah memberi kita cara yang lebih besar untuk belajar hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Menggunakan komputer dan mikroskop khusus, misalnya, ahli kimia dapat menganalisis struktur atom dan molekul-sampai satuan mendasar. Penelitian kimia yang berbasis dan mendesain zat baru dengan sifat tertentu, seperti obat-obatan dan produk konsumen ramah lingkungan.

Ketika kita memasuki abad pertama abad dua puluh, sudah sepatutnya untuk bertanya apa bagian ilmu sentral yang akan memiliki abad ini? Hampir pasti, kimia akan terus memainkan peran penting dalam semua bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum terjun ke dalam pelajaran tentang materi dan transformasinya, mari kita mempertimbangkan beberapa perbatasan yang ahli kimia sedang jajaki (Gambar 1.1). Apapun alasan kita untuk mempelajari kimia, pengetahuan tentang subjek yang lebih baik akan memungkinkan kita untuk menghargai dampaknya terhadap masyarakat dan pada kita sebagai individu.

Gambar 1.1 (a) Output dari mesin sekuensing DNA otomatis. Setiap jalur menampilkan urutan (ditandai dengan warna yang berbeda) diperoleh dari sampel DNA terpisah. (b) sel fotovoltaik. (c) Wafer silikon sedang diproses. (d) Daun di sebelah kiri diambil dari tanaman tembakau yang tidak direkayasa genetika tetapi terserang cacing tanduk tembakau. Daun di sebelah kanan direkayasa genetika dan nyaris diserang oleh cacing. Teknik yang sama dapat diterapkan untuk melindungi daun dari jenis tanaman lain.

Negara - negara seperti China, ahli kimia secara aktif berusaha mencari sumber energi baru. Saat ini sumber utama energi bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam), diperkirakan cadangan bahan bakar ini akan berlangsung sekitar 50-100 tahun, berdasarkan konsumsi pada tingkat sekarang , sehingga sangat mendesak bahwa kita harus segera menemukan sumber energi alternatif.

#
Tenaga surya menjanjikan untuk menjadi sumber energi alternatif yang layak untuk masa depan. Setiap tahun permukaan bumi menerima sekitar 10 kali lebih banyak energi dari sinar matahari seperti yang terkandung dalam semua cadangan batubara, minyak, gas alam, dan fusi uranium. Tetapi banyak dari energi matahari ini "terbuang" karena dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Selama 30 tahun terakhir, upaya penelitian intensif telah menunjukkan bahwa tenaga surya dapat dimanfaatkan secara efektif dalam dua cara. Salah satunya adalah konversi sinar matahari langsung menjadi listrik menggunakan perangkat yang disebut sel fotovoltaik. Yang lain adalah dengan menggunakan sinar matahari untuk mendapatkan hidrogen dari air. Hidrogen kemudian dapat dimasukkan ke dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Meskipun pemahaman kita tentang proses ilmiah mengkonversi energi matahari menjadi listrik telah maju, teknologi belum ditingkatkan ke titik di mana kita dapat menghasilkan listrik dalam skala besar dengan biaya yang dapat diterima secara ekonomis. Pada tahun 2050, bagaimanapun, telah diramalkan bahwa energi matahari akan memasok lebih dari 50 persen dari kebutuhan listrik kita.

#
Potensi sumber energi lain adalah fusi nuklir, tetapi karena masalah lingkungan tentang limbah radioaktif dari proses fusi, masa depan industri nuklir di Indonesia tidak pasti. Kimiawan dapat membantu untuk menemukan cara-cara yang lebih baik untuk membuang limbah nuklir. fusi nuklir, proses yang terjadi di matahari dan bintang-bintang lainnya, menghasilkan energi dalam jumlah besar tanpa menghasilkan limbah radioaktif yang berbahaya. Dalam 50 tahun, fusi nuklir kemungkinan akan menjadi sumber energi.

Produksi energi dan pemanfaatan energi terkait erat dengan kualitas lingkungan kita. Kelemahan utama dari pembakaran bahan bakar fosil adalah bahwa mereka mengeluarkan karbon dioksida, yang merupakan gas rumah kaca (yaitu, mempromosikan pemanasan atmosfer bumi), bersama dengan sulfur dioksida dan nitrogen oksida, yang mengakibatkan hujan asam dan kabut asap. (dengan energi matahari memiliki efek merugikan pada lingkungan.) Dengan menggunakan mobil hemat bahan bakar dan catalytic converter yang lebih efektif, kita harus mampu untuk secara drastis mengurangi emisi mobil yang berbahaya dan meningkatkan kualitas udara di tempat dengan lalu lintas berat. Selain itu, mobil listrik, didukung oleh tahan lama, baterai tahan lama, dan mobil hybrid, didukung oleh baterai dan bensin, harus menjadi lebih umum, dan menggunakannya akan membantu untuk meminimalkan polusi udara.

Material dan Teknologi
Penelitian dan pengembangan kimia pada abad kedua puluh telah memberikan kita bahan baru yang telah sangat meningkatkan kualitas hidup kita dan membantu untuk memajukan teknologi dalam berbagai cara. Beberapa contoh adalah polimer (termasuk karet dan nilon), keramik (seperti peralatan masak), kristal cair (seperti yang ada di layar elektronik), perekat (digunakan dalam rumah dan perabot), dan coating (misalnya, cat lateks).

Apa yang akan dijual di toko-toko dalam waktu dekat? Salah satu kemungkinan adalah superkonduktor suhu kamar. Listrik dilewatkan oleh kabel tembaga, bukan konduktor sempurna. Akibatnya, sekitar 20 persen dari energi listrik hilang dalam bentuk panas antara pembangkit listrik dan rumah kita. Ini adalah pemborosan yang luar biasa. Superkonduktor adalah bahan yang tidak memiliki hambatan listrik dan karena itu dapat menghantarkan listrik tanpa kehilangan energi. Meskipun fenomena superkonduktivitas pada suhu yang sangat rendah (lebih dari 400 derajat Fahrenheit di bawah titik beku air) telah dikenal selama lebih dari 90 tahun, sebuah terobosan besar di pertengahan 1980-an menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk membuat bahan yang bertindak sebagai superkonduktor pada atau dekat suhu kamar. Kimiawan telah membantu untuk merancang dan mensintesis bahan-bahan baru yang menunjukkan janji dalam pencarian ini. 30 tahun ke depan kita akan melihat superkonduktor suhu tinggi yang diterapkan pada skala besar dalam pencitraan resonansi magnetik (MRI), kereta cepat, dan fusi nuklir.

#
Jika kita harus menyebutkan satu lagi kemajuan teknologi yang telah membentuk kehidupan kita lebih dari yang lain, itu adalah komputer. "Mesin" yang menggerakkan revolusi komputer sedang berlangsung adalah mikroprosesor-chip silikon kecil yang telah mengilhami penemuan yang tak terhitung jumlahnya, seperti komputer laptop dan mesin faks. Kinerja mikroprosesor dinilai dengan kecepatannya melakukan operasi matematika, seperti penambahan. Laju kemajuan adalah seperti yang sejak diperkenalkan, mikroprosesor telah dua kali lipat dalam kecepatan setiap 18 bulan. Kualitas mikroprosesor apapun tergantung pada kemurnian chip silikon dan kemampuan untuk menambahkan jumlah yang diinginkan dari zat lain, dan ahli kimia memainkan peran penting dalam penelitian dan pengembangan chip silikon. Untuk masa depan, para ilmuwan telah mulai mengeksplorasi prospek "komputasi molekul," yaitu, menggantikan silikon dengan molekul. Keuntungannya adalah bahwa molekul tertentu dapat dibuat untuk merespon cahaya, bukan untuk elektron, sehingga kita akan memiliki komputer optik daripada komputer elektronik. Dengan rekayasa genetika yang tepat, para ilmuwan dapat mensintesis molekul seperti menggunakan mikroorganisme bukan pabrik-pabrik besar. komputer optik juga akan memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar dari komputer elektronik.

#
Pertanian dan Bahan Makanan
Bagaimana penduduk yang meningkat pesat di dunia diberi makan? Di negara-negara miskin, kegiatan pertanian menempati sekitar 80 persen dari angkatan kerja, dan setengah dari anggaran keluarga rata-rata dihabiskan untuk bahan makanan. Ini adalah menguras besar pada sumber daya bangsa. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pertanian adalah kekayaan tanah, serangga dan penyakit yang merusak tanaman, dan gulma yang bersaing untuk nutrisi. Selain irigasi, petani mengandalkan pupuk dan pestisida untuk meningkatkan hasil panen. Sejak tahun 1950-an, pengobatan untuk tanaman menderita infestasi hama kadang-kadang telah diaplikasi sembarangan menggunakan bahan kimia yang kuat. Langkah seperti ini sering memiliki efek merugikan yang serius pada lingkungan. Bahkan penggunaan berlebihan pupuk berbahaya bagi tanah, air, dan udara.

#
Untuk memenuhi tuntutan makanan pada abad pertama abad dua puluh, pendekatan baru dalam pertanian harus dibuat. Ini telah menunjukkan bahwa, melalui bioteknologi, adalah mungkin untuk tumbuhnya tanaman yang lebih besar dan lebih baik. Teknik ini dapat diterapkan untuk banyak produk pertanian yang berbeda, tidak hanya untuk hasil yang lebih baik, tetapi juga untuk frekuensi yang lebih banyak, yaitu, hasil tanaman lebih setiap tahunnya. Sebagai contoh, diketahui bahwa bakteri tertentu menghasilkan molekul protein yang beracun bagi ulat pemakan daun. Menggabungkan gen yang mengkode toksin ke dalam tanaman memungkinkan tanaman untuk melindungi diri mereka sendiri sehingga pestisida tidak diperlukan. Para peneliti juga telah menemukan cara untuk mencegah serangga perusak berkembang biak. Serangga berkomunikasi satu sama lain dengan memancarkan dan bereaksi menggunakan molekul khusus yang disebut feromon. Dengan mengidentifikasi dan sintesis feromon yang digunakan dalam kawin, adalah mungkin untuk mengganggu siklus reproduksi normal hama umum ini; misalnya, dengan menginduksi serangga kawin terlalu cepat atau menipu serangga betina kawin dengan jantan yang disterilkan. Selain itu, ahli kimia dapat menemukan cara-cara untuk meningkatkan produksi pupuk yang kurang bahkan tidak berbahaya bagi lingkungan dan zat-zat yang selektif akan membunuh gulma. (Nopriawan)


Share:

Model-Model Pembelajaran dan Langkah-langkahnya


Tiga Puluh Lima (35) Model Pembelajaran

#
Berikut ini dijelaskan 35 Model Pembelajaran
1. Model Pembelajaran: Examples Non Examples
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
Langkah 2: Guru menyajikan gambar atau ditayangkan kepada siswa
Langkah 3: Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisa gambar
Langkah 4: Dalam diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
Langkah 5: Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
Langkah 6: Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
Langkah 7: Membuat Kesimpulan


2. Model Pembelajaran: Picture And Picture
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Menyajikan materi sebagai pengantar
Langkah 3: Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
Langkah 4: Guru menunjuk/memanggil peserta didik secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
Langkah 5: Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
Langkah 6: Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 7: Membuat Kesimpulan/rangkuman


3. Model Pembelajaran: Numbered Heads Together
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
Langkah 2: Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
Langkah 3: Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
Langkah 4: Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
Langkah 5: Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
Langkah 6: Kesimpulan


4. Model Pembelajaran: Cooperative Script
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru membagi peserta didik untuk berpasangan
Langkah 2: Guru membagikan wacana/materi tiap peserta didik untuk dibaca dan membuat ringkasan
Langkah 3: Guru dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
Langkah 4: Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar :
Langkah 5: Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
Langkah 6: Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
Langkah 7: Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
Langkah 8: Kesimpulan Peserta didik bersama-sama dengan Guru
Langkah 9: Penutup


5. Model Pembelajaran: Kepala Bernomor Struktur
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor
Langkah 2: Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : peserta didik nomor satu bertugas mencatat soal. Peserta didik nomor dua mengerjakan soal dan peserta didik nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
Langkah 3: Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Peserta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
Langkah 4: Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
Langkah 5: Kesimpulan

6. Model Pembelajaran: Student Teams-Achievement Divisions
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
Langkah 2: Guru menyajikan pelajaran
Langkah 3: Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
Langkah 4: Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
Langkah 5: Memberi evaluasi
Langkah 6: Kesimpulan

7. Model Pembelajaran: Jigsaw
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Peserta didik dikelompokkan ke dalam = 4 anggota tim
Langkah 2: Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
Langkah 3: Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
Langkah 4: Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
Langkah 5: Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh- sungguh
Langkah 6: Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
Langkah 7: Guru memberi evaluasi
h) Penutup


8. Model Pembelajaran: Problem Based Introduction
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
Langkah 2: Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
Langkah 3: Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
Langkah 4: Guru membantu peserta didik dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
Langkah 5: Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan


9. Model Pembelajaran: Artikulasi
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
Langkah 3: Untuk mengetahui daya serap peserta didik, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
Langkah 4: Menugaskan salah satu peserta didik dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
Langkah 5 Menugaskan peserta didik secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian peserta didik sudah menyampaikan hasil wawancaranya
Langkah 6: Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami peserta didik
Langkah 7: Membuat Kesimpulan/penutup


10. Model Pembelajaran: Mind Mapping
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi olehcpeserta didik dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban 3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
Langkah 3: Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasilcdiskusi
Langkah 4: Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
Langkah 5: Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru


11. Model Pembelajaran: Make – A Match
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
Langkah 2: Setiap peserta didik mendapat satu buah kartu
Langkah 3: Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
Langkah 4: Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
Langkah 5: Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
Langkah 6: Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
Langkah 7: Demikian seterusnya
Langkah 8: Membuat Kesimpulan/penutup


12. Model Pembelajaran: Thik Pair And Share
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Peserta didik diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
Langkah 3: Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
Langkah 4: Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
Langkah 5: Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para peserta didik
Langkah 6: Membuat kesimpulan



13. Model Pembelajaran: Debate
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lainnya kontra
Langkah 2: Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
Langkah 3: Setelah selesai membaca materi, Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu, kemudian ditanggapi oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik bisa mengemukakan pendapatnya.
Langkah 4: Sementara peserta didik menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan sampai mendapatkan sejumlah ide diharapkan.
Langkah 5: Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
Langkah 6: Dari data-data yang diungkapkan tersebut, guru mengajak peserta didik membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.


14. Model Pembelajaran: Role Playing
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
Langkah 2: Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM
Langkah 3: Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang
Langkah 4: Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 5: Memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
Langkah 6: Masing-masing peserta didik berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan
Langkah 7: Setelah selesai ditampilkan, masing-masing peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok.
Langkah 8: Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
Langkah 9: Guru memberikan kesimpulan secara umum
Langkah 10: Evaluasi
Langkah 11: Penutup


15. Model Pembelajaran: Group Investigation
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
Langkah 2: Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
Langkah 3: Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
Langkah 4: Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan
Langkah 5: Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
Langkah 6: Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
Langkah 7: Evaluasi
Langkah 8: Penutup


16. Model Pembelajaran: Talking Stick
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyiapkan sebuah tongkat
Langkah 2: Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi.
Langkah 3: Setelah selesai membaca materi/buku pelajaran dan mempelajarinya, peserta didik menutup bukunya.
Langkah 4: Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
Langkah 5: Guru memberikan kesimpulan
Langkah 6: Evaluasi
Langkah 7: Penutup


17. Model Pembelajaran: Bertukar Pasangan
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Setiap peserta didik mendapat satu pasangan (guru bisa menunjuk pasangannya atau peserta didik memilih sendiri pasangannya).
Langkah 2: Guru memberikan tugas dan peserta didik mengerjakan tugas dengan pasangannya.
Langkah 3: Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain.
Langkah 4: Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mencari kepastian jawaban mereka.
Langkah 5: Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.


18. Model Pembelajaran: Snowball Throwing
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
Langkah 2: Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
Langkah 3: Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
Langkah 4: Kemudian masing-masing peserta didik diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
Langkah 5: Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta didik ke peserta didik yang lain selama ± 15 menit
Langkah 6: Setelah peserta didik dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
Langkah 7: Evaluasi
Langkah 8: Penutup


19. Model Pembelajaran: Student Facilitator And Explaining:
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
Langkah 3: Memberikan kesempatan peserta didik untuk menjelaskan kepada peserta didik lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep.
Langkah 4: Guru menyimpulkan ide/pendapat dari peserta didik.
Langkah 5: Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
Langkah 6: Penutup

20. Model Pembelajaran: Course Review Horay
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
Langkah 3: Memberikan kesempatan peserta didik tanya jawab
Langkah 4: Untuk menguji pemahaman, peserta didik disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing peserta didik
Langkah 5: Guru membaca soal secara acak dan peserta didik menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (√) dan salan diisi tanda silang (x)
Langkah 6: Peserta didik yang sudah mendapat tanda √ vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay ... atau yel-yel lainnya
Langkah 7: Nilai peserta didik dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh
Langkah 8: Penutup


21. Model Pembelajaran: Demontsration
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
Langkah 3: Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan
Langkah 4: Menunjuk salah seorang peserta didik untuk mendemontrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
Langkah 5: Seluruh peserta didik memperhatikan demontrasi dan menganalisanya.
Langkah 6: Tiap peserta didik mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman peserta didik didemontrasikan.
Langkah 7: Membuat kesimpulan.


22. Model Pembelajaran: Explicit Instruction
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
Langkah 2: Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
Langkah 3: Membimbing pelatihan
Langkah 4: Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Langkah 5: Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan


23. Model Pembelajaran: Cooperative Integrated Reading And Composition Kooperatif Terpadu
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Membaca Dan Menulis
Langkah 2: Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
Langkah 3: Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
Langkah 4: Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
Langkah 5: Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
Langkah 6: Guru membuat kesimpulan bersama
Langkah 7: Penutup


24. Model Pembelajaran: Inside-Outside-Circle (Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar)
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
Langkah 2: Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
Langkah 3: Dua peserta didik yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
Langkah 4: Kemudian peserta didik berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara peserta didik yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
Langkah 5: Sekarang giliran peserta didik berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya


25. Model Pembelajaran: Tebak Kata
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.
Langkah 2: Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi ataudiselipkan ditelinga
Langkah 3: Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
Langkah 4: Guru menyuruh peserta didik berdiri berpasangan didepan kelas
Langkah 5: Seorang peserta didik diberi kartu yang berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang peserta didik yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga.
Langkah 6: Sementara peserta didik membawa kartu 10x10 cm membacakan kata- kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.
Langkah 7: Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
Langkah 8: Dan seterusnya
Langkah 9: Membuat kesimpulan


26. Model Pembelajaran: Word Square
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Buat kotak sesuai keperluan * Buat soal sesuai TPK
Langkah 2: Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
Langkah 3: Guru membagikan lembaran kegiatan sesuai contoh
Langkah 4: Peserta didik menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban
Langkah 5: Berikan poin setiap jawaban dalam kotak


27. Model Pembelajaran: Scramble
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Buat jawaban yang diacak hurufnya
Langkah 3: Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 4: Membagikan lembar kerja sesuai contoh


28. Model Pembelajaran: Take And Give
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Buat kartu ukuran ± 10x15 cm sejumlah peserta tiap kartu berisi sub materi (yang berbeda dengan kartu yang lainnya, materi sesuai dengan TPK
Langkah 2: Siapkan kelas sebagaimana mestinya
Langkah 3: Jelaskan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 4: Untuk memantapkan penguasaan peserta tiap peserta didik diberi masing- masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) lebih kurang 5 menit
Langkah 5: Semua peserta didik disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Tiap peserta didik harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh.
Langkah 6: Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give).
Langkah 7: Untuk mengevaluasi keberhasilan berikan berikan peserta didik pertanyaan yang tak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain).
Langkah 8: Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai keadaan
Langkah 9: Kesimpulan


29. Model Pembelajaran: Concept Sentence
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Guru menyampaikan kompentensi yang ingin dicapai
Langkah 2: Guru menyajikan materi secukupnya
Langkah 3: Guru membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang secara heterogen
Langkah 4: Guru menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan
Langkah 5: Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat


30. Model Pembelajaran: Complete Sentence
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Siapkan blangko isian berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap
Langkah 2: Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Langkah 3: Guru menyampaikan materi secukupnya atau peserta didik disuruh membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya
Langkah 4: Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen
Langkah 5: Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap (lihat contoh).
Langkah 6: Peserta didik berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia.
Langkah 7: Peserta didik berdiskusi secara berkelompok
Langkah 8: Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta membaca sampai mengerti atau hapal
Langkah 9: Membuat Kesimpulan


31. Model Pembelajaran: Time Token Arends 1998
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL)
Langkah 2: Tiap peserta didik diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik. Tiap peserta didik diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
Langkah 3: Bila telah selesai bicara kopon yang dipegang peserta didik diserahkan. Setiap bebicara satu kupon.
Langkah 4: Peserta didik yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi


32. Model Pembelajaran: Pair Check
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Bekerja berpasangan, Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) peserta didik. Setiap pasangan Mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih
Langkah 2: Pelatih mengecek. Apabila patner benar pelatih memberi kupon
Langkah 3: Bertukar peran. Seluruh patner bertukar peran dan mengurangi langkah 1 – 3
Langkah 4: Pasangan mengecek, Seluruh pasangan tim kembali bersama danmembandingkan jawaban
Langkah 5: Penegasan guru. Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep


33. Model Pembelajaran: Keliling Kelompok
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Salah satu peserta didik dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
Langkah 2: Peserta didik berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
Langkah 3: Demikian seterusnya giliran bicara bisa

34. Model Pembelajaran: Tari Bambu
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Separuh kelas atau seperempat jika jumlah peserta didik terlalu banyak berdiri berjajar . Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah peserta didik berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
Langkah 2: Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
Langkah 3: Dua peserta didik yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
Langkah 4: Kemudian satu atau dua peserta didik yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing peserta didik mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan


35. Model Pembelajaran: Dua tinggal dua tamu (two stay two stray)
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Langkah 1: Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang
Langkah 2: Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain
Langkah 3: Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka
Langkah 4: Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain
Langkah 5: Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka

Demikian 35 Model-Model Pembelajaran dan Langkah-langkahnya

Share:

Post Populer

BERLANGGANAN

ANGGOTA

Post Terbaru